The Black Mamba

The Black Mamba
Tinggal Jasad



"Saya senang kamu sudah siuman." ucap Pak Alex.


Elang tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, saat komandannya datang menjenguknya.


"Elang sudah sadar, sekarang kamu bisa istirahat dengan tenang. Kamu istirahatlah, biar Abang temani adik kamu." ucap Pak Alex, dan membuat Elang kaget, saat melihat perlakuan komandannya pada Karisma.


"Nggak enak Bang, nanti merepotkan." ucap Karisma.


"Tidak apa - apa, Elang juga adik Abang." ucap Pak Alex, dan membuat Elang melongo.


"Tapi Bang."


"Pulanglah, hari ini Abang ijin untuk menjaga Elang."


"Nggak apa - apa?"


"Nggak apa - apa, pulanglah."


"Dek, kakak pamit pulang dulu. Kalau butuh sesuatu, bilang saja sama Bang Alex." ucap Karisma.


"Iya kak, hati - hati di jalan." ucap Elang.


"Titip Elang Bang." ucap Karisma.


"Hati - hati." ucap Pak Alex.


"Komandan punya hubungan apa sama kakak saya?" tanya Alex setelah Karisma pergi.


"Kami sempat pacaran, saat itu kakak kamu baru cerai statusnya." jawab Pak Alex.


"Jadi status mantan sekarang?"


"Mantan terpaksa, karena komunikasi kita putus. Dan baru nyambung lagi saat tahu kamu adiknya, mungkin melalui kamu saya dengan kakak kamu di dekat kan lagi."


"Oh begitu ceritanya."


"Apa kita bisa menjalin hubungan dengan baik?" tanya Pak Alex.


"Memangnya, selama ini saya tidak baik gitu? daya biasa saja." jawab Elang.


"Kamu menganggap saya seperti musuh, jadi kita terlihat seperti tidak akrab."


"Perasaan komandan saja."


"Kalau boleh, saya ingin mendekati kakak kamu."


"Itu bukan urusan saya, mau dengan siapa yang penting bisa bahagia kan Kakak saya."


"Saya akan bahagiakan kakak kamu."


"Saya pegang ucapan komandan."


"Ada berita untuk kamu."


"Berita apa?"


"Jack dan Pablo tewas."


"Apa!! tewas."


"Iya tewas, kamu tahu siapa yang membuat mereka berdua mati?"


"Siapa?"


"Juna, Steven dan April."


"Mereka?"


"Benar, mereka pelakunya. Pihak kepolisian sana sedang mencari ketiganya, Agam dan Willy di tugaskan kesana untuk membawa Stevan dan Juna."


"April bersama mereka?"


"Benar, April akan dibawa juga dan harus kembali ke penjara." ucap Pak Alex.


"Ceritakan siapa yang menembak kamu?"tanya Pak Alex.


" Saya tidak tahu, begitu cepat kejadian itu." jawab Elang bohong.


"Tembakan nya jarak dekat, ada perbedaan jarak jauh dan dekat. Kamu pasti tahu, karena ada jejak kaki."


"Saya tidak tidak yang, dan tidak ingat."


"Baik kalau kamu tidak mau cerita, saya akan sabar menunggu cerita kamu."


"Kalau April tertangkap, tolong kasih kabar saya."


"Pasti, saya akan beritahu kamu.'


" Terima kasih."


*****


Agam dan Willy sudah berada di negara A, mereka melihat jenazah Jack dan Pablo yang hangus terbakar.


"Tolong proses secepatnya, untuk segera di serahkan pada keluarganya." ucap Juna.


"Baik Pak." ucap seorang pria, yang fasih berbahasa seperti Agam dan Willy.


"Benar kita harus cari, kita langsung pergi ke dari sini, untuk urusan lain." ucap Agam.


"Maaf Pak Agam dan Pak Willy, ada berita tentang ketiga tersangka yang sedang dicari." ucap salah satu, anggota Polisi setempat.


"Berita apa Pak?" tanya Agam.


"Juna, Steven dan April ditemukan tewas terbakar dan mobilnya masuk jurang. Mereka kecelakaan di wilayah perbatasan, negara bagian barat." jawabnya.


