The Black Mamba

The Black Mamba
Menyembunyikan Kehamilan



April memeriksa isi kantung kecil itu, dan memeriksa butiran intan. Tapi saat April sedang memeriksa, Mr Faruk terus menatap April.


"Nama kamu siapa sayang?" tanyanya sambil mencolek dagu April.


"Jaga sopan santun kamu." ucap April.


"Sorry, saya hanya ingin tanya. Kamu cantik, kenapa kamu jadi kurir?" ucap Mr Faruk.


"Senang berbisnis dengan anda, tolong hitung uangnya."


"Saya percaya sama kamu, kalau kamu mau. Bisa bekerja dengan saya, di jamin gajinya lebih besar dan kamu akan sering pergi keluar negeri sama saya. Bahkan saya akan ratu kan kamu, gimana?"


"Kalau sudah selesai, saya pamit." ucap April langsung membuka pintu mobil.


April langsung berjalan menyebrang, dimana Steven sudah menunggu di dalam sebuah mobil.


"Sudah beres?" tanya Steven langsung menghidupkan mobilnya.


"Sudah." jawab April singkat.


"Kita ke tempat selanjutnya, kita ambil 500 juta." ucap Steven.


April hanya diam, sambil memijat kepalanya. Steven melirik ke arah April, yang hanya diam sambil memijat kepala.


"Kamu sakit?" tanya Steven.


"Nggak enak badan saja."jawab April.


" Setelah ini, kamu mau bawa ke dokter?"


"Tidak usah, saya sudah minum obat."


"Yaudah, saya khawatir Saja sama kamu."


"Kapan kita, pulang ke tanah air?"tanya April.


" Kenapa kamu ingin pulang?" tanya Kembali Steven.


"Kangen saja." jawab April singkat.


"Sabar, kita akan pulang. Tapi bukan sebagai kita yang dulu, karena kita yang dulu sudah mati."


****


April merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, seharian dirinya bekerja. Terlihat sejumlah uang sebanyak 30 juta.


April mengusap perutnya, sambil pikirannya jauh ke sana. Dan hanya bisa meneteskan air mata, dengan tetap mengusap perutnya.


"Maafkan Mamah, kamu harus makan uang haram nak, maafkan mamah."


Tok.. tok..


Terdengar suara ketukan pintu, April langsung mengusap air matanya. Dan bangun lalu berjalan ke arah pintu.


Ceklek


April membuka pintu, Juna langsung mendorong tubuh April hingga, jatuh di atas tempat tidur.


"Bang."


"Jujur sama Abang, kamu hamil?" bentak Juna sambil mencekik leher April.


"Ka - kata siapa?" tanya April.


"Maaf April, saya katakan sama Juna. Kalau kamu, akhir - akhir ini kamu sering mual dan terlihat lemah." jawab Steven, ikut masuk ke dalam kamar April.


"Kalian pikir, saya sakit itu hamil? saya itu tidak hamil, jangan suka mengada - ada." ucap April.


"Kalau sampai hamil, anak kamu akan saya ambil. Karena dia itu anak musuh kita, dan akan membawa sial buat kita." ucap Juna.


"Saya tidak hamil, kalau pun saya hamil. Saya tidak akan membiarkan anak ini, kalian ambil dari saya. Dan tenang saja, kalau pun saya hamil, saya tidak akan mengenalkan siapa bapaknya." ucap April.


"kalau sampai benar kamu hamil, awas saja. Karena dari awal juga, kamu itu sumber masalah." ucap Juna, beranjak pergi keluar dari kamar April.


April hanya diam, sambil memegang perutnya, Steven mendekat dan memegang dagu April.


"Kamu harus tahu, Juna itu masih mencintai kamu. Lupakan Elang, kamu dan dia sampai kapanpun tidak akan pernah bisa bersatu." ucap Steven, dan pergi keluar dari kamar April.


"Saya harus sembunyikan anak ini kalau lahir, anak ini harus hidup dan tidak boleh Bang Juna tahu."ucap April dalam hati.


*****


Elang memijat kepalanya, setelah melaksanakan Apel pagi. Duduk di salah satu kursi, samping pintu masuk ruangannya.


