THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
36



36.TERUNGKAP


Kini Alan, Roy, serta Arya sedang melihat rekaman cctv rumah sakit. Dimana masih ada misteri yang belum terungkap, yaitu siapa wanita yang membawa Bella ke rumah sakit, dan bagaimana dia bisa tahu nama lengkap Bella.


Alan melihat rekaman cctv itu dengan serius. Dimana kini telihat ada seorang wanita dengan tubuh proposional yang berjalan kearah meja informasi. Dengan santainya dia berjalan menghampiri seorang suster di sana. Dia mengarahkan sebuah ponsel kepada suster tersebut dan berbicara sesuatu. Alan merasa ponsel yang di pegang wanita itu ialah ponsel milik Bella, karna Alan hafal apa case yang di kenakan ponsel Bella.


Alan tidak begitu jelas melihat wajah wanita tersebut karna dia membelakangi cctv, Alan hanya bisa melihat punggungg wanita itu.


"Siapa dia?" Tanya Roy penasaran


"Tampaknya tidak asing." Ujar Arya.


"Apa benar dia orangnya, Sus?" Tanya Roy pada suster yang menerima nomer ponsel Ibunya Alan dari wanita tersebut. Karna sengaja Roy juga membawa suster tersebut untuk menjadi saksi.


"Iya Pak, dia adalah orang yang memberitahu nomer ponsel keluarga korban."


"Ciri-cirinya bagaimana?" Tanya Alan


"Seperti yang bapak lihat di cctv."


"Wajahnya tidak terlihat, Dia membelakangi cctv." Kata Alan


"Nah itu dia balik badan." Seru Roy sambil fokus kearah monitor yang masih menanyangka rekaman cctvnya.


Alan dan Arya segera kembali fokus kepada rekaman cctvnya.


Deg.


"Dinda.." gumam Alan


Arya dan Roy secara bersamaan menoleh kearah Alan.


"Kamu kenal sama dia?" Tanya Roy pada Alan.


Alan terdiam. Raut wajahnya seketika berubah.


Arya kemudian kembali melihat rekaman cctvnya untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah liat.


"Alan?" Panggil Roy karna ia tidak mendapat jawaban dari Alan.


Alan kemudian berlari dan pergi begitu saja meninggalkan ruangan. Roy yang melihat itu dibuat bingung. Ada apa sebenarnya? Apa Alan mengenal wanita itu?


"Kenapa dia??" Tanya Roy pada Ayahnya Alan.


Arya menghela nafasnya. "Alan kenal dengan wanita itu."


"Siapa memangnya dia?"


"Masa lalunya."


------------


Alan duduk di bangku taman rumah sakit. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Barusan yang dirinya lihat di cctv benar-benar jelas bagaimana rupa wanita yang menyodorkan nomer ponsel Ibunya kepada perawat rumah sakit. Dia adalah Dinda, masa lalunya.


Alan benar-benar dibuat bingung. Bagaimana bisa Dinda mengenal Bella? Dan apa kecelakaan yang dialami Bella ada kaitannya dengan Dinda?


Alan langsung bangkit dari posisinya dan bergegas meninggalkan rumah sakit. Ia harus menyelidiki kasus ini lebih lanjut.


*****


Malam harinya, Bella tidak melihat batang hidung Alan sejak sore tadi. Kemana dia? Kedua orangtuanya serta Papanya pun tidak tahu dimana keberadaannya. Bahkan Alan sendiripun tidak pamit pada mereka semua. Bella sudah mencoba menghubungi Alan melalui ponsel Papanya tetapi Alan tak kunjung menjawabnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Apa dia kembali kerumah? Tapi kenapa dia tidak bilang padanya ataupun orangtuanya. Bella tidak bisa tidur, padahal ia sudah mengantuk. Pikirannya terus tertuju pada Alan.


Bella merasa ada yang di sembunyikan dari kedua orangtua Alan. Karna sudah terbaca dari raut wajah mereka yang tidak biasa sejak sore tadi.


Apa Alan marah padanya? Apa Alan meninggalkannya begitu saja?


Itu tidak mungkin. Karna baru tadi sore Alan bicara padanya bahwa ia tidak aka meninggalkannya sampai kapanpun dan Bella percaya bahwa Alan bisa memegang perkataannya itu.


*******


Keesokkan harinya, Bella terbangun dari tidurnya saat merasa ada seseorang menggenggam tangannya sedari tadi. Kepalanya menoleh ke arah kanan, dilihatnya kini ada sosok pria yang ia cari sejak kemarin sore itu tengah duduk di bangku sambil menggenggam tangannya. Tatapannya tampak begitu kosong, raut wajahnya pun tak bisa Bella baca. Ada apa dengannya?


Diliriknya kearah jam dinding, kini jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


"Kamu di sini?" Tanya Bella membuka suara


Alan kemudian tersadar dan langsung menatap Bella yang sudah bangun dari tidurnya. "Perlu sesuatu?" Tanya Alan


"Aku mau minum."


Alan pun segera mengambil air mineral di atas meja kemudian langsung menuntun Bella untuk minum. "Pelan-pelan." Ujarnya


Selesai itu Bella kembali menatap Alan, karna ia merasa ada yang berbeda dengan raut wajah Alan saat ini. Apa dia sedang kelelahan?


