THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
38



38.TAMPARAN KERAS


Tiga hari kemudian Bella baru di perbolehkan pulang ke rumah karna kondisinya sudah mulai membaik dan hanya perlu proses pemulihan saja. Mendengar kabar seperti itu Bella pun sangat excited ingin cepat-cepat tiba di rumah, karna ia begitu merasa bosan di rumah sakit.


Sore harinya pun Bella langsung kembali ke rumah Alan, Sudah tidak ada lagi perban mengelilingi kepalanya, hanya tersisa plester kecil di keningnya. Ayah serta kedua orang tua Alan pun tahu kabar mengenai ini.


Kini Bella dan Alan sedang dalam perjalanan pulang. Bella menoleh kearah Alan yang sedang fokus menyetir.


"Ehem.." Bella sengaja bersuara untuk memecahkan keheningan saat ini.


Alan pun menoleh kearah Bella yang duduk di kursi sebelahnya.


"Boleh minta sesuatu?" Tanya Bella saat Alan menoleh.


Alan mendengar itu terkekeh pelan. Wanita di sampingnya ini memang ada-ada saja sikapnya jika menginginkan sesuatu.


"Mau minta apa emangnya?" Tanya balik Alan


"Khusus hari ini kamu ga boleh kemana-mana! Di rumah aja jangan kelayapan, oke?"


Alan langsung tertawa geli mendengar itu. "Hahaha. Aku ga salah denger kan?"


Bella menggeleng polos.


"Kalo permintaan kamu itu sih, aku gabisa.." balas Alan


Mendengar itu raut wajah Bella seketika berubah memelas. "Yahhh.."


"Gabisa nolak maksudnya, Bel. Hahaha." Canda Alan


Saat itu juga Bella langsung mencubit kecil lengan Alan dengan kesal. "Ish nyebelin banget sih!"


Tangan kiri Alan kemudian mengelus-elus puncak kepala Bella dengan lembut. "Kenapa sih? Ada apa emangnya?" Tanyanya sambil fokus menyetir


"Hmm gapapa. Abis akhir-akhir ini kayaknya kamu sok sibuk gitu."


Alan kemudian bungkam. Memang benar apa yang dikatakan Bella barusan, akhir-akhir ini ia begitu sibuk. Sibuk karna mencari jejak Dinda yang belum ketemu. Wanita biadab itu berusaha lari darinya.


Alan menyembunyikan masalah ini dari Bella serta Ibunya. Yang tahu masalah ini hanyalah Ayah serta Papanya Bella. Sengaja ia sembunyikan ini dari Bella serta Ibunya. Karna ia takut kalau kondisi Bella nantinya malah drop saat mengetahui kenyataannya bahwa teman barunya yang bernama Najwa itu sebenarnya ialah masa lalunya. Alan juga belum siap memberitahu siapa dalang di balik ini semua kepada Ibunya, karna ia khawatir nantinya Ibunya itu akan shock, secara dia begitu perduli pada Dinda kala itu, sebelum dirinya dan Dinda putus hubungan.


Mobil yang dikendarai Alan berhenti tepat di halaman rumahnya. Ia langsung mematikan mesin mobilnya kemudian melepas sabuk pengamannya dan keluar.


Kakinya melangkah menuju pintu mobil penumpang depan, yang bangkunya diduduki oleh Bella. Dibukanya pintu tersebut dan kini menampakkan sosok istrinya. Alan langsung dengan sigap menuntun Bella turun dari mobil. Dirangkulnya wanita itu dengan erat. Perlahan-lahan kakinya melangkah masuk ke dalam rumah.


Alan kemudian menghentikan langkahnya tepat di depan tangga. Ia menoleh kearah Bella yang tampaknya ragu untuk naik kelantai atas. Tanpa aba-aba iapun langsung membopong tubuh Bella menaiki tangga menuju kamarnya.


