
31.JALAN-JALAN
Setibanya di rumah usai dari dokter kandungan untuk USG, Bella duduk di sisi ranjang sambil memegangi perutnya yang sedikit buncit. Entah kenapa ia merasa berbeda jika berada di dekat Alan. Dirinya merasa memiliki seseorang yang benar-benar mampu menjaganya. Apa itu karena sikap Alan yang terlalu baik untuknya?
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Bella menoleh ke arah pintu, dilihatnya kini Alan sedang berjalan kearahnya.
"Kamu lagi apa?" tanya Alan
Bella hanya menggeleng pelan.
Alan kemudian berjalan mendekat kearah istrinya itu dan duduk tepat di sebelahnya.
Alan menatap Bella dengan tatapan yang tidak biasanya.
Bella yang di tatap seperti itu ia pun menjadi salah tingkah.
"Makin hari kamu kok makin cantik ya," goda Alan
Bella langsung merona. "Apaan sih, gombal huuu,"
"Aku ngomong serius." ucapnya sambil menatap serius kedua mata Bella.
Deg! Astaga, dirinya tidak bisa terus di tatap Alan dengan tatapan seperti ini, karena jantungnya terus berdetak dengan cepat.
Bella menggeser sedikit posisinya ke kanan. Ia menciptakan sedikit jarak pada Alan. Kemudian Alan tersadar dan matanya kini beralih ke arah perut Bella yang sedikit membuncit.
"Besok aku tinggal gapapa kan?" tanya Alan pada Bella.
"Emangnya kamu mau kemana?"
"Aku udah harus kembali bekerja, Bel."
Raut wajah Bella seketika berubah. Baru kemarin hari pernikahannya, besok sudah di tinggal lagi. Mau tidak mau ia harus menerimanya karna memang itulah risikonya memiliki suami seorang pilot.
"Besok banget?" tanya Bella
Alan mengangguk.
Bella terdiam sejenak. "Boleh ikut anter?"
"Anter? Jadi, kamu mau anter aku ke bandara, gitu?"
Bella mengangguk.
"Pulangnya gimana?"
"Naik taxi online."
Alan menggeleng. "Ga boleh."
Raut wajah Bella langsung memelas. "Yahh kenapa?"
"Nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana? Mana sendirian, lagi hamil muda. Aku gamau terjadi apa-apa sama kamu, Bel."
Bella tertegun sejenak atas perkataan Alan barusan. Segitu khawatirnya kah Alan padanya?
"Kalau aku pulangnya bawa mobil kamu gimana?"
"Kamu nyetir sendiri gitu?"
Bella mengangguk lagi.
"Itu lebih bahaya lagi Bella, Udah pokoknya kamu di rumah aja."
"Yaampun Alan.. Aku udah biasa kok bawa mobil sendiri, jadi kamu gaperlu takut aku kenapa-kenapa."
Alan terdiam sejenak.
"Pleasee yaa.. please.." Bella memohon dengan raut wajah yang memelas.
Alan menghela nafasnya pasrah. "Yaudah deh."
"Oke. Berarti besok aku anter kamu."
"Tapi dengan satu syarat."
"Apa tuh?"
"Pas aku lagi gada di dekat kamu, pokoknya apapun kegiatan yang setiap kamu lakuin, kamu wajib kabarin."
"Kabarin ke kamu?".
"Iya."
"Mau makan, mau mandi, mau tidur, gitu?"
Alan mengangguk. "Iya dong."
"Kalo... mau poop, juga?"
Alan langsung terkekeh geli. Istrinya ini menggemaskan sekali. "Iya kabarin aja."
"Yaampun emangnya biar apa semuanya aku harus kabarin ke kamu?"
"Yaa biar suaminya tau dong apa aja yang istrinya lagi lakuin."
Mendengar kata 'Istri' keluar dari mulut Alan membuat Bella merona seketika.
"Gimana?"
"Huh, Posesifnya ga pernah berubah ya dari dulu." celetuk Bella
Alan tanya terkekeh pelan. "Jadi, gimana?"
"Yaudah iya iya."
"Yaudah gih sana istirahat, tadi kata dokternya ga boleh terlalu banyak aktivitas kan. Soalnya usia kandungan kamu masih rawan-rawannya."
"Tapi pengen jalan-jalan."
"Jalan-jalan?"
Bella mengangguk. "Iya, ini permintaan bayi yaa, bukan aku."
Alan terkekeh pelan. "Emangnya kamu tau dari mana kalau dia mau jalan-jalan?"
"Tadi dia bilang." jawab Bella sambil mengelus-elus perutnya.
"Masa sih? kok aku ga denger ya?" canda Alan sambil mendekatkan telinganya kearah perut Bella.
"Om.. aku mau jalan-jalan dong." ujar Bella sambil menirukan suara khas anak kecil berbicara.
