
41.PENJELASAN
Bella benar-benar sedang terpuruk, ia tidak memiliki siapa-siapa lagi sekarang. Kedua orang tuanya sudah pergi meninggalkannya. Hidupnya begitu miris dan menyedihkan. Kedua matanya kosong mengarah ke jendela kamar yang dibiarkan terbuka agar angin di sore hari dapat dirasakannya.
Alan berjalan menghampiri Istrinya dan berdiri dihadapannya "Bel," panggilnya
Bella kemudian menoleh kearah Alan. "Kenapa?"
Alan melihat kedua mata Bella yang begitu sembab. Sungguh ia begitu tidak tega melihatnya. "Maaf untuk kejadian yang kemarin." Ujarnya
Bella menunduk. "Dia siapa?" Tanyanya
Alan terdiam. Haruskah dia memberitahu Bella kebenarannya sekarang juga?
Bella kemudian mendongak dan menatap Alan.
"Bel," panggil Alan
"Wanita yang kemarin siapa?" mTanya Bella dengan jelas.
"Dinda." Jawab Alan
Bella langsung membuang pandangannya kesembarang arah. Ternyata dugaannya tidak salah bahwa wanita kemarin yang bersama Alan di cafe ialah Dinda. Sejujurnya Bella sudah penasaran dengan nama itu sejak sebelum mereka berdua menikah, dimana orang tua Alan menyebut-nyebut nama Dinda saat mereka sedang videocall-an.
Sayangnya kemarin malam dirinya tidak melihat bagaimana rupa wajah wanita yang bernama Dinda itu.
"Namanya bagus. Pasti orangnya cantik." Kata Bella dengan suara sedikit bergetar.
Alan kemudian duduk di samping Bella.
"Kamu boleh pergi, Alan." Ucap Bella
"Apa maksud kamu?"
"Kamu udah bebas, kamu boleh pergi, kamu boleh tinggalin aku mulai sekarang. Mungkin aku emang di takdirin sama Tuhan buat sendiri selamanya."
Alan menggelengkan kepalanya. "Engga, Bel. Kamu nggak sendiri."
"Satu persatu semua orang yang aku sayang pergi ninggalin aku, hiks.." Bella kembali menitikkan air matanya.
Alan langsung memeluk tubuh Bella seakan memberinya kekuatan. "Kamu masih ada aku, Bel."
Bella menangis sesegukan di dada bidang Alan. Entah kenapa pria dihadapannya kekeh sekali tidak mau meninggalkannya.
Alan kemudian mencium puncak kepala Bella dengan lembut.
"Aku dan Dinda hanya masalalu." Ucap Alan
Bella melepas pelukan Alan, kemudian tangannya menghapus airmatanya yang tersisa di pipi. "Terus sekarang udah balikan gitu?" Tanya Bella
Alan menggeleng. "Ngapain? Kan aku udah punya istri."
"Terus kalo udah punya istri ngapain mau cium-cium cewek lain??" Sewot Bella.
"Khilaf, Bel. Aku kira itu kamu."
"Halahh, alesan aja."
"Benerannn."
"Besok juga paling ketemuan."
"Engga."
"Kenapa engga?"
"Dia udah di penjara sekarang."
"Hah? Kok bisa?? Kenapa??"
"Karna dia udah melakukan kesalahan yang besar."
"Tau dari mana kamu?"
Alan terdiam sejenak. Dirinya masih bingung harus memulai dari mana menceritakan ini semua.
"Dinda temanmu juga, Bel."
"Teman? Siapa? Perasaan aku gak punya temen yang namanya Dinda, deh."
"Dinda Najwa, nama lengkapnya."
Deg.
Mendengar itu Bella langsung teringat dengan teman barunya yang bernama Najwa.
"Jangan bilang--" ucapan Bella langsung dipotong Alan. "Najwa teman kamu kan?" Tanya Alan.
Bella mengangguk pelan. Dirinya masih belum mengerti.
"Dia berniat jahat sama kamu."
"Dia baik kok."
"Iya mungkin di depan kamu baik. Dibalik kebaikannya itu ada sebuah rencana yang licik."
"Apa maksud kamu?" Bella benar-benar dibuat bingung.
"Dia dalang dibalik kecelakaan kamu saat itu, Bel."
Bella seketika dibuat terpaku ditempatnya. Benarkah? Najwa, teman barunya itu ternyata berniat jahat padanya? Dirinya benar-benar tidak menyangka semua ini.
"Dan sekarang dia sudah mendapat balasannya." Lanjut Alan.
Bella kembali menitikkan airmatanya. Mengingat kejadian itu membuatnya teringat buah hatinya yang tak terselamatkan. Kenapa Najwa sejahat itu padanya?
"Kenapa nangis lagi?" Tanya Alan
"Aku jadi ingat Utun..hiks.."
