
Elang masuk membawa makanan, April menatap suaminya yang tampak dingin. Elang menata lauk, dibatas bold yang berisi nasi.
"Kamu bisa duduk kan?" ucap Elang.
"Bisa." ucap April.
Kedua mata April melihat, jaket Elang ada darah yang kering, dirinya baru ingat telah menusuk punggung Elang beberapa kali.
"Bang." panggil April.
"Ada apa?" ucap Elang tanpa menatap April.
"Apa Abang lupa, memiliki luka di punggung hingga darahnya mengering?" ucap April.
"Makan dulu, Abang suapin kamu."
"Bang, kalau Abang memang membenci saya. Biar saya lakukan sendiri."
"Melakukan bagaimana? tangan yang tidak di borgol ada jarum infus."
"Obatilah luka Abang, jangan sampai luka itu menjadi infeksi."
"Lebih sakit, luka yang ada di hati."
April mengangkat tangan nya, berusaha membelai wajah Elang. Namun Elang, segera menghindar dengan memalingkan wajahnya. April tersenyum getir, dengan kedua mata yang berkaca - kaca.
"Makanlah, kalau kamu bisa sendiri." ucap Elang meletakkan di kedua paha April.
April meneteskan kedua matanya, saat melihat Elang lebih memilih keluar dari kamar rawat April.
Sedangkan Agam dan Willy berada di luar, yang sedang duduk di kursi penunggu pasien.
"Kapan, Nuna dan Steven akan di tangkap?" tanya Elang.
"Malam ini, akan melakukan pengepungan di kediamannya." jawab Agam.
"Ini apa?" tanya Willy, sambil melihat ada darah kering di jaket Elang.
"Antar saya ke IGD." jawab Elang.
April makan sambil terisak menangis, jarum infus terdapat darah yang menyumbat, sehingga membuat infus tidak menetes, akibat gerakan tangan April.
Hiks... hiks.. hiks..
"Maafkan saya Bang, hiks.. hiks.."
April terus makan, hingga habis. Dan mencoba meraih air minum, namun tidak bisa. Pintu terbuka, Willy langsung membantu mengambilkan air.
"Terima kasih." ucap April lantas minum.
"Saya panggil suster dulu, untuk membetulkan infusnya." ucap Willy lalu keluar kamar.
Suster dan Willy kembali, suster memperbaiki jarum infus yang penuh darah yang tersendat. Dan kembali memasangnya, hingga cairan infusan kembali mengalir.
"Thank you." ucap Willy, dan di balas senyuman oleh suster tersebut.
"Setelah kamu baikan, kami akan bawa kamu pulang." ucap Willy.
"Iya Bang."ucap April.
"Masuk usia berapa bulan?" tanya Willy.
"Sudah masuk 3 bulan." jawab April.
"Bang, kemana Bang Elang?" tanya April.
"Tadi dia pergi ke IGD, untuk mengobati luka nya." jawab Willy.
"Itu karena saya."
"Kenapa kamu bohongi Elang? pura - pura meninggal dan menyembunyikan kehamilan kamu? dia sangat kecewa."
"Saya tahu Bang, saya salah. Saya menyembunyikan kehamilan ini, demi keselamatan anak saya. Dan saya yang telah menembak Mika, saya juga ingin melahirkan anak saya di luar penjara. dan bisa berpamitan dengan adik saya secara baik - baik, agar dia tidak kaget."
"Apa kamu tertekan?"
"Iya, saya tertekan. Saya sudah menjadi orang jahat, tangan saya sudah membunuh orang. Saya tidak mau, anak saya tahu kalau saya ini seorang pembunuh."
"Saya tahu, demi adik kamu. Pasti dia akan kecewa kalau sampai tahu, apa pekerjaan kakaknya."
"Pasti itu, saya akan di bencinya."
"Ada apa?" tanya Willy.
"Kamu di tunggu Agam, dua jam lagi, penangkapan Juna dan Steven di lakukan." jawab Elang.
"Saya pergi, kamu jaga April." ucap Willy, dan di anggukkan kepala oleh Elang.
