
Sidang perdana pun di mulai, Juna, Steven dan April memakai pakaian kemeja putih dan celana hitam panjang. Elang pun hadir, di temani sang kakak.
Terlihat April yang begitu tampak pucat, sesekali dokter yang di samping April mengajak berkomunikasi untuk menanyakan perihal kondisinya.
April meminum air mineral, dari dalam botol. Sesekali April melirik ke arah suaminya, Elang pun merasakan cemas melihat kondisi sang istri.
"Kak, menurut kakak April gimana?" tanya Elang.
"Tadi chat dokternya, katanya hanya capek saja." jawab Karisma.
"Saya mau kesana dulu." ucap Elang.
Elang berjalan mendekat ke arah April, dan duduk berjongkok di sampingnya, sambil mengusap perut April.
"Gimana?" tanya Elang.
"Capek saja Bang, mungkin efek semalam tidak bisa tidur." jawab April.
"Kalau masalah kesehatan, bisa minta ke hakim untuk menunda." ucap Elang.
"Nggak Bang, jangan. Saya kuat, percaya sama saya." ucap April sambil memegang punggung tangan Elang.
"Kalau merasakan ada sesuatu yang dirasa, cepat bilang sama dokter."
"Iya Bang."
Elang langsung kembali ke tempat duduknya, Hakim pun datang. Dan semuanya, di minta untuk berdiri.
Setelah Hakim duduk, semuanya kembali duduk. Dan sidang pun di mulai, dengan Hakim membacakan berbagai kejahatan yang di lakukan ketiganya.
"Selamat siang untuk semuanya, saya akan membacakan berbagai tindakan kejahatan yang di lakukan oleh ketiga tersangka, yaitu saudara Juna Alvaro, Steven Julius, dan Aprilia Lesmana. Atas kejahatan yang mereka lakukan, Saudara Juna dan Steven, adalah anggota Tentara aktif, yang telah melanggar kode etik dan telah mencoreng sebagai seorang Tentara. Menjadi bagian anggota Mafia, dan terlibat perdagangan ilegal serta pembunuhan berencana,serta memalsukan identitas membuat pernyataan kematian palsu. Serta saudara April, sebagai tersangka kurir yang melakukan transaksi ilegal, dan terlibat kasus pembunuhan berencana. Saya minta, para tersangka, mengakui kesalahannya di depan saya, dan di sumpah di atas kitab sesuai agama masing - masing." ucap Hakim.
Sidang perdana di awali, dengan Juna dan di sumpah di depan kitab suci Al - Quran. Juna pun kini duduk di depan Hakim, sambil memegang beberapa lembar catatan kasusnya.
"Saudara Juna, sejak kapan bergabung dengan mereka?" tanya Hakim.
"Sudah 5 tahun yang mulia." jawab Juna.
"Awal mengenal Pablo dan Jack itu dimana?"
"Teman nongkrong yang Mulia."
"Bisa tertarik?"
"Karena uang yang Mulia."
"Apa anda tidak berfikir dua kali? kalau anda itu seorang anggota Tentara aktif."
"Tidak yang mulia, selagi saya bisa menyembunyikannya."
"Tapi ternyata terbukti, bahwa anda masuk target operasi, karena anda itu sudah bergabung dengan Mafia internasional, dan kejahatan mereka itu sudah jadi target sasaran Interpol, dan terkenal Mafia hukum."
"Benar yang mulia."
"Apa anda menyesal?"
"Siap menyesal yang mulia."ucap Juna.
" Anda tahu, orang tua anda pasti sangat kecewa, anda di pecat secara tidak hormat? apa anda tidak kasihan pada kedua orang tua dan keluarga?"
"Menyesal yang mulia, saya telah membohongi mereka. Saya telah berbuat dosa besar."
"Apa anda siap menerima hukuman berat?"
"Siap yang mulia."
"Kenapa, kamu menjadi dalang otak pembunuhan Pablo dan Jack? "
"Tidak hanya saya, tapi kami bertiga. Karena kami merasa tertekan dengan apa yang mereka berbuat pada kita." ucap Juna.
"Lantas, memiliki rencana seperti itu?"
"Benar yang mulia."
"Setelah itu, anda bertiga menguasai harta mereka, dan kabur lantas merencanakan kecelakaan itu, dengan membunuh ketiga gelandang?"
"Benar yang mulia."
"Bagaimana mendapatkan mereka?"