"Huh kebiasaan." Gumam Bella saat Alan membopong tubuhnya.


"Jangan maksain kalo emang belum kuat." Kata Alan


Setibanya di kamar, Alan langsung menidurkan Bella di atas ranjangnya. "Perlu sesuatu?" Tanyanya


Bella menggeleng.


"Yaudah, aku ke bawah ya.. mau bicara sama Ayah dulu."


"Emang Ayah kamu ngga kerja hari ini?"


Alan hanya mengangkat kedua bahunya tidak tahu.


"Yaudah sana."


"Aku panggil Ibu ke sini ya?"


"Gausah, aku sendirian aja di sini."


"Yakin?"


"Iya, udah sanaa."


"Hmm oke." Balas Alan kemudian melangkah keluar.


Bella melihat itu menghela nafasnya pelan.


Baru beberapa langkah hendak keluar kamar, tiba-tiba Alan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap kearah Bella lagi.


"Apa??" Tanya Bella saat melihat Alan berbalik badan.


"Ada yang ketinggalan." Kata Alan


"Hah?" Bingung Bella.


Alan kemudian berjalan mendekat kearah Bella. "Ini," ucapnya kemudian mengecup kening Bella cukup lama.


Bella dibuat terkejut atas perlakuan Alan barusan. Akhir-akhir ini sering kali dia membuat jantungnya tidak bekerja secara normal.


"Kalo perlu sesuatu panggil aku ya," ucap Alan


Bella hanya mengangguk pelan. Alan kemudian kembali berbalik dan berjalan keluar kamar.


"Astagaaa Alan.." batin Bella masih dengan jantung yang berdebar dengan cepat.


------


Alan masuk ke dalam ruangan kerja Ayahnya. Ia duduk di kursi yang kosong tepat di hadapan tempat Ayahnya duduk.


"Bagaimana?" Tanya Arya pada Alan.


"Belum ketemu."


"Gimana ceritanya dia bisa kabur?"


Alan mengangkat kedua bahunya tidak tahu. "Rumahnya kosong, orang di sekitar pun ga ada yang tahu kemana dia pergi."


"Tapi apa kamu sudah yakin sama keputusannya?"


"Keputusan Alan udah bulat, Ayah."


Arya menghela nafasnya. "Gimana kalau Ibu tahu?"


"Alan berusaha supaya Ibu tidak tahu masalah ini."


"Ya memang harus begitu. Apa kita perlu bantuan polisi untuk mencari jejak Dinda?"


"Alan rasa memang harus begitu."


"Yasudah laporkan masalah ini ke pihak yang berwajib segera, karna Ayah pun tidak mau terjadi sesuatu buruk lagi menimpa Bella. Kasihan dia."


"Alan juga ga mau sesuatu buruk menimpa Bella, Ayah."


"Aku tahu gimana perasaanmu, Nak."


"Gimana dengan Papanya Bella, Ayah?"


"Tentu saja dia ingin yang terbaik untuk anaknya."


"Bisa Ayah laporkan masalah ini sekarang? Alan ga bisa kemana-mana hari ini. Bella melarang Alan untuk pergi hari ini."


Arya yang mendengar itu terkekeh pelan. "Baru kali ini Ayah mendengar kamu menurut pada seorang wanita, selain Ibumu."


Alan hanya ikut terkekeh pelan.


"Yasudah biar Ayah yang laporkan masalah ini. Kamu di rumah saja, jaga Bella."


"Oke siap.".


*****


Malam harinya, Alan duduk di bangku teras depan rumah. Sore tadi dirinya baru saja memberikan ponsel baru untuk Bella, karnaa ponsel yang lama entah kemana dan kini Bella sedang berada di dapur, dia hendak membuat minuman sesuatu katanya dan meminta Alan untuk menunggunya di depan teras.


"Ibu?"


Tanpa aba-aba Tia langsung menampar keras pipi anaknya itu. 'PLAKKKKKK'


Emosi Tia benar-benar sudah memuncak. Alan hanya bisa memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari Ibunya barusan.


