The Black Mamba

The Black Mamba
Persidangan April



"Anda sedang hamil, usia berapa bulan?" tanya Hakim.


"Bulan sekarang, saya masuk usia 4 bulan." jawab April.


"Suami anda adalah Elang, apa itu benar?"


"Benar yang mulia."


"Status pernikahan masih sirik, kenapa?" tanya Hakim.


"Kami menikah, saat itu Bang Elang dalam masa tugas, dan saya adalah seorang tersangka." jawab April.


"Jadi ada getaran cinta begitu."


"Betul yang mulia."


"Saya ingin tahu, bisa nya menikah dan memiliki hubungan. Apa anda tidak tahu, kalau dia itu seorang Abdi negara?"


"Saat itu saya sudah tahu, karena ada pergolakan antara hati saya dengan mereka."


"Mereka itu siapa?" potong Hakim.


"Bang Juna, saat itu saya memang ingin lepas. Karena jujur saya tertekan, apalagi saya sudah di incar sama Tim Bang Elang mulai dari saya di sekolah. Yang Mulia sudah tahu, bagaimana kalau tertangkap saya akan di tembak mati, atau saya menembakkan diri. Saya masih memiliki seorang adik, dia sedang sakit kanker otak, stadium akhir. Demi dia saya rela melakukan ini, agar adik saya bisa terus di obati.Pada akhirnya, saya membantu Tim nya Bang Elang, dan disini juga Bang Elang itu malah sebagai kambing hitam." ucap April.


"Kambing hitam siapa?"


"Orang dalam, atau anggota sendiri. Bang Steven itu adalah salah satu Tim nya Bang Elang. Disitu kami, memulai strategi, di luar aturan dan Bang Elang, berbelok."


"Cukup yang itu, biar yang bersangkutan yang cerita. Sekarang anda itu istri dari Elang, kalian menikah dan punya anak, kemarin kamu itu pura - pura meninggal dalam kecelakaan, suami anda tahu?"


"Tidak yang Mulia." ucap April.


"Lantas, bisa nya suami kamu tahu?"


"Suami saya punya firasat, kalau saya itu masih hidup."


"Kalau tidak tahu, anda meninggalkan suami dan anak anda tidak akan tahu bapaknya?"


"Siap benar yang mulia."


"Anak itu, kalau sudah besar. Akan mencari tahu bapaknya, kamu akan cerita apa sama dia?"


"Saya akan menyembunyikan anak saya, karena nyawa anak saya juga terancam. Bang Juna, berusaha untuk menghilangkan nyawa anak saya. Bang Juna dan Bang Steven pun tidak tahu kalau saya hamil, bahkan suami saya tahu saya hamil, saat Bang Elang menyamar sebagai klien yaitu menjadi seorang pengusaha, dia ingin memakai jasa saya."


"Tunggu dulu, berarti anda itu wanita tuna susila?"


"Saya sebelum kenal dengan suami saya, saya adalah seorang pelajar SMA, saya menjalin hubungan dengan Bang Juna. Saya cerita, kalau saya itu butuh biaya untuk adik saya. Dan sebelum bergabung, saya bekerja sebagai bartender di sebuah club. Bahkan tidak hanya itu, Bang Juna sering memaksa saya menari tanpa harus memakai pakaian, di depan teman - teman nya. Dan setiap ada pertemuan, para Bos Mafia saya yang menjadi penarinya."


"Anda mau? tidak menolak."


"Saya terancam, dan memang saya membutuhkan biaya walau hati saya menolak. Demi adik saya, rela melakukan apapun."


"Tahu suami anda, kalau anda pernah jadi tontonan?"


"Tahu, saya cerita."


"Lantas dia marah?"


"Hatinya mungkin pasti marah, kalau di depan saya tidak menunjukkan. Dan hanya dia, pria yang menghargai saya, memperlakukan saya dengan baik dan sopan."


"Anda cinta sama dia?"


"Dari awal, saya tidak memaksa dia mencintai saya. Karena saya sadar, saya adalah orang jahat. Tapi cinta dia begitu besar untuk saya, dan sekarang dia masih tetap datang menemui saya. Walau awalnya dia marah, saat kemarin saya memalsukan kematian."


