
30.SARAPAN BERSAMA
Bella perlahan-lahan membuka kedua matanya yang masih terasa berat itu. Pandangannya menatap ke atap dinding kamar yang tampak asing. Kamar siapa ini?
Lalu pandangannya beralih menoleh kanan kiri dan tak sengaja mendapati Alan yang terbaring di atas sofa.
Bella langsung merubah posisinya menjadi duduk. Ia pun langsung menepuk dahinya seakan baru ingat sesuatu.
"Astaga, Ini kan kamarnya Alan.." ujarnya berbicara sendiri.
Dilihatnya kearah Alan yang masih terbaring di sofa dengan selimut tebal menutupi setengah badannya. Apa semalam dia tidur di sana? itu adalah pertanyaan yang terlintas di benaknya saat ini.
Diliriknya kearah jam dinding, kini jam menunjukkan pukul setengah 7 pagi. Bella langsung merapihkan penampilannya dan turun dari atas ranjang hendak keluar.
Kakinya melangkah menuruni tangga meliuk hendak ke lantai bawah. Setibanya di lantai bawah, ia mendengar dari arah dapur suara ongsengan seperti ada yang sedang memasak.
Akhirnya Bella memutuskan untuk berjalan kearah dapur. Dilihatnya kini Ibunya Alan berdiri membelakanginya sedang sibuk dengan beberapa alat masaknya.
"Tan.." panggil Bella
Ibunya Alan menoleh saat merasa ada yang memanggil. "Eh Bella, sudah bangun.."
Bella berjalan menghampiri Tia. "Tante lagi masak apa?" tanyanya
"Nasi goreng nih untuk sarapan,"
Bella hanya berOh-ria. Ia sebenernya ingin bertanya kepada ibu nya Alan mengenai tentang Alan, tetapi entah kenapa ia bingung. Bingung harus menyebut Alan dengan panggilan seperti apa?
Sepertinya agak tidak sopan jika hanya dengan sebutan nama saja tanpa embel-embel lain di depannya.
"Mulai sekarang panggil Om sama tante di ganti jadi Ibu sama Ayah aja ya Bel, Anggap saja kami berdua orang tua kedua mu." ujar Tia
"Gapapa tan?"
Tia menganguk. "Loh iya jelas gapapa dong, kamu kan isterinya Alan. Itu artinya kamu sudah menjadi sebagian keluarga kami."
Bella tersenyum. Dirinya seperti merasakan keluarga baru lagi.
"Nah ini ditambah sayur-sayuran, karena Alan suka sekali dengan sayuran." ujar Tia sambil memasukkan beberapa sayuran yang sudah dipotongnya ke dalam penggorengan.
"Sini biar Bella bantu bu," kata Bella menawari diri.
"Kamu bisa masak?" tanya Tia
Bella mengangguk. "Dari kecil Mama suka ajari Bella masak."
"Iya almarhum Mama mu itu memang ahli sekali dengan masak memasak."
Bella kemudian mengambil alih spatula yang di pegang Ibunya Alan tadi dan mulai meracik-racik masakannya.
"Ibu siapin yang lain dulu ya,"
"Iya."
------
Semua menu sarapan sudah tersaji di meja makan, Bella kembali ke lantai atas hendak membersihkan diri terlebih dahulu.
"Bella mandi dulu ya bu," ucap Bella
"Iya, sekalian panggil Alan suruh sarapan ya."
"Iya." balas Bella kemudian berjalan menuju lantai atas.
Setibanya di lantai atas, tepatnya di kamar Alan. Ia masih mendapati si pemilik kamarnya yang tertidur di atas sofa dengan posisi miring.
Bella menekan saklar lampu kamarnya dan mematikan lampu tidur kemudian berjalan mendekat kearah Alan. Dilihatnya dia tampak begitu nyenyak sekali tidurnya, apa dia kelelahan?
Kemudian terdengar suara notif pesan masuk. Bella langsung menoleh keasal suara, dilihatnya suara notif pesan masuk itu berasal dari ponsel Alan yang tergeletak di atas meja.
Tak sengaja Bella melihat sekilas apa yang membuat ponsel itu berbunyi. Dilihatnya sekikas bahwa ada pesan singkat masuk bertuliskan 'Good morning' entah itu dari siapa Bella tidak tahu karena ia belum sempat melihat siapa namanya karena layar ponselnya sudah keburu mati. Bella menoleh lagi ke arah Alan. Dia masih tertidur dengan pulas.
Bella kemudian berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri.
