THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
18



18.BELLA KECEWA


Alan mendudukkan Bella di kursi penumpang depan, lalu memakaikannya sabuk pengaman. Bella yang di perlakukan seperti itupun dirinya hanya diam.


Setelah itu Alan segera masuk ke dalam dan duduk dikursi pengemudi. Tak lupa juga ia mengenakan sabuk pengaman untuk dirinya sendiri.


Diperjalanan Bella hanya bungkam. Begitu juga dengan Alan. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Lalu tak lama kemudian terdengar suara nada dering panggilan masuk dari ponsel Alan. Alan yang merasa ponselnya itu berbunyi, dirinya pun segera mengangkatnya.


"Halo?"


"..."


"Iya balik duluan sorry ya,"


"..."


"Besok?"


Bella langsung menoleh kearah Alan. Mau kemana dia?


"..."


"Yaudah" jawab Alan lagi kemudian segera mematikan sambungan telfonnya.


Alan melirik kearah Bella sebentar. "Bel," panggilnya


"Iya?"


"Lusa saya udah kembali."


"Maksudnya?"


"Lusa saya udah harus kembali bekerja."


"Lah katanya libur 6 hari?"


Alan terdiam sebentar.


"Kenapa tiba-tiba gitu?" tanya Bella lagi


"Bukannya itu yang kamu mau? Saya tidak lagi ada di dekat kamu. Karena menurut kamu saya ini hanya beban." kata Alan berbicara terus terang.


Tatapan Alan fokus kedepan sambil menyetir. Sedangkan Bella hanya terdiam menoleh kearah Alan, ia tidak berkata apa-apa lagi.


-----


Setibanya di rumah, Alan langsung keluar dari dalam mobil. Sedangkan Bella masih diam terbengong di tempatnya. Alan berjalan kearah pintu sebelah kiri lalu membukanya.


"Masih sakit?" tanya Alan


Bella menoleh kearah Alan. Dirinya hanya diam tidak menjawab.


Alan yang merasa tidak mendapat respon iapun langsung berinisiatif melepaskan sabuk pengaman yang dikenakan Bella kemudian setelah itu menggendongnya ala bridalstyle masuk ke dalam rumah.


Saat sudah masuk ke dalam rumah. Alan mendudukkan Bella di sofa ruang tamu.


"Tunggu di sini." pinta Alan kemudian berlalu pergi.


Lalu tak lama kemudian Alan muncul membawa sebuah baskom serta handuk kecil.


Alan bersimpuh tepat dihadapan Bella. "Yang mana yang sakit?" tanyanya sambil memegangi kedua kaki Bella.


"Ini." jawab Bella sambil menunjuk kearah kakinya yang terasa sakit akibat keseleo.


Kemudian Alan mulai membungkus esbatu dengan handuk kecil yang barusan diambilnya untuk mengompres kaki Bella.


Bella tertegun dengan sikap Alan saat ini. Kenapa pria dihadapannya ini begitu bersih hatinya? dia sama sekali tidak marah atau berperilaku kasar terhadapnya, setelah dipikir-pikir apa yang selama ini dirinya lakukan sudah sering membuatnya marah.


Kenapa pria sebaik Alan belum memiliki kekasih diumur yang sudah bisa dibilang sudah cukup.


"Jangan pake sepatu tinggi itu lagi ya." pinta Alan


Bella mengangguk menurut.


"Udah selesai. Semoga aja besok pagi udah mendingan." ujar Alan


"Makasih." ucap Bella


Alan hanya tersenyum tipis kemudian segera berlalu membawa perlengkapan yang tadi untuk dikembalikan ketempat semula.


Bella langsung bersandar pada sofa empuk, Pikirannya kembali tertuju pada apa yang di ucapkan Alan tadi di mobil. Lusa dia sudah tidak lagi disini. Dia sudah kembali bekerja lagi.


Alan berjalan menghampiri Bella yang sedang bersantai di sofa. Ia lalu duduk tepat di sampingnya. Bella hanya diam masih diposisinya yang tadi.


