The Black Mamba

The Black Mamba
Musuh Satu Selimut



Pak Fatih mengemudikan mobilnya, namun dari arah belakang, seperti ada sebuah mobil yang mengikutinya. Bahkan mobil itu, mengikuti laju, disaat mobil melaju pelan ikut pelan, kencang ikut kencang. Dan Fatih, mencoba membelok ke arah kiri, dan mobil pun mengikutinya.


"Siapa mereka?" ucap Pak Fatih.


Pak Fatih menghentikan mobilnya, dan ke luar. Mobil yang mengikutinya pun berhenti, namun tidak ada yang keluar. Dan Pak Fatih mengetuk kaca jendela, pintu tersebut.


Tok.. tok..


"Keluar kamu."


Pintu mobil terbuka, terlihat 4 orang pria keluar dari mobil tersebut, dan Pak Fatih berjalan mundur saat mereka membawa tongkat baseball.


"Siapa kalian?" tanya Pak Fatih.


"Hajar...!! " ucap salah satu pria.


Pak Fatih pun lari, mereka semua mengejarnya. Pak Fatih langsung masuk ke dalam mobil, ke empat pria tersebut memukuli kaca mobil hingga pecah.


Pak Fatih, menjalankan mobilnya untuk lari dari mereka. Pak Fatih menabrak pria yang menghalangi mobilnya, hingga terpental.


Mobil pun berhasil pergi, tapi mobil itu tetap mengejar hingga aksi kejar - kejaran pun terjadi. Dari laci Dashboard, Pak Fatih mengambil pistol dan mengarahkan tembakan ke arah mereka.


Dor


Dor


Dor


Beberapa kali tembakan, Pak Fatih arahkan. Dan mereka membalas tembakan, hingga mengenai kaca mobil bagian belakang.


Dor


Dor


Beberapa kali tembakan terjadi, hingga mobil musuh menabrakkan diri dari belakang. Dan berusaha menyalip, tapi Pak Fatih tidak mau kalah, dan membalas menyenggol kan mobilnya ke mobil mereka.


Brak


Brak


Dor


Dor


Terlihat seorang pria mengendarai motor dari arah depan, mengarahkan tembakan ke arah mobil yang berusaha terus menabrak mobil Pak Fatih.


Motor tersebut berhenti di tengah jalan, dengan menyalip mobil hingga motor yang di kendarainya terdorong dan terpental hingga jarak 3 meter.


Pria yang memakai jaket dan helm warna hitam itu, bangun dan berjalan dengan pistol yang masih ada di tangannya.


Pak Fatih lalu keluar, untuk menyelamatkan diri. Dan ke empat pria, yang ada di mobil itu pun keluar mengarahkan senjatanya.


Dor


Dor


Mereka menembaki pria tersebut, tapi tetap tidak tumbang. Karena dia memakai jaket anti peluru, tembakan balasan pun di arahkan pada mereka.


Dor


Dor


Saling tembak terjadi, Pak Fatih pun membalas tembakan mereka. Pria tersebut memberikan kode, untuk mengikutinya dan kabur dari serangan mereka.


"Naik." ucapnya dari balik helmnya.


Dor


Dor


Pak Fatih dan pria tersebut berhasil kabur, dan mereka tidak tinggal diam, terus mengejar. Hingga laju motor semakin kencang, dan berhasil lolos dari kejaran mereka.


Motor pun lalu berhenti, di sebuah jalanan sepi dan gelap. Pak Fatih turun, dan pria tersebut membuka helm nya.


"Elang! "ucap Pak Fatih.


"Komandan." Ucap Elang.


"Kamu, kenapa bisa tahu itu saya?"tanya Pak Fatih.


" Saya tahu saat mobil komandan mulai di ikuti, lalu saya ambil jalur yang berbeda. Karena nyawa Komandan, terancam saat ini."


"Siapa mereka?"


"Mereka salah anggota Mafia."


"Tapi kenapa mengejar saya juga? mereka tidak tahu saya."


"Komandan jangan bicara seperti itu, musuh di sekitar kita itu, bukan hanya Juna dan Steven. Orang dalam masih bermain petak umpat bersama kita, dan saya harap Komandan hati - hati, jangan terlalu percaya dengan anak buah." ucap Elang menjelaskan.


