THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
01



...Haii sebelum baca cerita nya, baca dulu dosen ku sugar daddy, siapa tau suka sama cerita tersebut, oh iya aku kasih pronolog dikit yaa (:...


-Pronolog


Jakarta, 21.00 WIB


Gadis berambut coklat itu masuk kedalam rumahnya masih dengan seragam putih abu-abu serta ransel dipunggungnya. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat melihat papanya duduk santai di sofa ruang tamu sambil menatap kearahnya.


Gadis itu bernama Bella Elyana, kini kehidupannya berubah semenjak kepergian mama untuk selamanya, tidak seperti dua tahun lalu yang begitu berwarna, dirinya merasa kini hidupnya hanya memiliki dua warna yaitu hitam dan putih. Begitu membosankan.


Bella hanya menatap datar kearah Papanya yang sedari tadi menatap kearahnya. Dilihatnya kini papanya melirik kearah jam tangan yang melekat dipergelangan tangannya.


"Jam berapa ini?" sindir Roy.


Bella menaikkan sebelah alisnya. "Lah Papa kan pake jam, kenapa ga liat aja sendiri sekarang jam berapa?" balasnya sedikit sewot.


Roy menghela nafasnya pendek. "Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" tanyanya kepada anak semata wayangnya itu.


Bella memutar kedua bolamatanya malas dan tidak menjawab pertanyaan dari Papanya barusan.


"Duduk!" perintah Roy


Bella menurut dan ia pun segera duduk sesuai apa yang diperintahkan.


"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang sekolah?!" tanya Roy dengan tegas.


"Apa sih urusan Papa? Penting emang kalo aku jawab?"


"Bella.. kamu ini anak Papa satu-satunya, Jadi tidak boleh pulang larut malam begini. Kamu seharusnya tau wak--" ucapan Roy dipotong oleh Bella.


"Waktu? Iya? Papa selalu bicara soal waktu, sedangkan Papa sendiri ga pernah ada waktu buat Bella!" bantahnya kesal.


"Papa bekerja Bella!"


Bella tertawa merendah. "Bekerja? Ohiya bagus. Papa memang giat sekali bekerja sampai lupa waktu!" balas sindirnya.


"Papa bekerja kan untuk kamu juga Bella!"


Bella memutar kedua bolamatanya malas. "Udah deh aku capek Pa, Mau tidur!" balasnya dan hendak bangkit dari posisinya tetapi tidak jadi karena Papanya berbicara lagi.


"Besok siang Papa akan berangkat ke Malang." ujar Roy


Bella hanya diam.


"Melihat sikap mu barusan membuat Papa ragu untuk pergi besok." ujar Roy lagi


"Bella udah biasa sendiri." balasnya tanpa mau menatap kearah Papanya.


Jujur mendengar kabar bahwa Papanya akan tugas ke luar kota besok itu membuatnya ingin menitikkan airmatanya saat ini juga. Apa Papanya itu tidak lelah terus bekerja sampai rela meninggalkannya begitu?


"Bagaimana pun juga Papa tidak sepenuhnya percaya meninggalkan mu sendiri di rumah."


"Dirumah kan ada Bi Nana."


"Yaa dia kan tidak tinggal disini. Dia kesini hanya kalau ada pekerjaan rumah yang harus di kerjakan saja."


"Suruh aja Bi Nana nginep disini."


Roy memijit pangkal hidungnya seakan sedang memikirkan bagaimana caranya agar tenang meninggalkan anak gadisnya itu sendiri dirumah tanpa pengawasan lebih. Seketika dirinya ingat akan seseorang, yang ia rasa mampu menjaga anak gadisnya selama dirinya di luar kota untuk pekerjaan.


"Papa akan menyuruh anaknya kerabat kerja Papa menjaga mu disini agar kamu tidak bisa macam-macam dan keluyuran hingga larut malam seperti ini lagi."


Mendengar itu Bella menghela nafasnya pasrah. "Hmm, terserah." balasnya kemudian bangkit dari posisinya dan pergi meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya di lantai dua.


...___________________________________________________________________...


01.MEMBOLOS SEKOLAH


Keesokkan harinya, Bella sudah siap dengan seragam putih abu-abunya hendak bergegas ke sekolah. Kakinya menuruni anak tangga hendak menuju ruang makan untuk sarapan.


Setibanya di ruang makan, dirinya mendapati Papanya sedang duduk di bangku sambil memasukkan beberapa potongan roti yang sudah diberinya selai cokelat kedalam kotak bekal. Sepertinya Papanya itu hendak membawa bekal ke kantor. Tetapi jika dilihat dari pakaian Papanya saat ini dia tidak mengenakan kemeja ataupun pakaian yang biasanya ia kenakan untuk bekerja. Kini Papanya hanya mengenakan kaos polo serta celana santainya. Apa dia tidak bekerja hari ini? ah entahlah, ia tidak terlalu memusingkan hal itu.