Alan terkekeh geli mendengar Bella barusan menirukan suara anak kecil. "Kok manggilnya Om sih, Papa dong biar keren. Kalau ga manggil Papa, Ga diturutin nih." canda Alan.
Bella ikut tertawa geli mendengar itu. "Oke, ayo kita berangkat, Pa. Aku udah ga sabar nih." balasnya masih sambil menirukan suara anak kecil.
"Oke, Utun, let's go.."
Bella kembali tertawa. "Hahaha, kenapa kamu panggil dia utun? Gaada yang bagusan dikit?"
"Kita kan belum tau jenis kelaminnya, jadi aku panggil Utun aja deh."
"Hahaha, terserah kamu aja deh."
"Jadi ga nih jalan-jalannya?"
"Jadi dong," semangat Bella
"Ke mana?"
Bella tampak berfikir sejenak. "Hmmm, Mall?"
"Mau ngapain?"
"Belanja!" jawab Bella cepat.
Alan menggelengkan kepalanya tidak heran lagi. "Sana siap-siap."
"Oke siap bos!" jawab Bella semangat 45.
Bella langsung berjalan memasuki walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Selesai berganti pakaian ia kembali ke tempat yang ia duduki sebelumnya untuk mencari ponselnya.
Alan yang melihat Bella seperti sedang mencari sesuatu, ia pun mendekati Bella dan bertanya, "Cari apa?"
"Hape ku, liat ngga?"
"Nih," ujar Alan sambil meyodorkan ponsel milik Bella.
"Kok di kamu sih?"
"Tadi bunyi, ada yang telfon, mau diangkat eh udah keburu mati duluan." jelas Alan
"Siapa yang telfon?" tanya Bella sambil mengambil alih ponselnya dari tangan Alan.
Alan mengangkat kedua bahunya tidak tahu. Bella pun hanya menghela nafasnya.
"Yaudah kamu tunggu di mobil aja, nanti aku nyusul." ujar Alan
Bella mengangguk dan langsung menyambar slingbagnya. Kemudian berjalan keluar.
-----------
Setibanya di Mall, Bella langsung berkeliling mencari-cari sesuatu yang menurutnya pantas di beli. Sedangkan Alan hanya mengikuti langkah kaki kemana istrinya itu berjalan. Jika sudah berada di Mall, Pasti Bella lupa waktu.
"Pelan-pelan aja jalannya, Bel." ujar Alan saat melihat Bella begitu cepat jalannya.
"Ini aku udah pelan Alan."
"Kamu cape ngga? Kalo cape istirahat dulu."
"Iya, tapi kan di perut kamu sekarang ada si Utun,"
"Iya Alan, kalo capek aku istirahat kok."
Entah dorongan dari mana, Ia memasuki toko pakaian khusus bayi. Dilihatnya sekeliling dengan mata yang berbinar. Begitu banyak macam-macam pakaian bayi di jual di sini.
Rasanya Bella ingin membeli apapun yang menurutnya bagus di matanya. Tapi apa daya ia belum bisa mengetahui apa jenis kelamin janin yang ada di kandungannya saat ini.
Tak lama kemudian si penjaga tokonya datang menghampiri Bella. "Ada yang bisa saya bantu, Mba?" tanya si penjaga toko pada Bella.
"Kamu mau beli apa di sini, Bel?" tanya Alan
"Bagus-bagus ya.." ucap Bella tanpa menghiraukan pertanyaan suaminya serta si penjaga toko tersebut.
Alan hanya menatap Bella yang sibuk melihat-lihat sekeliling.
"Menurut kamu Si Utun cewek atau cowok?" tanya Bella pada Alan
Alan mengangkat kedua bahunya.
"Ish harus jawab!"
"Cewek." jawab Alan asal
"Kenapa?"
"Abis kamu makin hari makin cantik." celetuk Alan
Bella langsung melototi Alan dan mencubit kecil pinggangnya. Masih sempet-sempetnya dia menggombal di tempat umum.
"Awshhhhh," ringis Alan kesakitan saat Bella mencubit kecil pinggangnya.
Bella kemudian melirik ke arah si penjaga tokonya, dilihatnya dia tampak sedang menahan tawanya sambil tersenyum-senyum.
"Jadi kalo aku makin hari makin jelek, berarti cowok, gitu?!"
"Ya engga gitu juga, kamu mah setiap hari juga selalu cantik kok." gombal Alan lagi
Bella hanya memutar kedua bola matanya malas. "Yaudah deh ga jadi beli, ayo pulang aja."
"Loh kok, pulang?"
"Males." jawab Bella asal sambil berjalan ke luar.
Alan mengikuti langkah kaki Bella yang berjalan keluar mall. Dia tampaknya sedang merajuk.
"Pelan-pelan aja jalannya, Bel." ujar Alan, dan Bella tidak menghiraukan itu.
Setibanya di basement, tepat dimana mobil Alan parkir, Bella menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh kearah Alan.
