THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
17



17.BUNGA


Kini jam sudah menunjukkan pukul 10 malam tetapi Alan belum juga kembali. Bella sedikit khawatir, dirinya takut kalau Alan marah padanya. Dimana dia sekarang?


Sedaritadi di kamarnya Bella terus bolak-balik kearah jendela untuk melihat apakah Alan sudah tiba apa belum, karena sejak tadi sore dia belum juga kembali.


Sebenarnya bisa saja Bella menelfon dan menanyakan kemana dia pergi, tetapi entah kenapa Bella merasa dirinya tidak perlu lakukan itu. Toh, tidak ada urusan dengannya juga mau Alan kembali kesini atau tidak. Bella hanya berfikir positif saja mungkin dia sedang ada urusan lain.


Bella keluar dari kamarnya saat merasa tenggorokkannya itu kering. Kakinya melangkah kearah dapur untuk minum. Setibanya di dapur ia langsung menuangkan segelas air mineral ke dalam gelas kosong lalu meneguknya.


Tak lama kemudian dirinya mendengar suara pintu gerbang di buka. Buru-buru kakinya melangkah kearah jendela utama untuk melihat siapa yang datang. Dirinya mengintip di balik gorden tebal.


Dilihatnya kini ada Alan yang baru saja membuka pintu gerbang lalu ia kembali masuk ke dalam mobilnya dan memakirkannya.


Bella masih diam diposisinya memperhatikan Alan sedangkan Alan belum menyadari kehadiran Bella dibalik jendela itu.


Mobil itu sudah terparkir dengan benar. Alan mematikan mesin mobilnya dan segera keluar lalu menutup kembali pintu gerbang yang sudah dibukanya tadi.


Buru-buru Bella berbalik dan berlari kecil kearah ruang keluarga berpura-pura sedang menonton televisi.


Tak lama kemudian terdengar suara bel rumahnya berkali-kali. Saat itu juga Bella langsung menepuk dahinya dengan telapak tangannya sendiri.


"Oh iya! Kan pintunya udah dikunci yaa.." ujarnya berbicara sendiri.


Bella langsung bangkit dari posisinya dan berjalan kearah pintu untuk membukakannya. Saat pintu dibuka, Bella langsung menatap wajah Alan, begitu juga dengan Alan. Alan menatap Bella dengan ekspresi datarnya.


"Kirain Om ga nginep. Jadinya pintunya udah di kunci hehe." ujar Bella sambil cengengesan.


Alan berjalan masuk begitu saja tidak menghiraukan perkataan Bella barusan.


Bella yang merasa diacuhkan, dirinya pun kesal. Alhasil kini dirinya meledek Alan dari belakang saat pria itu sudah berlalu naik ke lantai atas.


"Dasar Om-om judes!datar!" cibirnya pelan


"Cuek banget sih! untung cakep!" cibirnya lagi.


Alan merasa mendengar sesuatu keluar dari mulut Bella, walaupun tidak terdengar begitu jelas tetapi Alan yakin kalau Bella barusan berbicara dibelakangnya. Alan pun menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang, kearah Bella.


Bella seketika tegang. Apa Alan mendengarnya?


Bella berusaha terlihat baik-baik saja agar tidak terlalu tegang.


"Apa?!" ketus Bella


Alan hanya menaikkan sebelah alisnya dengan heran. Setelah itu dirinya pun kembali berbalik dan berjalan kearah kamarnya.


Saat Alan sudah berlalu, Bella hanya bisa menghentakkan kakinya dengan perasaan kesal.


🌻🌻🌻


Keesokkan harinya, Bella merasa bosan karena hari ini Justin tidak mengajaknya pergi jalan-jalan padahal ini hari minggu. Biasanya Justin selalu mengabarinya terlebih dahulu sehari sebelumnya dan sudah merencanakan akan kemana minggu nanti.


Sejak semalam Justin tiba-tiba menghilang entah kemana dirinya tidak tahu. Dia tidak ada kabar, pesannya pun tak kunjung dibalas telfon juga tidak diangkat.


Sedaritadi pagi yang Bella lakukan hanya diam di kamarnya tidak ada aktivitas yang menyenangkan.


Dilihatnya ke arah jam dinding kini jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Di rumah tidak ada orang, Bi Nana pamit pulang kerumahnya sebentar, sedangkan Alan? Entahlah dirinya belum melihatnya sejak tadi pagi. Saat sarapan pagi tadi pun tidak ada Alan disana, mungkin saja dia sudah sarapan lebih dulu.


