The Black Mamba

The Black Mamba
Menemukan Data



Elang dengan membawa data rekam medis milik Clara, yang dia dapat dari kakaknya Karisma. Dengan meng hacker data dari rumah sakit, seluruh dunia.


Hampir 5 jam, Elang berkutat di depan layar monitor laptopnya. Data yang di cari Elang belum juga di temukan, Karisma datang memberikan segelas kopi hangat untuk adiknya.


"Rumah sakit di dunia itu banyak, tidak akan mungkin bisa mencari dalam sehari." ucap Karisma.


"Tapi saya tidak akan menyerah, saya akan membuktikan kebenarannya, kalau April itu masih hidup." ucap Elang.


"Kalau fakta, adiknya tidak di rumah sakit bagaimana?"


"Saya sedang berusaha, semoga mendapatkan hasil."


Karisma memijat kedua pundak adiknya, yang terlihat lelah tapi di paksakan untuk terus mencari.


"Kalau kamu capek, istirahat. Masih ada besok."


"Iya kak."


Karisma masuk kedalam kamarnya, sedangkan Elang terus berusaha mencari data yang cocok tentang rumah sakit, yang merawat Clara.


Ting tong


Terdengar suara bel pintu apartemen berbunyi, Elang langsung berjalan ke arah pintu dan mengintip terlebih dahulu dari lubang kecil, yang ada di daun pintu.


Ceklek


"Kalian, ada apa?" tanya Elang pada Willy sab Agam.


"Kami akan bantu kamu, biar pekerjaan kamu bisa cepat." jawab Agam.


"Ok, kita begadang sampai menemukan hasil." ucap Elang.


Ketiganya di ruang tamu, sama - sama memegang laptop, mencari data tentang Clara dengan meng hacker data rumah sakit, yang ada di seluruh dunia.


Hampir fajar, ketiganya belum mendapatkan hasil, dan hampir putus asa. Elang langsung berteriak senang, akhirnya menemukan data Clara.


"Yes... berhasil." ucap Elang, hingga membuat keduanya mendekat.


"Berhasil, ternyata Clara ada di negara A. Di salah satu rumah sakit, Santa cancer Hospital." ucap Elang.


"Apa? Santai Cancer Hospital! " ucap karisma yang mendengar ucapan Elang.


"Iya kenapa kak?" tanya Elang.


"Berarti, Jack dah Pablo membawa Clara kesana. Kakak akan hubungi mantan suami kakak." jawab Karisma.


"Kak Antonius sekarang dokter disana?" tanya Elang.


"Iya, benar. Mungkin bisa memberikan data." jawab Karisma.


"Coba, disana siapa dokter yang menangani? kalau bukan Antonius, berarti dokter lain. Semoga saja Antonius." ucap Karisma.


"Bagus dong, ternyata takdir baik masih berpihak pada kamu." ucap Willy.


"Dokter Antonius Bastian." ucap Elang.


"Kakak akan telepon dia."


"Yakin?" tanya Elang.


"Iya, kenapa?" ucap Karisma bertanya kembali.


"Bukannya, sudah ilfil." jawab Elang.


"Dewi kamu, singkirkan ke ilfil an." ucap Karisma langsung menghubungi mantan suaminya.


"Hallo." sapa Karisma.


"Iya hallo, kamu tidak lihat ini jam berapa?" ucap Antonius dari seberang dengan nada kesal.


"Sorry, saya tahu kamu sedang istirahat. Saya hanya ingin minta tolong, bukan untuk saya tapi untuk Elang." ucap Karisma.


"Minta tolong apa? cepat katakan!"


"Kamu memiliki pasien bernama Clara, orang yang berkewarganegaraan sama dengan kita."


"Yang berkewarganegaraan sama dengan saya itu banyak, yang jelas saja kalau tanya itu."


"Clara anatasya, usia 7 tahun. Cancer stadium 4,apa dia pasien kamu?"


"Iya, kenapa?"


"Tidak apa - apa, hanya tanya saja."


"Maafkan saya, salam untuk Raihan. Mami rindu dia, kalau kalian pulang ke tanah air tolong pertemukan saya dengan dia."


"Raihan sudah tidak mau bertemu dengan Maminya, urus saja dunia kamu. Bye. "


Tut


Antonius langsung mematikan ponselnya, terlihat wajah sedih Karisma, setelah menghubungi mantan suaminya.


