
April berjalan dengan kedua tangan di borgol, Nenek Ima dan Tante Asri memperhatikan istri Elang. April tersenyum ke arah Karisma, dengan melewati Nenek Ima dan Asri.
"Pak, kami mau bicara sama dia." ucap Tante Asri.
"Tante, nanti lagi ya, setelah sidang saja." bisik Karisma.
"Kenapa? biar dia tahu siapa kita." ucap Tante Asri.
"Tante, April tidak bisa lama berdiri. Dia harus duduk, nanti lagi ya sebentar lagi di mulai." ucap Elang.
"Kalian jangan halangi, tolong beri kami waktu." ucap Tante Asri.
"Pak, minta tolong ya." ucap April.
"Silahkan." ucap petugas Lapas.
"Kenalkan, saya Asri Tante nya Elang suami kamu, dan ini Nenek nya." ucap Tante Asri dengan angkuh.
"Tante, Nenek." ucap April mencoba bersalaman, namun keduanya menolak.
"Maaf." ucap April sambil menunduk.
"Saya minta, kamu cerai dengan cucu saya." ucap Nenek Ima.
"Nek." ucap Elang.
"Keluarga kami, menolak menantu seperti kamu."
"Nenek." ucap Elang kembali.
"Tanpa di minta, saya sudah meminta dari awal. Karena saya tidak memaksakan, untuk cucu Nenek bertahan dengan saya. Dan saya sadar, saya hanya orang jahat, penuh dosa. Memang tidak pantas, orang seperti saya berada di tengah - tengah orang terpandang. Saya minta maaf, kalau saya telah mengacaukan keluarga Nenek." ucap April.
"Pak, bawa ke dalam." ucap Elang.
"Tunggu Pak, saya hanya minta. Titip anak saya, kalau kalian tidak mau rawat. Taruh di panti, jangan di buang di pinggir jalan. Anak yang saya kandung, tidaklah berdosa. Dia berhak bahagia, kalian mungkin tidak akan mau menerima anak saya, dan saya sadar diri. Bang, saya ini memang tidak pantas untuk Abang, mungkin kita berjodoh sampai disini. Alam tidak akan menyatukan kita, karena selain kita sebagai langit dan Bumi, saya adalah orang yang sudah ternoda, dan akan selamanya menjadi pendosa." ucap April kembali.
"Untung kamu sadar diri, saya mau memiliki menantu seperti kamu. Dasar penjahat, memalukan." ucap Nenek Ima.
"Pak bawa dia." ucap Elang, lantas April pun melanjutkan langkah nya masuk kedalam ruang sidang.
"Lebih baik, kalian pulang." ucap Elang pada Nenek Ima dan Tante Asri.
"Kamu Elang, berani mengusir kami." ucap Tante Asri , sambil menatap Elang masuk kedalam.
"Nenek sama Tante, kenapa bicara seperti itu? suasana hati April itu sedang sedih, tambah kalian bicara seperti itu. Dia pun tidak ingin melakukan hal seperti ini, dia lakukan demi adiknya yang sakit. Karena dalam pikiran April itu buntu, masih sekolah dia harus kerja buat makan berdua. Hidup dia itu keras, tidak seperti Elang dan saya, memiliki apa saja. Dia itu baru menemukan keluarga, saat menikah dengan Elang. Pria yang tulus mencinta April, bahkan Elang pun nyaman dengan April. Malah kalian bicara seperti itu, sakit hati dia." ucap Karisma , lalu pergi masuk kedalam ruang sidang.
"Anak jaman sekarang, di bilangin malah susah." ucap Nenek Ima.
"Ibu mau masuk tidak?" tanya Tante Asri.
"Mau lah, Ibu ingin tahu vonis apa yang di dapat." jawab Nenek Ima.
****
April tampak memerah wajahnya, bahkan kedua matanya terlihat sembab. Sesekali April menyeka kedua matanya dengan tissue, Elang yang duduk jauh dari April, langsung maju ke depan berjalan ke arah istrinya.
Elang langsung memeluk April dari belakang, April semakin terisak. Saat merasakan pelukan dari suaminya.