"Utun udah sama bidadari cantik disana, Bel. Kita harus ikhlasin."
"Aku mau ketemu Dinda." Ucap Bella
Alan menggeleng. "Ngga boleh."
"Kenapa? Aku yakin dia wanita yang baik Alan."
Alan hanya bungkam.
"Ayo temenin aku ketemu Dinda." Bujuk Bella
"Tapi Bel--"
"Ayo ih."
"Iya." Jawab Alan singkat.
"Ayo."
"Iya."
"Ayo, Alannn."
"Iya, Bel."
"Iya iya aja sih, tapi gaada pergerakan!" Kesal Bella kemudian bangkit dari posisinya.
Alan yang mendengar Bella kesal itu pun langsung terkekeh pelan. Lucu sekali melihat wajah kesal Bella saat ini.
"Jangan sedih lagi ya Bel, kalo kamu sedih aku ikutan sedih." Kata Alan
"Ihhhhhh apansih Alan lebay deh! Ayo cepetannnn!!"
Alan kembali terkekeh mendengar Bella menggerutu. Istrinya ini memang benar-benar menggemaskan sekali. Ia pun terpaksa bangkit dari posisinya dan bergegas keluar.
******
Dengan kedua matanya yang masih sembab, Bella duduk di sebuah bangku panjang dengan meja didepannya dan disebelahnya ada Alan. Kini ia sedang menunggu seseorang yang bernama asli Dinda Najwa.
Tak lama kemudian seorang wanita dengan tubuh proposionalnya berjalan menghampiri Bella dan Alan dengan didampingi dua orang polisi di kanan kirinya.
"Waktu anda singkat, jadi mohon jangan terlalu lama." Ujar salah seorang polisi tersebut memberitahu Dinda.
Dinda hanya bungkam. Kemudian dua orang polisi tersebut kembali keposisinya.
"Hai," sapa Bella sedikit kikuk.
Dinda hanya bungkam tidak membalas sapaan dari Bella.
"Duduk aja." Kata Bella meminta Dinda untuk duduk di hadapannya.
"Ada apa datang kesini? Mau ngetawain aku iya? Atau mau kasih ucapan selamat karna aku udah masuk penjara? Iya?!" Sindir Dinda sedikit ketus.
Bella sedikit tertohok atas ucapan Dinda barusan. Sifatnya sangat berbanding terbalik sekali dengan Najwa yang dirinya kenal sebelumnya.
"Jaga ucapan kamu Dinda!" Ujar Alan membuka suara.
Dinda hanya memutar kedua bola matanya malas.
"A-aku tau kok, pasti kamu benci banget sama aku sekarang. Tapi aku yakin kamu adalah wanita yang baik. Aku udah tau semuanya, tapi aku udah maafin kamu untuk kecelakaan itu."
Dinda hanya bungkam.
"Insya Allah aku udah ikhlas, mungkin memang begini takdirnya dan aku pun gabisa nyalahin siapapun karna takdir."
Dinda dan Alan masih sama-sama bungkam.
"Kalo kamu masih sayang sama Alan, gapapa kamu kembali lagi sama dia. Mungkin dari awal disini aku hanya orang ketiga diantara kalian."
"Belll kamu--" ucapan Alan dipotong oleh Bella.
"Aku bisa liat itu dari mata kamu, Kalo
kamu masih sayang sama Alan." Ucap Bella
"Bel--"
Bella bangkit dari posisinya hendak pergi. "Udah ya, aku cuma mau ngomong itu aja. Aku pamit."
Dinda kemudian bangkit dari posisinya dan menahan Bella untuk tidak pergi terlebih dahulu. "Tunggu, Bel." Tahannya
Bella berhenti dan menoleh.
"Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, Bel." Ujar Dinda
Bella menggeleng.
"Aku minta maaf karna udah buat kamu kehilangan Utun.. Aku juga minta maaf karna udah lancang kemarin malam di cafe."
Bella memejamkan kedua matanya sebentar saat Dinda mengucapkan kata barusan. Jujur mendengar itu membuat lukanya kembali terasa.
"Aku ngerasa ga ada yang salah dengan hubungan kalian. Justru disini aku yang jadi orang ketiga dihubungan kalian." Kata Dinda
"Din tapi ak---"
"Bel, aku ngerasa ada sesuatu yang kalian berdua belum bisa ungkapkan. Mungkin ini emang tempat yang cocok buat aku setelah apa yang udah aku perbuat selama ini ke kamu. Aku ikhlas kok, ini pelajaran buat aku kedepannya."
Bella terdiam.
"Kita masih berteman, kan?" Tanya Dinda
Alan dibuat tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar saat ini.
Bella kemudian menangis terharu. Ia menangis sambil terkekeh pelan. "Iya kita masih berteman." Balasnya kemudian langsung memeluk tubuh Dinda.