"Maafkan saya kak." ucap Elang.


"Nggak apa - apa, kapan kamu akan berangkat kesana?" ucap Karisma.


"Hari ini saya akan terbang kesana, saya akan pesan tiket untuk penerbangan hari ini." ucap Elang.


****


"Dokter bagaimana adik saya?" tanya April.


"Perkembangannya cukup bagus, di lihat dari kankernya sudah mulai ada sedikit perubahan. Asal dengan pengobatan mengikuti prosedur dokter." jawab dokter Antonius.


"Dokter, kapan saya bisa keluar dari rumah sakit?" tanya Clara.


"Kamu banyak berdoa sayang, agar cepat pulang dari sini." jawab dokter Antonius.


"Setiap hari saya berdoa." ucap Clara.


"Semuanya butuh proses."


"Dokter terima kasih, dan maaf kalau saya itu jarang berada di samping dia. Karena saya harus bekerja, kami disini tidak memiliki keluarga. Hanya saya dan adik saya saja." ucap April.


"Tidak apa - apa, Miss Gaby." ucap dokter Antonius , memanggil April dengan sebutan Miss Gaby karena April mengubah data dirinya menjadi Miss Gaby.


****


April mencopot wig nya, dan melepaskan semua aksesoris penyamarannya. Dengan toner, April membersihkan make up di wajahnya.


"Jujur, saya bosan harus hidup seperti ini. Saya capek, saya tidak bisa bergerak bebas. Tapi ini demi kebaikan sendiri. Tuhan, maafkan hambamu ini. Hamba pendosa, dengan banyak kesalahan." ucap April sedih.


April mengusap perutnya, yang sudah tampak terlihat. April tersenyum sendu, saat meratapi nasib dirinya dan anaknya.


"Maafkan Mamah sayang, maafkan mamah kamu harus merasakan kejamnya dunia mamah. Tapi Mamah janji, kamu tidak akan mamah jadikan, atau kamu mengikuti jejak Mamah. Cukup Mamah saja, cukup Mamah yang berdosa. Maafkan Maaf sayang, maafkan saya Bang Elang."


*****


Elang harus berada di pesawat selama 24 jam, dengan transit di dua bandara internasional. Elang berangkat sendiri, untuk menemui Clara.


"Semoga saja, April itu masih hidup. Yang dalam peti itu, bukanlah April. Kalau April masih hidup, Juna dan Steven pun masih hidup." ucap Elang pelan.


Elang menatap awan, karena dirinya duduk tepat disamping jendela. Bayangan wajah April, masih sering muncul dalam pikirannya.


"Kalau kamu masih hidup, Abang akan dapatkan kamu lagi." ucap Elang dalam hatinya.


*****


Elang kini sudah tiba di rumah sakit Santa Cancer Hospital, setelah mencari tahu nomer kamar Clara, Elang langsung berjalan menuju ke arah kamar Clara.


Tapi saat akan sampai, Elang melihat seorang wanita, baru saja keluar dari kamar rawat Clara. Tapi bukan April, melainkan wanita lain.


Elang bersembunyi di balik tembok, hingga wanita tersebut menjauh. Elang pun langsung berjalan ke arah kamar rawat Clara.


Elang mengintip dari kaca pintu, terlihat gadis kecil itu tampak sedang menonton televisi dengan duduk bersandar di kepala ranjang.


Elang melihat wanita yang di liatnya tadi kembali, lantas Elang langsung bersembunyi lagi.


"Maaf ya, kakak lama. Tadi menunggu beberapa orang." ucap April.


"Nggak apa - apa kok kak, tadi nggak lama hanya 10 menit" ucap Clara.


"Iya padahal hanya 5 menit untuk jalan bolak balik, ini kakak dapat vitamin kamu minum ya." ucap April.


Sedangkan mereka tidak tahu, kalau Elang sedang mengintip mereka. Elang merekam setiap pergerakan mereka di dalam, dan langsung mengirim rekaman tersebut pada Agam, untuk mencocokkan dengan wajah April yang asli.


"File sudah di terima, tunggu 10 menit." ucap Agam, yang di dengar dengan panggilan telepon.


.


.


.