The Black Mamba

The Black Mamba
Terbongkar



"Kondisinya belum bisa pulang, karena masih lemah." ucap dokter Santi.


"Apa besok, saya bisa lanjut ke persidangan?" tanya April.


"Kalau itu, tergantung kondisi kamu. Saya sarankan lebih baik jangan dulu, nanti saya akan buatkan surat untuk pengadilan kalau kamu tidak bisa datang, karena kondisi kesehatan." ucap dokter Santi.


"Saya ingin datang, karena saya ingin cepat selesai."


"April, kamu harus menurut apa kata dokter, jadi saya sarankan kamu itu, tunda dulu." ucap Karisma.


"Tidak kak, saya tidak mau. Saya kuat kok, pasti kuat." ucap April.


Karisma menatap dokter Santi, dan dokter Santi menganggukkan kepalanya, lantas tersenyum ke arah April.


"Baik, tapi kalau terjadi sesuatu. Itu bukan kesalahan saya, karena kamu sendiri yang meminta."


"Iya dokter, terima kasih." ucap April.


"April, kamu yakin?" tanya Karisma setelah dokter Santi pergi.


"Yakin kak, saya akan lebih tenang saat Vonis sudah menjatuhkan hukuman buat saya." jawab April.


"Tapi, kami takut dengan calon anak kamu."


"Jangan khawatir kak, calon anak saya itu kuat. Kak, saya nanti titip ya. Kalau misalnya Bang Elang menikah lagi, istri dari Bang Elang tidak sayang sama anak saya, tolong kakak rawat dia. Atau titipkan saja di panti, tolong ya kak."


"Kamu itu bicara apa? tidak akan anak kamu di taruh di panti. Kalau pun Elang menikah lagi, istrinya tidak sayang. Akan saya rawat anak kamu, dia kan keponakan saya. Dan kamu jangan berpikir, Elang akan menikah lagi. Dia akan tetap menjadi suami kamu."


"Saya sudah siap kak, mau vonis hukuman seumur hidup, mati atau berapa tahun. Saya sudah siap, hanya itu pesan saya."


"Sekarang kamu istirahat, jangan terlalu memikirkan besok. Kamu minta, ingin besok datang ke persidangan, kamu harus tetap jaga stamina."


"Iya kak, makasih."


****


"Elang, kamu baru pulang sudah siap - siap lagi mau pergi. Apa kamu tidak mau mengobrol dengan Nenek dan Tante kamu?" ucap Nenek Ima.


"Nek, maafkan saya. Karena saya ini, ada keperluan." ucap Elang.


"Keperluan apa? sampai tidak bisa di tinggalkan?"


"Ada saja Nek." ucap Elang.


Uhuk.. uhuk..


Tante Asri tersedak saat sedang minum teh hangatnya, saat sedang membaca berita online di sebuah tab miliknya.


"Elang! ini kamu kenapa ada dalam berita?" tunjuk Tante Asri.


"Berita apa Asri?" tanya Nenek Ima.


"Lihat, cucu Ibu. Dia sebagai saksi, bahkan suami tersangka kasus besar. Katakan pada kami, dan karir kamu sekarang." jawab Tante Asri dengan membentak ke arah Elang.


"Katakan Elang!! apa yang terjadi sama karir kamu, dan apa ini maksudnya, kamu suami salah satu tersangka." ucap Nenek Ima.


Elang diam, seakan mulutnya terkunci rapat. Bahkan tidak sanggup, untuk menatap ke arah Nenek dan Tantenya.


"Katakan!! jangan bilang berita ini benar, dengan kata istri." bentak Tante Asri.


"Benar." ucap Elang.


"Cucu kurang ajar!! " ucap Nenek Ima, dengan memukul keras lengan Elang, dengan tongkatnya.


"Maafkan saya." ucap Elang.


"Nenek tidak menyangka, punya cucu diam - diam sudah menikah, malah dengan penjahat."


"Ceraikan dia, kami tidak sudi memiliki menantu cacat hukum. Apa kata orang nanti, dan pasti berita ini sudah tersebar ke klien Om - om kamu. Mereka akan jawab apa nanti, sebentar lagi, pasti ponsel Tante berdering." ucap Tante Asri, dan memang benar tak lama ponselnya berdering.


