The Black Mamba

The Black Mamba
Terluka



"Tembak sayang." bisik Elang sambil menekan pistol ke perutnya.


"Bang." ucap April.


"Lakukan."


April memejamkan kedua matanya, air mata keluar dari kedua sudut mata. Elang masih tetap memeluk tubuh April, dan April membuka kedua matanya, melihat cahaya merah tepat di leher Elang.


"Maafkan saya Bang, saya mencintai kamu."


Dor


Dor


Dor


April menembak perut Elang tiga kali, Elang memeluk erat tubuh April. Tubuh Elang bergetar, merasakan rasa sakit dan panas pada perut, yang telah di tembus timah panas.


"Kamu lakukan juga." ucap Elang.


"Maafkan saya."


Dor


Sebuah tembakan, tepat di belakang kepala Elang dan tubuh Elang langsung tumbang. April gemetar, saat darah keluar banyak dari kepala bagaian belakang Elang.


April terduduk lemas, saat melihat Elang terluka dan tak sadarkan diri. Juna dan Steven datang, menatap tubuh Elang yang sudah tumbang.


"Kamu periksa, dia masih hidup tidak." perintah Juna pada Steven.


Steven memeriksa denyut nadi Elang, terasa lemah denyut nadinya. Steven langsung mengarahkan senjatanya, tepat di kening Elang.


"Jangan, saya mohon. Jangan tembak lagi. Bang Elang, sudah merasakan sakit." ucap April sambil memeluk tubuh Elang.


"Baik, saya biarkan dia sekarat. Lebih baik kita segera pergi, dan tinggalkan negara ini." ucap Steven.


"Betul, sebelum ada yang melihat kita." ucap Juna.


"Ayo April, kita segera pergi." ucap Juna.


April Terisak menangis, dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Elang, yang tergeletak bersimbah darah.


****


"Elang lupa apa, dia menutup pintu." ucap Karisma.


Tak lama, sebuah sepeda motor berhenti tepat di samping mobil Karisma. Pria tersebut melepas helmnya, dan tersenyum ke arah Karisma.


"Kamu temannya Elang?" tanya Karisma.


"Betul mba, karena saya ada perlu sama dia." jawab Agam.


"Kita masuk sama - sama, sepertinya Elang masih ada di dalam rumah." ucap Karisma.


Aaaaaaaa


"Elang...!! " teriak Karisma langsung berlari, ke arah Elang yang sudah tergeletak.


"Elang!! " ucap Agam.


Karisma langsung mengecek denyut nadi Elang, tubuhnya terasa dingin namun denyut nadinya sudah lemah dan tidak beraturan.


"Dia masih hidup, harus segera di bawa ke rumah sakit."ucap Karisma.


" Saya akan hubungi rumah sakit." Jack Agam.


****


Polisi langsung datang ke rumah Elang, dan mencari barang bukti, penambakan pada Elang. Komandan Alex pun tiba di rumah Elang, dan ikut memeriksa kondisi tempat kejadian.


"Apa kalian menemukan sesuatu?" tanya Alex.


"Kami hanya menemukan jejak sepatu saja, sepertinya pelaku lebih dari satu orang." jawab salah satu, Anggota Polisi.


Pak Alex langsung mencari sesuatu lebih dalam lagi, di rumah Elang. Memeriksa setiap sudut ruangan, namun tidak menemukan sesuatu yang membantu untuk penembakan tersebut


"Ini benar - benar pembunuhan berencana."


****


Karisma dan Agam, menunggu di depan ruang operasi, Karisma yang tidak sabar menerobos masuk pintu kamar Operasi.


"Dokter, tolong untuk di luar, biar dokter Hans yang menangani adik dokter." ucap seorang suster.


"Kamu diam, saya akan ikut mengoperasi adik saya." ucap dokter Karisma.


"Tapi dokter."


"Kamu siapkan perlengkapan untuk saya."


"Baik."


Dokter Hans menatap dokter Karisma, tiba - tiba sudah berada di depannya. Banyak darah yang di keluarkan Elang, hingga Elang sudah menghabiskan 3 kantung darah.


"Bagaimana adik saya?" tanya Karisma.


