The Black Mamba

The Black Mamba
Penjara



"Saya terima nikah dan kawinnya Aprilia Lesmana Binti Wahyu Setiadi dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." ucap Elang di depan penghulu.


SAH


"Alhamdulillah." ucap semua yang hadir.


April lantas mencium punggung tangan Elang, dan Elang mengecup keningnya. Momen tersebut tak lupa Karisma abadikan, dengan memotret nya.


"Selamat datang, di keluarga Baskoro." ucap Karisma saat April mencium punggung tangannya.


"Terima kasih, sudah menerima saya kak." ucap April.


"Kakak hanya bisa mendoakan, yang terbaik untuk kalian." ucap Karisma pada Elang dan April.


"Maaf, kalau saya merepotkan kakak." ucap Elang.


"Kamu adik Kakak satu - satunya, apa sih yang tidak untuk adik Kakak. Kita ini sudah tidak memiliki orang tua, tapi masih punya keluarga, dan lama - lama mereka juga harus tahu, mungkin keputusan kakak menyetujui ini akan membuat mereka marah. Tapi demi adik, demi masa depan kalian, kakak harus lakukan." ucap Karisma.


"Terima kasih kak."


Tingtong


Tingtong


"Apa ada seseorang yang akan bertamu?" tanya Elang.


"Kakak tidak buat janji."


"Mba Karisma, kalau begitu saya pamit. Karena masih ada urusan di luar." ucap penghulu.


"Oh iya Pak, sekali lagi terima kasih." ucap Karisma sambil memberikan sebuah amplop.


Tingtong


Tingtong


Karisma langsung berjalan ke arah pintu, di ikuti langkah penghulu. Saat Karisma membuka pintu, beberapa pria menerobos masuk, dengan senjata yang siap menembak.


"Siapa kalian?" ucap Karisma.


"Kami membawa surat perintah penangkapan, akan menangkap saudara April. Ini surat penangkapannya, dan saya minta saudara April menyerah sekarang." ucapnya.


Karisma membaca surat perintah penangkapan April, Elang langsung mengambil surat tersebut.


"Tidak bisa, kami baru saja menikah." ucap Elang.


"Maaf Pak Elang, dan kami minta Bapak jangan melindungi penjahat seperti dia, mohon kerja samanya."


"Atas informasi dari siapa? kalau dia ada disini?" tanya Elang.


"Maafkan saya Elang, saya yang memberitahu Markas besar." jawab Willy.


"Kamu!! " bentak Elang.


"Saya tidak mau ikut terlalu jauh, ini sudah diluar batas. Ini melanggar aturan, saya masih ingin hidup." ucap Willy.


"Saya kira, kamu itu sahabat yang benar - benar, akan selalu ada. Saya kira kamu bukan pengkhianat, ternyata kamu pengkhianat." ucap Elang menarik kerah jaket Willy.


"Saya akan menceritakan kronologinya, saya masih membutuhkan pekerjaan ini. Walau nanti saya mungkin akan di hukum, tapi ini lebih baik walau saya akan di pindahkan."


"Ka - kamu." tunjuk Elang pada wajah Willy.


"Pak, bawa April." perintah Willy.


April hanya diam tidak bisa berkutik, saat kedua tangannya di borgol. Elang pun tidak bisa berbuat apa - apa, saat April di bawa.


Willy sengaja melaporkan langsung tentang pernikahan Elang dan April, setelah mendapatkan chat dari Elang, hingga tembus di telinga Jendral. Bahkan Mika pun yang tidak ingin terlibat jauh, memutuskan untuk tidak membantu lagi.


Willy pergi bersama mereka, begitu juga Mika. Sebelum pergi, Mika menepuk pundak Elang. Dan mendekatkan mulutnya, ke telinga Elang.


"Maafkan saya juga, jangan libatkan saya lagi." ucap Mika.


"Terima kasih." ucap Elang.


****


April kini berada di dalam penjara, dirinya duduk meringkuk sambil terisak menangis. Elang berjalan mendekat, dan April langsung bangun dari duduknya.


"Kamu tidak salah, saya paham. Kalau saya sudah di sini, kamu tidak akan bisa berbuat apa - apa." ucap April.


