The Black Mamba

The Black Mamba
Rasa Kecewa



April berusaha agar bisa terlepas, dari pria yang seperti kerasukan dengan menyakiti tubuhnya. April berusaha mendorong sekuat tenaga, tapi tenaga Elang lebih besar.


April hanya bisa pasrah, saat dirinya di cium paksa, hingga tangan Elang terus berusaha bermain di setiap celah, yang menimbulkan sensasi.


Mmmmppphhh


Elang mencium bibir April secara paksa, dengan memainkan lidah, dan memberikan beberapa tanda merah, di leher hingga dada yang membuat nya menimbulkan rasa perih.


Aaaaaarrrrggghhhh


April mendorong tubuh Elang sekuat tenaga, hingga Elang terdorong ke belakang, punggung nya mengenai nakas.


April langsung berusaha melarikan diri, tapi langsung Elang menangkapnya dan membanting tubuh April ke atas tempat tidur.


Awwwww


April merasakan sakit di perutnya, Elang langsung berada di atas tubuh April, menampar kedua pipi April hingga memerah.


Plaaakkk


Plaaakkk


April berusaha melawan, tetapi kalah tenaga. Hingga April merasakan lemas, dan nyeri di perut nya. Elang bagai orang kesetanan, terus menampar wajah April, dan terakhir menyobek dress yang di pakai April hingga sebagai pinggang.


April meneteskan air mata, dengan darah yang keluar dari sudut bibir sebelah kirinya. Elang langsung menciumi tubuh April, secara paksa. Dan merobek, dress nya hingga terlepas dari tubuhnya, dan menyisakan pakaian dalam nya.


"Kamu?" ucap Elang saat melihat perut buncit April.


"Kamu sedang hamil?" ucap Elang.


Aaaaaaaa


Buuugghhh


April menendang tubuh Elang, hingga terjungkal ke lantai. April langsung bangun, dan mengambil sebilah pisau. April langsung berlari ke arah Elang, membalas apa yang di lakukannya.


Aaaaaaaa


April mencoba mengarahkan pisau ke Elang, tetapi Elang langsung menghindar. Elang berusaha menjauh, April mengejar dan menusuk punggung nya.


Aaaaarrrrrggg


April menusuk punggung Elang, hingga tujuh kali, sampai Elang tumbang. April mengangkat sebuah kursi dan memukul ke arah kepala Elang.


Braaaakk


Aaaaarrrrrggghhhh


"Mampus kamu." ucap April saat melihat Elang tersungkur.


April belum mengetahui bahwa yang di tusuknya adalah Elang, karena yang April tahu adalah Mr Louis, kliennya.


"Kamu pikir, saya wanita lemah. Cuiihh." ucap April sambil meludahi Elang.


April segera memakai dress nya kembali, dan tiba - tiba merasakan sakit di perutnya. April tak kuat berdiri, hingga terduduk di lantai.


Aaaaaawwwww


Teriak April, hingga menjerit karena rasa sakit yang sangat luar biasa, bahkan darah keluar dari celah kedua kakinya.


Elang bangun, dengan kepala yang dirasakan pusing. Elang menoleh, ke arah April yang terlihat kesakitan.


"April." Elang langsung bangun dan berjalan ke arah April.


Aaaawwwww


"Sakit...!!! "


"April, maafkan Abang April. Abang tidak tahu, kalau kamu sedang hamil." ucap Elang panik.


Aaaaaawwwww


"Sakit..!! " teriak April.


Elang langsung memakai celana, kaos dan jaket, dengan cepat membopong tubuh April, untuk di bawa ke rumah sakit.


****


"Saya tidak tahu, kalau April sedang hamil." ucap Elang.


"Polisi sudah menuju ke sini, April sudah tidak bisa lari." ucap Willy.


"Cara penangkapan yang bagus, walau taruhan calon anak kamu." ucap Agam.


"Ya Allah, selamatkan anak saya." ucap Elang.


Sedangkan April sudah di pindahkan ke dalam kamar rawat, salah satu tangannya di borgol, dan terlihat tubuhnya yang lemah.


Elang masuk, saat dokter memintanya untuk melihat kondisi pasiennya. Ada rasa penyesalan, melihat apa yang terjadi pada April.


