The Black Mamba

The Black Mamba
Tidak Mempercayai



April makan kerang dan ikan bakar yang dia pesan dengan begitu sangat lahap, Juna melihatnya begitu sangat senang. Bahkan Juna sesekali memotret April yang sedang makan, hingga membuat April tidak nyaman.


"Ngapain sih Bang? pake memotret saya." ucap April kesal.


"Abang suka saja, batu sadar kalau kamu itu cantik." ucap Juna.


"Terus, kemarin Abang matanya lirik kemana? giliran sudah jadi mantan, malah bicara seperti itu." ucap April kesal.


"Maafkan Abang, jujur Abang menyesal menyiakan kamu. Apa kamu mau, kembali sama Abang dan kita menikah?" ucap Juna.


April menghentikan makannya, lalu membasuh tangannya, ke dalam mangkok khusus cuci tangan.


"Bang, saya masih status istri Bang Elang. Dan sudah dari dulu, saya itu memutuskan Abang. Saya tidak bisa menerima Abang, terus terang saya banyak kecewa sama Abang." ucap April berkata jujur.


"Maafkan Abang, tolong kasih Abang kesempatan kedua."


"Maaf Bang, menjadi kekasih Abang adalah hal yang bodoh. Saya menuruti apa kata Abang, tapi Abang merendahkan saya di depan teman - teman Abang, dan saya di jadikan bahan pemuas. Sedangkan Bang Elang, dia sangat menghargai perempuan."


"Oh jadi kamu sekarang, sudah bisa menilai mana lelaki baik dan mana lelaki jahat. Kamu sekarang, lebih membela si Elang. Asal kamu tahu, Elang sudah menganggap kamu itu mati. Bahkan kamu itu bukanlah April yang dulu, kamu itu telah menjadi orang lain."


"Saya tahu Bang, tapi saya masih cinta sama Bang Elang."


Braaaakkk


Juna menggebrak meja makan, hingga membuat perhatian di sekitarnya. April pun merasa kaget, namun di buat santai.


"Ingat April, saya akan habisi dia." ucap Juna kesal.


****


"Bang, kok nggak di ajak Malika nya?" tanya Karisma saat Pak Alex datang.


"Malika sedang bersama Bundanya." jawab Pak Alex.


Karisma menggandeng lengan kekasihnya, saat itu Elang ada di Apartemen kakaknya, sedang duduk di balkon sambil memetik gitar.


"Saya kira, dia tidak ada disini." ucap Pak Alex.


"Sekarang dia banyak tinggal disini, dan kerjaannya gitu banyak menyendiri." ucap Karisma.


"Apa dia masih belum menerima kematian April?"


"Ya begitu, Abang harus tahu. Dia tidak percaya, kalau dalam peti itu adalah jenazah April. Dia ingin menggali lagi , memastikan kalau itu bukan Jenazah April."


"Jujur saya juga curiga, tapi di lihat dari identitasnya kalau itu jenazah mereka bertiga."


"Saya katakan sama dia, untuk tidak berpikir terlalu jauh."


Sedangkan Elang, kini sedang menatap bintang, sambil memeluk gitarnya. Tak di sadari, kalau di belakangnya Karisma dan Pak Alex sedang memperhatikannya.


"Kamu sedang apa sayang? kamu pasti sedang tidur ya?" ucap Elang.


"Abang kangen kamu sayang, Abang belum rela kamu pergi secepat ini. Terlalu singkat untuk kebersamaan kita, Abang belum bisa melepaskan kamu untuk selamanya. Abang terlalu cinta dan sayang, Abang kangen kamu."


Sedangkan di negara lain, April menatap photo Elang. Yang sengaja dia ambil dari sosial media milik Elang, sambil menatap dan mengusap perutnya.


"Abang, saya kangen sama Abang. Apa Abang juga, kangen sama saya?" udak April.