"Sekarang tentang kejahatan anda, dengan rencana pembunuhan ketiga gelandangan, anda juga terlibat. Apa yang ada di otak anda?"


"Karena saya ingin melahirkan anak saya, dan menyelesaikan pengobatan adik saya. Karena adik saya , tidak tahu apa pekerjaan kakaknya. Hanya tahu kerja di sebuah club."


"Jadi intinya demi orang terdekat anda, melakukan pekerjaan seperti ini."


"Benar yang mulia."


"Kami kucing - kucingan, itu sudah jadi makanan saya yang Mulia."


"Untuk mantan Tentara, bernama Mika.Anda yang menembak dia?"


"Benar yang mulia, karena dia itu pengkhianat. Kami sempat bersembunyi disana, tapi ternyata Mika itu salah satu anggota dari mereka."


"Saat itu kalian bertiga bersembunyi, Elang, Willy dan anda."


"Benar yang Mulia, saat itu Bang Elang tidak mempercayai orang terdekat, bahkan tertangkap nya saya itu karena laporan dari Bang Willy, dari situ kami curiga, dia pun salah satu dari mereka, ternyata salah."


"Ok, sekarang adik anda tahu? kalau kamu di penjara. "


"Tahu yang Mulia."


"Bagaimana perasaannya?"


"Sedih yang mulia, saya harus berpisah dengan adik saya, dan saya harus melahirkan anak saya nanti dan berpisah dengan anak saya juga."


"Anak kamu di asuh siapa?"


"Sama suami saya, ini sudah kesepakatan kami."


"Andai vonis mati untuk anda, apa yang ingin anda sampaikan?"


April terdiam, terlihat tangannya gemetar. Dan langsung mengambil air mineral botol, yang ada di bawah kursi dia duduk lalu menegak sampai habis.


"Saya hanya minta pada suami saya, tidak di vonis mati pun, kamu boleh menikah lagi. Tolong besarkan anak kami, jangan katakan kalau saya itu orang jahat, katakan saya telah mati." ucap April sambil terisak.


"Seandainya anda bebas, suami anda sudah katakan anda telah meninggal dunia, anda lihat anak anda tumbuh besar, apa anda tidak ingin memeluk dia?"


"Dengan melihat dari jauh, insya Allah sudah bahagia yang Mulia."


"Anda siap, memberikan anak anda pada suami anda, dan dia nanti menikah lagi dengan wanita lain?"


"Siap yang Mulia."ucap April sambil mengusap air matanya.


Elang pun tampak berkaca - kaca, dan sempat memalingkan wajahnya. Karena tidak tahan melihat April yang sedang menangis.


Karisma berusaha menangkan adiknya, dengan memegang tangannya. Elang berusaha tidak menangis, dan kembali menatap ke depan.


" Maaf yang Mulia, boleh saya minta istirahat sebentar?"tanya April.


"Silahkan, saya kasih waktu 5 menit tapi tetap duduk di situ." jawab Hakim.


"Terima kasih yang Mulia." ucap April.


Elang berjalan maju, mendekati April. Lantas berjongkok di depan istrinya, yang masih sesenggukan.


"Kamu kenapa bicara seperti itu?" tanya Elang pelan.


"Saya minta, Abang jangan menunggu saya. Hukuman saya berat Bank, saya tidak akan di hukum satu atau dua tahun, mungkin saya akan di hukum mati juga."


Hiks.. hiks.. hiks..


Elang akhirnya menangis dengan memeluk perut April, tangan April membelai rambut suaminya.


"Berapa tahun kamu di hukum, saya akan menunggu kamu dengan anak kita."


"Jangan Bang, Abang juga harus bahagia. Saya hanya titip anak kita, dan sayangi dia. Bila Abang menikah lagi, tolong minta sama pasangan Abang, sayangi anak kita."


"Abang akan tunggu kamu, kalau pun vonis kematian pun, Abang akan tetap sendiri."


.


.