-----
Kini Bella sudah terlihat tampak segar penampilannya dari yang tadi. Kakinya melangkah keluar dari walk in closet hendak membangunkan Alan untuk segera membersihkan diri, karena dia belum juga bangun hingga saat ini.
Saat baru beberapa langkah keluar dari walk in closet tiba-tiba saja perutnya terasa begitu mual, buru-buru ia berjalan kearah kamar mandi untuk menumpahkan semuanya di wastafel.
'Huekkk.. huekk...'
Suara itu terdengar oleh Alan dan membuatnya langsung membuka mata. Alan bergegas kearah kamar mandi tepatnya ke asal suara itu. Dilihatnya kini punggung Bella yang membelakanginya berdiri di depan wastafel.
"Bel ada apa?" panik Alan.
Bella sudah bisa menebak bahwa itu Alan, ia tidak menoleh ke arah Alan. dirinya masih sibuk dengan rasa mualnya itu.
'Huekk..huek...'
Alan mendekat kearah Bella dan mulai memijit-mujit tengkuk lehernya.
"Jauh-jauh sana, ini menjijikkan Alan." usir Bella sambil memutar kran airnya.
"Setiap pagi kamu begini?" tanya Alan tanpa mengubris perkataan Bella.
"Engga setiap hari, kadang-kadang aja." jawabnya kemudian mulai kumur-kumur untuk mencuci mulutnya.
Selesai membersihkan mulutnya, Bella berbalik dan menatap ke arah Alan.
"Kamu kok bangun?"
"Iya kamu bikin aku khawatir, Dikirain kenapa."
Bella menahan tawanya saat mendengar Alan sudah merubah panggilannya menjadi aku, bukan saya lagi.
"Sana kamu mandi!" ujar Bella
"Iyaudah, terus kamu mau di sini aja?"
Bella seketika dibuat kikuk. Benar juga ya, untuk apa dirinya masih di dalam kamar mandi.
"I-iya ini mau keluar. Nanti ke ruang makan ya, sarapan. Ibu kamu udah nungguin."
"Iya."
Bella pun keluar dari kamar mandi dengan perasaan dag dig dug, entah kenapa setiap berada di dekat Alan ia selalu merasakan seperti itu.
Duh, ya Ampun..
----
Bella tiba di ruang makan, Dilihatnya kini sudah ada Ibu serta Ayahnya Alan yang duduk menunggu untuk sarapan bersama.
"Dimana Alan Bel?" tanya Arya
"Lagi mandi," jawabnya
"Ohh gitu, yaudah duduk sini."
Bella mengangguk kikuk kemudian mulai duduk di bangku yang kosong. Entah kenapa kini ia merasa sedikit canggung dari pada sebelumnya, apa karena kini statusnya sudah berbeda?
"Jam berapa nanti kamu ke rumah Bel?" tanya Arya lagi.
Bella menggeleng. "Belum tau,"
"Tapi nanti siang mau ke dokter kandungan dulu kan?" tanya Tia
"Iya."
"Ish belum keliatan, usia kandungannya juga baru berapa bulan." balas Tia.
Bella hanya terkekeh pelan.
"Masih mengalami morning sickness?" tanya Tia
"Iya barusan abis mandi tadi."
"Iyasudah wajar saja itu hal yang normal kok."
Bella hanya mengangguk. Tak lama kemudian Alan muncul dengan penampilan yang lebih segar. Ia mengenakan celana pendek sebatas lutut serta kaos polos abu-abunya.
Alan duduk di bangku yang kosong tepatnya di sebelah Bella. "Banyak banget bu menu sarapan hari ini," ujar Alan berbicara pada Ibunya.
"Iya sekarang kan kita ber 5."
Bella mengerutkan dahinya bingung. ber5? Siapa satunya lagi? Karena ia merasa disini hanya ber 4 saja. Apa Papanya akan datang?
"Ohiya lupa. Bella rakus juga ya bu, dia berdua gitu." sindir Alan bercanda
Bella masih tidak mengerti. Apa sih maksutnya?
"Hahaha sudah sudah, Bellanya sendiri kebingungan tuh apa yang kalian bicarakan. Ayo di mulai makannya." ujar Arya.
Alan terkekeh pelan melihat ekspresi kebingungan Bella.
"Emangnya aku berdua sama siapa?" tanya Bella polos pada Alan.
"Tuh," jawab Alan sambil menaik turunkan kedua alisnya serta menatap kearah perut Bella.
Bella seketika baru tersadar apa maksutnya.
