The Black Mamba

The Black Mamba
20 tahun ( Kisah Cinta Bersatu)



15 tahun kemudian


April menatap lapas yang akan di tinggalkan, ada rasa bahagia, akan menghirup udara segar diluar. Suasana yang selama ini di nanti, selama beberapa tahun.


"Selamat ya, akhirnya kamu bebas juga." ucap Pretty.


"Sama - sama mba, semoga mba sehat selalu di sini, dan segala kebaikan mba semoga di terima Allah SWT, dan taubat mba akan membawa ke jalan yang lurus dan tempat terindah suatu saat nanti." ucap April.


"Janganlah kamu melakukan hal seperti kemarin, cukup waktu itu. Ada keluarga yang selalu menunggu kamu, keluarga yang selalu mencintai kamu." ucap Pretty.


April memeluk tubuh Pretty, tangis harus bahagia April, dan sedih berpisah dengan sahabat selama tinggal di Lapas.


"Insya Allah kalau saya ada waktu, akan menjenguk kamu, saya tahu selama ini, tidak ada satu pun keluarga yang menengok kamu, saya akan jadi keluarga kamu, yang akan datang sesekali kesini."


"Terima kasih April, makasih."


**


April bersalaman dengan para petugas Lapas, dirinya lalu berdiri di depan pintu, dimana dirinya akan akan memulai hidup baru, dengan suasana baru, dengan membuka lembar kertas putih yang belum tertulis tinta.


Pintu pun terbuka, April melangkah keluar. April melakukan sujud syukur, dirinya telah bebas murni. April bangun, sembari menenteng tas pakaiannya.


April menoleh ke kanan dan kiri, tidak ada yang menjemputnya. April tersenyum, saat dirinya berdiri sendiri tanpa ada yang menyambut.


"Saya akan mulai berjuang." ucap April.


April berjalan meninggal komplek Lapas, entah akan kemana dirinya pergi. Hanya bermodal membawa badan, dan satu tas pakaian.


Saat sedang melangkah, sebuah mobil berhenti di seberang. April tetap berjalan sendiri, dua orang menyebrang jalan dan langsung berlari memeluk April.


"Astagfirullah." ucap April kaget.


"Mamah." ucap Sakinah memeluk tubuh April.


"Sayang, maaf ya kita terlambat." ucap Elang memeluk tubuh April.


Hiks.. hiks.. hiks..


April terisak, saat keduanya memeluk tubuhnya. April membalikan tubuhnya, dan membalas pelukan keduanya.


"Maafkan kami sayang, kamu terlambat." ucap Elang.


"Mamah kira, kalian lupa. Dan entah mau kemana nanti, tapi ternyata kalian tidak lupa."ucap April.


" Kita tidak akan lupa Mah, masa lupa." ucap Sakinah.


"Kita pulang yuk." ucap Elang.


"Bang, saya ingin ke makam Clara." ucap April, dan di anggukan kepala oleh Elang.


***


Di dalam perjalanan, Sakinah terus memeluk tubuh April. Elang tersenyum sambil mengemudikan mobilnya.


"Akhirnya Sakinah bisa memeluk Mamah, akhirnya Mamah berkumpul bersama kita." ucap Sakinah.


"Makasih ya, sudah mau menunggu Mamah. Selama 20 tahun, terima kasih." ucap April.


"Mamah jangan pergi lagi, cukup kemarin kita berpisah. Mamah harus selalu ada buat kita, Mamah itu adalah malaikat tanpa sayapnya kita."


"Makasih sayang, kamu juga tidak malu. Kalau Mamah ini, adalah mantan Napi."


"Mah, bagi saya, Mamah itu tetap lah wanita sempurna, dari dulu saya tidak malu memiliki Mamah yang seorang napi. Bagi saya tidak akan berlaku, gelar itu. Dimata Allah juga, tidak ada bekas napi. Saya tidak malu Mah, kalau pun ada yang menghina Mamah, saya siap untuk membela Mamah." ucap Sakinah, semakin erat memeluk tubuh Mamahnya.


****


April meneteskan air matanya, saat pertama kali melihat malam Clara. April memegang tulisan di batu nisan tersebut, adiknya kini telah lama pergi.


"Dek, maafkan kakak. Saat kamu di detik terakhir, kakak tidak ada disisi kamu. Saat kamu kesakitan, kakak tidak ada saat itu. Maafkan kakak dek, kamu sekarang sudah bahagia di surga, dan sekarang kakak juga sudah bebas. Bisa mengunjungi makam kamu, setiap saat. Maafkan kakak ya dek, perjuangan kakak untuk kamu hanya setengah perjalanan, maafkan kakak, kalau kakak melakukan hal yang salah." ucap April.


"Makam Clara, kami rawat. Agar Makamnya tetap indah, ini adalah rumah terakhir dia. Seperti pesan kamu, Abang tetap rawat." ucap Elang.


"Kalau dia masih hidup, mungkin sudah dewasa Bang, tapi umur kita tidak ada yang tahu."