Bella lalu bangkit dari posisinya, dirinya hendak ke ruang keluarga untuk menonton televisi. Bosan sekali rasanya seharian hanya di kamar.


Saat baru saja membuka pintu kamar, Bella tak sengaja melihat Alan yang baru juga keluar dari kamarnya. Dia mengenakan setelan jas, serta rambutnya yang tertata begitu rapih. Mau kemana dia?


Ah, tampannya! batin Bella.


Alan menatap Bella sebentar. Kemudian berjalan begitu saja hendak turun.


Bella yang melihat itu buru-buru langsung mencegah Alan.


"Tunggu Om--" panggil bella sambil berlari kecil mengejar Alan yang sudah melangkah menuruni tangga.


Alan menghentikan langkahnya di tengah-tengah tangga, lalu menoleh kearah Bella.


"Om mau kemana?" tanya Bella


"Pergi."


"Ke?"


"Hotel."


"Ngapain?"


"Ada acara."


"Wahhhh acara apa tuh?" kepo Bella


"Acara resepsi."


Kedua mata Bella langsung berbinar. "Wahh makan-makan ya pasti?"


Alan hanya bergumam.


"Bella mau ikut dong!"


Alan menaikkan sebelah alisnya heran.


"Ikut.. Boleh ya?"


"Kamu aja belum ngapa-ngapain."


Bella melihat penampilannya sendiri. "Emang acaranya jam berapa?"


"Jam 7."


"Astagaaa Om, ini masih jam 5."


"Saya mau ke rumah temen saya dulu."


"Hmm.. 20 menit dehh tungguin yaa,"


"Yaudah."


Bella mengumpat kesenangan. Akhirnya dirinya keluar rumah juga weekend ini. Langsung saja ia berlari kecil masuk kedalam kamarnya dan bergegas untuk bersiap-besiap.


***


Sudah lebih dari 30 menit Alan menunggu Bella di ruang tamu tetapi gadis itu tak kunjung keluar dari kamarnya. Kenapa lama sekali?


Alan geram. Dirinya pun bangkit dari posisinya dan berjalan menaiki tangga kearah kamar Bella. Saat sudah tiba di depan pintu kamar Bella, tangan kanan Alan sudah siap hendak mengetuknya tetapi tidak jadi karena Bella sudah lebih dulu membukanya.


Alan terpana sebentar melihat kecantikan Bella saat ini. Dirinya melihat Bella dari ujung kepala hingga ujung kaki, gadis itu benar-benar terlihat sempurna dengan polesan makeup natural.


Bella berdehem pelan saat merasa Alan tak kunjung berhenti menatapnya.


Alan seketika langsung tersadar saat Bella berdehem. "Ayo." ujarnya


Bella mengangguk kikuk dan kemudian mengikuti langkah kaki Alan.


****


"Katanya mau ke rumah temen Om dulu?" tanya Bella bingung karena kini Alan memberhentikannya di basement hotel tempat acara.


"Kamu dandannya kelamaan." cuek Alan sambil melepas sabuk pengamannya.


Bella hanya memanyunkan bawah bibirnya sebal sambil ikut melepas sabuk pengamannya.


Alan lalu keluar dari dalam mobil, begitu juga dengan Bella. Bella hanya mengikuti langkah kaki Alan yang berjalan kearah balroom tempat acara.


Suara haknya terdengar begitu nyaring saat dirinya berjalan. Sengaja Bella berdandan dan berpenampilan seperti ini agar dirinya terlihat seperti orang dewasa. Karena jika dirinya tidak berpenampilan seperti ini pasti teman-temannya Alan akan memandang dirinya sebagai bocah ingusan yang belum lulus sekolah.


Saat melangkah memasuki balroom hotel, dimana tempat acara resepsi temannya Alan itu berlangsung. Bella terpana melihat dekorasi sekelilingnya. Ini pertama kalinya ia datang ke acara resepsi. Jujur saja.


Banyak orang di sekelilingnya yang berpenampilan elegan.


"Bella!" seru Alan saat merasa Bella hanya diam diposisinya.


Bella seketika tersadar dan menoleh kearah Alan. Dirinya pun segera menghampiri Alan.


"Kamu tunggu disini aja ya. Saya mau beri ucapan selamat dulu."


