THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
28



28.DAG DIG DUG


Bella mematut dirinya di depan cermin dengan perasaan yang campur aduk karena malam ini kedua orangtua Alan akan datang ke rumahnya, entah ada apa ia tidak tahu yang dirinya tahu mereka kesini hanya akan membicarakan soal pernikahan.


Mengingat tentang pernikahan pasti selalu membuatnya keringat dingin. Bagaimana dirinya dengan Alan nanti?


Kemudian ia mendengar suara klakson mobil dari arah luar, buru-buru ia berjalan mendekat kearah jendela untuk mengintip. Sudah bisa ditebak itu ialah Alan dan orangtuanya.


Saat di buka, benar saja itu ialah mobil yang sangat Bella kenali. Kemudian Ibunya Alan keluar dari dalam mobil begitu juga dengan Ayahnya. Mereka tampak rapih seperti biasanya jika berkunjung kesini. Kedua orang tua Alan berjalan lebih dulu ke dalam rumahnya. Selang beberapa detik kemudian Alan muncul dari arah pintu pengemudi. Rambut yang di tata rapih serta dengan setelan kemeja putih yang di kenakannya itu membuat Bella sedikit terpana.


"Ya Tuhan.." batinnya masih sambil melihat ke arah Alan.


Jantung Bella kembali berdebar lebih cepat dari biasanya. Ada apa ini? Kenapa saat melihat Alan barusan dirinya jadi deg-degan begini.


Bella berbalik dan berdiri di depan cermin sambil merapihkan penampilannya kembali agar terlihat lebih baik. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya.


'Tok..tok..tok'


"Non ayo turun ke bawah yang lain sudah menunggu." ujar Bi Nana dari luar


"Iya Bi sebentar," balasnya sambil men-touch up lipstiknya


Sesudah itu Bella bergegas keluar kamar dengan penampilan sederhananya, Bi Nana tersenyum ke arah Bella. "Ayo Non," kata Bi Nana


"Duh Bi, kok aku dag dig dug gini yaa.."


Bi Nana terkekeh pelan. "Kan non udah sering ketemu sama orang tuanya nak Alan, kenapa harus deg-degan?"


"Ih iya gatau aku juga bingung, kenapa yaa.. Btw, Alan di sana Bi?"


"Iya nak Alan juga udah di sana."


Mendengar itu jantung Bella menjadi berdebar lebih cepat. Oh Astaga, Ada apa ini?


"Ayo Non." ajak bi Nana


Bella mengangguk kikuk. "I-iya ayo."


Mereka berdua pun berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu. Saat tinggal beberapa anak tangga lagi langkah Bella tertahan begitu saja, kedua matanya tertuju pada Alan. Begitu juga dengan Alan, ia menatap kearah Bella dengan tatapan yang tidak bisa dibaca oleh Bella. Kedua mata mereka bertemu sesaat sebelum Roy memanggil Bella.


"Sini Bel," ujar Roy


Bella tersadar kemudian langsung memutuskan kontak matanya dengan Alan.


"I-iya Pa." balas Bella kemudian berjalan menghampiri.


Bella duduk tepat di sebelah Papanya, Posisinya berhadapan dengan Alan serta kedua Orang tuanya Alan. Dirinya begitu kikuk dan tidak berani menatap wajah Alan saat ini.


"Ehm.." Roy berdehem memecah keheningan.


Kemudian Ayahnya Alan langsung membuka suara untuk berbicara. "Bagaimana dengan sekolah mu Nak Bella?" tanyanya.


Bella menoleh kearah Arya. "Tidak ada masalah Om," jawabnya


Tia melirik kearah perut Bella yang belum terlalu terlihat kehamilannya. "Masih mengalami morning sickness?"


"Iya kadang-kadang." jawab Bella


"Kapan sekolah mu selesai?"


"Kalau ujiannya masih 2 minggu lagi, tapi pengumuman kelulusannya Bella belum tau."


"Oke berarti kita masih ada waktu dua minggu untuk mempersiapkannya." ujar Arya


Bella melirik kearah Alan yang tampaknya tidak keberatan sama sekali.


"Bagaimana dengan mu Bella?" tanya Arya


"Bagaimana apanya Om?"


"Pernikahan mu harus secepatnya dilakukan. Apa kamu siap? setelah selesai ujian?"


Deg! Secepat itu kah?


Bella terdiam sejenak, kemudian kembali melirik kearah Alan. Dilihatnya Alan hanya bungkam dan tidak menampakkan ekspresi apapun.


"Bel gimana?" tanya Roy


"I-iya Pa."


"Oke kalau begitu."


*****


Bella duduk di bangku putih teras rumahnya. Padangannya menatap kosong ke depan, ini sudah pukul setengah 9 malam tetapi Papanya dan orang tua Alan belum juga selesai membicarakan tentang pernikahan.


Entah kenapa semakin kesini dirinya semakin takut. Dirinya takut kalau nantinya Alan akan menyesal pada semua ini. Dirinya takut kalau Alan akan meninggalkannya. Seperti Justin yang meninggalkannya begitu saja.


Terpaan angin malam mengibas rambutnya yang dibiarkan terurai, Bella sesekali memejamkan kedua matanya dan tanpa disadari ia sudah menitikkan air mata.


Bella merasa hidupnya begitu selalu merepotkan orang lain.


Tak lama kemudian Ia merasa ada yang memegang pundak kanannya lembut. Reflek Bella menoleh dan buru-buru menghapus air matanya.


"Ada apa?" tanya Alan saat mendapati Bella yang menitikkan airmata.


