
"Boleh saya masuk?" tanya April.
"Kok belum tidur? sudah jam 3 pagi loh." ucap Elang.
"Willy mana?"
"Dia sepertinya tidur di bengkel, atau masih mengutak-atik mobilnya."
April duduk di samping Elang, yang sedang duduk di sisi tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
"Jam segini, sedang chat an sama siapa sih?" tanya April penasaran.
"Kenapa, curiga ya?" tanya Elang sambil memegang dagu April.
"Nggak, kalau kamu chat an sama pacar kamu atau sedang PDKT dengan wanita lain di luar saya tidak marah kok."
"Kok kamu bicaranya seperti itu? seolah hubungan kita ini hanya main - main."
"Setelah ini usai, hubungan kita juga usai."
Elang bangun dari duduknya, dan menutup pintu kamar lalu menguncinya. Elang langsung memeluk tubuh April, yang duduk di dekatnya.
"Saya benar - benar jatuh cinta sama kamu, apa kita tidak bisa bersatu, walau nanti kota terpisah oleh jeruji besi saya akan tetap menunggu kamu."
"Hubungan kita ini, negara pun akan menentang. Saya ini penjahat kelas berat, bahkan hukuman pun, entah hukuman mati, seumur hidup atau berapa tahun.Makannya, saya hanya anggap, hubungan ini adalah hubungan sementara jangan dianggap lebih."
Elang menarik tengkuk leher April, di ciumnya bibir April. Mereka saling berbalas ciuman, dan berakhir menautkan kening.
"Saya tahu itu, tapi saya mencintai kamu." ucap Elang.
"Cinta dalam bentuk Apa? kalau cinta ini sesaat, dan tidak bisa bersatu. Sayapun ingin, mencintai hingga tua, bersama melewati waktu. Tapi cinta kita ini, tidak akan pernah bersatu. Alam pun akan memisahkan kita, tidak hanya negara."
Elang tersenyum sambil membelai wajah April, lalu mengecup kembali bibir gadis yang ada di depannya.
"Apa kamu bahagia? selama menjalani hubungan dengan saya?"
"Iya, ada seorang pria yang benar - benar menghargai wanitanya. Dia selalu berusaha melindungi, dan tidak seperti Bang Juna."
"Saya akan selalu ada, sampai kita terpisah oleh jeruji besi. Saya akan, selalu mencintai kamu sampai nafas ini terhenti."
"Kamu orang baik, tidak pantas menjalani hubungan yang serius. Saya pun, iklhas bila nanti kamu memilih wanita lain."
Elang kembali mencium bibir April, dan April membalas kembali ciuman bibir Elang. Tangannya di kalungkan, di leher Elang, saat keduanya saling memainkan lidah, hingga ciuman mereka semakin mendalam, bahkan kini Elang sudah beralih di leher April.
Tubuh April kini berada di bawah Elang, tangannya sudah bermain di balik piyama April. Satu persatu kancing piyama Elang lepas, bahkan kini bermain squishy, di bagian dada April.
Sudah terasa mencapai puncak, Elang melepaskan semua yang di pakainya, begitu juga April yang Elang lepas satu persatu. Hingga kini mereka tanpa penutup, bahkan tangan Elang bertamasya kesana kemari, dan April menutup mulutnya dengan kedua tangannya, saat lidah menyapu area miliknya.
"Aaaaaaa!!" tiba - tiba April menjerit.
"Kenapa?" tanya Elang.
"Ini pertama buat saya." jawab April.
"Bukannya kamu?"
April menggelengkan kepalanya, saat Elang berpikir bahwa April sudah tidak suci lagi. Elang tersenyum, lantas mengecup bibir April.
"Apa kamu yakin? untuk malam ini?"
"Ambillah, saya sudah memantapkan. Malam ini, saya milik kamu."
Elang dan April kembali saling berciuman, dan milik Elang mencoba menerobos masuk. Rasa sakit April mencoba tahan, hingga kedua matanya meneteskan air mata. Elang terus mencoba, hingga masuk sebagian dan April merasakan perih, dan perlahan hilang.
"Siap ya?"
"Iya."