"Ke depan sana?" tanya Bella sambil menunjuk kearah pelaminan.


Alan mengangguk.


"Ikut!"


"Udah kamu disini aja."


"Ish mau ikut Om. Aku juga mau ucapin selamat ketemen Om! Btw temen Om yang mana?yang cewenya atau cowonya?"


"Cowonya."


Bella menatap kearah pria yang berdiri di atas pelaminan bersama pasangannya sedang menyambut tamu.


"Wahhh ganteng juga ya." puji Bella


Alan hanya memutar kedua bolamatanya jengah.


"Ikut ya Om? Biar Bella bisa salaman sama temen Om yang ganteng itu." candanya.


Alan berdecak sebal. Dirinya pun terpaksa menuruti permintaan gadis itu. "Yaudah ayo," ucapnya sambil berjalan kearah pelaminan.


Bella lagi-lagi mengumpat kesenangan. Ia pun berjalan di samping Alan menuju pelaminan hendak memberi ucapan selamat.


"Ngajak siapa tuh bro?" bisik temannya Alan kepada Alan dan Bella bisa mendengar itu.


Alan hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Temannya Alan itu lalu menepuk-nepuk bahu Alan pelan. "Cepetan nyusul ya." ujarnya


Saat itu juga Bella tertawa ngakak. "Hahaha kayaknya dia ga akan nyusul kalian berdua deh."


"Jaga ucapan kamu Bel, Disini banyak orang." ujar Alan dingin


Bella seketika menghentikan tawanya dan menoleh sekeliling. Dilihatnya kini beberapa orang pandangannya tertuju padanya. Ahshit! dirinya menjadi pusat perhatian sekarang. Emang ya mulutnya ini tidak tahu tempat kalau asal berbicara. Bella benar-benar merutuki kebodohannya.


"Ups maaf." ucap Bella pelan


Mempelai wanitanya terkekeh pelan melihat sikap Bella. "Btw, namanya siapa?" tanyanya pada Bella.


"Bella." jawabnya sambil menyondorkan tangannya untuk mengajak bersalaman.


"Jenny." Mereka berdua pun bersalaman.


Lalu dengan pedenya Bella menyondorkan tangannya kearah temannya Alan untuk mengajaknya berkenalan.


"Siapa namanya Kak?" tanya Bella


Alan yang mendengar itu langsung memutar kedua bolamatanya jengah. Kenapa temannya itu di panggil 'Kak' sedangkan dirinya 'Om'.


"Galih." jawab temannya Alan sambil bersalaman.


Bella tersenyum manis.


"Ayo Bel, udah pada ngantri tuh dibelakang kamu." ujar Alan sambil berjalan turun dari pelaminan.


Bella menoleh kebelakang sebentar dan benar saja dilihatnya kini sudah ada tamu undangan lain yang mengantri. Buru-buru Bella turun dari atas pelaminan mengejar Alan yang entah akan kemana.


"Om tungguin!" panggil Bella sambil berlari kecil mengejar Alan.


Alan berhenti lalu menoleh ke belakang. Dilihatnya gadis itu ke susahan mengejarnya karena mengenakan heels.


"Buru-buru banget sih!" omel Bella


"Sana kamu makan aja. Saya mau ketemu temen yang lain dulu."


"Makan sendirian gitu?"


"Terus mau sama siapa lagi Bel?"


"Ya sama kamu lah. Masa aku ditinggal sendirian."


"Saya belum lapar."


"Yaudah setidaknya temenin gitu kek."


Alan menghela nafasnya pasrah. "Yaudah iya iya."


****


Selesai makan, Bella penasaran dengan orang-orang yang berkumpul di depan pelaminan. Mereka seperti sedang menunggu sesuatu. Daripada penasaran lebih baik dirinya kesana.


"Aku kesana ya Om." kata Bella sambil menunjuk kearah orang berkumpul.


Alan hanya mengangguk mengiyakan.


Bella pun menghampiri orang-orang tersebut, karena penasaran. Apa akan ada pertunjukan yang mengejutkan kah?


Lalu sang MC pembawa acara naik keatas pelaminan membawa mic. Dia berbicara kalau sesi pelemparan bunga akan segera berlangsung dan di harap para tamu undagan ikut berkumpul.


Bella seketika baru tersadar. Sesi pelemparan bunga? Apa itu artinya siapa yang mendapat bunga tersebut dialah yang akan menyusul nikah nanti. Buru-buru Bella memanggil Alan.