"Sekarang jenazahnya dimana?" tanya Willy.


"Masih dalam tahap evakuasi, karena medan yang sangat curam."


"Antar kami kesana." ucap Willy.


"Baik Pak."


****


Agam dan Willy, melihat mobil yang sudah hangus terbakar, bahkan ketiganya tidak dapat di kenalin. Hanya sebuah identitas mereka, yang masih sedikit utuh dan tersimpan di salah satu tas, yang terjatuh terpisah.


"Bagaimana kita sampaikan pada Elang? dia pasti sedih mendengarnya." ucap Willy.


"Kita langsung bawa Jenazah mereka, bersama dengan Jenazah Jack dan Pablo." ucap Agam.


"Kalau begitu, saya akan urus semuanya. Dan tolong kamu urus disini, saya akan pergi untuk mengurus kelima Jenazah untuk segera di bawa pulang ke tanah air." ucap Willy.


"Ok, semoga cepat prosesnya." ucap Agam.


****


Pak Alex menerima telepon dari Agam, terlihat raut wajah yang berbeda dan serius. Elang dan Karisma menatapnya, dengan penuh tanda tanya.


"Terima kasih infonya, kami tunggu kedatangan kalian." ucap Pak Alex, langsung menutup teleponnya.


"Ada apa Bang?" tanya Karisma.


"Juna, Steven dan April meninggal dunia. Mobil mereka terbakar, dan masuk jurang." jawab Pak Alex.


Elang hanya diam, sambil menatap komandannya dengan kedua mata berkaca - kaca.


"Elang." ucap Karisma sambil memegang tangan adiknya.


"Apa Jenazah nya sudah siapa terbang?" tanya Elang.


"Agam dan Willy, akan terbang menggunakan pesawat jam 11 malam. Begitu juga dengan kelima Jenazah tersebut, dan pihak keluarga katanya sudah di beritahu, mereka akan menunggu di bandara." jawab Pak Alex.


"Rencana apa lagi yang kamu buat April, kamu pergi begitu saja. Saya disini bertahan untuk hidup, agar bisa membawa kamu kembali, tapi kamu malah pergi untuk selamanya." ucap Elang.


"Apa kamu tahu dimana keluarga April?" tanya Pak Alex.


"Dia tidak memiliki keluarga, hanya saya keluarganya." jawab Elang.


"Biar saya yang akan menerima jenazahnya, Kakak akan suruh orang untuk menyiapkan kuburan buat April, di pemakaman dekat Mamah dan Papah." ucap Karisma.


****


"Kamu pucat, apa kamu sedang sakit?" tanya Juna.


"Mungkin Bang, saya merasakan tidak enak badan." jawab April.


"Istirahat, besok saya dan Steven akan mengadakan transaksi bersama Carlo." ucap Juna.


"Carlo akan tahu siapa kalian." ucap April.


"Tenang saja, penyamaran kita aman." ucap Steven.


"Kalau besok dapatkan uang dari Carlo, saya ingin pulang ke tanah air." ucap April.


"Untuk apa pulang? kamu ingin menemui pria itu. Ingat di mata Elang kamu sudah mati, jenazah kita sudah berada di bandara. Kalian lihat berita hari ini." ucap Juna, dan Steven langsung menyalakan televisinya, tepat menyiarkan berita tentang ketiganya.


April menatap ke arah televisi, terlihat kelima peti mati, yang akan masuk kedalam pesawat. Juna dan Steven tersenyum, karena merasa akan bebas melakukan apapun, tanpa harus di kejar - kejar.


****


"Kamu mau kemana?" tanya Karisma saat melihat adiknya yang masih lemah, terlihat sudah rapih dan telah mencopot jarum infusnya.


"Saya akan ikut kakak." jawab Elang.


"Biar kakak saja, kamu masih lemah."


"Biarkan saya memberikan penghormatan terakhir untuk April, bagaimana juga status dia masih istri saya.'


" Tapi."


"Tolong kak, hanya ini kesempatan saya bertemu dengan April."


"Baiklah, kalau begitu kita ke Bandara sekarang."


.


.


.