"Maafkan Nenek sama Tante." bisik Elang.
"Iya Bang, tidak apa - apa. Memang benar yang di katakan Nenek sama Tante. Maafkan saya Bang." ucap April sambil terisak.
"Sssttt jangan terus minta maaf, kamu berdoa saja, agar vonis yang di dapat tidak jatuhi hukuman seumur hidup, atau mati." ucap Elang.
"Mohon untuk berdiri, Hakim akan masuk kedalam ruang sidang. " ucap seorang wanita, yang membacakan susunan sidang.
Terlihat Juna dan Steven, yang hanya menundukkan kepalanya, sedangkan April tangan gemetar, dan meminta minum. Saat minum terlihat, air yang di minum tumpah sedikit. Elang, akan berdiri namun Karisma meminta untuk tetap duduk.
"Saya khawatir kondisi April kak." ucap Elang.
"Tenang, April pasti kuat." ucap Karisma.
"Asri, apa kamu lihat? bagaimana cucu saya itu." ucap Nenek Ima, yang duduk di belakang tidak jauh dari Karisma dan Elang.
"Iya Ibu, Elang tampak begitu mencintai." ucap Tante Asri.
"Kalau bukan Napi, Ibu restui. Ini sih, Napi kelas berat. Lantas Ibu mau bilang apa, sama saudara - saudara lainnya."
"Sudahlah Bu, jangan dipikirkan lagi. Lagian dia itu nggak akan bersatu dengan Elang, pasti vonis lama."
"Nenek juga kasihan lihatnya, tapi apa kata saudara lain. Ini suatu aib, dan kamu tahu, saham kita menurun drastis. Itu pengaruhnya, bahkan ada yang membatalkan proyek." ucap Nenek Ima.
"Sudah Bu, jangan banyak di pikirkan, pengacara kita sedang mengurus semuanya, bahkan Malik sedang berusaha meredakan berita ini, dan mengembalikan posisi saham kita agar tidak turun lagi, dan naik seperti tadi. Dan satu, menjelaskan semuanya pada investor, ibu jangan memikirkan itu ya."
"Ibu percaya kan pada kalian, jangan sampai ibu sakit, gara - gara masalah cucu satu."
***
"Saudara Juna, setelah membaca dari kasus yang terjadi, dan keterangan beberapa saksi. Dengan ini, Pengadilan Negeri W memutuskan hukuman vonis pada Anda adalah hukuman mati." ucap Hakim, dengan mengetuk palu.
Tok.. tok..
Juna terduduk lemas, sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Juna menangis, bahkan keluarga Juna menangis mendengar keputusan Hakim.
Juna mengangkat kepalanya, dan membuka kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya.
Juna terdiam, menyesali segala perbuatannya, yang telah membuat malu Negara, dan keluarganya.
Setelah Juna, Steven pun kini duduk di depan Hakim, dengan perasaan yang kacau, dan detak jantung begitu cepat.
"Saudara Steven Julius, setelah membaca kasus, dan keterangan beberapa saksi. Pengadilan Negeri W, memutuskan menjatuhkan vonis hukuman seumur hidup."ucap Hakim, lalu mengetuk palu.
Tok.. tok..
Steven hanya bisa menundukkan kepalanya, dan menyesali segala perbuatan , yang telah dirinya lakukan.
Setelah Steven,April lantas duduk di depan Hakim, yang akan mendengarkan vonis hukuman apa yang diterima dirinya.
" Saudara April,setelah membaca kasus yang telah di perbuat,dan penjelasan beberapa keterangan saksi. Pengadilan Negeri W memutuskan,vonis hukuman selama 20 tahun penjara." ucap Hakim, langsung mengetuk palu.
Tok.. tok..
April menangis, saat mendengar keputusan Hakim. Elang langsung berlari ke depan, memeluk April.
"Abang tetap menunggu kamu." ucap Elang, dengan maksud menguatkan istrinya.
Hiks.. hiks.. hiks..
"Dua puluh tahun Bang." ucap April.
"Iya, dua puluh tahun."
.
.
.