Papanya itu lalu memberi ucapan selamat pagi kepada Bella, Namun tidak ada sepatah katapun balasan darinya.


"Itu minum dulu susunya, sudah Papa siapkan." ujar Roy memberitahu


Bella segera meneguk segelas susu cokelat yang sudah tersedia diatas meja hingga habis. Lalu tangannya meraih sepotong roti tawar yang masih polos belum diberi selai apapun diatasnya untuk dimakan.


"Bella pamit." ujarnya sambil mengunyah


"Tunggu sebentar Bell." cegah Roy saat anaknya hendak pergi.


Bella menghentikan langkahnya lalu menoleh. Dilihatnya kini Papanya berjalan mendekat kearahnya sambil membawakan sekotak bekal tadi yang baru diisinya dengan beberapa roti tawar.


"Bawa ini." ujar Roy sambil memberikan kotak bekal tersebut kepada anaknya.


Bellaa menaikkan sebelah alisnya.


"Untuk mengisi perut mu saat jam istirahat nanti." jelas Roy


Bellaa lalu menerima kotak bekal tersebut dan segera berjalan hendak keluar. Seketika Bella baru teringat akan sesuatu dan dirinya menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Papanya.


"Pa.." panggilnya


"Iya?" jawab Roy


"Nanti Papa ke bandara jam berapa?"


"Jam 1 siang sayang, Ada apa?"


Bella mengulum bibirnya sebentar. "Ohh.. Yaudah, Bella pamit sekolah." balasnya kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.


"Hati-hati ya.." ucap Roy sambil mengulas senyumnya saat baru menyadari anak semata wayangnya itu sudah tumbuh dewasa.


"Kau sangat mirip dengan almarhum Mama mu Bella." gumam Roy saat punggung anaknya sudah tidak terlihat lagi.


***


Dikelas Bella hanya diam termenung, dirinya masih memikirkan perkataan Papanya semalam. Entah dirinya siap atau tidak ditinggal Papanya nanti tugas di luar kota. Lalu apakah Papanya itu benar-benar serius berniat menitipkan dirinya kepada anak dari kerabat kerjanya? Apa itu tidak konyol? Secara, dirinya sudah dewasa dan bukan lagi anak-anak yang harus diawasi oleh orang lain jika tidak ada orang tuanya.


Bella benci kehidupan seperti ini. Andai Mamanya masih ada, Pasti Mamanya yang akan setia menemani dan menjaga dirinya. Tidak seperti Papa yang terlalu sibuk dengan dunia kerjanya sampai lupa dengan anak semata wayangnya.


Tanpa sadar kini air mata sudah membanjiri pipinya. Lalu seseorang datang memegang bahunya dari belakang membuatnya reflek mengahapus airmatanya kemudian menoleh kebelakang.


"Justin?"


Lelaki yang di panggil Justin itu tersenyum kearah Bella sambil mengusap airmatanya yang masih tersisa di pipi.


"Jangan nangis. Nanti cantiknya hilang." ujar Justin


Bella terkekeh pelan. Justin memang sering seperti ini, selalu bisa menghiburnya dengan kata-kata gombalnya. Padahal hubungan mereka hanya sebatas teman, tidak lebih dari itu.


Justin kemudian mengulurkan tangannya tepat dihadapan Bella. Bella yang melihat itu hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Mau ikut gak?" tawar Justin


"Kemana?"


"Jalan-jalan."


"Tapi ini kan lagi sekolah."


Bella terkekeh pelan dan Justin hanya mengerutkan dahinya.


"Kenapa?"


"Kamu yakin ngajak aku bolos? Kemarin kita kan udah bolos. Masa sekarang bolos lagi?"


Justin mengangguk. "Yaa gapapa, mungkin ini bisa jadi hobi baru kita berdua."


Bella kembali terkekeh, "Yuk." balasnya menerima tawaran Justin.


Justin tersenyum dan langsung menggenggam tangan Bella untuk mengajaknya bangkit dari posisinya.


"Tasnya jangan lupa dibawa." ucap Justin


Bella mengangguk dan segera menenteng ranselnya kemudian bergegas keluar kelas.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 11.20 Siang, Bella dan Justin masih bersantai duduk di sebuah taman pinggir jalan sambil menikmati pemandangan. Keduanya masih sama-sama mengenakan seragam putih abu-abu.


Bella kemudian teringat akan sesuatu, dirinya membawa roti tadi pagi. Langsung saja ia membuka tasnya dan mengambil kotak bekal yang berisi roti itu.


"Kamu bawa bekal?" tanya Justin saat melihat Bella yang mengeluarkan sekotak bekal dalam tasnya.


"Iya nih, mau?" jawabnya sambil menyondorkan sepotong roti kepada Justin.


"Suapin dong.." manja Justin


Bella langsung tertawa kencang saat Justin berbicara seperti itu.


"Ketawa mu manis."


