
Usia kandungan April masuk usia 7 bulan, selama dua bulan Elang tidak mengunjunginya. Ada rasa rindu, ingin bertemu. Tapi April harus menahannya, karena mungkin Elang sedang sibuk, atau hal yang tidak di inginkan terjadi.
"Suami kamu tidak datang lagi ya? setelah kemarin kesini." ucap Pretty.
"Iya." ucap April singkat.
"Benar apa kata saya, lelaki itu tidak harus di percaya."
"Tapi saya berpikir positif saja." ucap April.
"Hahahaha, positif. Kamu masih saja polos, pasti dia sudah punya wanita lain."
"Saya percaya dia tidak seperti itu."
"Ya di iyakan saja."
April mengusap perutnya, yang sudah tampak besar. April pun memikirkan ucapan Pretty, rasa takut yang akan terjadi.
"Apa Abang akan meninggalkan saya?" ucap April dalam hati.
"Saya tidak percaya namanya lelaki, sudah lima kali saya itu, di sakiti.Rasa sakit itu, bahkan sampai sekarang masih terasa." ucap Pretty.
"Apa kamu di selingkuhin?" tanya April.
"Ya seperti itulah, sudah hidup bagai benalu, malah tambah selingkuh." jawab Pretty.
"Insya Allah suami saya tidak. "
"Semoga saja."
Namun April merasakan, seperti ada cairan yang mengalir di kakinya, April lantas melihat cairan itu bercampur dengan darah.
"Pretty ini apa?" tanya April.
"Ya Tuhan, kamu mau melahirkan?" ucap Pretty panik.
"Ini ketuban ya?" ucap April.
"Iya say, ini ketuban."
"Padahal saya, masuk 7 bulan usia kandungannya."
"Sepertinya, kamu harus melahirkan sekarang." ucap Pretty.
Tolong... tolong...
Teriak Pretty, hingga membuat semua berlari ke arahnya, bahkan petugas pun langsung berlari ke arah Pretty.
"Ada apa?" tanya petugas.
"Sepertinya, April mau melahirkan." ucap Pretty.
"Kita segera bawa ke rumah sakit." ucap petugas.
***
Aaaaaaaa
April mengejan, saat merasakan sudah saat nya, anak pertamanya lahir. Namun April, tidak memiliki tenaga, untuk melahirkan normal. April terus berusaha melahirkan normal, tapi tetap tidak bisa.
"Bu, harus melahirkan cesar." ucap Bidan.
"Saya mau normal bu." ucap April.
"Jangan bu, seperti nya tidak bisa. Dilihat dari kondisi ibu, tidak bisa melahirkan normal. Lebih baik Cesar, kita harus segera ke rumah sakit. " ucap Bidan.
April pun akhirnya mau, dan dengan Ambulance, April di bawa ke rumah sakit, untuk di tangani secara Cesar.
****
Elang ke Lapas, untuk menjenguk April. Namun saat sudah sampai, petugas mengatakan kalau April melahirkan, dan di bawa ke rumah sakit.
"Tapi Bu, istri saya baru masuk 7 bulan." ucap Elang.
"Mba April, pecah ketuban Pak." ucap petugas Lapas.
"Terima kasih Bu infonya, sekarang dibawa kemana?"
"Rumah sakit harapan kita."
Elang langsung pergi ke rumah sakit yang di maksud, dengan pikiran yang kacau, Elang menaiki bus ke arah rumah sakit.
***
Owaaa.. owaaa..
Suara tangis bayi terdengar, April meneteskan air matanya, saat bayi nya di perlihatkan pada dia.
"Selamat Mba, bayinya perempuan." ucap dokter.
"Alhamdulillah." ucap April.
"Bayinya cantik, kami bersihkan dulu ya."
"Iya dok." ucap April meneteskan air matanya.
Dokter keluar dari ruang operasi, Elang langsung menghampiri dokter.
"Dok, bagaimana istri saya?" tanya Elang.
"Bapak suami, dari mba April?" tanya kembali dokter.
"Alhamdulillah Pak, selamat bayinya lahir sempurna. " ucap dokter.
"Alhamdulillah ya Allah." ucap Elang.
"Bayi saya perempuan atau laki - laki?"
"Perempuan."