"Kami menemukan mereka di jalanan, dan kami tawarkan sejumlah uang. Salah satu mereka, ada yang bisa mengendarai mobil karena riwayat masa lalu, dan lantas saya dan Steven memutus salah satu kabel rem." ucap Juna menjelaskan.
"Di bayar berapa mereka?"tanya Hakim.
" Di bayar 5 juta perorang." jawab Juna.
"Lantas, uang apa kalian rampas juga?"
"Tidak yang mulia, semua terbakar dalam mobil."
"Baik, silahkan kembali ke teman-teman duduk, selanjutnya saudara Steven."
Steven pun lantas maju, dan di sumpah di depan kitab Injil, lalu duduk di depan Hakim, untuk menjawab semua pertanyaan.
"Sudah 5 tahun yang mulia." jawab Steven.
"Di ajak saudara Juna?" tanya kembali Hakim.
"Benar yang Mulia." jawab Steven.
"Kenapa mau? anda tahu kan resikonya."
"Karena uang yang Mulia."
"Saat membunuh, apa tidak memikirkan lagi dengan matang - matang?"
"Tidak yang mulia, karena bagi mereka adalah ancaman. Dan kami sebenarnya terancam, saat pernah tertangkap. Bagi mereka, kalau tertangkap kami menjadi incaran mereka, karena pasti pihak berwajib akan mencari kami." ucap Steven menjelaskan.
"Ancaman bagaimana?"
"Karena takut kami membocorkan tentang mereka, dan kami bila tertangkap lebih baik mati di tempat dari pada di bawa ke sel tahanan."
"Jadi itu alasan menghabisi mereka?"
"Benar yang mulia."
"Apa sekarang menyesalinya?"
"Siap menyesalinya yang mulia, saya juga telah menipu keluarga saya. Dan mengecewakan mereka."
"Dari data yang saya terima, disini yang banyak berperan di belakang itu, adalah anda dan saudara Juna apa itu benar?"
"Benar yang Mulia, tapi leadernya adalah Juna. Saya hanya kadang mengikuti perintahnya, tapi ide menghabisi Jack dan Pablo itu saya."
"Bahkan kalian itu, menjebak dan mempermainkan dunia militer karena ulah kalian, melibatkan saudara Elang yang menjadi kambing hitam?"
"Kalau itu saya tidak tahu yang mulia, ide itu muncul dari siapa. Karena yang banyak berinteraksi, adalah Juna dengan Pablo dan Jack."
"Anda tidak tahu bagaimana? jelas - jelas disini anda itu terlibat langsung."
"Tapi saya tidak tahu ide dari siapa."
"Anda jangan berbohong, ingat ucapan kebohongan kamu itu, bisa lebih memberatkan hukuman kamu."
"Siap salah yang mulia."
"Jadi, anda tahu?"
"Tahu yang mulia."
"Kenapa tidak mau jujur dari awal?"
"Maafkan saya yang mulia."
"Anda itu sudah di sumpah, berarti Anda sudah itu sudah menyalahkan aturan dan berdosa di mata Tuhan kamu, paham itu?"
"Siap salah yang mulia."
"Sekarang katakan, siapa yang memiliki ide?"
"Saya tahu dari Juna, itu adalah ide Pablo dan Jack."
"Nah kalau begini enak, anda kenapa mau menutupi? mereka saja sudah tewas."
"Maafkan saya yang Mulia."
"Dari mana, kalian dapat senjata?"
"Itu kiriman ilegal, barang selundupan dari negeri."
"Siapa nama pemasoknya?"
"Mark, dia sudah tertangkap. Kami mendapatkan klien juga dari dia."
"Baik, cukup sampai disini. Sekarang lanjut tersangka berikutnya, saudara April."
April pun maju ke depan, dan di sumpah terlebih dahulu, di depan ayat suci Al - Qur'an. April pun duduk, namun sebelum menjawab pertanyaan April meminta air minum, dan meminta ijin pada Hakim untuk membawa air minum.
"Apa kondisi anda kurang sehat?"
"Insya Allah sehat yang Mulia."
"Jangan insya Allah, jawab yang tegas. Kalau anda memang kurang sehat, bisa kita tunda sidang ini."
"Lanjut yang mulia."
"Baik, kalau itu mau anda, tapi kalau anda memang benar - benar merasakan kurang sehat, sidang saya tunda. Ini adalah pertanyaan saya terakhir, memberikan kamu kesempatan."
"Siap kuat yang mulia."
.
.
.