
02.OM-OM MENYEBALKAN
Roy mengetuk-ngetuk pintu kamar anaknya. Tak lama kemudian pintu terbuka dan Bella keluar.
"Apa?" cuek Bella.
"Papa mau berangkat ke bandara." ujar Roy
"Yaudah berangkat aja."
"Nanti sore bi Nana datang kesini, dia menginap juga disini selama Papa tugas di Malang."
Bella hanya bergumam. "Hmm"
"Kalau ada apa-apa segera hubungi Papa, atau kamu hubungi Alan."
"Alan? Om-om yang tadi di bawah?" tanya Bella
"Dia masih muda Bella, tidak pantas kamu panggil seperti itu."
"Yee lagian dia ngatain Bella remaja labil." sewotnya.
"Ingat yaa, kamu tidak bisa macam-macam karena ada Alan yang mengawasi dan melaporkan ke Papa setiap kegiatan yang kamu lakukan sehari-hari."
"Ha? Segitunya kah?"
"Kunci mobil Papa bawa supaya kamu gak bisa keluyuran kemana-mana bawa mobil seenaknya. Kalau kamu mau kesuatu tempat minta antarkan Alan saja."
Raut wajah Bella tampak kesal saat papanya memberitahu bahwa kunci mobil dibawa.
"Paa.. Bella ini sudah dewasa, kenapa sih harus diawasi gitu? Lagian juga Bella gaakan macem-macem kok, jangan dibawa kunci mobilnya yaa plissss" mohonnya
Roy menggeleng. "Tidak bisa Bella."
Raut wajah Bella kini memelas. Papanya itu memang kelewatan, segitunya kah? jika begini kan dirinya tidak bisa pergi kemana-mana.
"Papa pamit sayang," ucap Roy sambil mengelus-elus puncak kepala anaknya dengan lembut.
"I Love you.. Papa pergi dulu." lanjutnya kemudian mengecup kening anaknya dengan sayang.
Bella hanya diam. Ini adalah kecupan yang sudah ia tidak rasakan sejak dua tahun lalu. Baru kali ini Papanya menciumnya lagi dengan sayang. Seketika dirinya jadi rindu akan sosok Mamanya.
Roy berbalik dan pergi berlalu meninggalkan Bella yang masih terdiam ditempat. Bella hanya bisa melihat punggung Papanya yang menjauh, ingin rasanya ia memeluk Papanya tetapi egonya terlalu tinggi.
Bella berbalik dan kembali masuk kedalam kamarnya. Pintunya ia tutup begitu saja dan segera berjalan kearah jendela dikamarnya. Ia geser sedikit tirai jendelanya agar bisa melihat kearah luar.
Dilihatnya kini ada pria yang mengatai dirinya remaja labil tadi sedang menenteng sebuah koper besar milik Papanya. Sepertinya dia hendak memasukkan koper itu kedalam mobil berwarna putih tadi. Sudah bisa ditebak bahwa itu adalah mobilnya.
Eitss.. Mobilnya? Apa itu artinya Alan yang mengantar Papanya ke bandara?
Bella masih mengintip dibalik jendela kamarnya. Kini dilihatnya Papanya baru keluar dari dalam rumah, seketika air matanya menetes begitu saja.
Papanya masuk kedalam mobil begitu juga dengan Alan. Mereka berdua kini sudah berada di dalam mobil bersama. Kemudian mobil putih itu melaju meninggalkan halaman rumah.
"Hati-hati dijalan, Pa. I love you too." ucapnya sedikit bergetar karena sambil menangis.
****
Kini jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, Bella belum juga keluar dari kamarnya sejak tadi siang. Dirinya merasa begitu bosan. Ia bangkit dari posisinya dan segera mengganti pakaiannya, Bella berniat ingin keluar untuk makan sebentar karena perutnya sudah meminta jatah.
Sesudah berganti pakaian, Bella keluar kamar dan menuruni tangga hendak menuju ke pintu utama dan tiba-tiba langkahnya terhenti saat sudah tiba di depan pintu utama hendak membukanya. Bella menghentikan langkahnya karena merasa ada seseorang yang berbicara kepadanya.
Bella menoleh kebelakang, dilihatnya kini Alan sedang berdiri dengan jarak beberapa meter saja darinya.
"Mau kemana malam-malam begini?" tanya Alan dengan nada datar.
