The Black Mamba

The Black Mamba
Menjadi Orang Tua



April menangis saat Elang, membawa Sakinah kembali ke ruang bayi. April merasakan sedih, saat harus berpisah dengan putri kecilnya yang baru saja dia lahir kan.


"Maafkan Mamah nak, kamu harus Mamah lepas sekarang, maafkan Mamah nak. Mamah bukannya jahat sama kamu."


Hiks.. hiks.. hiks..


April menangis sambil merasakan sakit, bekas luka Cesar nya. Sedangkan Elang menatap dari balik pintu, melihat istrinya yang sedang menangis.


"Ini keputusan yang berat, kalau kamu mau mengasuh dia beberapa bulan, Abang tidak akan marah, dari pada kamu tersiksa." ucap Elang pelan.


Elang kembali berjalan ke arah kamar rawat bayi, di lihat dari kaca, bayi mungilnya sedang tertidur pulas, Elang tersenyum sendiri, melihat putrinya akan berpisah dengan Mamahnya.


"Maafkan mamah kamu nak, jangan pernah kamu benci mamah."


****


April setelah dirawat tiga hari di rumah sakit, akhirnya di perbolehkan untuk kembali ke Lapas. April berjalan ke arah Elang yang sedang menggendong Sakinah.


"Sayang, Mamah lepas kamu sama Papah ya, maafkan mamah. Ini adalah terakhir Mamah memegang kamu, Nanti kamu jangan seperti Mamah, jadilah anak yang sholehah." ucap April dengan mengecup kening Sakinah.


"Bang, titip Sakinah ya."ucap April.


" Iya, Abang akan jaga anak kita." ucap Elang.


"Saya pergi Bang."ucap April sambil terisak.


" Gendonglah dia, mungkin dia juga ingin di gendong kamu untuk terakhir kalinya." ucap Elang.


Hiks.. hiks.. hiks..


April lantas, mengambil alih gendongan dari tangan Elang. April menggendong Sakinah, sambil menangis.


"Hiks.. hiks.. maafkan Mamah nak, maafkan Mamah. " ucap April.


April mengembalikan lagi pada Elang, dan langsung pergi tanpa menoleh ke belakang. Elang mengecup pipi Sakinah, bayi mungil itu menangis, seakan merasakan perpisahan dengan Mamahnya.


***


"Kamu seharusnya bawa dulu anak kamu, kasih dia Asi. Luka jahitan Cesar kamu saja masih basah, malah harus berpisah dengan anak kamu." ucap seorang petugas Lapas, saat berada di dalam mobil.


"Ini lebih baik, dari pada dia ikut merasakan bagaimana tidur di dalam penjara, lebih baik saya lepas dia ikut Bapaknya.Cukup saya saja, yang merasakan dinginnya penjara." ucap April.


****


Karisma dan Pak Alex datang menemui Elang, untuk melihat keponakan baru yang telah lahir. Karisma tersenyum sambil menatap ke arah Sakinah, begitu juga dengan Pak Alex.


"Kamu mau Yank?" tanya Pak Alex.


"Mau lah Bang, lucu." jawab Karisma.


"Sakinah belum boleh pulang, dia harus masih di rawat disini beberapa hari." ucap Elang.


"Nanti Abang akan bawa mobil untuk bawa Sakinah, jangan menggunakan kendaraan umum." ucap Pak Alex.


"Terus kamu mau gimana? untuk Sakinah ke depannya?" tanya Karisma.


"Saya akan rawat, nanti saya akan cari baby sister untuk menjaga dia, saat saya pergi dinas." jawab Elang.


"April sudah yakin, mau di bawa sekarang?tidak ingin mengasuh sampai beberapa bulan atau satu tahun?"


"Sudah yakin Kak, April sudah menyerahkannya."


"Yasudah kalau begitu, nanti Kakak bantu siapkan semua keperluan Sakinah."


"Terima kasih Kak. "


"Iya sama - sama."


****


April duduk berhadapan dengan Elang, terlihat kedua mata April sembab, bahkan terlihat sedikit basah tepat di dada nya.


"Pasti sakit, saat Asi keluar kamu tidak memberikannya." ucap Elang.


"Kalau saya memberikan Asi pada Sakinah, yang ada saya akan ingat terus Bang." ucap April.