"Om! Om Alan!" panggil Bella


Alan menoleh.


"Ayo ikutan!" ajak Bella antusias


"Ikutan apa?"


"Nangkep bunga."


"Hah?"


Bella langsung menarik tangan Alan begitu saja dan memaksanya untuk ikutan.


"Om diem berdiri disini, nanti kalo bunganya udah di lempar sama pengantinnya Om tangkep ya!"


Alan langsung mengerti apa yang dimaksud Bella saat ini. "Itu tidak benar Bel." ujarnya


"Ga bener gimana maksudnya?"


"Kamu percaya gituan?"


Bella hanya mengangkat kedua bahunya tidak tahu. "Tapi kebanyakan sih itu beneran terjadi."


Tanpa disangka-sangka tiba-tiba bunganya sudah dilempar begitu saja dan kini bunga itu mengarah kepada Alan, otomatis Alan menangkapnya karena lemparan bunga itu mengejutkan bahkan dirinya pun belum siap.


Semua para tamu undangan yang ikutan pun menoleh kearah Alan, orang yang beruntung mendapatkan bunganya. Termasuk juga Bella, Kedua mata Bella tertuju pada buket bunga pengantin yang ada di genggaman Alan saat ini.


"Loh?" Bella melongo tidak percaya. Alan yang mendapatkannya.


Alan hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Ini seperti tidak di sengaja, dan bunga itu langsung mengarah kepadanya begitu saja.


"Wahhh rupanya bunga itu jatuh pada pria di belakang sana. Semoga cepet nyusul ya," ujar sang MC tersebut.


"Om emangnya udah ada calonnya?" tanya Bella


Alan menghela nafasnya kemudian memberikan buket bunga itu kepada Bella. "Makan tuh bunga!" juteknya


Bella langsung menangkap bunga yang diberikan Alan asal. "Di makan?" bingungnya.


Dengan cuek Alan berjalan keluar ballroom. Melihat itu Bella langsung melempar bunganya asal dan mengejar Alan.


Langkah kaki Alan begitu cepat sekali, dia begitu tidak memperdulikan Bella yang kesusahan mengejarnya karena mengenakan heels.


Hingga tiba di basementpun Alan tidak menoleh kearah belakang sedikitpun tepatnya kearah Bella. Dia jalan begitu saja dengan cuek sambil melepas jasnya, karena terasa gerah.


"Om tungguin!" panggil Bella


Alan tidak mengubris. Dirinya pun terus berjalan.


"Om! Ihh budek apa ya!"


"Eh Om!"


"Woy Om!"


"Om!"


"Om Alan!"


Tiba-tiba kakinya tergelincir dan membuatnya terduduk begitu saja. Bella langsung meringis kesakitan. "Awshhhh.." ringisnya sambil memegangi kakinya yang terasa nyeri itu.


Alan seketika langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Dilihatnya kini gadis itu terduduk sambil meringis kesakitan memegangi kakinya.


Alan langsung berlari kecil menghampiri Bella. Lalu berjongkok di hadapannya.


Bella hanya menatap Alan dengan sinis. Dirinya benar-benar kesal dengan Alan saat ini. Gara-gara dia dirinya seperti ini.


"Lagian ga hati-hati sih jalannya!" omel Alan sambil melepas heels yang di kenakan Bella.


"Ish ini gara-gara kamu tau!"


"Lagian siapa suruh pake hak-hak tinggi begini?"


"Gaada yang nyuruh."


"Yaudah. Saya kan ngga nyuruh, terus kenapa salah saya?"


"Ya kamu jalannya cepet-cepet aja! Gamau nungguin."


"Yaaa kalo kamu pake sendal teplek kan gaakan kayak gini."


"Ishhhhhh udah ah. sakit tau!"


"Bisa jalan ga?" tanya Alan saat sudah selesai melepas kedua heels yang dikenakan Bella.


Bella menggeleng.


Alan lagi-lagi menghela nafasnya. Mau tidak mau dirinya harus menggendong gadis kecil ini ke mobil.


"Kamu tenteng sepatunya." perintah Alan


Bella menenteng heelsnya dan Alan langsung menggendong Bella ala bridalstyle membawanya kearah tempat mobilnya parkir.


Bella terkagum sebentar saat melihat wajah Alan dari dekat. Oh Tuhan! Ciptaan-Mu begitu sempurna.


.


.


.


TBC