
Elang mengambil botol minuman mineral dari dalam kulkas, lalu membuka tutup botol tersebut lantas meminumnya.
Elang menatap jam di dinding sudah pukul 10 malam, Elang lantas mencoba membuka laptopnya dan mulai menyalakan hasil rekaman beberapa camera di markas besarnya.
Elang begitu jelas, mendengar percakapan antara komandan yang baru, dengan beberapa anak buahnya. Dan tampak terlihat, Willy pun ada disana.
"Saya minta, kalian awasi pergerakan Elang. Dia itu diam tapi bertindak, dan satu lagi. Kasus Steven dan Juna, yang keluar dari penjara kalian cari mereka. Pasang photo mereka, temukan keduanya hidup atau mati. Dan ingat, awasi pergerakan Elang. Karena dia diam - diam menikahi wanita itu, dia akan menggagalkan rencana kita." ucap Pak Alex.
"Siapa komandan."
Elang mematikan rekaman, yang dia tangkap. Elang lantas mencari beberapa data, tentang komandan terbarunya, dan Elang menemukan data tersebut.
"Pantas saja, dia mengganti Tim yang sudah ada. Ternyata dia itu, pernah memimpin penangkapan komplotan yang menyandera satu sekolah dasar, aksi bom bunuh diri itu yang sempat viral kemari. Dan Alex dia, yang diam - diam membenci saya karena karier, padahal jabatan dia lebih tinggi dari saya, masih saja kurang puas." ucap Elang.
Terdengar suara panggilan telepon, Elang lantas mengangkat panggilan tersebut. Terdengar suara teriakan anak kecil, yang membuat Elang kaget.
"Hallo." ucap Elang.
"Abang...!! " ucap suara Clara dari seberang.
"Clara! "
"Saya bahagia, ternyata sekarang kamu, jadi kakak ipar saya."
"Iya, kamu adik saya. Gimana kesehatan kamu?"
"Sudah sedikit membaik, Abang makasih ya Abang dan Kak April mengirimkan boneka, pakaian dan banyak cokelat."
"Apa Clara? kami mengirimkan sesuatu?"
"Iya, ada teman kakak dan Abang disini."
"Clara, dimana dokter yang biasa menemani kamu?" ucap Elang panik.
"Apa kabar Elang?"
"Jack! "
Hahahaha
"Kamu mengenali suara saya."
"Kamu jangan sakiti Clara, saya mohon sama kamu."
"Tenang saja, dia gadis cantik dan pintar seperti kakaknya."
"Dimana April? kamu sembunyikan dia dimana?"
"Santai bro, dia baik - baik saja. Kamu tidak usah khawatir, dia masih utuh dan hidup."
"Saya bersumpah, bila kamu sakiti April. Saya akan habisi kamu, sekarang kamu katakan, April dimana?"
"Kalau kamu ingin semuanya baik - baik saja, jangan lanjutkan kasusnya. Dan kamu lepaskan April, karena dia adalah bagian dari kami. Kalau kamu masih tetap, saya habisi anak ini." ucap Jack dengan nada terakhir begitu pelan.
"Kamu Jangan macam - macam, kamu itu dan lainnya sudah menjadi bagian target operasi, sampai ujung dunia, kalian akan tertangkap."
"Hahahaha... sebenarnya kamu itu berbahaya, tapi kamu itu bodoh. Dan akan lemah, bila orang yang kamu sayangi akan di hancurkan."
"Jangan macam - macam kamu."
Tut
Telepon pun terputus sepihak, dan Elang mencoba menghubunginya tapi tidak tersambung. Elang langsung melacak nomer, yang menggunakan private number.
Nomer telepon tersebut di temukan, dan keberadaan terakhir berada di rumah sakit, dimana Clara di rawat. Elang mencoba menelpon kembali, namun sudah tidak aktif lagi.
Aaaaarrrrggghhh
"Kurang ajar kamu Jack."
***
Dokter Rafi tergeletak tidak berdaya, di dalam toilet.Kepalanya berdarah, tepat di depan korslet. Sedangkan Mika, sedang mengurus Clara keluar dari rumah sakit. Dan memalsukan sebuah tanda tangan Karisma, dan memberikan rekaman suara palsu Karisma, saat salah satu pihak rumah sakit, mendengarkan ucapan tersebut.