"Yaampun aku kira apaan."
"Yaudah makan yang banyak yaa kan kamu berdua." ujar Alan
"Hmmmm." Bella hanya bergumam.
Alan mulai menyantap sarapannya. Baru beberapa kunyahan, ia sudah berhenti. "Kok rasanya beda ya bu? ga kayak biasanya."
"Lebih enak atau bagaimana?" tanya Tia
"Tentu saja ini lebih enak." jujur Alan
"Jelas dong, ini kan masakannya Bella." kata Tia.
Alan langsung menoleh ke arah Bella dan menatapnya. "Kamu yang masak?"
Bella hanya mengangguk cuek dan sibuk dengan makanannya.
"Duh Alan ga salah pilih kan Bu? Isteri idaman banget ini pinter masak." celetuk Alan
Seketika Bella tersedak makanannya sendiri saat mendengar Alan berbicara seperti barusan. 'Uhuk.. uhuk..'
Alan langsung dengan sigap menuangkan air mineral ke dalam gelas kemudian menyodorkannya kepada Bella untuk diminum.
"Pelan-pelan makannya Bel."
Bella kemudian meneguk air tersebut hingga setengah. Duh bisa gak sih Alan makan tanpa bersuara, jujur dirinya menjadi tersedak begini karena ucapan Alan tadi. Entah ada gerangan apa tiba-tiba dia menjadi pria yang banyak bicara, apa ini sifat aslinya?
"Kamu aneh banget sih." celetuk Bella pada Alan
"Aneh gimana?"
"Jadi bawel! Dulu aja kalo ngomong irit banget!"
Arya dan Tia yang mendengar itu spontan terkekeh geli. "Hahaha dia memang seperti itu nak Bella, sifat aslinya baru kelihatan sekarang bukan?"
"Tapi bawel-bawel gini aku suami kamu kan?" goda Alan pada Bella
"Ishhh udah makan-makan jangan ngomong terus." kesal Bella
Alan terkekeh geli, menggoda isteri sendiri ternyata menyenangkan. Mungkin ini akan menjadi hobinya.
-------
Selesai sarapan Arya lebih dulu berjalan keluar dari ruang makan, kemudian selanjutnya Alan bangkit dari posisinya.
"Bu Alan ke depan ya sama Ayah."
"Iya."
Kini di ruang makan hanya tersisa Tia serta Bella. Bella kemudian bangkit dari posisinya mulai menumpukkan beberapa piring kotor yang sudah di gunakan untuk di cucinya. "Sini biar Bella bersihin bu,"
"Ehh gausah nak Bella, sini biar Ibu aja. Kamu ga boleh bawa yang berat-berat gini." ujar Tia saat mendapati Bella hendak mengangkat tumpukan piring kotor.
"Ini ga berat kok Bu,"
"Ini berat Bel, sini udah biar Ibu yang bawa."
"Iyaudah Bella yang cuciin ya."
"Gausah, kamu duduk manis aja sana."
"Tapi bu--"
"Eitss udah gapapa."
Bella hanya bisa menghela nafasnya pasrah. "Yaudah Bella ke kamar ya Bu."
"Iyaudah sana,"
Bella pun keluar dari ruang makan dan berjalan ke kamar Alan. Setibanya di kamar ia mendengar suara panggilan telfon masuk dari ponsel Alan. Dilihatnya ponsel Alan masih di posisi yang tadi, itu artinya dia belum menyentuh ponselnya sejak tadi.
Ponsel itu masih terus berdering, dengan pensaran Bella maraih ponselnya dan melihat deretan angka tertera di layar ponsel Alan.
Nomer yang tidak di simpan ini membuat Bella penasaran. Siapa? Apa ini kerabat kerjanya? Ia takut ini penting, jadi buru-buru ia membawa ponsel Alan dan hendak memberikannya kepada Alan.
Saat hendak berbalik dirinya sudah di kejutkan dengan Alan yang berada di belakangnya. "Astaga!" kagetnya
"Ada apa?" tanya Alan
"Ini ponsel kamu bunyi terus, Siapa tau penting."
Alan mengambil alih ponselnya dari tangan Bella kemudian langsung menolak panggilan tersebut.
"Yahhh kok dimatiin?"
"Gak penting." jawab Alan kemudian berbalik dan pergi berlalu sambil membawa ponselnya.
Bella yang melihat itu hanya menaikkan sebelah alisnya heran.
.
.
.
.
To be continued..
Nextpart? Vote dan komentar dulu yukk😊
Terima kasih..💕