
40.MINTA MAAF
Bella mematung sebentar di posisinya. Ia benar-benar kecewa pada Alan saat ini. Dengan mata kepalanya sendiri dirinya melihat bahwa Alan hendak berciuman dengan seorang wanita yang wajahnya belum ia lihat, karna wanita itu membelakanginya.
Air matanya kembali jatuh. Entah sudah keberapa kalinya hari ini ia menangis.
Tanpa pikir panjang Bella langsung berbalik dan berlari meninggalkan cafe.
Melihat itu Alan langsung menjauhkan tangan Dinda yang masih di bahunya kemudian bangkit dari posisinya dan berlari mengejar Bella.
"Bella!" panggil Alan.
Dinda menoleh kebelakang, kini ia melihat punggung Bella yang menjauh berlari keluar cafe. Ia pun tersenyum kemenangan.
Alan masih mengejar Bella yang berlari, bahu istrinya itu bergetar karna sambil menangis.
Alan benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya sendiri saat ini. Dia begitu bodoh, bisa teracuni pikirannya hanya karna seorang Dinda.
"Bella, tunggu!" panggil Alan
Bella pun menghentikan langkahnya di pinggir jalan yang sudah mulai sepi karna sudah hampir larut malam. Kepalanya menunduk dan masih sambil menangis.
Alan berhenti tepat di belakang Bella. Ia memegang bahu istrinya itu dengan lembut. "Bel.." panggilnya.
Bella langsung menepis tangan Alan saat itu juga.
"Aku minta maaf." ucap Alan
Bella tidak menoleh sedikitpun. Posisinya masih memunggungi Alan.
"Udah cukup untuk semuanya, Alan." ucap Bella.
Alan diam.
"Memang seharusnya kita dari awal ga memulai ini semua." lanjut Bella.
Alan kemudian memeluk istrinya itu dari belakang. Ia peluk dengan begitu erat seakan tidak ingin kehilangan wanita yang dipeluknya saat ini.
"Maafin aku.." ucap Alan sambil menciumi kepala Bella.
"Lepasin aku!" berontak Bella
Alan tidak mau melepaskan Bella dari pelukannya. Bella pun akhirnya berhenti memberontak. Tenaganya benar-benar sudah dikuras hari ini, ia begitu lelah seakan sudah tidak ada tenaga lagi.
Alan kemudian memutar tubuh Bella agar menjadi berhadapan dengannya. Lalu tangan kokohnya kembali mendekap Bella ke dalam pelukannya.
"Kamu jahat, kamu jahat, kamu jahat!" Kesal Bella sambil memukul-mukul dada bidang Alan.
"Hiks.. kamu jahat, Alan!" Marah Bella.
"Aku gak mau kehilangan kamu, Bel. Please jangan pergi.." ucap Alan masih sambil memeluk tubuh Bella.
Bella menangis sesegukan di dalam pelukan Alan. Ia benar-benar menjadi wanita yang lemah saat ini.
"Papaku masuk rumah sakit. Hiks.." ucap Bella tiba-tiba di sela-sela tangisnya.
Alan mengendurkan pelukannya sedikit saat mendengar Bella berbicara barusan.
"Hiks.. Aku butuh kamu, Alan." ucap Bella lagi.
Alan pun melepaskan pelukannya dan tangannya beralih menangkup wajah istrinya. "Gimana bisa Papa kamu masuk rumah sakit???" tanyanya
Bella hanya menggeleng lemah. Tanpa pikir panjang Alan langsung membawa Bella berjalan kearah mobilnya parkir.
Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Alan langsung memakaikan sabuk pengaman untuk Bella, tak lupa ia juga kenakan sabuk pengamannya sendiri.
"Dimana alamat rumah sakitnya?" tanya Alan to the point.
Bella langsung memberitahu alamat rumah sakitnya. Alan pun segera melajukan mobilnya ke rumah sakit tujuan.
-------
Setibanya di rumah sakit, Bella dan Alan langsung menuju meja informasi untuk bertanya dimana keberadaan Papanya Bella saat ini. Orang yang bertugas di meja informasi tersebut pun langsung memberitahu dimana keberadaan Roy saat ini.
Bella dan Alan langsung berjalan kearah ruang Unit Gawat Darurat untuk memastikan. Bertepatan sekali saat mereka tiba di depan ruang UGD dokter yang baru selesai menangani itu keluar dari dalam ruangan.
Bella langsung menghampiri dokter tersebut dan bertanya bagaimana kondisi Papanya saat ini. "Gimana keadaan Papa saya, Dok?" tanyanya
"Anda keluarga dari pasien?" tanya Dokter itu.
"Saya anaknya."
Dokter itu kemudian menghela nafasnya. "Sebelumnya kami minta maaf, kalau Pasien yang baru saja kita tangani tadi sudah menghembuskan nafas terakhirnya." ujarnya
Seketika tubuh Bella terasa lemas begitu saja. Air mata semakin deras membasahi pipinya. Ia menggelengkan kepalanya kuat seakan tidak percaya apa yang dikatakan dokter barusan.
