The Black Mamba

The Black Mamba
Sidang Terakhir



"Ibu minum obatnya dulu." ucap Tante Asri, sambil memberikan obat pada Ibu mertuanya.


"Nenek tidak habis pikir, kenapa bisa seperti ini." ucap Nenek Ima.


"Nenek, maafkan kami. Tapi tolong, nenek jangan marah lagi, April bukan wanita yang jahat seperti itu. Dia rela begitu, karena demi adiknya." ucap Karisma.


"Oh namanya April, kamu bilang demi adiknya. Dan rela tangan nya itu, menembak orang. Jangan - jangan, kalau bebas dia bisa saja emosi langsung tembak." ucap Tante Asri.


"Kalian tidak menerima April tidak apa - apa, tapi saya tetap mencintai dia." ucap Elang.


"Kamu itu, seperti tidak ada wanita lain. Keluarga kita, tidak memilih atau menjodohkan keturunannya, mau kaya atau miskin asal yang jelas keluarganya. Ini sudah tidak jelas, malah penjaga. Narapidana, sedang hamil anak keturunan keluarga terhormat." ucap Tante Asri.


"Tante, anak kami tidak salah. Saya akan merawat anak saya sendiri, tidak minta bantuan kalian, tidak minta makan dari kalian. Biar malu saya yang tanggung, kalian mau jauhi saya juga tidak apa - apa, saya tidak masalah." ucap Elang.


"Kamu berani bicara seperti itu, kamu mau di coret dari daftar keluarga?" ucap Nenek Ima.


"Coret saja Nek, tidak mendapatkan warisan juga tidak apa - apa. Saya masih bisa hidup, dan tanpa dari warisan saya dan kakak bisa memiliki tempat tinggal sendiri. Kami bisa seperti ini juga, biaya peninggalan orang tua. Bukan warisan dari kakek sama Nenek." ucap Elang.


"Elang, kamu tidak boleh bicara seperti itu." ucap Karisma.


"Kalau kalian tidak suka, tidak apa - apa. Mungkin jodoh saya memang begini, jalan hidup saya seperti ini. Kalian malu, saya minta maaf. Bukannya, uang bisa menutupi malu." ucap Elang kembali.


"Kurang ajar kamu Elang, di didik hingga besar, kamu malah tidak seperti orang berpendidikan." ucap Tante Asri.


"Tante Asri, saya tahu. Tante itu yang sudah merawat kami, bukannya saya tidak berterima kasih atau tidak sopan. Tapi saya itu, memang mencintai dia, dan ada anak saya di dalam perut nya. Kalian mau memisahkan kami, tidak akan bisa. Karena anak, yang akan terus menyatukan kita."


"Benar - benar kurang ajar." ucap Nenek Ima.


"Maafkan saya Nek, kalau saya kurang ajar. Tolong hargai perasaan saya, ini sudah keputusan saya."


"Pergi kamu Elang, melihat kamu membuat Nenek semakin sakit." ucap Tante Asri.


"Kamu pergi dulu ya, jangan membuat suasana tambah panas." ucap Karisma.


****


"Abang kok baru kesini, katanya Abang cuti khusus saya." ucap April.


"Tadi ada keperluan." ucap Elang.


"Abang kok wajahnya, seperti bete gitu. Apa. ada masalah?"


"Tidak ada kok, tidak ada masalah."


"Bang, besok vonis. Tinggal menunggu beberapa jam lagi, malam ini saya ingin bisa tidur tenang."


"Abang akan temani kamu , sampai kamu tidur." ucap Elang.


"Peluk ya?"


"Iya sayang, oh ya kamu makan belum?"


"Sudah Bang, tadi dapat petugas wanita yang jaga saya di depan."


"Syukurlah"


"Bang, boleh menulis kata - kata indah buat saya tidak? untuk temani saya, kalau mau tidur baca catatan kata - kata indah buat saya."


"Kata - kata indah yang seperti apa?"


"Apa saja, untuk saya baca."


"Tapi Abang bukan seorang puitis loh, Abang tidak bisa merangkai kata yang manis."