Bella melengkungkan bibirnya sedikit. "Ga apa-apa." jawabnya


Alan kemudian duduk di bangku sebelah Bella. Lalu kedua tangannya mengusap air mata Bella yang masih tersisa di pipi mulusnya. "Jangan nangis." ucapnya


Bella hanya diam dan menerima perlakuan Alan saat ini.


Alan menatap kedua mata Bella lekat, Bella yang ditatap seperti itu ia pun menunduk karena tidak bisa menatap mata Alan lama-lama.


"Kamu terlalu baik Alan." ucap Bella masih sambil menunduk.


Alan hanya diam menatap gadis di sampingnya yang masih menunduk.


"Seharusnya kamu jangan lakuin itu. Seharusnya kamu jauhin aku. Seharusnya kamu gausah berbohong sama orangtua kamu sendiri. Seharusnya kamu jujur sama mereka kalau bukan kamu yang--" ucapan Bella terhenti karena Alan langsung membungkam mulutnya dengan jari telunjuknya. "Ssstttttt udah jangan di terusin." ujar Alan


Bella mendongakkan kepalanya dan menatap Alan dengan mata sayunya.


"Semuanya udah terjadi Bel, mau diapakan lagi." kata Alan


"Semuanya masih bisa di rubah Alan."


Bella terdiam.


"Apa kamu ngga kasian kalau nanti dia sudah besar dan bertanya dimana ayahnya?"


Bella masih bungkam.


"Sudah di jalani saja, saya janji akan terus mendampingi kamu."


Reflek Bella memeluk tubuh Alan begitu saja. Entah ada dorongan apa, ia begitu berani memeluk Alan.


Alan mengelus-elus rambut panjang Bella yang dibiarkan terurai sambil mencium aroma khas wangi shampoonya.


"Masuk gih ke dalem. Ini udah malem, kamu harus istirahat." ujar Alan


Bella melepas pelukannya. "Kamu nginep?"


Alan menggeleng.


"Ayah sama ibu kamu masih belum selesai."


"Iyaudah biarin aja, kamu masuk aja ke dalem. Angin malem ga baik untuk kesehatan."


"Terus kamu mau kemana?"


"Ga kemana-mana."


"Masih nungguin orangtua kamu ya?"


Alan mengangguk.


"Yaudah kamu temenin aku dulu nonton film yuk."


"Nonton film?"


Bella mengangguk. "Iya di ruangan yang biasanya aku nonton tv."


"Film apa?"


"Hmmm, horor? Gimana?"


"Kamu nggak takut?"


"Hahaha ya enggalah, itukan cuma film."


"Yaa kali aja setelah kamu nonton filmnya kamu jadi gabisa tidur."


"Hahaha aku nggak selebay itu Alan!"


"Yaudah ayo."


Bella langsung bangkit dari posisinya dan mengajak Alan menuju ruang tv.


"Ada rekomendasi film horor ga?" tanya Bella sambil meraih remote tv nya.


Alan duduk di sofa kemudian menggelengkan kepalanya.


"Ish emangnya kamu gapernah nonton film apa?!"


"Pernah."


"Ya terus masa semua film yang pernah kamu tonton gaaada yang kamu rekomendasiin ke aku sih?"


Alan hanya mengangguk. "Memang itu nyatanya."


Bella hanya memanyunkan bawah bibirnya kesal. Kemudian ia duduk di samping Alan dan mulai menekan tombol power remotenya untuk menyalakan.


"Streaming aja ya."


Alan hanya mengangguk.


Bella mulai memilih-milih judul film yang menurutnya seru. Sesudah itu ia menyetelnya dan menontonnya dengan serius.


Alan sesekali melirik kearah Bella yang sedang menonton film dengan begitu serius. Gadis di sampingnya ini sama sekali tidak takut dengan film horor, bahkan sedari awal film itu di putar dia sama sekali tidak menutup kedua matanya saat yang seram-seram muncul.


Jujur sebenarnya Alan tidak terlalu mengerti dengan jalan cerita film yang saat ini sedang di tontonnya, tetapi entah kenapa gadis di sampingnya ini begitu serius dan seperti sudah terbawa dengan alurnya.


Kini matanya beralih melirik kearah jam yang berada tepat di sebelah kirinya. Jam sudah menunjukka pukul setengah 10 malam. Apa dia belum mengantuk? Ini sudah malam.


Lalu selang beberapa menit, Alan mendengar suara Ayahnya memanggilnya dari arah pintu di belakangnya. Alan menoleh ke asal suara.


"Sudah selesai?" tanya Alan


Arya mengangguk. "Sudah, ayo."


Alan mengangguk. Kemudian menoleh kearah Bella hendak pamit pulang. Dirinya tiba-tiba terkejut saat mendapati Bella yang sudah menutup kedua matanya. Dia tertidur!


"Tidur?" tanya Arya sambil berjalan mendekat.


"Iya." jawab Alan


"Yaudah sana kamu bawa dia ke kamarnya dulu."


Alan mengangguk kemudian langsung mematikan tvnya. Sesudah itu ia mulai mebopong tubuh mungil gadis yang tidak lama lagi akan menjadi isterinya.


"Papa tunggu di mobil, jangan lupa pamit dulu sama Om Roy ya."


"Iya."


Arya kembali keluar. Alan berjalan kearah kamar Bella sambil menggendongnya ala bridal style. Setibanya di kamar Bella, Alan langsung menidurkan Bella di atas ranjangnya kemudian menarik selimut untuk menutuli tubuhnya hingga batas dada.


"Selamat tidur." ucap Alan kemudian mematikan lampunya dan berlalu keluar.


.


.


.


TBC


Jangan lupa Vote dan komentarnya yaaa☺