"Kemarin kemana?" Tanya Bella, karna baru ini dirinya melihat Alan kembali.


"Maaf, kemarin aku ninggalin kamu lama."


"Emangnya abis dari mana?" Tanya Bella penasaran.


Alan terdiam. "Boleh tanya sesuatu?" Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Bella terlebih dahulu.


Bella mengangguk mengiyakan. Sepertinya ada yang di sembunyikan oleh Alan.


"Najwa. Ada apa?"


"Najwa?" Ulang Alan


Bella mengangguk. "Ah iya, aku baru inget. Terakhir aku sama dia, mungkin dia yang bawa aku ke sini."


"Kamu yakin?"


"Iya, tapi aku engga tau dimana dia sekarang."


Alan menghela nafasnya.


"Dia baik. Saat itu dompetku ketinggalan di mobil dan dia yang bayarin semua belanjaanku. Btw, mobil ku di sana udah di ambil Papa belum?"


"Udah, kemarin sore." Jawab Alan


"Ada apa?" Tanya Bella saat merasa ada yang ditutupi oleh Alan saat ini.


Belum sempat Alan menjawab pertanyaan Bella. Ketukan pintu sudah terdengar, Alan dan Bella sama-sama menoleh ke arah pintu. Arya membuka pintu ruangan dan langsung memanggil Alan.


"Ayah mau bicara sama kamu sebentar, Nak." Ujar Arya pada anaknya


Alan menghela nafasnya pelan kemudian bangkit dari posisinya dan menghampiri Ayahnya yang menunggu di luar.


Bella yang melihat itu, ia benar-benar merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka semua.


----


Alan hanya menundukkan kepalanya. Ia seperti orang kebingungan yang tak tau arah jalan pulang. Arya menatap anak semata wayangnya dengan tegas.


"Gimana ini bisa terjadi, Alan? Bagaimana bisa Dinda mengenal Bella?" Tanya Arya pada anaknya


Alan hanya menggelengkan kepalanya seakan ia malas untuk menjawab pertanyaan yang mengenai masa lalunya.


"Apa Bella tidak pernah cerita padamu tentang Dinda?"


Alan menggelengkan kepalanya lagi. "Alan sendiripun bingung, Ayah. Ini semua rasanya tidak masuk akal dan Alan masih tidak percaya kalau semua ini ulah Dinda."


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu semalam?"


Alan mengangguk ragu.


"Buktinya sudah kuat sekali, bahwa Dinda dibalik semua ini. Tapi Ayah ingin bertanya sekali lagi sama kamu, Apa kamu yakin ingin menjebloskannya ke penjara?"


Alan terdiam. Ya, dirinya sudah tau siapa dalang dibalik ini semua. Semalam ia langsung mencari tahu informasi-informasi mengenai insiden dimana Bella terjatuh di eskalator. Ia langsung mendatangi lokasi kejadian dan meminta pihak terkait untuk menayangkan rekaman cctv di Mal tersebut.


Saat di lihat cctv tersebut, Alan benar-benar dibuat terkejut. Bahwa ternyata penyebab kecelakaan yang di alami istrnya ini ialah wanita dari masa lalunya sendiri.


"Ada baiknya kamu temuin Dinda dulu." Saran Arya


"Tapi Ayah, di rekaman cctv itu sudah sangat jelas bahwa Dinda yang mendorong Bella dengan sengaja hingga Bella mengalami pendarahan hebat serta kehilangan janinnya!" Alan sedikit menaikkan nada bicaranya. Ia jadi merasa bersalah pada Bella.


"Hey, tenangkan dirimu. Ayah tau apa yang kamu rasakan saat ini."


"Alan bingung Ayah. Alan harus berbuat apa? Kalau Alan ga kasih Dinda pelajaran pasti dia akan lebih bahaya lagi dan semakin berani untuk mencelakakan Bella. Alan gak mau terjadi sesuatu yang buruk menimpa Bella."


"Sebenarnya apa yang Dinda mau dari kamu dan Bella?"


Alan menggelengkan kepalanya lagi. "Dinda menggunakan nama belakangnya saat berkenalan dengan Bella. Dia begitu licik."


"Nama belakangnya? Najwa kah?"


"Iya."


Arya menghela nafasnya. "Sepertinya lebih baik kamu temui Dinda dan bicara baik-baik dengannya."


Alan hanya diam membisu. Ini yang tidak dirinya inginkan, yaitu bertemu dengan masa lalunya.


"Keberatan?" Tanya Arya saat merasa anaknya tidak merespon.


Alan masih diam membisu seakan belum hisa membuat keputusan.


"Yasudah kalau keberatan, biar Ayah yang temui Dinda." Kata Arya kemudian hendak bangkit dari posisinya.


Alan langsung mencegah Ayahnya yang hendak bangun. "Biar Alan aja." Ucapnya sedikit ragu.


"Apa kamu yakin?"


Alan mengangguk pelan.


"Yasudah, temui dia dan bicaralah padanya."


.


.


.


To be continued..


Seperti biasa jangan lupa vote dan komentarnyaaa yang banyakkkk yaa❣️