Bella seketika langsung menghentikan tawanya saat merasa justin menatapnya begitu serius. Kini dirinya menjadi salah tingkah.


Justin merasa kehilangan akalnya saat ini, dia begitu berani mendekatkan wajahnya kearah wajah Bella seakan ingin menciumnya. Sedangkan Bella langsung mengalihkan pandangannya kearah lain, karena dia mengingat ini adalah tempat umum.


"Nih makan sendiri aja, masa cowok tampang kayak kamu makan harus disuapin sih. Apa kata temen-temen kamu nanti kalau tau? hahaha " ledek Bella sambil menyondorkan kembali rotinya.


Justin lalu tersadar kemudian menerima roti tersebut dan langsung mengunyahnya.


"Siapa yang buat? Kamu?"


"Papa," jawab Bella sambil mengunyah.


"Ohhhh"


Bella mengangguk dan seketika kunyahannya terhenti. "ASTAGA!" pekiknya kelupaan.


"Kenapa La?" Justin mempunyai sebutan tersendiri memanggil nama Bella, yaitu Lala.


Bella melirik kearah jam yang melekat dipergelangan tangannya, dilihatnya kini jam sudah menunjukkan pukul 11.35 siang.


Buru-buru ia memasukkan kembali kotak bekalnya kedalam ransel dan langsung bangkit dari posisinya.


"Kamu kenapa?" tanya Jutin bingung.


"Anter aku pulang yuk."


"Ada apa sih emangnya?"


"Ihh udah anter aku pulang aja."


Justin menghela nafasnya pasrah dan segera memakai jaketnya lalu berjalan kearah dimana motornya parkir.


***


Setibanya di depan gerbang rumahnya, Bella tak lupa memberi ucapan terimakasih kepada Justin karena sudah mau mengantarnya pulang. Setelah itu Justin pergi berlalu.


Pintu gerbang ia dorong kedepan, Kini matanya menyipit heran saat mendapati sebuah mobil berwarna putih terparkir tepat dihalaman rumahnya. Mobil siapa itu? seingatnya Papanya tidak mempunyai mobil berwarna putih.


Kakinya melangkah masuk kedalam rumah. Saat pintu dibuka dirinya melihat ada seorang Pria sedang duduk dengan tegap di sofanya. Dia membelakanginya, sehingga Bella tidak bisa melihat wajah Pria itu.


Siapa dia?


Yang jelas itu bukan Papanya. Karena Bella sudah sangat kenal Papanya.


Dimana Papanya?


"Papa," panggil Bella sengaja agar Pria itu menoleh kebelakang.


Dan.. benar saja, Pria itu langsung menoleh kebelakang saat Bella bersuara. Sepertinya Pria itu tadi belum menyadari kedatangannya.


Kedua mata mereka bertemu beberapa saat. Sebelum Papanya Bella memanggil.


'Tampan' itu adalah satu kata yang ada di pikiran Bella saat melihat wajah pria itu. Bibirnya yang tipis, Alisnya yang tebal, kulit yang bersih, dan terakhir tatapan matanya yang begitu tajam mampu menghipnotisnya beberapa saat.


Bella seketika tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya kearah lain dan melihat Papanya yang baru keluar dari kamar.


"Jam berapa ini? Kok sudah pulang?" tanya Roy sambil melihat kearah jam dipergelangan tangannya.


"12" jawab Bella


"Bukannya sekolah mu selesai jam 1?"


"Iya, tadi guru-guru ada rapat mendadak jadi pulang cepet." bohongnya


"Sini Bella." ujar Papanya sambil menyuruh Bella untuk duduk di sofa.


Bella menaikkan sebelah alisnya. "Ngapain?"


"Sini Papa kenalin sama anaknya dari kerabat kerja Papa. Dia yang akan mengawasi kamu selama Papa tugas di luar kota."


Bella memutar kedua bola matanya. "Males." jawabnya kemudian berjalan kearah tangga begitu saja hendak menuju kamarnya.


Roy yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. "Maafkan sikapnya Bella ya nak Alan, Dia memang begitu." ucapnya


Pria yang disapa Alan itu hanya tersenyum tipis. "Tidak apa-apa namanya juga masih remaja labil."


Bella seketika berhenti saat baru beberapa langkah saja menaiki anak tangga ketika mendengar barusan pria itu mengejek dirinya. Saat ini juga rasanya Bella ingin menarik semua pikiran yang ada di kepalanya tadi mengenai pria itu.


Bella menoleh kearah pria itu duduk.


"Siapa remaja labil?!" ketusnya menyindir


Alan menoleh saat merasa ada yang berbicara.


"Dasar om-om!" balas Bella mengejek Alan kemudian kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Bella jaga ucapanmu!" bentak Roy, Anaknya itu seperti tidak tahu sopan santun terhadap orang yang lebih dewasa.


Alan hanya terkekeh pelan melihat gadis remaja yang bernama Bella itu.


.


.


.


TBC