Alan melirik kearah Bella. "Kenapa ga ke kamar?" tanyanya


"Nanti." jawab Bella. Sejujurnya kakinya ini masih terasa nyeri, entahlah dirinya itu mampu naik kelantai atas atau tidak.


"Kapan Papa kamu kembali Bel?" tanya Alan


Bella menoleh. Kenapa Alan tanya itu? Apa dia sudah tidak betah disini?


"Mungkin sebulan lagi." jawab Bella.


Alan menghela nafasnya berat. "Besok saya terakhir di sini." ujarnya


Bella terkejut. Kenapa cepat sekali sih? Apa benar dia sudah tidak ingin lagi disini? Padahal baru kemarin dia kembali. Seharusnya Bella senang akan ini, tetapi entah kenapa hati kecilnya ingin Alan tetap di sini.


Alan bangkit dari posisinya. "Ayo saya gendong kamu ke kamar."


Bella melongo sebentar. Alan merasa tidak mendapat respon lagi dari Bella, ia pun langsung menggendongnya ala bridalstyle menuju kamar. Bella yang diperlakukan seperti itu ia pun reflek melingkarkan kedua tangannya di leher Alan sebagai pegangan.


Dengan santai Alan berjalan menaiki tangga menuju kamar Bella sedangkan Bella hanya bisa berusaha menetralkan detak jantungnya yang begitu cepat.


Setibanya di kamar, Alan langsung menidurkan Bella di atas tempat tidurnya. Kedua tangannya sudah siap hendak menarikkan selimut untuk Bella tetapi tiba-tiba tangannya di tahan.


"T-tunggu--" tahan Bella


Alan hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Ga mungkin aku tidur pake baju begini. Aku juga belum hapus makeup." kata Bella


Alan menghela nafasnya. "Terus?"


Bella bangkit dari posisinya dengan hati-hati. "Ya aku mau ganti baju dulu lah sama cuci muka." balasnya sambil berjalan kearah kamar mandi.


Alan hanya diam melihat usaha Bella yang berjalan begitu hati-hati menuju kamar mandi.


Setibanya di kamar mandi Bella menoleh kebelakang, tepatnya kearah Alan. "Ngapain masih disitu?!" tanyanya


Seketika Alan langsung merutuki kebodohannya, Untuk apa dirinya hanya berdiam diri disini. Langsung saja ia pergi berlalu keluar.


Bella yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya heran.


🌻🌻🌻


Keesokkan harinya Bella sudah siap dengan perlengkapan sekolah seperti biasanya, kakinya melangkah perlahan menuruni tangga hendak ke ruang makan. Setibanya di ruang makan Bella tidak mendapati Alan di sana, dirinya hanya melihat bi Nana seorang diri sedang menyiapkan sarapan untuknya.


"Pagi Bi, " ucap Bella


"Pagi Non," balas bi Nana


"Alan udah sarapan bi?" tanyanya tanpa embel-embel kata 'Om'


"Udah, barusan aja selesai."


"Tumben." gumam Bella


Lalu tak lama kemudian Alan muncul memasuki ruang makan. "Bel," panggilnya


Bella menoleh keasal suara. Dilihatnya Alan sedang menatap kearah kakinya.


"Udah gapapa kok." Ujar Bella saat menyadari Alan menatap kearah kakinya


"Mau saya yang anter atau sama Justin?" tanya Alan dengan nada datarnya.


Bella heran. Dirinya tidak salah dengar kan? Ada apa gerangan?


"Justin taunya hari ini aku di anter kamu." jawab Bella


Bella menghela nafasnya. Alan benar-benar sudah berubah sikapnya, entah kenapa. Seharusnya dirinya senang akan ini karena Alan tidak lagi mengekangnya ini itu seperti sebelumnya.


"Non kok malah bengong? Itu dimakan sarapannya."


Bella tersadar dan langsung melahap sarapannya.


------


Setelah selesai sarapan Bella langsung memakai sepatunya dan bergegas menghampiri Alan yang sudah menunggu di dalam mobil. Bella masuk ke dalam mobil, kini dirinya mendapati Alan yang sedang menelfon. Bella duduk di kursi penumpang depan dan langsung memakai sabuk pengamannya.


