
5 Tahun Kemudian
Sakinah berjalan ke arah Elang, yang berdiri di samping sepeda motornya. Sakinah dengan wajah cemberut, menatap Elang tajam.
"Anak papah kenapa?" tanya Elang berjongkok.
"Sakinah marah sama ibu guru." jawab Sakinah.
"Marah kenapa?" tanya Elang kembali bertanya.
"Mas Pah, Sakinah tidak di pilih ikut lomba baca puisi, padahal Sakinah itu ingin ikut." jawab Sakinah kesal.
"Jangan marah dong, mungkin Sakinah belum beruntung saja." ucap Elang.
"Sekarang Sakinah mau makan di rumah, Mami Risma." ucap Sakinah.
"Makan di rumah sendiri saja ya, Mami Risma masih di rumah sakit."
"Nggak Mau, pokoknya Mami Risma."
"Tapi belum pulang sayang, kita pulang ke rumah dulu."
"Nggak mau Papah, mau ke Mami Risma."
"Iya, kita ke rumah sakit."
Elang menaikan Sakinah di depan, dengan mengendarai motor sportnya. Dengan kecepatan pelan, Papah dan anak itu ke arah rumah sakit.
***
"Eh cantik, kok ke rumah sakit?" ucap Karisma.
"Biasa kak, ngambek katanya mau makan masakan Kakak." ucap Elang.
"Kebetulan, nanti sebentar lagi Mami mau makan siang sama Papi, kamu mau ikut?" ucap Karisma.
"Mau!! " ucap Sakinah senang.
"Tapi kamu belum ganti seragam sayang." ucap Elang.
"Sudah, biarkan saja. Nanti kita mampir ke Mall ya sayang, sama Mami kita beli pakaian. Lagian Mami, setelah jam makan siang, sudah tidak ada jadwal praktek."
"Ok Mami, sekarang Papah pulang ya." ucap Sakinah.
"Oh gitu ya, awas ya." ucap Elang, sambil mencubit hidung Sakinah.
"Awwww papah sakit." ucap Sakinah.
***
Elang berjalan ke kamar Sakinah, menaruh tas sekolahnya. Elang tersenyum ke arah sebuah photo, photo April yang sedang menggendong Sakinah waktu masih bayi.
"Anak kita sudah besar, dia itu sudah bisa protes, sudah bisa minta ini itu. Kalau kamu lihat, pasti kamu akan bilang. Lucu sekali anak kita, cantiknya seperti Mamah." ucap Elang.
****
April makan siang, bersama para napi lainnya, melihat daging ayam, sayur bayam dan kerupuk. April meneteskan air mata, setiap dirinya makan selalu ingat anak dan suaminya.
"Kebiasaan, kalau makan selalu nangis." ucap Pretty.
"Gimana nggak nangis, saya ingat mereka terus. Sejak anak saya besar, suami saya jarang kesini. Tidak seperti dulu, satu bulan sekali, sekarang sudah 4 bulan belum kesini." ucap April.
"Kamu sabar lah, barang kali sibuk, atau ada kerepotan lainnya." ucap Pretty menenangkan.
"Saya bukan berpikir ke arah sana, saya takut saja. Khawatir terjadi sesuatu, atau hal yang saya tidak ingin jadi kenyataan."
"Mulut kamu bicara ikhlas di tinggalkan, tapi faktanya kamu tidak ikhlas. Bagaimana pun, orang itu ingin suatu kebahagiaan, apalagi menunggu yang lama. Kamu kan pernah bilang, asal bebas bisa melihat anak kamu dari jauh sudah sangat senang, walau tidak bisa di peluknya." ucap Pretty.
"Iya, dia pasti sudah bisa panggil Papah. Saya juga ingin dia panggil Mamah, tapi itu tidak mungkin. Sakinah pasti malu, punya Mamah orang jahat."
**
"Mami Papi, Mamah Sakinah itu kemana sih? teman - teman pada tanya, dibilang meninggal Mamah kata Papah masih hidup, di bilang hidup Mamah tidak pernah pulang." ucap Sakinah sambil, memakan es krim.
Pak Alex dan Karisma saling tatap, dan tidak bisa membalas pertanyaan Sakinah. Seakan mulut keduanya terkunci, hanya bisa menatap Sakinah.
"Mami Papi tahu kan, Mamah dimana?" tanya Sakinah kembali.
"Mamah kamu ada sayang, hanya saja Mamah tidak bisa pulang sekarang." jawab Karisma.
"Ada dimana Mami?" tanya kembali Sakinah.
"Mami ada di Kepulauan C, tapi Mami masih ada kontrak disana jadi belum bisa pulang." ucap Pak Alex.
"Kontrak itu apa Papi?" tanya Sakinah lagi.
"Kontrak itu, suatu perjanjian. Dengan masa tahun, yang berbeda ada jangka panjang, dan jangka pendek. Kebetulan Mamah kamu, jangka panjang." jawab Pak Alex menjelaskan.
"Jangka itu apa Papi?"
"Jangka itu jarak." ucap Pak Alex sambil menggaruk - garuk kepalanya.
"Sakinah, ini di makan pizza nya." ucap Karisma langsung mengambil alih pembicaraan.
****
"Makasih Kak, Bang sudah di antarkan pulang." ucap Elang.
"Sama - sama, kami pulang dulu." ucap Pak Alex.
"Tadi beli apa saja?" tanya Elang.
"Beli mainan banyak." jawab Sakinah.
Sakinah langsung membuka mainan, yang di belikan Mami Papi nya. Sebuah rumah barbie,dan beberapa boneka Barbie serta pakaiannya.
"Papah, kata Papi. Mamah itu belum boleh pulang, karena kontrak ya?" tanya Sakinah dengan polosnya.
"Iya sayang, dan masih lama." jawab Elang.
"Kita main ke Mamah Pah, Sakinah ingin ketemu Mamah." ajak Sakinah.
Elang hanya diam, sambil menatap kosong. Sedangkan Sakinah, berbicara tapi sambil menyusun mainannya.
"Papah, kita main ke Mamah." ucap Sakinah.
"Ah iya sayang, nanti ya kita main." ucap Elang.
*****
"Anak saya, ingin ketemu Mamahnya." ucap Elang pada Agam dan Willy.
"Kamu jawab apa?" tanya Agam.
"Saya jawab iya." jawab Elang.
"Apa kamu sudah siap? mengatakan pada Sakinah tentang Mamahnya?" tanya Willy.
"Dan apa kamu siap, membawa Sakinah menemui Mamahnya?" tanya Agam.
Elang terdiam, serasa bingung akan memulai dari mana, untuk menjelaskan pada Sakinah.
.
.
.