THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
22



22.KECEWA


"Saya yang menghamili Bella dan saya akan tanggung jawab." ujar Alan begitu saja.


Seketika seluruh pasang mata yang ada disini beralih menatap kearah Alan, begitu juga Bella. Bella mendongakkan kepalanya menatap kearah Alan.


---------------


"ALAN! APA MAKSUD MU?!" Bentak Tia saat mendengar anaknya berbicara seperti itu.


Semua orang terkejut mendengar Alan berbicara sebagaimana barusan. Begitu juga Bella, dirinya pun ikut terkejut saat Alan berbicara seperti itu. Apa dia sudah gila? dan ingin mencari masalah?!


"Alan yang menghamili Bella, Bu." jelas Alan pada Ibunya.


'PLAKKKK' Tanpa aba-aba Tia langsung menampar pipi mulus anaknya itu dengan keras karena emosinya sudah memuncak mendengar kata itu keluar dari mulut anaknya.


Bella terkejut saat Alan mendapat tamparan dari ibunya sedangkan Alan hanya diam mendapat tamparan keras dari ibunya barusan.


"Bicara yang benar kamu Alan!" Arya ikut kesal mendengar itu.


Alan hanya diam menatap kedua orangtuanya dengan terus terang.


"Saya kecewa dengan kamu Alan.." ujar Roy sudah mulai lemas saat mendengar itu.


"Om maafkan saya yang sudah lancang." ujar Alan pada Roy.


Roy hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya akan semua ini.


"Ibu, Ayah. Maaf sudah mengecewakan kalian berdua." ujar Alan pada orangtuanya.


"Ayah benar-benar tidak menyangka dengan apa yang sudah kamu perbuat Alan. Bagaimana bisa ini terjadi?! Apa kamu sudah kehilangan akal menghamili Bella yang statusnya masih pelajar?! Bagaimana dengan sekolahnya nanti? Bagaimana dengan anaknya nanti?"


"Ya Alan mengakui Alan memang salah."


"Pikirkan bagaimana nasib anaknya nanti dan pikiran semuanya juga bagaimana kedepannya nanti!" kata Tia


"Kamu akan tanggung jawab bukan?" tanya Arya pada anaknya.


Alan mengangguk.


"Mulai dari sekarang Bella sudah menjadi tanggung jawab mu!" tegas Arya kemudian pergi berlalu keluar begitu saja.


Tia ikut keluar menghampiri suaminya yang sudah lebih dulu keluar. Kini tersisa Alan, Roy, Bi Nana serta Bella di dalam kamar.


"Bi tolong tinggalkan kami bertiga disini." ujar Roy pada bi Nana.


Bi Nana mengangguk kemudian pamit bergegas keluar dan tak lupa menutup pintunya.


Kini hanya tersisa Roy, Alan dan Bella yang di dalam kamar. Bella hanya diam menunduk ketakutan, ia tidak berani menatap wajah Papanya yang saat ini terlihat begitu garang.


"Bel jawab Papa. Apa benar Alan yang sudah menghamili kamu?!" tanya Roy lagi untuk meyakinkan.


Bella masih bungkam sambil menunduk.


"Semuanya sudah jelas, Saya yang menghamili Bella om." kata Alan.


"Saya ingin mendengar itu dari mulut Bella sendiri."


Bella mendongakkan kepalanya dengan ragu. Kini mata sembabnya menatap kearah Alan. Dilihatnya Alan memejamkan matanya sedetik sambil mengangguk untuk meyakinkan dirinya.


"Jawab Bella!!" geram Roy.


"I-iya Pa." jawab Bella takut-takut.


Roy menggelengkan kepalanya sedikit tidak percaya karena dirinya kenal sekali dengan watak Alan.


"Hiks..Maafin Bella Pa." ucap Bella masih sambil menangis.


"Papa kecewa sama kamu Bel."


Bella hanya teridam menunduk sambil menangis.


"Bagaimana dengan sekolah mu Bel? Dan bagaimana kedepannya dengan kamu nanti?!"