"Pasti bisa, sambil di samping saya."


"Tapi tidak bisa terburu - buru ya."


"Iya, buatin sekarang."


****


Dengan goresan pena, tinta hitam di atas kertas putih. Semua isi hati tercurahkan disini, dengan rasa yang tidak bisa di tuliskan dengan kata - kata.


Goresan tangan ini, saya buat untuk kamu. Mengiringi saat kamu tidur, agar bisa selalu ingat, kalau cinta kita yang terpisah oleh jeruji besi, akan selalu bersatu.


Hati kita, tetap bersama. Antara jeruji dan waktu. Walau raga akan terpisah, antara dunia yang berbeda nanti, kamu harus percaya. Tunggu Abang, di surga nanti.


Cinta kita, akan selalu ada hingga nafas kita sama - sama terhenti.


April meneteskan air matanya, saat membaca secarik kertas yang ditulis oleh Elang. April lantas memeluk tubuh Elang, menangis sejadi - jadinya.


Elang memeluk erat tubuh April, tak lupa mengecup pucuk kepalanya. Elang pun kedua matanya berkaca - kaca, dan menahan agar tidak menangis.


"Saya akan baca tulisan ini, sampai saya bebas atau menutup mata." ucap April.


"Bacalah setiap malam, saat kamu akan tidur. Kalau Abang itu, tidak akan pernah pergi meninggalkan kamu." ucap Elang.


Hiks.. hiks... hiks..


Elang melepaskan pelukannya, dan mengusap kedua mata April, yang mengeluarkan air mata.


"Sekarang kita tidur, besok harus datang ke pengadilan." ucap Elang.


"Iya Bang."


****


"Jadi sekarang vonis wanita itu?" tanya Nenek Ima pada Karisma.


"Benar Nek, sekarang vonisnya." jawab Karisma.


"Apa Ibu akan datang kesana?" tanya Tante Asri.


"Iya, saya ingin tahu. Seperti apa, penjahat yang memikat cucu saya." jawab Nenek Ima.


"Kalau begitu, kita siap - siap dari sekarang. Dua jam lagi, sidang akan di mulai." ucap Karisma.


"Iya, tapi sebelum di mulai. Nenek ingin bertemu dengan dia, nenek ingin bicara."


"Baik Nek."


****


April dengan kursi roda, di dorong oleh Elang hingga masuk kedalam mobil tahanan. Banyak orang yang melihatnya, apalagi tangan yang di borgol. Bahkan ada wartawan, yang sudah berada di depan pintu keluar rumah sakit, yang mengambil beberapa photo.


"Abang akan naik mobil sama Willy, sampai bertemu di pengadilan." ucap Elang.


"Iya Bang."


Elang menatap April yang sudah masuk kedalam mobil tahanan, hingga mobil pun jalan. Elang pun langsung masuk, kedalam mobil yang di kendarai Willy.


"Elang, kalau menurut saya. Vonis yang di berikan Hakim, untuk April itu berat. Tidak mungkin akan di hukum, di bawah 10 tahun."


"Iya, saya sudah menebak." ucap Elang.


"Lantas bagaimana?"


"Ya mau gimana lagi, itu sudah keputusan hakim. Kita mau banding, jelas kejahatan April lakukan dengan sadar tanpa paksaan, mungkin hukuman nya berbeda dengan Juna dan Steven."


"Saya sih menebak, Juna yang akan di vonis berat."


"Iya, dia sudah pasti."


"Berarti kamu, mulai besok akan siap menerima kehidupan yang memang berbeda."


"Tidak harus menunggu besok, malam ini juga sudah berubah. Saya akan menunggu dia, sampai dia bebas. Kalau pun seumur hidup, saya akan tetap setia sampai menutup mata. Kalau vonis mati, sama saya akan setia, hingga kita bisa bertemu nanti di sana." ucap Elang dengan dada yang sesak.


Mobil tahanan sampai di halaman pengadilan, Elang melihat Nenek dan Tantenya, datang bersama Karisma.


"Mereka mau apa kesini?"


.


.