"Hari ini, Abang akan bawa Sakinah. Rumah sakit, sudah memperbolehkan Sakinah pulang. Apa kamu, tidak ingin melihat Sakinah?"


"Tidak Bang, saya tidak ingin."


"Sakinah, ada di mobil bersama dengan Kak Karisma. Masih ada waktu, kalau kamu ingin melihatnya."


"Tidak Bang, saya tidak ingin."


"Baik kalau begitu mau kamu, Abang pamit. Kasihan Sakinah, dia masih usia muda."


"Iya, Abang akan kasih tahu setiap perkembangan anak kita. Sekarang Abang pamit, Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam." ucap April sambil meneteskan air matanya.


***


"April tidak mau melihat?" tanya Karisma.


"Iya, dia tidak mau melihatnya." jawab Elang.


"Kita pulang sekarang." ucap Pak Alex, menyalakan mesin mobilnya.


Sedangkan di dalam sel, April menangis sambil memeluk, boneka milik Clara. April teriak kencang, hingga membuat semua yang ada di dalam sel begitu panik.


"Sakinah.... maafkan mamah nak, hiks.. hiks.. hiks.. maafkan Mamah nak." ucap April sambil memegang perutnya, yang masih merasakan sakit.


"April, kamu itu seharusnya jangan menyesal. Buat apa kamu menangis, kan kamu sendiri yang meminta. Makanya, kalau ambil keputusan itu, harus dipikirkan lagi." ucap salah satu teman satu sel tahanannya.


"Hiks.. hiks... maafkan Mamah nak, maafkan mamah. "


****


"Ini kamar baru Sakinah, sementara tidurnya satu kamar sama Papah nak." ucap Elang.


"Kalau ada baby sister, dia akan tidur di kamar sebelah, masa harus satu kamar sama kamu." ucap Karisma.


"Iya kak, Baby sister kan ada juga kalau saya sedang dinas. Kalau saya tidak dinas atau pulang, dia juga pulang." ucap Elang.


"Ingat, kalau anak kamu nangis, sudah kasih susu, tapi tetap kamu periksa pampersnya, bisa dia BAB atau buang air kecil." ucap Karisma.


"Ya Kak, makasih infonya." ucap Elang.


"Ya sudah kakak pamit, nanti kalau ada apa - apa, kamu langsung telepon kakak."


"Ya kak."


****


Elang bergadang semalaman, Sakinah yang terus terjaga, setelah di beri susu botol oleh Elang. Terlihat sudah pukul 2 pagi, Sakinah belum juga tidur.


Kedua mata Elang sudah terasa berat, namun tetap di buat kuat, untuk menemani putri kecilnya.


"Sayang, bobo dong. Papah ngantuk, kamu tidak ngantuk? Papah besok harus dinas sayang, nanti Papah kesiangan." ucap Elang.


Sakinah mulai menguap, perlahan kedua matanya tertutup. Elang dengan hati - hati menaruh tubuh Sakinah, namun saat di letakkan Sakinah menangis, dan Elang harus kembali menggendongnya.


"Sayang, kamu harus gimana dong tidurnya? papah ngantuk nak." ucap Elang.


****


Elang tertidur di sofa ruangannya, setelah drama Sakinah yang baru bisa tidur saat shubuh.


Terdengar suara dengkuran halus, yang membuat Pak Alex geleng-geleng kepalanya.


Braaakkk


Elang kaget, dan langsung berdiri sambil sempoyongan. Pak Alex berkacak pinggang, saat lihat ulah adik ipar nya.


"Kalau mau tidur di rumah, bukan disini." bentak Pak Alex.


"Siap salah komandan." ucap Elang.


"Sekarang kamu push up 100 kali."


"Siap Komandan."


Elang pun melakukan push up seperti yang di perintahkan oleh Komandannya, hingga tubuhnya sempoyongan.


"Sakinah tidak bisa tidur atau rewel?"


"Dia rewel Bang,tadinya anteng eh malah rewel maunya di gendong terus." ucap Elang.


"Selamat menikmati jadi orang tua, itulah pengorbanan orang tua kita dulu, sekarang kita merasakannya." ucap Pak Alex.


"Iya Bang,saya sekarang merasakan seperti apa kedua orang tua saya dulu. "


.


.


.