
Elang kini sudah sampai di Lapas Kepulauan M, dengan langkah cepat Elang menemui petugas penjaga Lapas.
"Siang Pak. " sapa petugas Lapas.
"Siang, maaf Pak saya mau tanya. Napi pindahkan dari Lapas kelas A kota T, apa sudah sampai?" tanya Elang.
"Sebentar Pak, saya cek." jawabnya sambil membuka buku catatan.
"Atas nama siapa?"tanyanya.
"April, Aprilia Lesmana." jawab Elang.
"Maaf Pak, untuk hari ini tidak ada laporan, kalau ada Napi yang akan di pindahkan kesini. Tapi nanti saya coba tanyakan ke dalam, barang kali besok atau lusa."
"Nggak Pak, hari ini dia harusnya sudah sampai. Karena dari pihak Lapas sana, memang sudah dalam perjalanan kemari. Seharusnya sudah sampai , mungkin laporannya belum tembus ke Bapak."
"Tapi biasanya sudah masuk, karena kan pasti lewat pintu ini. Nanti saya ke dalam coba konfirmasi, Bapak tunggu ya."
"Terima kasih Pak."
Elang pun menunggu petugas Lapas, yang sedang menanyakan status Napi pindahan. Dan setelah menunggu hampir 5 menit, petugas Lapas tersebut kembali menemui Elang.
"Pak maaf, tidak ada Napi pindahan. Mungkin di pindahkan ke Lapas lain, bukan disini. Bapaknya salah mendengar, kalau ada juga laporannya masuk ke saya."
"Tapi benar loh Pak, saya tidak salah dengar."
"Tapi maaf Pak tidak ada!"
"Kalau begitu, terima kasih." ucap Elang.
"Sama - sama Pak."
Elang pun berjalan ke arah motornya pikirannya kacau, dan hanya satu jalan yaitu menghubungi Jack , satu - satunya pria yang yang sama ada dalam target operasi.
Elang pun mencari nomer ponselnya di salah satu group Alumni SMA, dan menemukan nomer kontak Jack. Saat di hubungi, nomer ponselnya tidak aktif.
"Sial! " ucap Elang sambil memukul setir motor.
"Dia hanya pakai nomer ini, hanya sekali." ucap Elang.
"Kalian sembunyikan dimana April? kalian itu benar - benar kurang ajar.'
****
Braaaak
Dor
Dor
Juna dan Steven kaget, saat tiba - tiba di serang oleh beberapa orang bersenjata. Mereka pun langsung membalas tembakan mereka.
Dor
Dor
Saling tembak menembak, hingga mereka tidak bisa keluar dan harus terkepung oleh tembakan dari kesana kemari.
" Kita harus berhasil kabur dari sini." ucap Juna.
"Iya, mereka ini adalah anak buah Pablo." ucap Steven.
Dor
Dor
"Kita keluar dari arah pintu belakang." perintah Juna.
Mereka pun langsung lari ke arah pintu belakang, tembakan masih terus di arahkan ke arah Juna dan Steven. Pintu belakang pun di buka, tapi betapa terkejutnya saat melihat keluar, Jack sudah ada di depan mereka.
Jack bertepuk tangan, dengan tiga anak buah yang menodongkan senjata ke arah Juna dan Steven.
"Wow! kalian pintar ya? berhasil lolos, tapi tidak kali ini." ucap Jack.
"Tolong lepaskan kami, dan kami pun tidak mengatakan pada mereka." ucap Steven.
Hahahahahha
"Kamu pikir, kami akan diam saja dan membebaskan kalian! Asal kalian tahu, sekali tertangkap, kalian kabur kalian akan tetap di cari. Dan itu akan bahayakan untuk kita semua, perjanjian kan saat itu, siapa yang tertangkap harus mati sebelum mengakui."
"Tapi kita tidak mengakui, buktinya kita ini berhasil kabur." ucap Steven.
"Hahahaha.. kalian tahu, April sudah tertangkap. Kalau kalian ingin hidup, temukan Elang bawa dia." ucap Jack.
.
.
.
"Baik, kami akan temukan dia." ucap Juna.