Elang terus mendorong miliknya, hingga masuk sempurna. Terdengar suara keduanya, saat sama - sama menikmati.
Sedangkan di luar Willy mendengar suara, seperti ada irama bahkan suara wanita dan pria yang sedang menikmati sesuatu. Willy mencoba membuka pintu kamar, karena rasa kantuk yang tidak tertahan.
****
"Kamu tidak menyesal?" tanya Elang, sambil memeluk tubuh April dari belakang. Keduanya kini, berada dalam satu selimut.
"Seharusnya saya yang bertanya, apa kamu tidak menyesal menikmati tubuh seorang pendosa seperti saya?" ucap April.
"Kita ini sama - sama pendosa, saya melakukan dengan sadar. Karena saya sangat mencintai kamu, apa mau kita menikah?"
April langsung membalikkan tubuhnya, dan kini mereka saling berhadapan. Elang kembali, membelai wajah April.
"Kamu jangan ngaco, kita tidak bisa menikah."
"Bisa, negara mungkin tidak bisa. Tapi agama bisa, setelah semuanya selesai baru kita menikah secara hukum negara."
April menyembunyikan wajahnya di leher Elang, tangan Elang mengusap punggung April.
"Apapun yang terjadi, saya akan selalu ada buat kamu." ucap Elang.
****
Elang berjalan ke arah lemari es, dirinya mengambil air minum dari botol dan menuangkan kedalam gelas, dan minum sampai habis.
"Kenapa kamu memutuskan bersama dia?"ucap Willy.
" Kamu tahu?" ucap Elang.
"Seorang wanita dan pria, main asik - asik an didalamnya. Yang satu Abdi negara, satunya Mafia. Bagaimana kalau mereka tahu, kita ini sedang menjalankan sebuah misi, bukan jadi terhanyut dalam percintaan. Kamu berarti, kalau begini akan melindungi dia dan akan membawa dia, agar tidak terjerat hukum. Bahkan bisa jadi, kamu akan ikut jadi buronan nanti." ucap Willy.
"Entahlah."
"Oh jadi Black Mamba, sekarang berubah akan jadi pengkhianat karena wanita. Ternyata, kelemahan kamu itu wanita. Saya tidak menyangka kamu malah meniduri dia. Otak kamu itu dimana? orang dalam itu, ya kamu pengkhianatnya." ucap Willy lantang.
"Kalau saya salah, saya siap konsekuensinya. Saya salah, memanfaatkan dia malah jatuh ke lubang empuk, bahkan saya menikmati hubungan ini. Saya akan membantu dia, untuk meringankan hukuman dia, kita harus selesaikan secepatnya." ucap Elang tak kalah lantang.
"Terserah kamu, mau gimana cara kamu." ucap Willy pergi meninggalkan Elang.
****
Didalam kamar Elang, April bercermin melihat tubuhnya tanpa penutup, penuh tanda merah yang di buat Elang. Apri tersenyum, mengingat malam panjang, untuk dirinya pertama kali.
Pintu kamar di ketuk, April segera memakai pakaiannya dan berjalan ke arah pintu, lalu membuka pintu kamarnya.
Ceklek
Elang masuk, dan kembali mengunci pintu kamarnya kembali, dan langsung memeluk tubuh April.
"Kita cari penghulu, untuk menikahkan kita."ucap Elang.
"Menikah?" ucap April.
"Iya, kita menikah."
"Ta - tapi."
"Saya sudah memutuskan, dan saya akan meninggalkan pekerjaan ini, bila suatu saat nanti terjadi sesuatu."
"Ja - jangan, tolong jangan. Biarkan hubungan ini jadi rahasia kita, negara jangan sampai tahu. Tolong jangan menambah masalah, saya rela menanggung semuanya."
"Tapi saya sayang sama kamu, saya cinta sama kamu. Tolong, kamu mau ya."
"Saya tidak mau, seperti saja saya sudah bahagia."
"Tidak, saya akan menikahi kamu. Siapa kamu nantinya, kamu tetap kekasih hati saya. Sampai kedua mata ini menutup, saya tepat milik kamu, dan kamu milik saya."
.
.
.