"Kita tangkap Pablo."


"Tidak semudah seperti kita ucapkan, dia lebih pintar dari kita."


"Bersikap biasa, seolah tidak tahu."


"Baik, tapi ingat. Proses hukum untuk kamu dan Willy, masih tetap berjalan."


"Siap Komandan, saya terima itu semua."


"Untuk tersangka yang bersama kamu?"


"Kita masih memerlukan dia, bahkan lebih aman ada bersama saya. Dari pada dia di masukan ke penjara sekarang, saya taruhan nyawa untuk dia, kalau dia lepas."


"Ok, saya pengang ucapan kamu."


"Kalau begitu, saya antar komandan kembali ke tempat tadi.Saya yakin mereka sudah pergi, dan saya sarankan jangan pergi sendirian."


****


April menunggu Elang, sejak sore hingga pukul 1 malam belum juga pulang. Bahkan ponselnya pun, tidak bisa di hubungi.


"Kamu sudah tersambung?" tanya Willy.


"Belum, saya khawatir." jawab April.


"Tidak hanya kamu, kami juga sama khawatir." ucap Mika.


"Kalau sampai Elang tertangkap bagaimana?" ucap April.


"Kita harus lari." ucap Willy.


"Elang itu Black Mamba, pergerakannya cepat bahkan licin seperti ular Black Mamba, sekali menyerang musuh, akan mati di tempat dalam sekejap. Kami yakin, dia akan lolos." ucap Mika.


Terdengar suara rolling door di naikan, April langsung berlari mendekat saat Elang telah tiba. Dan langsung menurunkan rolling door nya, April langsung memeluk Elang.


"Hey kamu kenapa?" tanya Elang sambil membalas pelukan April.


"Saya takut, saya takut kamu tidak kembali pulang." jawab April.


"Kamu lihat, saya tidak apa - apa kan? masih utuh, tidak ada luka."


"Apakah terjadi sesuatu di luar sana?" tanya Mika.


"Komandan Fatih, di serang oleh orang yang tidak di kenal." jawab Elang.


"Apa!! jadi pulang telat, terjadi sesuatu?" ucap April sambil melepaskan pelukannya.


"Iya, saya berhasil menyelamatkan Komandan."


"Elang, peran orang kita tidak satu dua orang. Pasti ada yang memberikan identitas, tentang Komandan Fatih. Dia pun terancam karena, dia ada di pihak kita." ucap Willy.


"Benar, saya minta dia untuk berhati-hati. Karena orang terdekat, bisa jadi adalah musuh."ucap Elang.


"Apa kamu kasih tahu, dimana kamu tinggal?" tanya Mika.


"Tidak, karena saya pun berpikir. Orang yang berpihak pada kita, belum tentu di belakang dia benar - benar berpihak pada kita." jawab Elang.


"Intinya, kita harus hati - hati." ucap Elang kembali.


*****


Juna dan Steven, kini berada di pelabuhan. Mereka akan menyebrangi lautan, ke sebuah negara yang jauh. Dan harus berada di perairan, hingga berbulan-bulan.


Namun saat akan mendekat ke arah kapal yang sudah menunggu, ada beberapa orang yang mereka kenal.


"Bagaimana ini? mereka mengecek satu persatu yang akan baik ke kapal." ucap Juna.


"Tidak ada pilihan lain, kita naik kapal berikutnya." ucap Steven.


"Kapal berikutnya, baru ada bulan depan. Dan ada juga, kita harus bayar mahal 10 kali lipat. Dan uang kita, kalau untuk itu bagaimana kita nanti disana."


"10 kali lipat kan, kita bisa bagi dua uangnya."


"Satu orang, 10 kali lipat. Jadi gimana?" ucap Juna.


"Terpaksa kita gagal pergi malam ini, dan bulan depan saja kita pergi." ucap Steven.


"Kalau kita masih hidup, mereka pasti menemukan persembunyian kita."


"Apa kita habisi saja Pablo?" ucap Steven, dan Juna menoleh ke arahnya dan menyunggingkan senyumnya.


"Ide bagus, bukannya besok dia ada peresmian hotel baru? kenapa tidak ambil kesempatan emas ini." ucap Juna.


"Kita habisi dia di tempat." ucap Steven.


.


.


.


.