****
"Disini ada tim yang menangani kasus mafia, dan pelakunya adalah anggota kita sendiri, tapi mereka berhasil kabur. Tapi saya disini ingin mengganti tim nya, tim yang kemarin di bubarkan."
"Maaf Komandan, apa tidak melanjutkan tim yang sudah di bentuk. Karena kami sudah tahu titik dimana target, dan nama - nama tersangka tersebut." ucap Agam.
"Seratus persen di ganti." ucapnya.
"Saya minta, tim lama menyerahkan semua tugasnya kepada tim baru." ucap Komandan kembali.
Setelah penyerahan tugas, Agam keluar dari ruangan. Agam berpapasan dengan Elang, yang saat itu sedang berjalan ke arah lain.
"Elang." panggil Agam.
"Ada apa?" tanya Agam.
"Bisa kita bicara?" tanya Agam.
Elang menganggukkan kepalanya, dan mereka berjalan ke arah tangga bawah, menuju ke arah gudang.
"Kita bicara di sini saja." ucap Elang.
"Tim di rubah." ucap Agam.
"Saya tidak mau tahu, karena saya bukan bagian dari mereka." ucap Elang.
"Hanya Willy yang masih tetap bergabung, saya memiliki sesuatu yang curiga."
"Jangan dulu ambil keputusan, karena salah langkah kita juga yang kena."ucap Elang.
"Bagaimana April?" tanya Agam.
"Dia di pindahkan entah dimana." jawab Elang.
"Jangan - jangan." ucap Agam.
"Iya, saya sekarang sedang mencari keberadaan mereka, April pasti ada bersama mereka. "
****
"Bang Juna." ucap April.
"Kenapa? kamu kaget saya bisa keluar." ucap Juna.
"Kamu bisa saja bebas, tapi bawa Elang kemari."ucap Juna.
" Saya lebih baik mati, dari pada saya membawa Bang Elang kemari."
"Gara - gara dia, semuanya kacau.Dan menjadikan kamu itu sebagai alat, malah kamu sekarang berpihak pada mereka."
"Dia hanya menjalankan tugas, tapi dia malah di jebak. Dan kamu juga, adalah seorang pengkhianat."
Juna langsung mengambil kunci, pada pria yang di sampingnya lalu masuk kedalam sel tahanan.
Plaaakk
Plaaakk
Juna menampar pipi April, lalu menarik rambutnya, dan membenturkan kepalanya pada dinding.
Awwww
April tersungkur di lantai dengan darah mengalir di keningnya, rasa sakit dan pusing di kepala yang kini dia rasakan.
"Kamu bilang saya pengkhianat, dan kamu dapat biaya berobat adik kamu dari siapa hah..?" bentak Juna.
"Saya salah, saya menyesal ikut bergabung dengan kalian." ucap April dengan suara lantang.
Prok.. prok..
Jack masuk ke dalam sel tahanan, dan di ikuti langkah Mika. April tercengang saat melihat Mika, ada di pihak Jack.
"Kamu!" tunjuk April.
"Kenapa? kamu kaget ya, kalau saya ini sebenarnya adalah bagian dari mereka. Hebat ya akting saya, hah.. rasanya senang juga, bisa berakting di depan orang - orang bodoh." ucap Mika.
"April, saya itu masih baik, kalau kamu berhadapan dengan Pablo sudah di tembak. Begitu juga Juna dan Steven. Saya hanya kasih pilihan ke kamu, habisi nyawa Elang atau adik kamu nyawanya melayang." ucap Jack.
"Jangan, tolong jangan sakiti adik saya." ucap April memohon.
Mika lalu mengambil sebuah laptop, dan memperlihatkan video adiknya yang sedang berada di luar negeri.
"Kalian, kalian kenapa bisa tahu?" ucap April.
"Kami itu banyak matanya, kalau kamu ingin selamat. Habisi Elang, biar dia tidak lagi mengganggu kami. Itu terserah kamu, mau pilih Elang atau adik kamu. Pilih Elang, kamu mati dan adikmu mati, pilih adik kamu, Elang mati kamu hidup." ucap Mika.
"Itu pilihan, kamu pilih yang mana?" ucap Jack.
"Saya yakin, kamu akan memilih hidup demi adik kamu." ucap Juna.