The Black Mamba

The Black Mamba
Hotel Prodeo



"Kurang ajar, bedebah! saya tidak menyangka mereka menipu kita." ucap Juna marah.


"Kita harus segera hubungi Mark, karena hanya dia yang tahu dimana mereka." ucap Steven pun kesal.


"Jangan - jangan, April termasuk anggota mereka. Buktinya, April belum juga kembali." ucap Steven kembali.


"Betul kata kamu, jangan - jangan memang dia menipu kita. " ucap Juna.


"Benar - benar, kita telah di tipu." ucap Steven.


Sedangkan di tempat lain, Mark telah di tangkap di kediamannya. Tanpa melawan, Mark langsung menyerahkan diri.


"Cepat masuk kedalam mobil." ucap salah satu Anggota Polisi yang memborgol Mark.


Mark hanya bisa pasrah, kini dirinya telah tertangkap. Hanya isak tangis sang istri dan anak, saat melihat orang yang di cintainya di bawa pihak berwajib.


***


"Kalian menyerah lah, kami tahu kalian di dalam. Kalian telah di kepung, tidak akan bisa. melarikan diri." ucap salah satu Anggota menyerukan suaranya dengan pengeras suara.


"Sial, kita di kepung." ucap Juna.


"Kita harus kabur, jangan sampai tertangkap." ucap Steven langsung bergegas ambil senjatanya, begitu juga dengan Juna.


Praaaannngg


Sebuah kaca besar pecah, akibat dua orang masuk melalui kaca besar hingga pecah. Juna dan Steven langsung berlindung, saat kedua pria yang di kenal menembakkan ke arah mereka.


Dor


Dor


Saling tembak, hingga rumah yang mereka tempati di kepung dengan sebuah tembakan. Beberapa pasukan berhasil menerobos masuk, dan menodongkan senjata ke arah mereka.


Juna dan Steven tidak bisa bergerak lagi, mereka tidak bisa melawan. Ada sekitar 10 anggota yang menodongkan senjata ke arah mereka.


"Turunkan senjata kalian." ucap Agam memberikan perintah pada Juna dan Steven.


Namun Juna dan Steven tetap diam, dan tetap mengarahkan senjatanya pada pasukan tersebut.


"Saya ulangi, turunkan senjata kalian." bentak Agam.


"Kalau tidak segera diturunkan, akan saya tembak kepala kalian." ancam Agam.


Juna dan Steven menurunkan senjata mereka, dan menaruhnya di lantai. Dua Anggota maju, dan langsung memborgol tangan kedua nya.


****


"Juna dan Steven berhasil di tangkap, setelah proses disini selesai. Mereka akan di bawa pulang, begitu juga dengan kamu." ucap Elang pada April.


April tersenyum ke arah suaminya, Elang mengusap punggung tangan April dengan tangan kanan membelai wajahnya.


"Sudah saat nya Bang." ucap April.


"Abang tahu, kamu akan bersama dia di dalam balik jeruji." ucap Elang.


"Saya siap Bang saya sudah pasrah dengan takdir. Karena ini memang salah saya, dan sudah seharusnya saya mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan saya."


"Abang akan selalu ada, demi kamu dan calon anak kita. Kamu jangan stress ya, kamu ingin anak kita lahir kan?"


"Iya Bang, makasih Bang."


"Sama - sama sayang."


*****


Juna, Steven dan April naik kedalam pesawat. Dengan pengawalan ketat, kedua tangan mereka di borgol. Juna dan Steven menatap sinis ke arah Agam, Willy dan Elang.


Juna menatap April dengan tidak suka, padahal kedua tangan April di borgol nya. Pesawat pun, sudah mulai lepas landas.


"Saya kira, kamu berkhianat. Tapi kamu, sama seperti kita." ucap Juna.


"Saya itu tidak pernah berkhianat, sekali setia tepat setia pada janji. Tapi saya menyesal, sudah menurut pada kalian. Masa kebahagiaan saya hilang, kebebasan saya hilang. Bahkan saya harus pergi, meninggalkan orang yang paling saya sayang." ucap April.


"Lihat saja, kamu akan di hukum berat juga." ucap Juna dengan tersenyum sinis.