"Sayang, mungkin ini jalan kita. Tapi saya tidak akan meninggalkan kamu, bagaimana juga kamu itu sekarang istri saya."ucap Elang sambil memegang pipi April.


" Boleh saya panggil Abang?" tanya April.


Elang tersenyum, dengan menganggukkan kepalanya. April memegang tangan Elang, yang masih memegang pipinya.


"Bang, bila memang hukuman saya berat.Talak saya, karena kita tidak mungkin akan terus dalam ikatan pernikahan. Saya ikhlas, tapi tolong titip Clara. Bilang pada dia, kalau saya sedang pergi jauh cari uang, untuk pengobatannya."


"Abang akan katakan itu, tapi tidak dengan talak kamu."


****


Elang berjalan menuju ke ruang Jenderal, setelah mendapat panggilan resmi. Dengan seragam lengkap Elang datang,untuk memenuhi panggilannya.


"Masuk." terdengar suara dari dalam.


Elang masuk dan langsung hormat, di dalam sudah ada Pak Fatih dan Elang tetap berdiri tegap di depan keduanya.


"Black Mamba, kamu adalah seorang Prajurit hebat dan memiliki banyak prestasi. Dan tahun ini, kamu akan naik pangkat. Tapi di tahun ini, kamu memiliki sebuah kesalahan. Dan Komandan kamu, diam - diam tahu apa yang anak buahnya lakukan. Kamu tahu resikonya?" ucap Jenderal Hari.


"Saya tahu, dan saya salah." ucap Elang.


"Kamu tahu, karena ulah kamu dan sayang terhadap anak buah. Komandan kamu, saya mutasikan dia, dan kenaikan pangkat kamu saya tunda. Dan kamu tidak lagi menangani kasus ini, kalian masih saya berikan toleransi, tidak di pecat. Karena kalian Tentara terbaik, saya masih memaafkan kalian." ucap Jenderal Hari.


"Satu lagi, kenapa kamu menikahi dia?"


"Saya mencintainya."


"Sudah membawa tersangka, di nikahi apa ini termasuk rencana kamu?"


"Bukan, ini murni dari hati."


"Dan ini surat mutasi kamu." ucap Jenderal Hari, sambil menyerahkan surat mutasi.


"Semoga ini menjadi pelajaran buat kalian." ucap Jenderal Hari.


"Jenderal maaf, nyawa Komandan Fatih terancam, musuh kita sebenarnya ada disini. Saya minta untuk menyelesaikan kasus ini, dan menangkap penghianatnya. Karena mereka itu, sangat berbahaya." ucap Elang.


"Maaf untuk itu, kamu tidak lagi menangani kasus ini."


****


"Komandan, maafkan saya." ucap Elang.


"Ini resiko keputusan saya, tapi kalau kamu mau melanjutkan, lanjutkan tangkap pengkhianatnya. Karena kamu pernah bilang, orang dekat, belum tentu di belakang itu baik."ucap Pak Fatih.


"Terima kasih sudah mendukung saya, dan saya janji akan tunjukkan pada negara, kalau saya akan menangkap pengkhianat yang sudah menodai negara kita, dan menodai seragam ini." ucap Elang sambil menunjuk pada seragam yang di pakainya.


*****


Elang datang menemui April, saat April tahu langsung mendekat dan kini mereka saling menatap dengan terhalang jeruji besi.


"Abang." ucap April.


"Abang mendapatkan hukuman." ucap Elang.


Maafkan saya Bang."


"Ini bukan salah kamu, tapi Abang akan menangkap mereka. Karena ini tidak adil, kalau mereka itu masih berkeliaran diluar sana."


"Bang, apa Abang rindu?" tanya April sambil memegang wajah Elang.


"Abang rindu kamu, kalau tidak rindu. Abang tidak akan kesini, bisa melihat kamu seperti ini saja, Abang bahagia." jawab Elang dengan memegang wajah April.


"Saya takut esok hari, setiap hari seperti itu. Karena saya takut, tidak bisa lagi bertemu dengan Abang, dan tidak bisa lagi mendengar suara Clara. Kadang saya takut, hari ini adalah hari terakhir saya. Saya takut Bang, saya takut."


"Kamu harus yakin, bahwa Allah akan selalu ada bersama kamu."


.


.


.