
Sudah hampir satu minggu, Elang belum juga siuman dari komanya, Karisma tidak pernah jauh dari adiknya. Hingga dirinya memutuskan cuti, hanya untuk tetap dekat dengan adik semata wayangnya.
"Kamu belum juga siuman, kakak disini sudah hampir satu minggu, menemani kamu. Kakak takut, kalau kakak jauh kamu akan terjadi sesuatu." ucap Karisma sambil memegang punggung tangan Elang.
Ceklek.
Pintu kamar rawat terbuka, Pak Elex masuk dengan membawa satu kantung plastik, berisi makanan.
"Kamu belum makan siang kan? saya belikan kamu nasi campur." ucap Pak Alex.
"Saya tidak bisa makan enak, melihat kondisi adik sendiri koma. Entah sampai kapan, dia akan seperti ini."ucap Karisma.
" Istirahat lah, saya akan menjaganya."
"Tidak Bang, saya tidak percaya dengan orang lain. Nyawa adik saya terancam, kalau saya lengah sedetik, nyawa dia akan melayang."
"Kamu harus percaya, saya dan yang di luar, berpihak pada adik kamu." ucap Pak Alex menyakinkan.
"Abang bicara seperti itu, apa karena saya mantan Abang? kalau saya bukan mantan Abang, mungkin tidak seperti ini."
"Kamu jangan bicara seperti itu, saya seperti ini karena Elang anak buah saya."
"Dia sudah mengambil keputusan yang salah, menikah dengan seorang penjahat, dia bekerja untuk di jadikan umpan. Dan nyawa dia terancam, sedangkan mereka sekarang bernapas lega."
****
"Ada pekerjaan untuk kamu." ucap Jack sambil melemparkan satu gepok uang, senilai 10 juta.
April melihat nilai yang tersebut, lantas tersenyum sinis. Dan menyerahkan kembali uang tersebut, pada Jack.
"Saya sudah menuruti keinginan kalian, hanya di kasih 10 juta. Bahkan adik saya sekarang dimana, dan saya sudah menembak suami saya. Giliran ada pekerjaan, kasih 10 juta." ucap April.
"Kamu berani bicara seperti itu, nyawa kamu itu mahal. Saya itu membela kalian bertiga, kalau saya tidak membela kalian. Nyawa kalian itu, sudah ada di tangan Pablo. Jadi kamu terima saja, hitung - hitung ini sisa gaji kamu, yang sudah di tukar dengan nyawa."
"Lantas adik saya mana?"
"Dia bersama Mika, tenang saja. Dia aman, selagi kamu tidak nakal lagi."
"April, ambil uang itu. Laksanakan perintah Bos Jack, ini pekerjaan mudah. Kamu ambil koper di terminal bus, lalu kamu pergi." ucap Juna.
"Kamu dengar kan?" ucap Jack.
"Sampai kapan, saya akan di luar negeri?" tanya April.
"Selamanya." ucap Jack.
***
Dengan mengenakan mantel tebal, karena cuaca di Negara B sedang musim dingin. April berjalan, di cuaca ekstrim dengan suhu 1 derajat celcius.
April mencari sebuah koper, yang sudah di beritahu terlebih dahulu dimana Koper tersebut berada. Saat sudah berjalan terlalu jauh, April melihat kanan di Kiri tidak ada koper yang akan di ambil. Tetap April, melihat seseorang yang gerak geriknya menatap dirinya.
April berjalan ke arah pria tersebut, dan tidak jauh ada sebuah tempat sampah. April dengan santai, mengambil koper yang berada di dalam tempat sampah, dan segera pergi meninggalkan terminal.
**
"Ini kopernya." ucap April menyerahkan pada Jack, dan di dalam ruangan terlihat Pablo sedang menghisap rokok cerutunya.
"Good job April." ucap Jack sambil membuka koper tersebut, berisi sebuah senjata api keluaran negara R. Dan terdapat sebuah, daun kering obat terlarang sekitar, 1 Kilogram.
Pablo mencoba senjata tersebut, dan memasukan peluru kedalamnya. Pablo lantas arahkan ke arah April, kedua mata April terpejam saat Pablo mengacungkan senjata ke arahnya.
