
39.BELLA MARAH
Tubuh Alan seketika menjadi tegang. Perkataan Bella barusan bagaikan bom untuknya.
Bella berbalik hendak membuka pintu rumahnya, tetapi lagi-lagi Alan menahan tangannya. Alan memutar tubuh Bella agar ia berhadapan dengannya.
Alan menyelipkan pinggiran rambut Bella ke belakang telinganya, kemudian tangannya menghapus air mata yang membasahi pipi mulus Bella dan menatap kedua mata Bella dengan dalam.
"Stop Alan! Jangan membuatku semakin berharap." Ucap Bella.
"Aku ga mau semua ini berakhir, Bella."
"Semuanya sudah berakhir, Alan. Tidak ada yang perlu di pertanggung jawabkan lagi. Balas budi mu sudah selesai sampai di sini."
Alan menggelengkan kepalanya sambil menatap Bella.
"Terima kasih, sudah mau menolong ku walau hanya sesaat."
Alan terdiam.
"Terima kasih lagi, sudah mau bertanggung jawab atas kehamilanku, walau seharusnya bukan kamulah orang yang bertanggung jawab akan itu. Dan sekarang tanggung jawabmu sudah selesai."
"Tanggung jawab ku belum selesai." Bantah Alan
"Apa lagi yang belum selesai?! Semuanya udah selesai Alan! Janin yang ada di perut aku udah engga ada! Apa lagi yang belum selesai? Hah?!" Marah Bella.
"Kamu. Kamu adalah tanggung jawabku selamanya, Bella Elyana." Ucap Alan sambil menatap Bella dengan serius.
Bella bungkam. Air mata masih terus membanjiri pipinya. Ia pun menunduk tidak tahan menatap kedua mata Alan.
"Pergi lah. Cari kehidupan barumu." Ucap Bella
Alan menggelengkan kepalanya.
"Aku akan mencari Justin kembali dan memintanya untuk melanjutkan pertanggung jawaban ini." Ucap Bella lagi. Mengingat nama Justin membuat luka lamanya terbuka kembali.
Mendengar nama Justin disebut Alan langsung merubah ekspresi wajahnya. Apa Bella masih mencintai Justin?
"Pergi, Alan." Ucap Bella
Alan hanya diam tak bergeming.
Bella menghela nafasnya. Alan masih diam di posisinya. Bella pun geram, ia langsung kembali berbalik dan masuk ke dalam rumahnya begitu saja. Ia meninggalkan Alan yang masih diam terpaku di posisinya.
Alan tidak bisa menahan Bella kembali, nyatanya dia lebih memilih kembali kepada Justin dan Alan tidak bisa memaksa itu.
Bella menutup pintu rumahnya dengan rapat. Lalu pergi ke kamarnya. Tubuhnya langsung ia hempaskan begitu saja di atas ranjang kemudian melanjutkan tangisannya yang tadi.
Alan pergi meninggalkan rumah Bella. Ia butuh ketenangan karna pikirannya begitu kacau saat ini, Alan langsung mengendarai mobilnya ke sebuah cafe terdekat.
Di sisi lain, tanpa Alan dan Bella sadari ternyata Roy melihat serta mendengar semua apa yang di ributkan mereka berdua di depan pintu tadi. Roy masih diam terpaku di balik jendela kamarnya yang mengarah ke luar. Ia yang baru mengetahui kebenarannya itu barusan, ia pun kecewa dan sedih.
Roy kecewa pada dirinya sendiri, ia merasa sudah begitu gagal mendidik anaknya. Pasti almarhum istrinya juga ikut kecewa dan sedih jika melihat dirinya sudah gagal mendidik Bella.
"Maafkan Papa, Nak." Batin Roy
Roy kemudian keluar dari kamarnya saat melihat mobil Alan sudah pergi menjauh. Tak lupa ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, kemudian Roy langsung masuk kedalam mobil dan mengendarainya menuju rumah Arya (Ayahnya Alan).
---------
Di cafe, Alan hanya duduk seorang diri, Kedua matanya sengaja ia pejamkan, sedangkan tangan kanannya sibuk memijit pangkal hidungnya, pikirannya benar-benar kacau saat ini, terlebih saat Bella menyebut-nyebut nama Justin tadi. Mengingat nama itu, kedua tangannya mengepal kuat saat ini.
Lalu seorang wanita datang menghampiri Alan dan duduk tepat di hadapannya.
"Hai," sapa wanita tersebut.
Alan langsung membuka kedua matanya. Seketika ia terkejut melihat wanita dihadapannya saat ini.
"Dinda.." gumam Alan.
Dinda kemudian memanggil pelayan untuk memesan sesuatu. Tak lama kemudian pelayan datang, Dinda pun langsung menyebutkan apa yang ingin dipesannya. Sesudah itu pelayan kembali pergi.
"Kamu ngapain sendirian di sini?" tanya Dinda.
