THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
24



24.MENANGIS


Setibanya di depan rumah Justin. Bella langsung turun dari dalam mobil, dilihatnya gerbang rumah Justin terbuka lebar dan tidak ada motor Justin terparkir di sana.


Bella melangkah masuk ke dalam halaman rumahnya kemudian berhenti tepat di depan pintu utama. Tangan kanannya sudah mengepal dan siap untuk mengetuknya.


'Tok..tok..tok' diketuknya pintu tersebut.


Belum ada jawaban.


Bella kembali mengetuk-ngetuk pintunya.


'Tok..tok..tok..'


Masih belum ada jawaban.


Sudah berkali-kali Bella mengetuk pintunya tetapi tidak ada jawaban.


Bella menoleh kebelakang sebentar, ia melihat Alan yang sepertinya sedang memperhatikannya dari dalam mobil.


Bella mencoba kembali mengetuk pintu itu lagi. 'Tok..tok..tok..'


Masih tidak ada jawaban juga. Bella menghela nafasnya pasrah. Kemana Bibinya? Biasanya bibinya selalu ada 24 jam di rumah ini.


Bella berbalik dan berjalan kembali kearah mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil, Bella melihat ke arah kanan dilihatnya kini ada seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang menjemur pakaian di depan rumahnya.


Bella langsung berjalan kearah ibu paruh baya itu untuk bertanya.


"Permisi Bu," sopan Bella.


"Eh iya ada apa Neng?" tanya ibu tersebut.


"Bu mau tanya, ini si pemilik rumahnya pada kemana ya?" tunjuk Bella ke arah rumah Justin yang terlihat begitu kosong.


"Neng cari siapanya? Ibunya? Bapaknya? Anaknya? atau siapa?"


"Anaknya, ibu kenal kan?"


"Si Justin?"


Bella mengangguk.


"Terakhir sih Ibu ngobrol sama dia pas hari minggu Neng, Dia cerita abis jual motornya."


"Jual motor?!"


Ibu itu mengangguk. "Iya kan dia udah ga tinggal sama orangtuanya lagi sekarang."


"Loh? Emang orangtuanya kemana Bu?"


Ibu itu mengangkat kedua bahunya. "Ibu juga kurang tau, tapi denger-denger mah Ibu sama Bapaknya mau cerai."


"Cerai?!" Bella terkejut.


"Iya."


"Terus jadi orangtuanya udah ga tinggal disini?"


"Iya udah dari dua minggu yang lalu Neng."


Alan memperhatikan Bella yang sedang mengobrol dengan seseorang dari kaca spion mobilnya.


"Kalau Bibinya kemana? Apa ada di dalem?"


Ibu itu menggeleng. "Bibinya juga sudah pulang kampung sejak dua minggu yang lalu, pas Ibu sama Bapaknya si Justin pergi."


"Yaampun.. Tapi Justinnya masih tinggal di sini kan Bu?" tanya Bella


"Kemarin sore mah saya liat dia bawa koper gede naik taxi, nggak tau mau kemana."


Duarrrrrrrrrrr....... Seketika dirinya menjadi lemas begitu saja.


Apa Justin pergi meninggalkannya? Apa dia mencoba kabur darinya? Apa itu tidak kejam? Bagaimana dengan nasib anak yang ada di dalam kandungannya saat ini?


Bella mengacak-acak rambutnya frustasi sambil menitikkan airmatanya sedih. Justin memang benar-benar brengsek.


"Loh neng? kok nangis?" Ibu itu terkejut saat mendapati Bella yang tiba-tiba mengeluarkan air mata.


"Gapapa Bu, yaudah makasih ya.."


Ibu mengangguk mengiyakan dan kembali melakukan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi. Bella pun segera berjalan kearah mobil dan masuk.


Bella menangis di dalam mobil, Alan yang melihat itu mengepalkan kedua tangannya kesal. Dirinya tidak bisa melihat gadis di sampingnya ini menangis.


Alan memukul stir mobilnya begitu keras, seakan sedang melampiaskan kekesalannya.


Bella terkejut dengan apa yang di lakukan Alan barusan.


"Dimana Justin, Bel?" tanya Alan dengan nada dinginnya. Karena ia sedaritadi memperhatikan gerak-gerik Bella saat mulai keluar dari dalam mobil hingga kembali masuk ke dalam mobil.


Bella hanya diam sambil menangis.


"Bel dimana Justin?" tanya Alan masih dengan nada dinginnya.


Bella masih diam.


Kepalan tangan Alan semakin kuat saat Bella tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"DIMANA JUSTIN BEL?! JAWAB!!" Alan membentak Bella begitu saja karena emosinya tak terkontrol.


"AKU GATAU ALAN!!" balas Bella ikut membentak.


Tangis Bella kini tambah jadi. Suasana hatinya begitu sedang tidak bagus saat ini.


"Cepat hubungi dia!" tegas Alan.


Bella langsung mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Justin. Saat di hubungi, hanya suara operator yang menjawab.


Berkali-kali Bella mencobanya, tetapi sama saja.


"Apa?" tanya Alan saat mendapati Bella yang hanya menggelengkan kepalanya.


"Ga aktif, hiks.."


"****! Justin brengsek!" kesal Alan.


Alan menoleh kearah Bella yang masih menangis. Dirinya begitu tidak tega melihatnya. Alan menarik kedua tangan Bella agar ia menjauhkan kedua tangannya itu dari wajahnya.