"Bohong!" bantah Bella
"Bel--" Alan hendak berbicara sesuatu tetapi Bella malah langsung berlari masuk kedalam ruang UGD begitu saja.
"Papa!!!!" teriaknya memanggil Papanya saat melihat seseorang yang begitu ia sayangi tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan kedua mata yang terpejam serta wajahnya yang pucat.
Bella mengguncangkan bahu Papanya seakan sedang mencoba untuk membangunkan Papanya. "Hiks.. Papa bangun..Bella disini..."
"Paaa bangunnnn!!"
Papanya benar-benar tidak berdaya saat ini. Banyak luka terdapat di bagian tubuh serta wajahnya, apa sebenarnya yang terjadi, bagaimana bisa Papanya pergi meninggalkannya secepat ini?
"Hiks.. Papa bangunnnn!!"
"Bella sayang sama Papa. Papa bangun sekarang hiks.. Jangan tinggalin Bella, Pa.."
"Hiks..Paa bangun.. Kenapa Papa jahat ninggalin Bella?? Kenapa Papa lebih dulu nyusul Mama.."
Alan melihat Bella yang begitu terpuruk saat ini. Ia pun langsung menarik tubuh Bella kedalam pelukannya seakan sedang memberinya kekuatan.
"Doakan yang terbaik untuk Papa kamu, Bel." ucap Alan sambil mengelus-elus puncak kepala Bella.
"Hiks.. Aku sayang sama Papa, Alan.." ujar Bella sambil menangis sesegukan di dada bidang Alan.
"Aku tahu itu, Bel."
"Aku masih ga percaya, Papa ninggalin aku secepat ini. Aku gatau harus kemana, Aku sendirian, Aku gapunya siapa-siapa lagi, Alan. Hiks.." ucap Bella
Alan menggelengkan kepalanya kemudian melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah Bella dan menatap kedua matanya dengan serius.
Bella hanya diam masih sambil menangis. Hari ini Tuhan benar-benar sedang mengujinya.
Ibu jari Alan kemudian mengusap pipi Bella yang terdapat air mata. "Kamu masih ada aku, Bel." Ucapnya lagi.
"Hiks..Papa ninggalin aku, Alan." Ucap Bella
Ibu jari Alan masih mengusap pipi Bella yang terdapat air mata. "Jangan menangis. Pasti Papa kamu ikut sedih kalau lihat kamu nangis."
"Aku merasa udah gagal jadi anak yang baik. Aku belum bisa bahagiain Papa, Aku cuma bisa bikin Papa sedih dan kecewa, Aku belum sempet minta maaf sama Papa atas semua apa yang udah aku perbuat selama ini."
"Papa kamu sudah bahagia di sana Bel, karna dia bertemu dengan Mama kamu." Kata Alan.
"Hiks.. Pasti mereka berdua di sana kecewa sama aku, Alan. Aku bukan anak yang baik."
"Percayalah, Tidak ada orang tua yang menganggap anaknya tidak baik." Alan terus memberikan kata-kata positif untuk menguatkan Bella.
Bella kemudian menoleh kearah Papanya yang masih terbaring kaku di atas ranjang rumah sakit. Ia kemudian memeluk tubuh Papanya. "Pa.. maafin Bella belum bisa jadi anak yang baik untuk Papa. Semoga Papa bahagia bisa nyusul Mama di sana. Bella sayang sama Papa, Bella titip salam untuk Mama ya Pa.. Love you." Ucapnya kemudian mengecup kening Papanya yang terasa dingin.
Sekilas ia jadi mengingat masa-masa kecilnya dulu, dimana Mama serta Papanya itu memberi kasih sayang kepadanya begitu tulus. Merawatnya, mendidiknya serta menjaganya dengan sepenuh hati.
*****
Keesokkan harinya selepas dari pemakaman Papanya Bella. Bella memutuskan untuk tinggal di rumahnya dulu dalam beberapa hari. Tentu saja Alan ikut, ia tidak mungkin meninggalkan Bella seorang diri di rumahnya.
Bella, Alan, serta kedua orang tua Alan sedang berduka. Mereka semua masih tidak menyangka bahwa Roy secepat ini pergi. Rencana Tuhan memang sulit di tebak. Padahal belum ada seminggu Mereka juga sedang berduka karna janin Bella yang tidak terselamatkan.
Bella hanya diam duduk di pinggir ranjangnya dengan pandangan yang mengarah ke jendela. Tia yang melihat menantunya itu sedang melamun pun langsung menghampirinya. Tangannya memegang pundak Bella dengan lembut.
"Nak.." panggilnya
Bella menoleh. Tia kemudian duduk di samping Bella.
"Bu.. Maafin Bella ya," ucap Bella
"Maaf untuk apa?" Tanya Tia
"Maaf, untuk kejadian kemarin malam. Ibu udah tau semuanya ya?"