Elang lebih memilih duduk di kursi penunggu pasien, sedangkan April hanya duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
"Nak, papah kamu ada disini. Dia belum menyapa kamu ya nak, Papah kamu marah sama mamah, tapi dia itu sayang sama kamu." ucap April mengusap perutnya.
****
Elang terus menguap, dan beranjak bangun dari duduknya. Elang berjalan ke arah pintu, mengintip melalui kaca yang ada di pintu. Terlihat April sudah tertidur lelap, Elang lantas membuka pintu kamar rawat berjalan mendekat.
Elang menatap perut April yang sudah terlihat membuncit, Elang memegang perut April. Terlihat sebuah senyuman di wajah Elang, saat memegang perut milik April.
Elang mengecup perutnya, dan memeluknya, terdengar isak tangis April membuka matanya, karena tidurnya merasa terganggu.
"Abang." panggil April sambil memegang kepala Elang.
Elang lantas langsung mengusap air matanya, dan langsung berdiri dari posisi berjongkok dan memeluk.
"Maaf, Abang sudah mengganggu tidur kamu." ucap Elang.
"Nggak apa - apa Bang." ucap April.
"Kembalilah tidur, Abang akan temani kamu tidur di sofa."
"Apa Abang tidak mau tidur, disamping saya? besok belum tentu, kita akan bisa tidur bersama. Jeruji besi akan menghalangi kita, mungkin kita akan berpisah."
"Apa kamu menyesal?" tanya Elang.
"Saya yang harusnya katakan, dari awal saya tidak akan mengganggap hubungan ini serius. Tapi Abang menganggapnya serius, mau di katakan apalagi. Kalau Abang, ingin talak saya, lakukan Bang. Boleh talak saya, dan tolong rawat anak kita dengan baik. Jangan katakan, kalau Mamah nya itu seorang penjahat, katakan kalau Mamah nya, telah berjuang untuk dia, anak kita. Katakan, kalau saya telah tiada, jangan pernah perlihatkan anak kita pada saya."
"Apa kamu yakin?"
"Saya yakin, saya sudah memikirkan matang - matang. Setelah anak kita lahir, bawa dia pergi Bang. Jangan pernah pertemukan saya dengannya."
"Saya akan penuhi permintaan kamu."
"Bila Abang, ingin menikah lagi. Menikahlah, jangan pernah menunggu saya, kalau saya mati. Jangan katakan saya mati, karena hukuman mati. Katakan saya mati, karena sakit."
Elang langsung memeluk tubuh April, Elang meneteskan air matanya, begitu juga dengan April.
"Abang tetap mencintai kamu, maafkan kemarin Abang emosi sudah menyakiti kamu dan anak kita."
"Nggak Bang, saya yang salah. Pantas Abang marah, saya yang salah."
Elang mencium bibir April, dan April membalas ciuman Elang. Keduanya saling berpelukan, ada rasa lega, saat rindu keduanya tersalurkan.
"Abang akan tetap selalu ada, walau jeruji besi akan memisahkan kita."
*****
Beberapa anggota militer setempat, membantu proses penangkapan Juna dan Steven. Setiap titik yang sudah di tentukan, terdapat beberapa sniper yang siap menembakkan ke arah keduanya.
Agam meneropong keduanya, terlihat aktifitas santai, di dalam rumah. Beberapa anggota berhasil masuk ke dalam halaman rumah yang di tempati Juna dan Steven.
"Kenapa April belum juga kembali ya?" tanya Juna.
"Mungkin sedang di booking dalam waktu lama." jawab Steven.
"Mungkin saja, apa Mark tidak menghubungi kamu tentang Mr Louis?" ucap Juna.
"Tidak, Mark tidak kasih kabar. Coba saja hubungi ponselnya, mungkin dia sedang di bawa jauh." ucap Steven.
"Mungkin saja, tapi biarlah. Yang penting, kita bisa bekerja sama lagi dengan mereka. Lumayan, harga di atas pengusaha lain."
Steven yang sedang menghitung beberapa gepok uang yang ada di dalam koper, langsung membuka perekat uang tersebut.Setelah di cek dengan pengecek uang, terdeteksi uang palsu.
"Kita menemukan beberapa uang palsu." ucap Steven.
"Apa! uang palsu." ucap Juna kaget.
.
.
.