"Saya juga, di perlihatkan photo Almarhumah Tante Clara, dia cantik seperti Mamah." ucap Sakinah, pril tersenyum, sambil memegang pipi kiri putrinya.


***


"Bang, rumah ini tidak ada yang berubah." tanya April saat mereka sudah sampai.


"Abang sengaja tidak akan merubah semuanya, agar kamu saat kembali mengingat bagaimana kita dulu berjuang. Abang selalu simpan memori kita, pertama kita bertemu, pertama kita mengutarakan isi hati. Semuanya Abang simpan, sampai Abang rela menunggu kamu. Karena Abang cinta sama kamu, sayang sama kamu. Kita mulai dari awal, kita buka lembaran baru. Kita sekarang berkumpul, merawat dan mendidik putri kita yang sudah dewasa." ucap Elang.


Elang menarik tubuh April, di kecupnya bibir yang selama ini dirindukan. Ada getaran keduanya, rasa yang tertunda, hingga keduanya melampiaskan segala kerinduan di hari yang indah.


****


Sakinah tersenyum, saat menatap pintu kamar kedua orang tuanya tertutup lama. Sakinah dengan santai, menata makanan yang sudah di hidangkan di meja makan.


"Semoga saja, di bulan madu kedua. Ada hadiah tak terduga, bakalan ada calon penerus Elang." ucap Sakinah terkekeh geli.


***


"Abang, jangan kasih beginian banyak. Saya malu Bang, apa kata Sakinah. Saya juga bukan wanita muda lagi, yang biasa saja kalau main." ucap April, yang masih bergulung selimut.


"Sakinah sudah besar, pasti dia akan mengerti." ucap Elang.


"Ini juga, kita dari tadi Bang, malu sama Sakinah."


"Abang masih kangen sayang, Abang sudah lama tidak ganti oli."


"Ya kan bisa nanti malam, atau menunggu Sakinah pergi. Malu sama anak, terus kita sudah tua Bang."


"Mamah itu masih 38 tahun, sedangkan Papah 45 tahun, masih muda lah Mah, buktinya Papah masih kuat hajar Mamah."


"Iya, tapi malu sama Sakinah."


"Sudah biasa saja." ucap Elang memeluk erat tubuh April.


"Bang, saya mau mandi. Terus kita temui Sakinah." ucap April, lantas bangun.


"Mah, nanti dong. Sakinah sepertinya keluar, dia main sama temannya."


"Teman pria atau wanita Mas?" tanya April.


"Pria." jawab Elang.


"Pria Mas, pacaran?"


"Iya, kenapa?"


"Saya takut Mas, saat tahu saya ini napi. Apa kata kedua orang tuanya, saya takut menyakiti Sakinah." ucap April khawatir.


"Jangan berpikir seperti itu, kekasih Sakinah tahu, status Mamah nya itu, insya Allah dia itu anak yang baik, dan menerima kamu apa adanya."ucap Elang menjelaskan.


"Sakinah kan masih kuliah Bang?"


"Iya, masih kuliah. Tapi pacarnya itu, adalah anak buah Papah."


"Bang, terus gimana?"


"Dia nya suka sama anak kita, orang tuanya juga tahu." ucap Elang.


****


"Bang ini Sakinah yang masak?" tanya April, melihat meja makan beraneka lauk pauk.


"Iya sayang, Sakinah Abang ajarkan dia masak, Abang ajarkan dia mandiri. Dia itu sekarang menjadi gadis pintar dan dewasa." jawab Elang.


"Makasih Bang, kamu telah mendidik dan membesarkan Sakinah dengan baik. Abang berhasil menjadikan dia, anak yang sholehah dan patuh sama orang tua." ucap April berkaca - kaca.


"Berkat kamu juga sayang, doa kamu. Walau kamu tidak bersama kami, tapi doa kamu setiap hari selalu ada untuk Sakinah dan Abang."


April memeluk tubuh Elang, dari balik pintu Sakinah dan Romi tersenyum, mengintip keduanya yang sedang berpelukan.


"Papah kamu sangat bahagia, cinta sejatinya kini telah kembali. Cinta yang tulus, terpisah oleh teruji besi dan waktu. Buah dari kesabaran, akhirnya membuahkan hasil."ucap Romi.


" Terima kasih Bang, sudah menerima kondisi Mamah saya." ucap Sakinah.


"Mamah kamu, adakah mamah Abang juga. Bagi Abang, dan kedua orang tua Abang, itu bukan suatu aib, kita hidup untuk ke depan, bukan untuk melihat kebelakang."


"Semoga kita bisa seperti Mamah Papah ya Bang, apapun yang terjadi, tetap selalu saling mendukung, dan setia."ucap April.


" Amin, kisah cinta Papah dan Mamah, akan selalu di kenang sepanjang sejarah kita, untuk cerita pada anak cucu kita nanti. Bagaimana menjadi sosok yang setia, hingga mereka sama - sama tidak muda lagi, di satukan kembali setelah berpisah sekian lama." ucap Romi.


.


.


.