Dinda tersenyum tulus. Mungkin memang sudah seperti ini takdirnya, iapun mencoba menelan semuanya walau rasanya begitu pahit.
🌼🌼🌼
Dua hari kemudian, Alan sudah harus kembali ke rutinitas biasanya. Rasanya ia tidak ingin meninggalkan Bella dalam kondisi seperti ini. Tetapi mau bagiamana, Alan benar-benar sudah harus kembali bekerja.
Kini ia sudah siap dengan seragam khasnya hendak bergegas ke bandara. Kakinya buru-buru melangkah menuruni tangga saat mendengar suara istrinya memanggil.
"Tunggu sebentarr," teriak Alan sambil berjalan menuruni tangga.
Bella sudah menunggu di depan pintu hendak ikut mengantar suaminyaa itu ke bandara.
Alan menghampiri Bella. "Yakin nih, mau nganter?" Tanyanya
Bella mengangguk. "Aku bosen di rumah."
"Tapi kita naik taxi online aja ya." Kata Alan
"Lah? Kan ada mobil."
"Terus pulangnya kamu mau nyetir sendirian gitu?"
"Ya iya, emangnya kenapa?" Tanya Bella balik.
"Noo."
"Kenapa?"
"Aku masih belum yakin sama kamu."
"Belum yakin?"
"Kondisi kamu, Bel. Aku takut kamu masih--" ucapan Alan dipotong oleh Bella, "Aku udah coba ikhlasin semuanya, Alan." Kata Bella meyakinkan Alan.
"Aku takut terjadi sesuatu sama kamu." Terus terang Alan.
Bella terkekeh pelan. "Hahaha Lebay deh! Ayo cepetannnnnn." Balasnya sambil menarik tangan Alan kearah mobil.
Alan hanya bisa pasrah. Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil. Alan duduk di kursi pengemudi dan Bella duduk di kursi penumpang depan. Tak lupa mereka memakai sabuk pengamannya masing-masing.
-----
Setibanya di bandara, Posisi Alan dan Bella saling berhadapan satu sama lain. Rasanya Alan begitu tidak tega meninggalkan istrinya di saat-saat seperti ini.
"Jaga diri kamu baik-baik ya," ucap Alan pada Bella.
Bella mengangguk. "Kamu juga."
Sejujurnya ia sedang menahan agar air matanya tidak jatuh. Dirinya terbawa suasana, entah kenapa rasanya sedih jika harus berjauhan dengan Alan.
"Selalu kabarin kalau mau kemana-mana." Ujar Alan lagi.
Bella mengangguk. "Udah sana."
Alan kemudian memeluk tubuh mungil Bella. "Jangan membuatku khawatir lagi ya, Bel."
Bella tersenyum tipis. Kini air matanya sudah jatuh dan tak bisa dibendung lagi. Alan langsung melepas pelukannya saat mendengar isakan kecil dari Bella.
Kedua tangannya menangkup wajah Bella dan menatap kedua matanya yang mengeluarkan airmatanya. "Hei, kenapa nangis?" Tanyanya
Bella kemudian menghapus air matanya dan berusaha untuk tidak bersedih. "Gapapa. Udah sana,"
"Ngusir nih?"
"Iya."
Alan menaikkan sebelah alisnya. "Yakin?"
"Iya udahh ihhh sana.." ujar Bella sambil mendorong pelan tubuh Alan.
"Nanti dulu, ada yang ketinggalan." Kata Alan
"Hah?! Apa yang ketinggalan?? Dimana? Di rumah?? Handphone kamu? Apa dompet kamu??" Panik Bella saat mendengar ada sesuatu yang tertinggal.
Alan hanya diam cengengesan sambil menatap wajah Istrinya yang sedikit panik.
"Ihhh kenapa malah cengengesan sih?!" Kesal Bella melihat ekspresi wajah Alan yang tidak serius.
Alan maju selangkah agar lebih dekat berhadapan dengan istrinya. "Ini yang ketinggalan." Ucapnya kemudian langsung mendaratkan kecupan di kening Bella dengan lembut.
'Cup'
Bella dibuat speechless atas perlakuan Alan barusan. Jantungnya kembali berdebar dengan cepat.
Tangan kanan Alan kemudian mengusap-usap rambut Bella yang dibiarkan terurai. "Jaga diri kamu baik-baik ya, Bel." Ucapnya
Bella mengangguk kikuk. "Kamu juga."
"Bye, my wife." ucap Alan sambil melambaikan tangannya dan berjalan pelahan-lahan menjauh.
Bella hanya tersenyum tipis sambil membalas lambaian tangan Alan.
Punggung Alan pun sudah tak terlihat lagi ditengah keramaian orang. Ia pun hanya bisa menghela nafasnya.
"Bye, my husband." Gumamnya pelan.
.
.
.
.
Jangan lupa Vote dan komentarnya❣️ Maaf semuanya author telat update huhu😭