Bella hanya memutar kedua bolamatanya malas tanpa mau menjawab pertanyaan dari Alan. Dirinya kembali berbalik dan membuka pintu.
"Saya akan laporkan ke Papa kamu, kalau kamu keluar tanpa seizin saya." ujar Alan masih di posisi yang sama.
Bella tidak jadi melangkahkan kakinya keluar. Kini dirinya hanya berdiri di depan pintu yang sudah terbuka. Bella berbalik badan dan kini jadi menghadap kearah Alan.
"Eh denger ya Om-om! Kamu itu disini cuma numpang! jadi gausah sok-sokan ngatur si pemilik rumahnya, Nggak sopan tau!" balas Bella ketus.
Alan menaikkan sebelah alisnya.
Bella baru beberapa langkah keluar tetapi lagi-lagi langkahnya terhenti karna Alan kembali berbicara.
"Lebih tidak sopan kamu." balas Alan
Bella benar-benar sudah kesal saat ini. Dirinya tidak menghiraukan itu dan kembali berjalan tanpa mau menoleh kebelakang.
"Tunggu Bella!"
"Bell"
"Bella!"
Alan mengejar Bella yang sudah keluar gerbang, Bella tidak menghiraukan itu dan tetap berjalan dengan langkah cepat.
"Oke kamu mau kemana?? Saya yang antar." ujar Alan sedikit berteriak karena kini jaraknya dengan Bella sudah cukup jauh.
Seketika langkah Bella tehenti saat mendegar Alan berbicara sebagaimana barusan. Sepertinya itu adalah kesempatan yang bagus dan dirinya akan merencanakan sesuatu nantinya.
Alan diam ditempatnya saat Bella menghentikan langkahnya. Bella kemudian berbalik dan menatap kearah Alan.
"Om mau anterin aku? Okee kalau gitu cepatan!"
Alan terdiam sebentar.
"Cepetan!!!" teriak Bella kesal.
Alan mengangguk mengiyakan dan segera berbalik untuk mengambil mobilnya yang terparkir di halaman rumah Om Roy.
Bella menunggu di sisi jalan sambil memainkan kukunya. Lalu cahaya terang terlihat membuat Bella menoleh keasal. Dilihatnya kini sebuah mobil berwarna putih sedang menghampirinya.
Mobil itu berhenti tepat di sisinya, Bella sudah bisa menebak kalau itu ialah mobil Alan. Langsung saja Bella membuka pintunya dan duduk di kursi penumpang belakang.
"Emangnya saya supir kamu ya?" tanya Alan sambil melirik kearah kaca spion dalam yang mengarah kearah belakang tepatnya kearah Bella.
Bella menyilangkan kedua tangannya didepan dada dengan angkuh. "YA!" jawabnya kesal.
"Pindah kedepan Bel," pinta Alan
"Gak!"
"Pindah!"
"Gamau!
"Yaudah kalau gitu ga jalan."
"Pindah ke depan Bella Elyana." ujar Alan sedikit memperjelas.
"Iya iya! Bawel banget sih Om-om!" cibir Bella kemudian langsung keluar untuk berpindah tempat duduk menjadi di depan.
Alan yang mendengar itu menggelengkan kepalanya.
Bella kini sudah duduk dikursi penumpang depan. Dirinya tidak mau melihat kearah Alan sedikitpun. Alan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Mau kemana?" tanya Alan
"Cafe!" jawab Bella ketus.
"Cafe mana?"
"Mana aja!"
"Ngapain kesana?"
"Yaa makan lah masa mau ngemis!"
Alan terkekeh pelan mendengar itu. Sedangkan Bella hanya melirik kearah Alan tanpa mau menoleh.
"Ohh jadi ceritanya kamu lagi laper?"
"Yaa kalau ga laper ngapain makan!" kesal Bella
"Tapi bi Nana kan di rumah udah masak." beritahu Alan.
"Lagi kepengen makan di luar. Udah deh gausah banyak tanya!"
Alan masih terkekeh pelan sambil menyetir. Sepertinya ini akan menjadi hobi barunya menggoda Bella hingga kesal.
***
Kini Alan dan Bella berada di sebuah Cafe yang tidak terlalu ramai. Mereka berdua sudah memesan beberapa menu dan kini semuanya sudah tersaji di atas meja bundar. Alan benar-benar tidak menyangka bahwa porsi makan Bella begitu banyak, dia begitu banyak memesan menu makanan. Entah Bella bisa menghabiskan itu semua atau tidak.