Dor
April tersentak kaget, saat sebuah peluru mengenai vas bunga, yang ada di sampingnya. April membuka kedua matanya, dengan mata berkaca - kaca.
Hahahahaha..
"Kamu tenang saja, karena kamu itu masih berguna, sama seperti kedua teman kamu. Hanya karena kebodohan kalian, hingga bisa tertangkap. Kalau kalian tidak bodoh, tidak mungkin tertangkap." ucap Pablo.
Kedua tangan Juna sudah mengepal, Steven langsung memegang tangan kanan Juna. Karena tahu bagaimana perasaan sahabatnya itu, sama seperti dirinya.
****
Aaaaarrrrggghhh
Braaakk
Juna berteriak hingga membanting yang ada di atas meja, kedua matanya yang memerah dan raut wajah yang tiba - tiba menjadi sangar terlihat jelas di mata April, hingga membuat dirinya ketakutan.
"Lama - lama, Pablo harus kita habisi." ucap Juna.
"Kita berhasil menghabisi nyawa Pablo, tetap hidup kita akan terus tidak aman. Bukannya dengan seperti ini, kita masih bisa tetap hidup." ucap Steven.
"Kamu menikmati, kamu mau di katakan bodoh terus. Satu kesalahan, padahal itu bukan kesalahan kita. Tetap mengatakan kita yang salah, kita lama - lama semakin di tekan." ucap Juna.
"Lantas, kamu mau lari, terus kita menyerahkan diri?" ucap Steven.
"Pablo mati, kerajaan dia akan hancur. Kita rebut lahannya, apa yang Pablo miliki akan jadi milik kita."
"Kamu jangan mimpi, apa kamu tidak lihat. Disamping dia ada Jack, bukannya Jack juga seperti Pablo."
"Jack bisa kita habisi, setelah mereka mati, kita yang akan menggerakkan bisnis ini. Bukankah kalau sekarang itu, sudah saatnya kita ambil keuntungan yang besar, mereka bisa lolos pasar ilegal itu karena siapa? kalau bukan karena kita. Dan kalau tanpa kurir seperti April, mereka tidak akan bisa bertransaksi."
"Ide kamu bagus juga, kita sudah saatnya jadi pemimpin." ucap Steven.
April hanya mendengarkan ucapan kedua pria tersebut, sedangkan dirinya hanya menikmati sebatang rokok mild, yang di hisap nya.
"Bagaimana menurut kamu?" tanya Juna.
"Lepaskan Clara, hanya itu yang saya inginkan." jawab April.
"Ok, kita akan bebaskan Clara adik kamu. Dan kalian akan berkumpul kembali, kita harus atur strategi." ucap Juna.
"Entah saya harus bagaimana, satu sisi saya memikirkan adik, di sisi lain saya memikirkan suami yang sekarat karena saya. Semoga kamu, kuat bertahan dan kita bertemu kembali." ucap April dalam hatinya.
*****
"Kamu mau apa?" tanya Agam pada Willy, saat itu datang di rumah sakit.
"Saya hanya ingin melihat kondisi Elang." jawab Willy.
"Buat apa? seharusnya kamu pergi dari hidup Elang. Karena kamu, semuanya menjadi kacau. Kamu kalau tidak melaporkan, rencana dia tidak akan hancur. Dan lihat dia tertembak, dan wanita itu hilang. Benar apa yang di katakan Elang, penjara itu tidak aman. Bahkan di dalam kakaknya, tidak akan pernah jauh. Karena mereka seperti hantu, kamu biarkan hantu itu masuk." ucap Steven.
"Maafkan saya, tapi saya mohon. Ijinkan saya, untuk membesuknya."
"Kamu pikir, saya akan percaya."
"Kamu boleh periksa saya, siapa tahu ada barang yang mencurigakan."
"Kamu pikir saya bodoh, sekali pengkhianat tetap pengkhianat."
"Saya bukan pengkhianat."
"Kalau bukan pengkhianat, kenapa kamu laporkan apa yang dimata kamu lihat. Seharusnya, kamu berpikir sebelum bertindak."
"Saya masih membutuhkan pekerjaan ini, Tentara itu adalah cita - cita saya." ucap Willy.
.
.
.