"Berarti wanita itu, keluarganya tidak jelas?" ucap Nenek Ima.


"Maafkan saya Nek." ucap Elang.


"Ceraikan dia, Nenek tidak mau kamu masih berhubungan dengan wanita itu."


"Tidak bisa Nek, dia sedang hamil anak saya."


"Apa!! kamu sadar tidak Elang? apa kamu di tipu dia? mengaku orang baik - baik ternyata dia itu penjahat."


"Saya tahu dari awal, saya akan ceritakan Nek. Dan ini tidak seperti yang Nenek dan Tante kira."


"Mau cerita apa? ingat gara - gara berita ini. Bisa mempengaruhi saham keluarga kita, dalam hitungan jam pasti akan turun." ucap Nenek Ima.


"Sekarang sudah mulai turun saham kita, perusahaan Nenek yang dirikan dari nol, satu persatu para investor menarik semua, dari perusahaan besar, hingga kecil. Bahkan keluarga dari Ibu kamu pun, mengalami semuanya." ucap Tante Asri.


"Malik akan mengadakan rapat besar, dengan para petinggi perusahaan, dan suami saya juga dengan para petinggi rumah sakit. Untuk meluruskan rumor ini, pengacara keluarga kita sudah bergerak, dan akan bicara di depan para awak media." ucap Tante Asri kembali.


"Berita terbaru, dari keluarga almarhumah Mayang, pun sama tapi mereka menyerahkan semuanya pada pengacara keluarga kita." ucap Tante Asri.


"Segera selesaikan, dan katakan bahwa berita istri itu adalah tidak benar, melainkan pacar tapi sudah tidak memiliki hubungan. Minta untuk datangi, kantor media yang menerbitkan berita ini, sumpal mulut mereka dengan uang. Untuk segera ganti berita, dan hapus." ucap Nenek Ima.


"Siap Nek, sudah di utus." ucap Tante Asri.


"Gara - gara kamu, mempengaruhi semuanya." ucap Tante Asri marah.


"Maafkan saya."ucap Elang.


" Antar Nenek temui istri kamu." ucap Nenek Ima.


"Jangan Nek, saya mohon. Jangan sampai kondisi dia menurun, karena dia sedang sakit." ucap Elang memohon.


"Kamu mau melindungi dia? kamu mau mempertahankan wanita jahat?"


"Nek, dia tidak jahat. Dia itu terpaksa, karena untuk biaya pengobatan adiknya yang terkena kanker. Mungkin dengan jalan ini, memang dia salah ambil jalan. Tapi dia itu semata untuk adiknya, karena dia tidak memiliki siapa - siapa lagi."


"Bisanya menikah sama kamu, dia merayu kamu?"


"Tidak begitu Nek, memang kamu saling mencintai. Tidak ada kebohongan dalam hubungan kita, dia tulus mencintai saya."


"Alah pasti dia tahu, kalau kamu itu keturunan dari raja bisnis. Buktinya, bisa menikah sama kamu. Dia itu kan salah satu anggota Mafia, sudah internasional lagi." ucap Tante Asri.


"Dia hanya kurir, bukan bos Mafia nya." ucap Elang.


"Ya tetap saja Elang, anggota Mafia." ucap Tante Asri.


"Sebelum pernikahan Karisma, masalah ini harus selesai." ucap Nenek Ima.


"Tenang Nek, semuanya akan beres." ucap Tante Asri.


*****


"Kamu sebagai kakak, mau menutupi aib ini?" ucap Nenek Ima.


"Tidak Nek, kami akan kasih tahu. Hanya saja dengan waktu yang tepat. " jawab Karisma.


"Ingat Karisma, bangkai yang kalian sembunyikan, akan tercium juga. Coba kamu jelaskan, kejahatan apa yang kamu tahu dari istri Elang?" ucap Tante Asri.


"Dia seorang kurir barang - barang ilegal dan terlarang, kasus pemalsuan kematian, kasus perencanaan pembunuhan tiga gelandangan, kasus penembakan salah satu anggota Mafia, dan perencanaan pembunuhan dua bos Mafia." ucap Karisma menjelaskan.


"Astaga, sepertinya jantung nenek kambuh." ucap Nenek Ima.


.


.


.