Alan menyadari kehadiran Bella, langsung saja ia mengakhiri telfonnya.


Bella menoleh kearah Alan. "Kenapa di matiin?" tanyanya penasaran


"Gapapa."


"Siapa emang yang telfon?Bukan Papa kan?"


Alan menggeleng. "Teman saya."


Bella hanya ber-Oh ria saja. Kemudian Alan langsung melajukan mobilnya.


-----


Mobil Alan berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Bella terdiam sebentar menunggu tawaran dari Alan. Biasanya Alan selalu bilang pulangnya dia yang jemput, tetapi saat ini Bella tidak mendengar kata seperti itu keluar dari mulut Alan. Dia hanya bungkam menunggunya keluar dari dalam mobil.


Dengan ragu Bella membuka pintu mobil hendak keluar, "Bella keluar ya..." ujarnya


Alan hanya mengangguk mengiyakan.


Bella keluar. Baru beberapa langkah dirinya malah berbalik lagi kearah mobil Alan lalu mengetuk-ngetuk kaca mobilnya, tak lama kemudian Alan menurunkan kaca mobilnya. Saat kaca mobil sudah diturunkan, Bella langsung membungkukkan badannya sedikit agar sejajar.


"Om... Nanti pulangnya jemput apa engga?" tanyanya.


Baru kali ini Bella sendiri yang bertanya seperti itu, padahal biasanya Alan yang bertanya. Oh Tuhan ada apa dengan dirinya saat ini?


"Terserah kamu. Keputusan ada dikamu." kata Alan


Bella terdiam sebentar. "Ya-udah.. Om jemput ya."


"Jam berapa?"


"Satu."


Alan hanya mengangguk mengiyakan. Kemudian Bella langsung berbalik lagi dan melangkah memasuki sekolahnya. Baru beberapa langkah Bella berjalan, dirinya mendengar suara Alan memanggilnya dari belakang. Otomatis Bella menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Dilihatnya kini Alan berjalan kearahnya sambil membawakan topinya.


Topi. Ahiya Bella lupa kalau topinya tertinggal di dalam mobil tadi.


"Topi kamu ketinggalan. Hari ini upacara kan?" kata Alan sambil memakaikan topi tersebut ke kepala Bella.


Bella tertegun sebentar.


"Ohiya lupa! Ya-yaudah Bella masuk ya.." balasnya sambil menoleh sekeliling karena banyak murid-murid lain yang menatap kearahnya saat ini.


Alan mengangguk dan langsung berbalik kembali ke arah mobilnya. Bella langsung buru-buru melangkah kearah kelasnya.


*****


Kini jam baru menunjukkan pukul 12.40 WIB, Tetapi Alan sudah tiba di depan gerbang sekolah Bella untuk menjemput gadis itu. Alan keluar dari dalam mobilnya, dirinya akan menunggu Bella di warung kopi seberang sekolahan.


"Pak, ada es teh?" tanya Alan kepada Si pemilik warung kopi tersebut.


"Ada, Mau di plastik atau di gelas?"


"Gelas aja."


"Oke siap."


Alan duduk di bangku yang kosong. Tak lama kemudian pesanannya sudah jadi dan langsung di letakkan di atas meja.


"Lagi nunggu siapa Mas? Adiknya?" tanya Si penjual tersebut.


"Bukan."


"Terus? Ooh Istrinya yaa ngajar di sini?"


Alan terkekeh pelan. "Bukan juga."


Si penjual tersebut heran. "Terus nunggu siapa atuh?"


"Gatau, Saya juga bingung." jawab Alan asal.


"Hahaha Mas ada-ada saja. Masa bingung lagi nungguin siapa."


Alan hanya membalas terkekeh. Lalu meminum minumannya yang dipesan tadi.


Kemudian Alan mendengar suara bel berbunyi dari dalam sekolahan. Itu artinya sebentar lagi Bella akan keluar. Saat ini dirinya melihat pintu gerbang sekolah sudah dibuka lebar-lebar dan para murid pun sudah mulai keluar.