Alan menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"
"Cepet buka kuncinya!" perintah Bella kesal
Alan pun langsung membuka kunci mobilnya. Melihat itu Bella langsung masuk ke dalam dan duduk di kursi penumpang depan. Alan ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.
Alan menutup kembali pintunya dan menoleh kearah Bella. "Jangan ngambek dong," ujarnya
Bella hanya diam, tidak menghiraukan perkataan Alan.
"Bel," panggil Alan.
Bella tidak mau menatap wajah Alan, Ia hanya melipat kedua tangannya dengan angkuh sambil menatap lurus ke depan.
"Hey, Aku ada salah apa?"
Bella masih bungkam.
Alan menghela nafasnya pasrah. Ia pun keluar dari dalam mobil dan berjalan kearah pintu mobil penumpang depan. Di bukanya pintu tersebut, tanpa aba-aba ia langsung membopong tubuh mungil Bella begitu saja.
Bella terkejut atas perlakuan Alan saat ini.
"Kyaaaaaaa!! Alan turunin!"
Bella memberontak minta untuk di turunkan.
Alan menendang pintu mobil dengan kakinya, Kemudian ia berjalan kembali memasuki Mal.
"Kenapa masuk lagi, heh?!" omel Bella karena kini Alan membawanya masuk ke dalam mall.
"Kamu mau beli baju bayi yang tadi, kan?" tanya Alan
"Engga! Cepetan turunin aku! malu diliatin orang, Astaga!"
Bella benar-benar malu saat ini, Alan masih membopongnya ala bridal style masuk ke dalam mall.
"Alan cepet turunin! Aku bisa jalan sendiri, ih!" pinta Bella.
Alan pun menghentikan langkahnya dan menatap istrinya. "Janji dulu."
"Apa?!"
"Ngambeknya udahan."
"Iya!iya! udah cepet turunin ih."
Alan kemudian menurunkan Bella. Bella menjadi sedikit kikuk saat merasa banyak pasang mata yang tertuju padanya.
"Aku gamau ke sana lagi." ujar Bella
"Terus?"
"Kita pulang aja."
"Tadi katanya mau belanja."
"Ga jadi, udah ga mood."
Alan di buat melongo oleh Bella. Mood wanita hamil memang suka berubah-ubah.
"Terus sekarang kamu maunya kemana?"
"Pulang."
"Yakin?"
Bella mengangguk. Alan melirik kearah jam yang melekat di pergelangan tangannya.dilihatnya kini jam baru menunjukkan pukul 5 sore.
"Ga makan dulu?"
"Engga Alan, ayo kita pulang aja." kekeh Bella.
"Tapi sampe di rumah makan ya?"
"Iya."
*****
Malam harinya, Bella sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur. Saat hendak berjalan menuju toilet, Alan memanggilnya, otomatis langkahnya tertahan. Bella menoleh keasal suara, dilihatnya kini Alan sudah dengan balutan piyamanya.
"Aku tidur di kamar sebelah ya?"
"Di sini aja, ga enak sama Papa kalu dia lihat kita berdua pisah kamar."
"Tapi di sini ga ada sofa buat aku tidur."
"Kamu bisa tidur di kasur ku.."
"Kamu yakin?" tanya Alan
"Kita udah sah kan?" tanya Bella balik.
Alan terdiam.
Bella kemudian berjalan kearah tempat ridurnya dan menepuk-nepuk ranjang king sizenya. "Lega kok, ya kan? Kamu di sebelah sana, aku di sebelah sini." tunjuknya sambil memberitahu.
Alan masih diam melihat itu.
Bella buru-buru berjalan ke arah toilet saat merasa perutnya begitu terasa mual. Alan yang melihat itu langsung buru-buru menghampirinya.
'Huekkk..huek...' Bella menumpahkan semua isi perutnya di wastafel.
'Huekkk..'
Dengan sigap Alan memijit-mijit tengkuk leher Bella, beruntung rambutnya yang panjang itu di cepol.
"Abis makan perut ku rasanya ga enak banget." ujar Bella memberitahu saat sudah selesai membersihkan mulutnya.
"Ga enak badan atau gimana?" tanya Alan
Bella berbalik dan kini posisinya jadi menghadap Alan. "Engga tau, Tapi kayaknya bawaan si utun deh." katanya sambil mengelus-elus perutnya.
Alan kemudian berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan perut Bella. "Hei, Utun, jangan bandel ya, Nak. Kasian Mama mu itu mual-mual terus." ujarnya seakan sedang berbicara pada calon bayinya.
Bella yang mendengar itu terkekeh pelan. Entah bagaimana bisa di dunia ini ada orang sebaik Alan. Dirinya amat sangat beruntung jika memiliki Alan di hidupnya.
.
.
.
.
To be continued..
Jangan lupa vote dan komentar yaaa😊