"Dia hampir kehilangan calon anaknya, untung bapak cepat membawanya kemari." ucap dokter, yang membuat sedikit lega.


"Saya minta, dia disini dulu sampai kondisi pasien dan calon bayinya sehat." ucap dokter kembali.


"Iya dok." ucap Elang.


"Kalau begitu saya permisi."


Dokter pun pergi, Agam datang dan langsung mendorong tubuh Elang, hingga membentur tembok.


"Kamu itu menggagalkan sebuah rencana kalau seperti ini, penangkapan mereka. harus segera di lakukan, tanpa harus menggunakan strategis. Dengan adanya kabar April masuk rumah sakit, akan membuat mereka lari." ucap Agam kesal.


"Maafkan saya." ucap Elang.


"Kabar ini sudah sampai ke atasan, komandan meminta kamu mundur dari misi ini, karena kamu sudah melanggar sebuah prosedur. "ucap Willy.


Elang mengusap wajahnya dengan kasar, karena emosi yang begitu sangat besar. Elang hanya bisa menatap menyesal pada April, karena hampir kehilangan anak mereka karena ulah nya.


***


April telah sadar, saat bangun April merasakan tangan sebelah kirinya di borgol. April hanya bisa pasrah, dengan apa yang telah di perbuat.


Elang masuk, dan langsung mendekat saat melihat April telah siuman. April membuang wajahnya ke samping, saat melihat Elang di depan matanya.


" Kamu pintar bermain film, hingga semua percaya kalau kamu itu sudah meninggal dunia. Bahkan suami kamu pun, kamu tega membohonginya. Tapi sayang, kamu memiliki suami yang pintar, sehingga kebohongan kamu sekarang terungkap." ucap Elang.


"Lantas, kalau sampai kebohongan kamu itu tidak terungkap, apa kamu tega menyembunyikan anak kamu dari saya. Apa kamu akan katakan, kalau Ayahnya telah meninggal dunia?" ucap Elang kembali.


"Ti - tidak begitu, saya salah. Saya minta maaf, tapi tidak seperti itu maksudnya." ucap April.


"Kamu harus tahu, bagaimana rasanya saat tahu kamu meninggal dunia, bagaimana rasanya saat mengantarkan jenazahnya kamu ke pemakaman. Hati saya hancur, orang yang saya cintai telah pergi. Dan ternyata, kamu masih mau menemui pria asing, untuk kam puaskan."


"Maafkan saya Bang, tapi tolong dengarkan penjelasan saya."


"Penjelasan yang mana? tidak ada penjelasan lagi. Kamu salah, kamu akan di hukum berat, atas tindakan kejahatan kamu."


"Maafkan saya, hiks.. hiks.. maafkan saya."


"Jujur, hati Abang sakit. Saat tahu kamu masih hidup, apalagi saat tahu kamu hamil. Tambah sakit, Abang tidak bisa bayangkan kalau sampai anak kita lahir, Abang tidak tahu kalau pernikahan kita memiliki seorang anak. Benar - benar hancur, Abang kecewa sama kamu."


"Kenapa Abang tidak langsung menghabisi nyawa saya, saat tahu saya sedang hamil anak Abang. Malah tadi, saya sudah tidak ada harapan untuk hidup. Abang kan sudah tahu, itu saya. Kenapa Abang biarkan saya hidup, saat tahu saya hamil."


"Saya tidak seperti kamu, saya memiliki naluri kemanusiaan. Saya itu tidak gila seperti kamu, saya lebih mementingkan nyawa anak saya."


"Jadi Abang sudah tidak peduli dengan nyawa saya? berarti Abang sudah tidak cinta lagi. Padahal saya itu setiap hari, selalu merindukan Abang. Saya itu selalu ingin memeluk Abang, saya paham Bang. Kalau Abang itu kecewa sama saya, saya minta maaf."


"Lahir kan anak kita, setelah lahir biar dia ikut saya." ucap Elang pergi keluar dari kamar rawat.


Hiks... hiks.. hiks..


"Maafkan saya Bang, maafkan saya."


Elang menatap April, dari celah pintu yang sedikit terbuka. Terlihat April menangis, dengan terus mengusap perutnya.


*Hiks.. hiks...


"Maafkan Mamah sayang, maafkan saya Bang*. "


.


.


.