
Lelah yang di rasakan Elang hilang, saat melihat Sakinah. Elang memberikan susu botol pada putrinya, bayi mungil itu menikmati susu formula yang di berikan oleh Papahnya.
"Kamu haus ya sayang?" ucap Elang.
"Pak, saya pamit dulu." ucap Irma, baby sister Sakinah.
"Makasih ya." ucap Elang.
"Sama - sama Pak, permisi. " ucap Irma pamit.
Elang merebahkan Sakinah, yang sudah kembali tidur. Elang meninggalkan Sakinah mengambil makan untuknya.
Ada nasi dan lauk, yang di pesan saat masih di kantor. Elang makan sepiring sendiri, sambil menatap photo April sambil menggendong Sakinah.
"Kamu sudah makan belum sayang? Abang disini, makan sendiri. Makanan enak juga, rasanya hambar. Disana kamu tidak mungkin, makan enak seperti ini." ucap Elang, dengan mata berkaca - kaca.
Saat sedang makan, baru dua suap. Sakinah menangis, Elang langsung menghentikan makannya, dan bergegas masuk ke dalam kamar.
Owaaaa.. owaaaa...
"Sayang, kenapa hem?" ucap Elang sambil menepuk pelan paha Sakinah.
Elang memberikan susu lagi, sisa tadi yang belum lama di buat. Sakinah menolak, lantas Elang memeriksa pampers Sakinah, yang ternyata sudah penuh. Elang pun lantas, menggantikan popok yang baru.
"Nggak nyaman ya, papah ganti ya sayang." ucap Elang.
Dengan hati - hati Elang menggantikan pampers, Sakinah tidak langsung tidur, malah matanya kini terbuka lebar. Elang lantas menggendongnya, lalu membawa nya ke meja makan, untuk melanjutkan makan.
"Papah lanjut makan ya." ucap Elang.
"Assalamu'alaikum." ucap Karisma.
"Walaikumsalam." balas Elang.
"Aduh, sini sama Kakak." ucap Karisma langsung mengambil alih Sakinah.
"Kamu lanjut makan." ucap Karisma kembali.
"Tidak sama Bang Alex?" tanya Elang.
"Tidak, dia sedang ke rumah mantan istrinya, anaknya sakit katanya." jawab Karisma.
"Kenapa kakak tidak kesana ikut? malah datang ke sini." ucap Elang.
"Kakak malas saja, mantan istrinya seolah seperti benci sama kakak."
"Lah bukannya, sudah menikah lagi."
"Nggak tahu lah, katanya cerai."
"Hati - hati kak, takutnya cinta lama bersemi kembali, hanya karena anak mereka bersatu lagi."
"Terserah, kakak nggak peduli." ucap Karisma sambil menimang Sakinah.
"Jangan gitu lah kak, apa nggak capek mau jadi janda lagi?" ucap Elang.
"Mungkin lebih baik sendiri."
"Memangnya baru nikah, kalian berantem terus?" tanya Elang.
"Nggak juga sih, hanya saja Kakak sudah pasrah." jawab Karisma.
"Jangan gitu lah kak." ucap Elang.
"Besok kakak tidak ada jadwal praktek, Sakinah kakak bawa ya?"
"Saya juga ingin jenguk April, sudah hampir mau satu bulan."
"Kamu bawakan dia makanan enak, barang kali ingin makan yang beda."
"Iya kak."
****
"Wah, kamu buat selimut?" tanya Pretty.
"Kalau suami kamu, tidak akan kesini lagi gimana?"
"Saya kan dari awal bilang, saya sudah siap."
Salah satu petugas Lapas mendatangi April, mengatakan bahwa ada tamu, yang ingin bertemu dengannya.
"April, ada pria yang ingin bertemu dengan kamu." ucap petugas Lapas.
"Suami saya ya?" tanya April senang.
"Saya tidak tahu, kamu temui." jawabnya.