"Peluru berhasil di keluarkan, untuk peluru di kepala bagian belakang, hanya menembus tulang tengkorak hampir satu senti lagi mengenai otaknya." jawab Dokter Hans.


"Karisma menatap Elang, tubuhnya semakin menurun. Karisma terus memperhatikan, setiap detik kondisi Elang.


" Kamu harus kuat, harus bisa bertahan hidup." ucap Karisma.


****


April duduk diam, di dalam pesawat. Kini penampilan dan wajahnya, tidak di kenali oleh petugas Bandara. Semua data, mereka palsukan.


"Bang Elang , maafkan saya." ucap April dalam hati.


"Apa kamu menyesal?" ucap Juna, yang duduk di sampingnya.


"Saya tidak memiliki pilihan lain." ucap April.


"Semoga dia mati."


"Saya yakin, suatu saat semuanya akan berakhir."


****


Operasi pada Elang telang selesai, namun kondisi Elang masih kritis. Dan detail jantungnya masih lemah, kamar rawat Elang pun di jaga ketat oleh beberapa anggota.


ceklek


Pintu kamar rawat Elang terbuka, Pak Alex masuk dan menatap Karisma yang sedang duduk di samping ranjang dimana Elang berbaring.


"Karisma." ucap Pak Alex.


"Abang, Abang atasan Elang?" ucap Karisma.


"Iya, Abang atasan nya. Ternyata dia adik kamu, ternyata dunia itu sempit." ucap Pak Alex.


Pak Alex adalah, pria yang menaksir Karisma. Dan pernah menjalin hubungan, walau hanya dua bulan. Dan mereka terpaut usia 7 tahun, hubungan mereka berakhir karena masalah komunikasi.


"Apa Abang, mencurigai adik saya itu seorang pengkhianat?"


"Tidak, saya hanya anggap dia berbahaya."


"Dia melakukannya, karena dirinya telah di jebak, dengan nyawa dia yang di jadikan tumbal. Mereka bisa hidup bebas, dan bernafas lega. Tapi adik saya, nyawa dia harus jadi taruhannya. Sekarang kalau sudah begini, apa mereka bisa di jamin di hukum mati, atau mati tertembak oleh petugas. Saya akan maafkan dia, yang telah membuat adik saya kritis."


"Saya akan membantu." ucap Pak Alex.


"Saya pegang janji Abang." ucap Karisma.


****


"Mba, barang kali mau istirahat biar saya yang jaga." ucap Agam.


"Saya tidak mau jauh, dari adik saya. Karena. saya takut, adik saya terjadi sesuatu." ucap Karisma.


"Percaya sama saya, dan di luar itu akan melindungi Elang." ucap Agam menyakinkan Karisma.


"Tidak, biar saya tetap disini." ucap Karisma.


Agam menghargai keputusan Karisma, dan lalu pergi meninggalkan Karisma di dalam kamar rawat.


Pak Alex yang masih berada di rumah sakit, sedang duduk di depan kamar rawat Elang. Dan Agam pun menghampirinya, dan duduk di sampingnya.


"Bagaimana, dia mau?" tanya Pak Alex.


"Tidak mau, karena dia tidak mau terjadi sesuatu pada adiknya." jawab Agam.


"Perketat penjagaan, kamu minta pada pihak rumah sakit, satu lantai ini jangan ada pasien lain, hanya khusus untuk Elang. Jangan sampai, mereka datang menyelinap."


"Siap Komandan, perintah akan segera di laksanakan."


"Pergilah, jangan menunggu besok."


"Siapa perintah saya laksanakan." ucap Agam langsung beranjak bangun dan pergi.


"Kalian harus periksa, siapa saja yang datang kemari baik dokter atas Susternya." ucap Pak Fatih.


"Siapa Komandan." ucap salah satu anak buah, yang berdiri tepat di samping pintu.


****


"Elang, kamu harus kuat dan bisa bertahan. Kakak tidak mau, kamu menyerah. Kamu harus bangun, dan bertahan untuk hidup. Kakak sayang kamu Elang, kakak rindu kamu." ucap Karisma sambil terisak, dan memegang tangan Elang.


.


.


.