"Tuh udah pada keluar." ujar Si penjual yang tadi.


"Iya Saya nunggu di sini aja, gapapa kan Pak?"


"Ohiya gapapa."


Alan terus memperhatikan kearah gerbang untuk memastikan Bella, Kini tak sengaja penglihatannya tertuju pada seorang pria yang berdiri di depan gerbang sedang bermesraan dengan pasangannya.


Pria itu seperti Justin. Ya, Alan sangat yakin kalau itu Justin. Bersama siapa dia? karena wanita yang sedang bermesraan dengan Justin itu bukanlah Bella.


Melihat itu Alan langsung mengepalkan kedua tangannya. Bisa-bisanya Justin bermesraan dengan wanita lain di belakang Bella. Ini tidak bisa di biarkan, Alan harus menghampirinya.


Saat hendak bangkit dari posisinya, Alan dikejutkan dengan kehadiran Bella disana. Akhirnya Bella mengetahui kenyatannya kalau Justin bermain di belakangnya. Alan tidak jadi bangkit dari posisinya, dirinya hanya melihat itu dari tempatnya duduk.


Kini Alan melihat kalau Bella sedang memarahi Justin habis-habisan, sedangkan wanita yang bersama Justin tadi hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun. Banyak murid-murid yang kepo dan menontonnya terang-terangan. Hingga Alan mendengar Justin baru membuka suara.


Alan kembali mengepalkan kedua tangannya kuat saat melihat Justin ikut memarahi Bella balik. Dilihatnya kini Bella hanya diam menatap Justin dengan tatapan kecewanya.


Ohtidak, Dia menangis!


Alan melihat kini Bella meneteskan air matanya. Ini tidak bisa dibiarkan, Alan tidak suka melihat Bella nangis hanya karena seorang lelaki bajingan seperti Justin. Buru-buru ia mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan dan diletakkan di atas meja.


"Pak itu uangnya ya, makasih." ujar Alan kmudian langsung bergegas menghampiri Bella.


Tanpa aba-aba Alan langsung menarik kerah kemeja Justin dan membogem wajah mulus Justin begitu saja. Sehingga membuat Justin mundur beberapa langkah kebelakang akibat pukulannya itu. Alan benar-benar sudah tidak bisa mengontrol emosinya saat melihat Bella menangis.


Bella terkejut saat Justin mendapat serangan tiba-tiba. Begitu juga dengan murid yang lain. Bella tidak percaya kalau Alan akan melakukan itu kepada Justin.


Tangan Alan sudah siap hendak membogem lagi tetapi tiba-tiba Bella berteriak untuk menahannya. "STOPPP ALAN!!!" teriak Bella agar Alan tidak jadi melakukan aksinya.


Alan menghentikan aksinya kemudian melepaskan Justin begitu saja. "Bel dia ini brengsek!!" kesalnya sambil menunjuk Justin.


"Iya aku tau dia brengsek! Tapi kamu gabisa seenaknya aja mau mukul Justin kayak gitu!!" omel Bella


"Kenapa kamu masih aja belain dia sih?!" Alan ikut emosi.


"Kamu tuh ya! Bisa ga sih gausah ikut campur urusan ku sama Justin?!" balas Bella tak kalah emosi.


Alan terdiam. Kenapa Bella masih membela Justin? Padahal sudah jelas-jelas Justin membuatnya kecewa.


Bella menatap Justin serta Alan secara bergantian, Dirinya benar-benar kecewa pada dua pria dihadapannya saat ini. Tanpa aba-aba dirinya langsung pergi berlalu begitu saja.


"La tunggu!" panggil Justin sambil berusaha mengejar Bella.


"La!"


Buru-buru Bella memberhentikan taxi yang lewat dan masuk begitu saja tanpa mengubris panggilan Justin yang berkali-kali.


Alan hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Mau bagaimanapun juga dirinya ini selalu salah di mata Bella.


.


.


.


TBC