"Iya, Mba Pretty sana kesana dulu ya."
"Iya." ucap Pretty.
***
"Abang."sapa April, langsung memeluk tubuh Elang.
Pelukan rindu keduanya, semakin sangat erat. Rasa rindu yang terobati, akhirnya bisa tersalurkan.
" Gimana kabarnya kamu?" tanya Elang.
"Alhamdulillah Bang, saya sehat. Abang sama Sakinah bagaimana?" tanya April.
"Abang sehat, Sakinah juga sehat." jawab Elang.
"Pasti dia sekarang, tumbuh sehat ya Bang."
"Alhamdulillah, sekarang sedang sama Kak Karisma, kebetulan sedang tidak ada jadwal praktek jadi Abang bisa kesini."
"Bang, saya kira Abang tidak akan kesini lagi. Ternyata Abang masih kesini, saya takut itu terjadi."
"Abang akan tetap menjenguk kamu, walau hanya sebulan sekali. Abang tidak akan lupa, dengan janji Abang."
"Bang, saya buatkan selimut untuk Sakinah." ucap April, memberikan selimut rajut untuk Sakinah.
"Kamu buat ini sendiri?" tanya Elang.
"Iya Bang, saya belajar disini. Saya praktek sendiri, ini buat Sakinah. Di sudutnya saya kasih nama Abang dan saya." jawab April.
"Terima kasih ya, Ini akan menghangatkan tubuh Sakinah, sebagai pengganti pelukan mamahnya." ucap Elang.
"Jujur, ada rasa rindu pada dia. Tapi saya harus menahannya, mungkin setelah bebas orang yang pertama kali akan saya lihat adalah Abang, dan kedua Sakinah. Entah nanti saya bisa memeluknya, atau tidak dapat memeluknya. Yang terpenting adalah, saya bisa melihat anak saya tumbuh." ucap April.
"Sakinah akan memeluk kamu, dan memanggil kamu mamah." ucap Elang.
"Saya berharap begitu Bang, saat 20 tahun nanti."
Elang memegang kedua tangan April, dan menatapnya dengan lekat. April menatap suaminya dengan berkaca - kaca.
"Kita akan tetap saling mencintai, demi Sakinah kita akan terus bersatu. Walau tanpa kamu, saya akan buat Sakinah merasa tidak akan kekurangan kasih sayang." ucap Elang.
"Maafkan saya Bang, maafkan saya kalau saya bukan istri yang baik." ucap April terisak.
"Kata siapa kamu bukan istri yang baik? kamu itu adalah istri yang sempurna dimata Abang, kamu sudah lahir kan Sakinah, kamu sudah berusaha menjadi istri yang sempurna. Hanya waktu dan tempat, kita sekarang tidak bisa bersama, tapi esok kita akan bersama - sama lagi. Percaya sama Abang, karena cinta kita akan tetap bersatu, walau jeruji besi jadi penghalang." ucap Elang.
" Sampaikan salam rindu untuk Sakinah Bang, peluk cium dan sayang untuk dia, dari Mamahnya yang berada di hotel prodeo." ucap April.
"Iya sayang, Abang akan sampaikan salam pada Sakinah, Abang lupa ada photo Sakinah." ucap Elang mengambil ponselnya,dan menunjukkan photo Sakinah.
April menangis,saat melihat photo Sakinah.Putri kecilnya tumbuh dengan sehat, saat lahir tubuhnya kecil , dan sekarang gemuk dan berisi.
"Makasih Bang, sudah menjadi Papah yang hebat, tidak hanya menjadi Papah tapi menjadi Mamah untuk Sakinah." ucap April.
"Sakinah itu, sudah sebagai obat. Rasa lelah hilang, saat melihat dia. Kalau sedang rindu mamahnya, Abang dan Sakinah melihat photo kamu, walau Sakinah belum mengerti. Tapi itu cara kita, kalau sedang rindu kamu."
.
.
.