"Itu biar jadi urusan saya aja Om." ujar Alan


Seketika Roy langsung menoleh kearah Alan. "Oh yaa jelas. Memang itu akan menjadi urusanmu dan kamu harus memikirkan itu mulai dari sekarang!" tegasnya


"Paa tapi ini bukan salahnya Alan." ujar Bella memberanikan diri.


"Apa maksudmu bukan salahnya?! Sudah jelas-jelas dia yang mengakuinya sendiri!"


"Buk----" ucapan Bella dipotong begitu saja oleh Alan, "Semuanya salah saya Om." potong Alan.


"Ya memang itu sudah jelas salah mu!" tekan Roy.


"Kapan kamu ujian nasional Bel?" tanya Alan.


"Bulan depan."


"Saya rasa itu waktu yang tidak lama lagi. bagaimana kalau kamu tetap sekolah dulu sampai selesai?"


"Tidak bisa!" tukas Roy, "Bagaimana jika teman-temannya Bella nanti tahu? Apa dia tidak malu?!" lanjutnya


"Tapi Om--"


"Apa kamu tidak berfikir perutnya semakin lama akan semakin membesar?! Jelas itu akan mengundang pertanyaan guru-guru serta teman-temannya Bella nanti!"


"Iya saya tau tapi---"


"Saya bilang tidak ya tidak! Intinya yang terpenting anak saya harus kamu nikahi secepatnya!" tegas Roy


Deg! Seketika tubuh Bella kembali menegang.


Nikah?


Alan akan menikahinya dirinya? Apa itu tidak konyol?


"Iya saya akan bertanggung jawab akan itu. Tapi bagaimana dengan sekolahnya yang hanya tersisa beberapa minggu lagi Om?"


"Mulai besok kamu tidak perlu datang kesekolah dan Papa akan buatkan surat pengunduran diri kesekolahan mu!" ujar Roy pada anaknya.


"Paa.. Bella setuju dengan saran Alan," ujar Bella.


Roy terdiam sejenak.


"Ini sudah menjadi resiko Bella Pa. Bella harus menyelesaikan sekolah bagaimanapun kondisinya." lanjut Bella


"Tapi percuma saja Bel. Kalau guru-guru mu sudah tau nantinya kamu akan di keluarkan dari sekolah!"


Bella memejamkan kedua matanya sejenak. "Bella akan berusaha agar semuanya tidak ada yang tahu."


Roy menghela nafasnya sambil memijit pangkal hidungnya. "Terserah kamu deh. Intinya Papa sudah menyarankan yang terbaik untuk kamu."


Bella turun dari atas ranjang kemudian berjalan kearah Papanya. "Maafin Bella Pa, hiks.." ucapnya sambil memeluk Papanya.


Tangin Bella tambah jadi saat mendengar kata 'Mama' barusan keluar dari mulut Papanya. Dirinya memang benar-benar bodoh dan sudah terlanjur menyesal karena sudah mengecewakan kedua orangtuanya.


Roy melepas pelukan dari anaknya. "Istirahatlah, kata dokter kamu harus banyak-banyak istirahat." ujarnya kemudian pergi berlalu meninggalkan Bella serta Alan yang masih diam di posisinya.


Bella menangis sambil sesegukan melihat punggung Papanya yang sudah mulai menjauh.


Alan menghampiri Bella kemudian berdiri di depannya. Bella mendongakkan kepalanya menatap wajah Alan tanpa ekspresi.


"Apa?! Udah puas sok jadi pahlawan di depan Papa iya?!" ketus Bella sedikit membentak.


Alan hanya diam menatap gadis dihadapannya ini menangis sesegukan.


"Ishhhhhh nyebelin banget sih! Hiks..Jangan diem aja dong!!" kesal Bella sambil memukul-mukul dada bidang Alan.


Bella kesal karena Alan tidak meresponnya. Ia terus memukul-mukul dada bidang Alan.


"Marah aja sepuasnya Bel, Pukul saya sepuas kamu juga gapapa kalau emang itu bikin kamu lega." ujar Alan


Bella kemudian menghentikan aksinya. Ia lalu menunduk sambil menangis.


Alan kemudian menangkup wajah Bella kemudian menghapus airmata yang membasahi pipi gadis itu dengan ibu jarinya.