"Seandainya tidak terjadi seperti ini, mungkin Abang masih sering menemui saya. Maafkan saya Bang, April sudah mati membawa anak kita. Maafkan saya Bang, harus memisahkan Abang dan anak kita. Karena saya bukan wanita terbaik, saya hanya seorang penjahat yang tidak pantas, menjadi istri dari Bang Elang. April sudah mati Bang, saya sekarang bukan April. Cinta kita, memang tidak akan pernah bersatu. Alam dan Negara, pasti akan melarang dan memisahkan kita." ucap April dengan raut wajah sedih.


"Saya akan ikuti perkembangan Abang, dari sosial media Abang. Hanya untuk mengobati rasa rindu, maafkan saya Bang, maafkan."


****


Elang merasakan mual kembali, bahkan kini tubuhnya hampir lemas. Karisma yang melihatnya, langsung memberikan obat pada Elang.


"Nggak tahu Kak, kenapa saya ini sering mual. Kata Agam, cirinya seperti dia waktu istrinya hamil, malah dia yang muntah - muntah."


"Nah, terus kan yang jadi istri kamu siapa? April gitu di dalam kuburan sedang hamil. Memangnya pria yang begini, hanya untuk pria yang sudah menikah dan istrinya hamil? jangan ngaco, kamu itu memang fisiknya sedang lemah. Kamu jangan memikirkan April terus, kamu do'akan saja biar segala dosa dia , di ampuni oleh Allah SWT."


"Amin mba."


"Kamu ambilah cuti, kondisi kamu itu belum pulih benar. Kakak akan hubungi Bang Alex, kalau kamu itu akan ambil cuti."


"Tidak usah kak, biar saya saja. Jangan manfaatkan orang lain, apalagi yang memiliki jabatan. Biar saya akan mengajukan cuti sendiri." ucap Elang.


"Ok, kalau kamu ingin menyegarkan pikiran. Pergilah untuk berlibur, agar kamu bisa melupakan semua kesedihan kamu. Kamu seperti ini lemah, itu karena banyak pikiran."


****


Elang memeriksa hasil otopsi jenazah April, hingga dirinya membaca berulang kali. Willy yang melihatnya, hanya bisa menggaruk kepalanya.


"Saya ingin bongkar kuburan April." ucap Elang.


"Maksud kamu apa?" tanya Willy.


"Saya melihatnya, dalam peti itu adalah bukan April. Walau identitas itu atas nama dia, tapi saya mengatakan didalam itu bukan April, dan dia masih hidup bersama kedua temannya."


"Masa hasil otopsi salah, jelas itu April." ucap Willy.


"Perasaan kuat banget loh, saya ingin makam itu di bongkar, tapi kita cari adiknya dimana lu kita cocokan DNA mereka." ucap Elang.


"Cari dimana? rumah sakit di dunia itu banyak." ucap Willy.


"Rumah sakit kanker, kita harus cari. Kita. kita bantuan baik dari dalam dan luar negeri, untuk mencari tahu dimana Clara. Karena otak mereka itu pintar, agar bisa mengelabui petugas." ucap Elang.


"Apa kamu punya koneksi, siapa yang bisa menemukan Clara di rumah sakit mana."


"Kita curi data dari setiap rumah sakit."


"Hah!"


"Itu caranya, agar kita bisa tahu dimana Clara. Karena saya memiliki data Clara dan rekam medisnya." ucap Elang.


****


Clara memegang perut April, adiknya tersenyum saat dirinya tahu akan memiliki seorang ponakan.


"Kamu jangan bicara sama siapa - siapa, kalau kakak sedang hamil." ucap April.


"Clara janji kak." ucap Clara.


"Bagus, kamu tidak ingin kan kalau calon ponakan kamu, ada yang menyakiti?"


"Clara tidak ingin, calon dede bayi terluka."


"Bagus, jadi kita sekarang main rahasia ya."


"Ok kakak, dan kakak juga harus hati - hati. Di luar sana, banyak orang jahat."


"Iya sayang, kakak akan hati - hati. Kakak janji, demi kamu dan calon anak kakak akan terus berusaha agar tetap hidup dan bisa melindungi kalian berdua. Dan ingat, pesan kakak, bila ada orang yang datang, dia orang asing kamu harus berhati-hati."


"iya kakak."


.


.


.