"Bu, apa maksudny--"


"Kamu sudah membohongi Ibu, Alan!"


Alan mengerutkan dahinya bingung.


"Janin yang di kandung Bella pada saat itu bukan darah daging kamu, kan?!"


Duarrrrrrrrrrrrr...


Alan bungkam.


"Kenapa kamu lakukan itu?! Kenapa kamu mau bertanggung jawab? Padahal sudah jelas-jelas kamu tidak melakukannya dan itu bukan darah daging kamu!" Tanya Tia dengan nada tinggi karna ia begktu marah pada Alan saat ini.


"Dari mana ibu tahu itu?" Tanya Alan


Tia menitikkan airmatanya. Ia sedih mendengar kebenarannya itu.


"Barusan ibu bertemu dengan Dinda dan dia yang memberitahu semuanya, hiks.. Mendengar kebenarannya ibu benar-benar kecewa sama kamu Alan."


Lagi-lagi Dinda dibalik semua ini. Dimana ibunya itu bertemu dengan Dinda? Alan merasa benar-benar menyesal hatinya pernah diisi seorang Dinda.


"Bu, Alan bisa jelasin semuanya." Ia benar-benar tidak tega melihat Ibunya menangis.


"Gaperlu, Ibu udah tau semuanya Alan."


Alan terdiam. Ia terpaku di tempatnya.


"Kenapa kamu tega bohongin Ibu sama Ayah, Alan?"


"Bu, Alan ga berniat untuk bohongin ibu sama ayah. Alan cuma.." Alan menggantungkan perkataannya.


"Apa?!"


"Alan kasihan lihat Bella bu, Apa ibu tega lihat dia menderita? Lelaki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab. Alan cuma mau bantu Bella, Bu."


"Tapi bukan begini caranya, Alan."


"Apa ibu lupa dulu bagaimana kondisi ekonomi keluarga kita? Apa ibu lupa siapa yang paling berjasa saat itu? Papanya Bella saat itu paling berjasa dalam keluarga kita, Bu. Dia yang menolong keluarga kita saat kita sudah hampir kehilangan semuanya. Mengingat itu Alan menjadi merasa iba melihat Bella. Alan kasihan sama Bella, bu. Mungkin jika tidak ada Keluarganya Bella yang menolong kita, Alan tidak akan menjadi seperti sekarang bu."


Tia hanya diam masih sambil menangis karna kecewa.


"Maafin Alan, Bu. Mungkin Alan fikir ini adalah cara bagaimana Alan bisa membalas budi pada keluarga Bella."


"Cara mu salah, seharusnya tidak seperti ini. Pernikahan bukanlah soal balas budi atau semacamnya."


"Iya bu, Alan tau. Alan minta maaf. Ini semua sudah terlanjur terjadi."


Tanpa mereka berdua sadari, Bella tengah menguping pembicaraan mereka di balik tirai jendela dengan berlinang air mata.


Ternyata sejauh ini ia salah mengenal Alan.


Ternyata sejauh ini ia salah menilai Alan.


Baru kali ini ia merasakan perasaan yang amat sangat terasa sesak di dada.


Tidak ada seorangpun yang tulus menyayangi dirinya.


Tidak ada juga seorangpun yang perduli padanya. Ia merasa hidup seorang diri ditengah keramaian orang.


Hidupnya begitu miris.


Tanpa sengaja tangan Bella menyenggol sebuah vas bunga kaca berukuran kecil di atas meja dekat jendela. Vas bunga tersebut jatuh begitu saja dan tak berbentuk di lantai, hingga menimbulkan suara yang membuat Alan serta Ibunya secara bersamaan menoleh keasal suara karna kebetulan pintu rumahnya tidak di tutup, alias dibiarkan terbuka lebar.


"Bella.." ucap Alan.