"Ini semua sudah terjadi Bel. Tidak perlu disesali karena percuma itu tidak akan bisa mengembalikkan semuanya seperti semula." ujar Alan sambil menatap kedua mata Bella.


Bella menatap kedua mata Alan yang begitu lekat. Dia begitu tulus, benar-benar tulus.


"Sana istirahat, Saya mau bicara sama Ayah dan Ibu dulu." ujar Alan


Bella langsung memutuskan kontak matanya dengan Alan. Dirinya kemudian berbalik dan kembali ke ranjangnya untuk istirahat.


Alan berlalu keluar dari kamar Bella. Kakinya melangkah menuruni tangga hendak menghampiri Ayah serta Ibunya yang sepertinya masih di luar.


"Bu.." panggil Alan saat mendapati Ibunya seorang diri duduk di ruang tamu dengan bahu yang gemetar.


Tia mendongakkan kepalanya menatap kearah anaknya.


Alan duduk tepat di samping Ibunya. "Jangan nangis Bu.. Alan minta maaf." ujar Alan


Tia memutar badannya ke kiri agar posisinya memunggungi Alan.


Alan memegang pundak Ibunya dengan lembut. "Bu.." panggilnya


Tia langsung menepis tangan anaknya. "Enak banget kamu minta maaf! Emang kamu pikir Ibu ga kecewa?!"


Alan terdiam.


"Hiks... Pikirin tuh gimana nasibnya si Bella nanti!"


"Iya Bu, ini Alan juga lagi pikirin kok."


"Pikirin juga gimana nasib anaknya nanti!"


"Iyaa.."


"Jadi cowok tuh harus tanggung jawab! Jangan mau enaknya aja!"


"Yaampun Bu, ini juga kan Alan udah tanggung jawab."


"Ihh tanggung jawabnya tuh ga cuma hari ini aja tapi sampe seterusnya juga!"


"Iya Bu iya. Emang sejak kapan sih anak Ibu yang ganteng ini gapernah tanggung jawab?" canda Alan menghibur Ibunya.


Tia melirik kearah anaknya dengan sinis. "Idih pede banget kamu! Gantengan juga Ayah kamu!"


Alan terkekeh pelan. "Yaudah Ayah sama Alan kan sebelas dua belas gantengnya. Iya nggak?"


"Nggak!"


Alan terkekeh lagi. "Dimana Ayah?" tanyanya


"Di luar, lagi bicara sama Om Roy."


"Ohiyaudah. Ibu mau minum? Alan buatkan minum."


"Hmm."


"Hmm apa?"


"Iya!"


"Iya apa?"


"Iya mau minum Alan! Astaga anak ini yaa.."


Alan terkekeh lagi. "Minum apa Bu?"


"Buatkan Ibu teh anget cepetan!"


"Oke siap bos." kata Alan siap 45, kemudian berlalu ke dapur.


----


Setelah selesai membuatkan teh anget untuk Ibunya, Alan berjalan kembali kearah ruang tamu. Dilihatnya kini ada Ayahnya yang sedang berbicara berdua dengan Ibunya di sana.


"Ini Bu tehnya." ujar Alan sambil meletakkan minuman tersebut di atas meja.


"Kamu harus segera menikahi Bella setelah dia lulus sekolah nanti Alan." ujar Arya tiba-tiba


Alan yang mendengar itu terdiam sejenak.


"Kamu harus menikahinya dan Roy yang meminta itu." ujar Arya lagi.


Alan menghela nafasnya pelan. "Iya." jawabnya singkat.


"Sana, bicaralah pada Papanya Bella. Dia menunggumu di ruang kerjanya." kata Arya


Alan mengangguk mengiyakan kemudian segera berjalan kearah ruang kerja Papanya Bella.


.


.


.


.


TBC


Jangan lupa vote dan komentarnya supaya authornya rajin update😊


Sorry kalau masih banyak typo/penggunaan bahasa yang kurang tepat. Maklumin yaa krn author bukan penulis handal hahaha.. Tolong diingetin juga kalo ada typo/penggunaan kata bahasa yang salah🙏 Thx.