Perjalanan 24 jam dalam pesawat, membuat April merasakan tidak nyaman, seorang dokter mendampingi April untuk terus mengecek kesehatan April dan janinnya.


"Capek?" tanya Elang.


"Iya." jawab April pelan.


"Kamu tidur, Abang di dekat kamu." ucap Elang sambil mengusap perut April.


Tangan April memegang tangan Elang, April memejamkan kedua matanya. Elang merasakan, setetes air mata jatuh di bajunya.


"Kenapa nangis?" bisik Elang.


April semakin erat memegang tangan Elang, jemari Elang mengusap air matanya. Lalu mengecup kedua mata April, hal tersebut pun di perhatikan oleh beberapa anggota yang ada di dalam pesawat.


****


Pesawat pun mendarat , beberapa pasukan dan mobil sudah siap, menjemput ketiga tersangkut. Dengan senjata lengkap, mereka akan menyambut saat ketiga nya turun.


Juna, Steven dan April melihat saat mereka menuruni anak tangga pesawat, sebuah senjata mengarahkan kepadanya.


Mereka pun langsung di masukan kedalam mobil tahanan, April menoleh ke arah Elang. Dan Elang menganggukkan kepalanya, hingga melihat April masuk kedalam.


Elang pun segera menuju ke arah mobil untuk mengikuti mobil tahanan tersebut, hingga mereka meninggalkan Bandara.


"Elang, saat sidang nanti kamu siap memberikan keterangan." ucap Pak Alex.


"Siap Komandan." ucap Elang.


Mobil iring - orang tersebut berjalan begitu cepat, dengan suara rotator untuk menghindari kemacetan, dan memberikan jalan bagi pengguna kendaraan yang menghalangi.


April hanya menundukkan kepalanya dengan tangan mengusap perutnya, melihat dari jendela kaca mobil, gedung - gedung bertingkat dan pepohonan yang hijau.


April menyunggingkan senyuman, bahwa dirinya tidak akan pernah melihat pemandangan ini lagi.


"Mamah tidak akan pernah melihat dunia luar, ini adalah yang terakhir buat Mamah. Kamu yang akan melanjutkan, sampaikan salam bila kamu sudah besar, salam untuk dunia. Jangan pernah kamu ikuti, seperti Mamah." ucap April dalam hati.


*****


"Saya minta, untuk periksa lagi kandungan April." ucap Elang pada dokter, yang mengikuti nya hingga ke Lapas.


"Elang, maaf sebelumnya. April akan di perlakuan sama dengan Napi lain, walau dia itu istri kamu tidak ada yang spesial." ucap Pak Alex.


"Saya mengerti Komandan." ucap Elang.


"Tapi pihak lapas, akan memperhatikan kondisi kesehatan janinnya, dan dia pun akan di tempatkan dengan Napi wanita lain."


"Saya hanya minta, untuk hari ini cek kondisinya. Saya tidak mau, kehilangan calon anak saya."


"Iya, dokter akan memeriksa nya."


"Saya masih bisa kan, bertemu dia setiap hari?"


"Bisa tapi sesuai dengan jadwal kunjungan."


"Siap komandan."


****


"Kamu sedang hamil ya?" tanya salah satu Napi wanita yang berada, dalam satu sel tahanan dengan April.


"Iya." jawab April singkat.


"Kasihan sekali kamu, masih muda sudah jadi Napi kondisi hamil lagi." ucap nya.


"Kasus apa kamu?" tanya salah satu Napi perempuan lagi, yang terlihat lebih tua.


"Kasus saya banyak, saya salah satu Anggota mafia, kasus terakhir saya membunuh sesama Mafia dan pembohongan publik, dengan merekayasa kematian, agar saya bisa bebas dari jeratan hukum. Padahal Jenazah dalam mobil, yang terbakar itu adalah manusia yang tidak berdosa." ucap April, sehingga membuat mereka yang di dalam satu sel terdiam.


"Kamu sudah menghabisi nyawa berapa?" tanya wanita yang lebih tua.


"Tak terhitung." ucap April tersenyum, dan membuat mereka tercengang kaget.


.


.