Alan melihat kedua mata Bella yang berlinang air mata. Bella menangis!


Bella langsung buru-buru berlari keluar. Ia tidak memperdulikan bagaimana kondisinya saat ini.


"Bella!" Panggil Alan saat mendapati Bella berlari keluar begitu saja melewatinya.


Bella terus berlari sekuat tenaganya. Walau terasa nyeri sedikit pada bagian perutnya. Kaki telanjangnya terus berlari kencang tanpa arah. Air mata terus mengalir membasahi pipinya.


Alan masih terus mengejar Bella yang berlari.


Saat keluar komplek, Tepat di pinggir jalan raya, Bella langsung men-stop taxi yang lewat. Ia langsung buru-buru menaiki taxi tersebut.


Alan melihat Bella yang baru saja menumpangi taxi itupun ia langsung mengacak-acak rambutnya frustasi. Bella pergi meninggalkannya.


Tanpa pikir panjang ia langsung kembali berlari ke rumahnya hendak mengambil mobilnya untuk mengejar Bella.


"Cepat kejar dia!" Ujar Tia pada Alan.


Alan langsung menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja. Dengan kecepatan diatas rata-rata ia mengendarai mobil tersebut hingga taxi yang sudah ia hafali platnya tadi terlihat oleh pandangannya.


Alan menghela nafasnya lega saat taxi yang ditumpangi Bella tadi kini ada di depannya.


Taxi tersebut berhenti tepat di depan rumah Bella. Alan langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan secara asal. Ia langsung keluar dari dalam mobil dan mengejar Bella yang berlari kecil hendak masuk ke dalam rumahnya masih sambil menangis.


"Bel, tunggu!" Panggil Alan sambil berusaha mengejar Bella.


Alhasil kini Alan mendapati Bella. Ia menggenggam tangan wanita itu dengan kuat dan menahannya agar tidak berlari.


Bella seketika menghentikan langkahnya saat Alan mendapati tangannya. Alan langsung menariknya kedalam pelukannya. Bella menangis sesegukan di dalam dada bidang Alan.


Alan mendekap tubuh mungil istrinya itu. Nafasnya naik turun karna sehabis berlari, keringat bercucuran di dahinya.


Bella memberontak di dalam pelukan Alan, ia minta di lepaskan. "Hikss.. Lepasin, Alan!" Pintanya


Alan tidak mau melepaskan pelukannya itu. Ia masih terus memeluk tubuh Bella dengan erat, seakan begitu takut kehilangannya.


Bella memukul-mukul dada bidang Alan agar ia mau melepaskan pelukannya. Ia terus memberontak, alhasil kini pelukan Alan mulai mengendur.


"Ngapain kamu ngejar aku?!" Omel Bella.


"Bel dengerin dulu penjelasan aku. Aku tau kamu pasti denger semuanya tadi."


"Gaada yang perlu dijelasin lagi, aku udah denger jelas semuanya tadi! Kamu cuma kasihan kan sama aku? Kamu iba doang kan? Kamu ga tulus bantu aku kan? Kamu cuma mau balas budi sama keluarga aku kan? Kamu---" ucapan Bella terhenti karena tiba-tiba Alan ******* bibirnya.


Deg.


Alan menciumnya!


Ini adalah ciuman pertamanya dari Alan. Kenapa dia berani sekali menciumnya disaat-saat seperti ini?!


Bella tidak membalas ciuman itu, Ia buru-buru menjauhkan bibirnya dari bibir Alan. Ia melapaskan ciumannya begitu saja.


Tangan kanan Bella dengan entengnya langsung menampar pipi Alan. 'PLAKKKKK'. Sudah tamparan kedua Alan dapati.


"Bel, dengerin ak---" Ucapan Alan terpotong.


"Ceraikan aku secepatnya, Alan. Aku udah capek sama semuanya." Ucap Bella tiba-tiba.


.


.


.


To be continued...