****
Elang berjalan masuk ke kamar rawat April, melihat istrinya kini masih terbaring lemah. April tersenyum ke arah Elang, saat suaminya datang tepat disaat bayi mereka telah lahir.
"Abang."
"Sayang, makasih." ucap Elang memeluk tubuh April.
"Bang, anak kita perempuan. Tapi lahir prematur."
"Iya sayang, Abang tahu."
"Bang, setelah anak kita boleh pulang dari sini, Abang bawa dia. Rawat dia Bang, sayangi dia."
"Iya Abang akan rawat dia, Abang akan sayangi dia."
"Bang, kalau Abang ingin pergi meninggalkan saya, pergilah. Saya sudah melahirkan anak Abang, saya ikhlas."
"Tidak, Abang tidak mau sayang. Abang tidak mau."
"Kasih nama anak kita, Sakinah Khalisah."ucap April.
" Iya sayang, Sakinah Khalisah." ucap Elang.
"Makasih Bang."
"Sama - sama sayang."
****
April tersenyum melihat putri kecilnya, yang sekarang berada dalam inkubator. Dengan duduk di atas kursi roda, April menatap putri kecilnya yang sedang tidur pulas.
"Bang, wajahnya mirip siapa ya?"
"Itu mirip kamu sayang." ucap Elang.
"Cantik."
"Sama seperti ibunya, cantik."
"Bang, nanti kasih tahu yang baik - baik ya tentang saya, takut dia malu memiliki ibu penjahat."
"Abang akan ajarkan dia sayang, bagaimana arti kasih sayang seorang ibu. Abang akan buktikan, kalau kamu bukan ibu yang jahat, Abang akan ajarkan dia agar tetap menghargai kamu."
"Bang, makasih ya."
"Iya sayang, Abang janji. Saat kamu bebas nanti, Sakinah akan ikut menjemput kamu, Abang akan ajarkan dia, agar tidak malu memiliki ibu seperti kamu. Abang akan katakan, seperti ini karena demi menolong adiknya yang sakit, pengorbanan yang tidak bisa di ukur." ucap Elang.
"Makasih Bang, makasih."
Elang mengecup kening April, dan memeluk tubuhnya. Terasa basah, di bahunya saat merasakan, bahwa April menangis.
"Bang, jangan pernah bawa Sakinah untuk menemui saya disini, saya tidak mau Sakinah melihat saya disini."
"Iya sayang, Abang hanya akan menunjukkan photo - photo dia, dan dia akan tahu wajah mamahnya dari sebuah photo."
"Makasih Bang, makasih banyak."
"Sama - sama sayang, Abang sayang kalian berdua."
****
Untuk pertama kalinya, April menggendong Sakinah, di ciumnya bayi yang masih warna merah. Bayi mungil itu, menatap April dengan tersenyum.
"Bang, lihat anak kita. Lucu ya." ucap April.
"Iya sayang, lucu." ucap Elang.
"Sakinah, kalau sudah besar nanti. Jangan seperti Mamah ya, harus jadi anak yang baik, rajin, pintar, dan jangan lupa harus pintar shalat dan mengaji. Biar nanti, kalau Mamah Papah sudah tidak ada, kamu bisa doa kan Mamah Papah sayang." ucap April sambil mengecup keningnya.
"Sayang, walau kita nanti setiap hari tidak sama Mamah, Sakinah harus percaya sama Papah, kalau Mamah itu selalu ada buat Sakinah. Hanya saja, kita di batasi oleh jeruji besi. Sakinah harus sayang sama Mamah, selama ini Mamah sudah berjuang untuk Sakinah, jangan pernah membenci Mamah ya nak." ucap Elang sambil mengecup kening Sakinah.
"Mamah sayang kamu sayang, maafkan mamah, kalau Mamah tidak bisa melihat kamu tumbuh. Maafkan Mamah nak, maafkan mamah." ucap April sambil terisak.
April menyerahkan Sakinah pada Elang, bayi mungil itu, merasakan nyaman di gendong oleh Papahnya.
"Bang, bawa dia kembali ke ruang bayi. Saya tidak mau melihat lagi."
"Kenapa?"
"Saya harus terbiasa, agar nanti tidak ingat terus."
"Kamu tidak ingin berlama - lama? dia masih ingin sama kamu." ucap Elang.
"Tidak Bang, tolong bawa dia."
.
.