Alan hanya diam terpaku. Ia merasa ada yang berbeda dengan penampilan Dinda saat ini. Rambut panjangnya itu dibiarkan terurai, Sekilas ia merasa Dinda ini mirip dengan Bella, karna penampilannya begitu mirip dengan Bella saat ini. Apa ini hanya halusinasinya saja?
------
Bella masih berbaring diatas ranjangnya. Pikirannya masih tertuju pada kejadian yang tadi. Lalu ponsel di saku celananya berdering. Buru-buru ia melihat siapa yang menelfon.
Dahinya bergelombang, nomer tidak dikenalnya menelfon. Siapa ini?
Langsung saja ia mengangkatnya.
"Halo?"
"I-iya betul saya anaknya, maaf maksudnya apa ya?" tanya Bella balik
"Ini dari pihak kepolisian. Kami menemukan ponsel serta identitas korban dan ingin menginformasikan bahwa korban atas nama Roy Megantara beberapa menit yang lalu telah mengalami kecelakaan tunggal di Jl.Sobirin."
Mendengar itu Bella langsung kembali menitikkan airmatanya.
"Saat ini korban sedang dalam penanganan serius oleh tim medis. Mungkin anda atau keluarganya yang lain bisa datang ke rumah sakit umum di Jl. Sobirin untuk melihat sendiri bagaimana kondisi korban."
Bella menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Air mata terus membanjiri pipinya saat ini. Satu masalah belum selesai dan Tuhan sudah memberikan masalah yang baru lagi untuknya.
Tuhan.. Apa kau sedang mengujiku saat ini?
"Halo?" ujar orang tersebut dari seberang telfon.
"I-iya saya akan segera ke sana." jawabnya dengan suara bergetar karna sambil menangis.
Bella langsung mematikan ponselnya. Ia harus segera menghubungi keluarga Alan. Di telfonnya nomer Ayahnya Alan, tetapi tak kunjung diangkat. Sudah berkali-kali Bella menelfon tetapi hasilnya nihil.
Bella menoleh kearah jam dinding. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam. Apa mereka semua sudah tidur?
Lalu di nomer kontak ponselnya tertera nama Alan paling atas. Apa ia harus menghubungi Alan juga?
Bella benar-benar bimbang saat ini. Tetapi bagaimanapun juga Alan masih sebagian dalam keluarganya saat ini. Dengan tangan bergetar ia pun langsung mengirimi sms kepada Alan.
💬Bella : "Kamu lagi dimana?"
Send.
Bella hanya mondar-mandir di dalam kamarnya sambil memegang ponselnya. Dilihatnya lagi ponselnya itu, ternyata belum ada balasan dari Alan.
"Hiks.. kenapa gak ada yang respon sih.." gumamnya masih sambil menangis.
💬Bella : "Papa ku masuk rumah sakit. Kamu dimana?"
Send.
Bella kembali mengirim pesan kepada Alan tetapi Alan tak kunjung membalas pesannya.
Tanpa pikir panjang iapun langsung menelfon Alan. Tetapi sama saja hasilnya tetap nihil, dia tak kunjung menjawab panggilan telfonnya. Sudah berkali-kali Bella mencoba menghubunginya. Ia pun mulai geram dan langsung mencari tahu dimana keberadaan Alan saat ini lewat aplikasi.
Bella mengernyitkan dahinya saat melihat dimana posisi Alan saat ini. Sedang apa dia di cafe malam-malam begini?
Kebetulan cafenya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Langsung saja Bella berjalan cepat keluar untuk menghampiri Alan yang sedang berada di cafe.
Bella men-stop taxi yang berlalu lalang di pinggir jalan raya. Ia langsung menumpangi taxi tersebut menuju cafe.
Ia mencoba menghapus airmatanya yang tesisa di pipi. Kenapa di saat-saat seperti ini semua orang tidak ada yang perduli padanya?
Ya Tuhan.. Bella benar-benar merasa sendiri saat ini.
-------
Di sisi lain, Alan benar-benar di buat bingung oleh wanita di hadapannya ini. Kenapa sikap serta penampilannya sangat mirip dengan Bella.
"Alan.." panggil Dinda saat merasa Alan hanya diam tak bergeming.
"Are you okay?" tanya Dinda.
Alan masih diam terpaku di posisinya sambil menatap Dinda dengan tatapan yang tidak biasa.
Damn! Wanita di depannya ini benar-benar mirip istrinya.
Dinda ikut menatap Alan dan tersenyum penuh harap. Dengan berani ia memegang pundak Alan.
Lama kelamaan Dinda berani mendekatkan wajahnya kearah wajah Alan. Dia seakan hendak mencium Alan. Alan pun hanya diam tidak bergeming, ia masih tidak percaya akan ini.
"Alan.." panggil seseorang dari seberang.
Alan langsung tersadar dan menoleh keasal suara yang barusan memanggil namanya. Ia terkejut saat mendapati Bella berdiri disana dengan berlinang air mata.
"Bella.." gumam Alan.
.
.
.
To be continued..