"Thank you."ucap Mika, setelah mendapatkan surat ijin membawa pasien.
"Saya mau dibawa kemana?" tanya Clara.
"Kita pindah rumah sakit sayang, karena kakak kamu ingin dekat sama kamu." jawab Mika.
"Kakak saya dimana sekarang?"
****
"Maksud kamu, mereka ada di rumah sakit?" ucap Karisma kaget.
"Benar kak, tolong hubungi dokter Rafi." ucap Elang.
Karisma lalu mencoba menghubungi dokter Rafi, tapi tidak mendapatkan jawaban. Saat akan mengirim pesan, ada sebuah panggilan dari rumah sakit, dimana Clara di rawat.
"Hallo."
"Doctor Charisma, I got the breaking news. Doctor rafi passed away. He was found lifeless in the closet."
"What!! " ucap Karisma tiba - tiba lemas.
"Kak, ada apa?"
"Doctor rafi's patient has been brought home by his family, on your permission, because you're in charge of bringing him."
"I never gave her family permission to take Clara, because I'm her only family." ucap Karisma.
Setelah mendengar penjelasan dari rumah sakit, Karisma langsung memijat kepalanya. Elang pun langsung mengambil kunci motornya, dan bersiap untuk pergi.
"Mau kemana kamu?" tanya Karisma.
"Saya harus mencegah mereka bawa Clara, saya harus menemukan mereka." jawab Elang.
"Menemukan dimana? mereka pasti sudah terbang kesini."
"Saya tahu, Clara akan di bawa kemana."
"Elang, kamu jangan bertindak sendiri. Ini semua adalah jebakan, mereka ingin menangkap kamu."
"Saya tahu, tapi bukan mereka yang akan menangkap saya. Tapi saya akan lumpuhkan mereka."
****
Elang menyiapkan beberapa senjata, dan menyiapkan jaket anti peluru. Saat sedang menyiapkan semua perlengkapan yang akan dibawa, terdengar suara ketukan pintu.
Elang dengan sedikit hati - hati, dan memegang pistol di tangannya, berjalan ke arah pintu depan. Suara ketukan semakin terdengar keras, Elang dengan perlahan mengintip dari balik gorden. Saat sedikit membuka gorden, April berdiri di depan pintu.
Elang langsung membukanya, April langsung memeluk tubuh Elang. Elang melihat tidak ada siapapun, dan langsung mengunci pintu.
"Sayang, kamu bisa sampai sini?" ucap Elang dengan memeriksa tubuh istrinya.
"Saya berhasil kabur dari mereka." ucap April.
"Mereka membawa Clara, Abang akan mengambil Clara dari Jack dan anak buahnya."
"Saya tahu, itu adalah suatu jebakan."
"Iya, tapi nyawa Clara terancam."
"Saya minta, jangan terlalu terbawa emosi. Kalau Abang, tetap ingin selamatkan Clara, saya pun terancam."
"Maksud kamu?"
"Kita pura - pura untuk tidak tahu, saya kemari mungkin sedang di ikuti. Apa Abang tidak sadar, rumah seberang yang kosong, ada orang yang perhatikan kita."
Elang menoleh dan ada tanda titik merah tepat di dadanya, Elang menatap ke arah April. Terlihat senyum di wajah April, langkah April semakin mendekat.
"Apa ini April?"
April memegang wajah Elang, jemari tangan kirinya bermain di sekitar dada suaminya. Elang memegang tangan April , yang sedang memegang wajahnya.
"Apa sebuah ancaman, ada di belakang kamu? Apa ini jebakan?"
April diam dan hanya menatap ke arah Elang, kedua mata Elang melihat sebuah alat perekam, berupa giwang.
Elang memeluk tubuh April, dan meraba dari balik jaket yang di pakainya, ada berupa pistol. Elang mengambilnya dan menyerahkan kan pada tangan April.
Elang mencopot giwang tersebut, lalu berbisik pada April. Kedua mata April terpejam, saat pistol sudah berada di tangannya.
"Lakukan, tembak Abang."
.
.
.