" Kamu sakit?" tanya Agam.


"Nggak kok, hanya pusing saja. Sama merasakan mual, mungkin maag saya kambuh." jawab Elang.


"Mau saya ambilkan obat?"


"Nggak usah makasih." ucap Elang sambil tersenyum.


Willy datang menghampiri Elang dan Agam, sambil memberikan sebuah dodol yang terbuka daun.


"Buat kalian dodol, kemarin saya habis pulang." ucap Willy.


"Makasih ya." ucap Elang dan Willy.


"Kenapa dia?" tanya Willy.


"Maag nya kambuh." jawab Agam.


****


"Kamu itu nggak sakit apa - apa, paling maag kamu kambuh. Kamu ke apotek, pergi beli obat yang kakak tulis resepnya." ucap Karisma.


"Makasih Kak."


"Elang, kakak mau bilang sesuatu sama kamu."


"Bilang apa?"


"Komandan kamu, semakin dekat sama kakak."


"Terus?"


"Kalau kakak nikah sama dia gimana?"


"Itu terserah kakak, mau nikah sama siapa. Apa kakak juga menerima anak nya, dan dia menerima anak kakak. Kalian kan sama - sama, gagal di pernikahan."


"Kakak terima, dari dulu emang kakak sudah kenal dekat sama anaknya. Hanya saja, Bang Alex belum tahu anak kakak. Kamu kan tahu sendiri, kalau anak kakak di bawa sama Papinya."


"Saya setuju saja, asal dia bisa bahagiakan kakak dan tidak menyakiti hati kakak."


"Dia baik sama kakak, kakak sayang sama dia."


"Saya dukung kok."


****


"Janinnya sehat." ucap dokter yang memeriksa kandungan April.


"Jadi tidak ada masalah ya dok?" tanya April.


"Tidak ada masalah, tapi ingat. Usia muda masih sangat rawan, ibu nya jangan stress, jangan terlalu capek nanti bisa mempengaruhi janin, resiko keguguran sangat besar."


"Iya dok, saya akan perhatikan hal itu."


"Kalau begitu, saya tuliskan dulu resep obat dan vitamin untuk Ibu."


April keluar dari rumah sakit, berjalan sendiri ke arah jalan untuk menunggu taksi. Tapi saat sedang menunggu taksi, April melihat Juna yang sedang berdiri di sebuah toko. April langsung menjauh dari sekitaran rumah sakit, dan berjalan dengan cepat.


Dari jauh Juna melihat April, dan dengan segera masuk kedalam mobil, untuk mengejarnya.


Tintin..


Suara bunyi klakson mobil, April menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah mobil tersebut.


"Masuk." ucap Juna, April pun langsung masuk kedalam mobil.


"Dari mana kamu?" tanya Juna sambil mengemudikan mobil.


"Saya habis ke mall, cari kebutuhan wanita tapi yang saya cari tidak ada." ucap bohong April.


"Tapi kamu jalan?"


"Lama menunggu taksi atau busway."


"Kamu sudah makan?"


"Belum Bang."


"Kita makan yuk, lama saya tidak ajak kamu makan berdua."


"Boleh Bang, mau makan dimana?"


"Terserah kamu ingin makan dimana, Abang turuti apa yang kamu mau."


"Saya sedang ingin makan seafood."


"Boleh, kita cari restoran seafood disini."


April merasakan lega, tapi detak jantung masih terasa berdegup kencang. April pun merasakan, perutnya semakin sangat kencang.


*****


"Agam, kok perasaan saya itu rasanya nggak enak banget ya. Seperti ada sesuatu yang di pikirkan, tapi entah siapa yang di pikirkan." ucap Elang.


"Masa?"


"Benar loh, jantung saya berdegup kencang begini."


"Coba kamu cek ke dokter, takutnya ada penyakit."


"Kemarin saya suruh kak Karisma, untuk cek kondisi saya. Tapi tidak ada masalah, sudah minum obat lambung, tetap saja kadang masih mual."


"Kamu kok, seperti saya. Waktu hamil anak pertama begitu, tapi kan kamu nggak punya istri." ucap Agam.


.


.


.