"Kamu yakin makan sebanyak ini?" tanya Alan
"Iya, Pokoknya Om Alan yang traktir!" balas Bella enteng sambil mengunyah.
Bella tersenyum miring menatap Alan seakan baru saja memulai permainannya. Kini dirinya merasa menang karena sudah berhasil mengerjai Alan. Bella sengaja melakukan ini agar Alan tidak betah dengannya dan menyerah kemudian pergi begitu saja. Well, dengan begitu Bella akan senang karena tidak ada lagi orang yang bisa mengawasinya kesana-kemari. Bella sangat yakin, semua menu makanan yang dipesannya saat ini pasti jumlahnya tidak sedikit.
"Semoga saja kamu menyerah dengan ku, Alan." batinnya sambil tersenyum miring.
Alan hanya diam.
"Kenapa diem aja? Ga mampu bayar?!"
Alan mengernyit. Sepertinya Bella begitu merendahkannya.
"Tidak apa, asal kamu berjanji akan menghabiskan semua makanan itu. Kalau kamu mau nambah lagi juga gapapa, asal dihabiskan."
Bella seketika melongo.
"Janji bakal dihabiskan semua ya?" tanya Alan
"Hmm iya." jawab Bella sedikit keberatan.
Entah ia bisa menghabiskan semua makanan-makanan itu atau tidak. Bella masih ragu.
-----
Alan menatap gadis kecil didepannya ini menahan tawa. Dirinya tahu bahwa Bella tidak akan bisa menghabiskan semua makanan-makanan yang sudah tersaji dimeja sekarang. Dia benar-benar gadis kecil yang cukup rakus.
"Ayo di habiskan, Bella." ujarnya
Bella menatap kearah Alan dan meneguk salivanya dengan kaku. "Makanannya tidak enak!" bohongnya.
Alan mengerutkan dahinya bingung. "Tidak enak?"
Bella mengangguk cepat. Alan lalu menyicipi beberapa makanan yang belum disentuh Bella sama sekali.
"Ini semua enak. Dari mana kamu tahu itu semua tidak enak?"
"Aku tadi udah sempet cobain dan rasanya tidak enak."
Alan menatap Bella curiga. "Kalau tidak enak, kenapa kamu pesen?"
"Aku belum pernah nyoba jadi mau pesen aja."
Alan menghela nafasnya. "Ini mubazir namanya, Bel."
Bella hanya diam.
"Yasudah, karena kamu gabisa habisin makanan-makanan itu. Berarti kamu yang bayar semuanya."
Bella seketika terkejut. WHAT?!
Kini dirinya merasa seperti mendapat bom yang begitu tiba-tiba. Bagaimana bisa ini jadi berbalik malah dirinya yang harus membayar semuanya? Padahal dirinya berniat ingin mengerjai Alan, tetapi kenapa malah dirinya yang balik dikerjai oleh Alan.
'****' batin Bella
"Tapi kan tadi om udah bilang mau traktir. Kenapa aku malah jadi bayar sendiri?!" kesalnya
"Kan perjanjiannya tadi seperti itu." balas Alan santai
"Bilang aja kalau om gada uang buat bayar ini semua! Iyakan?!" Bella malah memojokkan Alan.
Alan menaikkan sebelah alisnya menatap Bella. Sedangkan Bella menatap Alan dengan tatapan sebalnya. Ia lalu beranjak dari posisinya dan pergi begitu saja.
Alan mendengus pasrah saat Bella pergi begitu saja meninggalkannya.
Bella berjalan keluar restaurant. Dirinya benar-benar kesal dengan Alan hari ini. Dia memang pria yang menyebalkan. Belum ada 24 jam ia bersama Alan, tetapi pria itu sudah benar-benar membuat darahnya naik. Saat taxi lewat langsung saja ia memberhentikanya. Ia masuk kedalam taxi untuk pulang.
Alan berjalan keluar restaurant berusaha mengejar Bella. Tetapi terlambat, karena gadis itu sudah lebih dulu masuk kedalam taxi.
Buru-buru Alan kembali masuk kedalam restaurant untuk membayar semua makanannya dan setelah itu kembali keluar untuk mengejar Bella dengan mobilnya.
.
.
.
.
Jangan lupa vote dan komentarnya yaa, supaya authornya rajin update😊