"Sudahlah jangan menangis, Pria brengsek seperti Justin tidak pantas kamu tangisi." ujar Alan sambil menarik Bella ke dalam pelukannya.


Bella merasa begitu hangat saat Alan menariknya kedalam pelukannya. Dirinya nyaman dengan posisinya seperti ini. Karena memang ini yang dirinya butuhkan.


Alan mengelus-elus punggung Bella dengan lembut untuk menenangkannya. "Maaf tadi saya udah bentak kamu."


Bella kemudian melepaskan pelukannya dan mulai menghapus airmatanya. Alan hanya diam memperhatikan itu.


"Ayo pulang." kata Bella


Alan terdiam sejenak kemudian segera menginjak pendal gasnya menuju rumah Bella.


-----


Setibanya di rumah. Bella langsung berlari begitu saja kearah kamarnya, Alan yang melihat itu langsung mengejarnya.


Bella masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan keras. Ia langsung membanting tubuhnya di atas ranjang empuk dan kembali menangis.


Alan mengetuk-ngetuk kamar Bella, tetapi tidak ada jawaban. Ia hanya mendengar suara tangisan dari dalam. Tanpa basa-basi Alan pun langsung membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci.


"Bel," panggil Alan saat mendapati bahu gadis itu bergetar.


"Tolong tinggalin aku sendiri." ujar Bella dingin.


"Tapi kita perlu bicara Bel,"


"Aku lagi nggak mood Alan! Sana pergiiii!" usir Bella


Alan hanya diam di posisinya.


Bella yang merasa Alan masih diam di posisinya, ia pun menoleh ke arah Alan. "Ngapain masih disitu?! Sana pergi!!" kesalnya.


"Saya tidak akan pergi, kalau kamu belum berhenti menangis." ucap Alan dengan nada datarnya.


Bella mulai geram. Ia pun beranjak dari posisinya dan berjalan kearah Alan.


"Ihhh sana pergi!!" kesal Bella sambil mencoba mendorong dada bidang Alan untuk keluar.


Alan masih diam diposisinya sambil menatap gadis dihadapannya ini yang sedang berusaha mendorongnya untuk pergi. Dorongan itu sama sekali tidak membuat Alan tergerak sedikit pun, karena menurutnya tenaga Bella tidak ada apa-apanya.


"Ihhhhh nyebelin banget sih!!" geram Bella kemudian tangannya memukul-mukul dada bidang Alan. Seakan semua kekesalannya ia lampiaskan pada Alan.


"Tenangin diri kamu Bel!" tegas Alan sambil mengunci kedua tangan Bella dengan cara menggenggamnya.


Bella seketika terdiam saat Alan mengunci kedua tangannya. Ia mendongakkan kepalanya dan menatap kedua mata Alan.


"Kamu gak bisa kayak gini terus." ujar Alan.


Bella menundukkan kepalanya dengan lesu. "Justin pergi hiks.." lirihnya.


Alan kemudian melepaskan genggaman tangannya dan kini tangannya malah beralih menangkup wajah mungil Bella. "Kita cari Justin sama-sama, kalau itu mau kamu."


Bella menggelengkan kepalanya. "Tapi Justin brengsek hiks.."


Alan menghela nafasnya panjang. Dirinya jadi ikut bingung, sebenarnya apa mau gadis dihadapannya ini.


"Harusnya kamu jauhin aku Alan."


Alan hanya diam.


Bella kembali meneteskan airmatanya. Dirinya tidak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi.


"Saya khawatir sama kamu Bel," ucap Alan.


Bella hanya diam masih sambil meneteskan airmata.


"Besok saya harus sudah kembali lagi untuk bekerja. Saya khawatir, kalau kondisi kamu yang sekarang masih seperti ini." lanjutnya.


Alan kemudian menarik Bella kedalam pelukannya. Ia mengusap-usap lembut rambut panjang gadis kecil dipelukannya ini.


Bella hanya diam tidak memberontak atas perlakuan Alan saat ini. Dirinya nyaman dengan posisi seperti ini, karena memang ini yang dibutuhkannya. Air matanya masih terus mengalir hingga membasahi baju yang di kenakan Alan saat ini.


"Berapa lama kamu pergi?" tanya Bella masih dengan posisi yang tadi.


"Hanya dua minggu." jawab Alan.


Bella langsung melepas pelukannya. "Hiks.. kok lama banget sih!" kesalnya


Alan mengerutkan dahinya bingung.


Bella kembali menundukkan kepalanya dan tidak mau menatap wajah pria dihadapannya.


"Jangan lama-lama, aku kesepian Alan." ucapnya malu-malu.


Alan langsung terkekeh pelan saat mendegar Bella berbicara sebagaimana barusan. Bella yang mendengar Alan terkekeh iapun langsung melongo. Apakah salah dirinya berkata begitu?


"Kok ketawa sih?! ngeselin banget!" kesal Bella.


"Ternyata bener ya, Mood ibu-ibu yang sedang hamil itu suka berubah-ubah." celetuk Alan.


Bella langsung melototkan kedua matanya kearah Alan. "Apa kamu bilang?! Aku bukan ibu-ibu tau!"


"Iya tapi kan kamu akan menjadi seorang Ibu." kata Alan memperjelas.


"Ishhhhhh nyebelin banget sih! Dasar Om-om tua bangka!!!!" kesal Bella sambil memukul-mukul badan Alan.


Alan hanya meringis pelan sambil terkikik geli.


.


.


.


.


To be continued..


Jangan lupa vote dan komentarnya yaa 😉