Tia mengangguk. "Mungkin memang sudah seperti ini takdirnya, semuanya tidak akan bisa kembali ke semula."
Bella kemudian memeluk tubuh Tia. "Maafin Bella bu, Bella udah bohongin Ibu sama Ayah." Ucapnya menyesal
Tia mengelus-elus puncak kepala Bella dengan lembut. "Iya Nak, Ibu maafkan. Mungkin memang sudah seperti ini rencana Tuhan."
"Pasti Papa kecewa kalau denger ini, Bu. Bella udah gagal jadi anak yang baik."
"Sssttt sudah, Papa mu sudah tenang di sana."
"Bella udah ga punya siapa-siapa lagi sekarang, Bu. Papa sama Mama pergi ninggalin, Bella."
"Masih ada Alan, Ibu dan Ayah di sini, Nak."
Bella semakin mempererat pelukannya itu. Ia nyaman diposisi seperti ini, ia merasa sedang memeluk Orangtuanya sendiri.
"Terima kasih udah mau nerima aku, Bu" ucap Bella
Tia hanya mengangguk sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Arya datang memasuki kamar Bella. "Bel, bisa bicara sebentar?" Ujarnya
Bella melepaskan pelukannya dan menoleh keasal suara. Ia mendapati Ayahnya Alan berjalan menghampirinya.
"Iya?"
"Di ruangan kerja, Papa mu, ya." Kata Arya kemudian kembali keluar.
Bella mengangguk dan segera bangkit dari posisinya untuk segera ke ruang kerja Papanya, dimana Ayahnya Alan sudah memintanya untuk ke sana.
Bella masuk ke dalam ruang kerja Papanya yang tampak tidak asing itu. Arya kemudian meminta Bella untuk duduk di kursi yang kosong. Bella pun menurut. Sesudah Bella duduk, Arya langsung mengeluarkan sepucuk surat untuknya.
"Dari Papa kamu," ujar Arya sambil memberikan surat tersebut kepada Bella.
"Dari Papa?" Tanya Bella ulang
Arya mengangguk mengiyakan. "Surat itu dibuat sehari sebelum kamu menikah dengan Alan. Dia berpesan, tolong berikan surat ini kepada kamu kalau dia sudah tidak bisa lagi bernafas."
Dengan tangan yang bergetar Bella menerima surat itu. Apa sebenarnya isi surat ini?
"Kamu bisa baca suratnya, Ayah keluar ya." Ujar Arya kemudian bangkit dari posisinya.
Bella hanya mengangguk mengiyakan dan mulai membuka suratnya. Kini ia memegang secarik kertas yang berisi tulisan tangan, Bella pun mulai membacanya.
Untuk anakku, Bella Elyana.
Kalau kamu sedang membaca surat ini, itu artinya Papa sudah tidak ada lagi di samping kamu. Papa sengaja membuat surat ini agar kamu bisa mengerti dan percaya kalau Papa itu sayang sekali sama kamu, Nak.
Maafkan Papa karena belum bisa seperti Orang tua teman-temanmu yang lain, yang selalu ada setiap saat. Papa tahu, pasti kamu membenci Papa. Kamu membenci Papa karna Papa mu ini jarang sekali ada waktu di rumah. Papa mu ini sering bepergian ke luar kota dan meninggalkan mu sendirian di rumah. Percayalah, Papa ini bekerja keras untuk masa depan mu kelak.
Papa pernah marah besar sama kamu saat kamu pulang larut malam, ketahuilah Nak, Papa marah karna Papa begitu perduli padamu. Di usiamu yang masih sangat muda ini Papa begitu khawatir. Papa tidak mau sesuatu buruk menimpa mu.
Hingga berita mengejutkan dari mu membuat Papa begitu hancur. Papa merasa telah gagal mendidik mu. Papa merasa sudah lalai menjaga mu, Papa merasa sudah menjadi orang ter-bodoh karna gagal mendidik anaknya sendiri. Papa malu dengan Mama mu, Nak. Pasti dia kecewa di sana jika tahu ini.
Masalah tentu ada. Di sini kamu bisa belajar, bagaimana cara untuk menyikapi dan menyelesaikannya dengan baik. Papa percayakan kamu pada Alan. Dia lelaki yang bertanggung jawab.
Baik-baik di sana ya, Nak. Biarpun Papa tidak lagi di sisimu, Papa tetap akan menjaga dan mengawasi mu dari sini.
Berbahagialah dengan kehidupan barumu.. semoga kelak kamu menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaknya.
Love,
Air mata Bella jatuh membaca isi surat tersebut. Kemudian pandangannya menoleh kearah bingkai foto yang terpampang di atas meja, bingkai itu menampakkan fotonya serta kedua orang tuanya. Ini adalah hasil pengambil gambar saat dirinya menduduki bangku Kelas 1 SMP.
Di dekapnya bingkai foto tersebut. "Aku sayang kalian, Ma, Pa." Gumamnya.
.
.
.
To be continued..