
Elang tampak sudah membaik, tubuhnya namun masih sedikit lemas, setelah diberi obat oleh kakaknya.
"Kakak nggak pulang?" tanya Elang.
"Tidak, gimana mau pulang, kamu saja sakit." jawab Karisma sambil berjalan mendekat, dan memegang kening adiknya.
"Demamnya sudah turun, semalam demamnya tidak turun - turun. Kakak jadi khawatir, makanya kakak tidur disini."
Elang duduk di depan meja makan, Karisma menuangkan bubur kedalam mangkok, yang dibuatkan khusus untuk adiknya.
"Nanti siang, saya ingin bertemu April. Pasti dia menunggu saya, biasanya datang ini tidak datang." ucap Elang sambil menyendok bubur nya.
"Kamu kan masih sakit, jangan di paksa." ucap Karisma.
"Nggak apa - apa kak, mungkin sakit saya akan sembuh. Kalau sudah bertemu dia." ucap Elang.
"Yaudah kamu makan, habiskan."
Terdengar suara ketukan pintu, Karisma langsung berjalan ke arah pintu depan. Sedangkan Elang, masih tetap makan menikmati bubur buatan kakaknya.
Ceklek
Karisma membuka pintu, pria yang di depannya tersenyum saat Karisma langsung mencium punggung tangannya.
"Saya kira, Abang tidak jadi mampir kesini?" ucap Karisma.
"Abang mau jenguk, anak buah Abang yang katanya sedang sakit." ucap Pak Alex.
"Ada tuh, sedang sarapan." tunjuk Karisma.
"Berarti sudah sembuh dong?" ucap Pak Alex tersenyum.
Elang menoleh, saat tahu ada tamu yang datang. Pak Alex menepuk bahu Elang, dan ikut bergabung untuk sarapan bersama.
"Gimana, katanya sakit?" tanya Pak Alex.
"Sudah sembuh Bang." jawab Elang.
"Jangan banyak pikiran, kamu itu capek tenaga dan capek pikiran. April sudah di vonis 20 tahun, itu adalah ujian terberat kamu dan dia menjalani rumah tangga." ucap Pak Alex.
"Iya Bang." ucap Elang singkat.
"Kalau kamu memang besar cintanya pada April, pertahankan dia. Walau di keluarga kamu, mereka menolak. Ada anak, tetap kalian tidak bisa terpisahkan. Selamanya akan terus terjalin, kamu juga support April itu sangat penting."
"Kamu dengarkan apa kata kakak ipar kamu." ucap Karisma.
*****
"Abang, saya kira tidak akan kesini lagi." ucap April, saat bertemu dengan Elang.
"Maafkan Abang, kemarin Abang sakit." ucap Elang.
April memegang tangan Elang, lalu memegang keningnya. Elang memegang kembali tangan April, yang ada di keningnya.
"Abang sudah sembuh." ucap Elang.
"Maafkan saya Bang, Abang sakit saya tidak bisa merawat Abang." ucap April.
"Kamu jangan bicara seperti itu, Abang sakit karena memikirkan kamu."
"Abang jangan terlalu berat sama saya, saya ini tidak pantas di tunggu. Tidak pantas juga di perhatikan." ucap April.
"Bagaimana kabar calon anak kita?"
"Kandungan saya baik Bang, alhamdulillah tidak ada kendala."
"Abang lupa, tidak bawa susu ibu hamil. Kamu beberapa hari tidak minum susu, maaf ya."
"Iya Bang, tidak apa - apa. Lagian saya makan juga, disini kandungan gizinya baik buat saya sama calon anak kita."
"Apa kamu setiap malam kedinginan?" tanya Elang.
"Saya tidak merasakan dingin, ada boneka dari Clara. Yang selalu saya peluk, gimana kabar dia?" jawab April, kembali bertanya.
"Hari ini Abang akan bertemu Clara, dia harus tahu kalau kakaknya harus di penjara, selama dua puluh tahun." ucap Elang.
"Katakan maaf pada dia Bang, katakan maafkan Kakaknya, yang tidak bisa menemani dia selama dua puluh tahun ke depan."
"Iya, Abang akan katakan sama dia."
*****
"Abang makasih ya, sudah bawakan mainan buat Clara." ucap Clara senang, saat Elang memberikan sebuah mainan boneka yang bisa bicara.
"Sama - sama." ucap Elang.
"Abang, kabar kakak bagaimana?" tanya Clara, dan membuat Elang menatap sedih ke arah adiknya.
"Kakak tidak salah, dia seperti ini karena Clara. Demi Clara, kakak rela menjadi penjahat. Clara uang harus minta maaf, kalau Clara tidak sakit pasti tidak seperti ini. Atau Clara meninggal, kakak tidak akan terus cari uang banyak." ucap Clara sedih.
"Kakak kamu, di penjara selama 20 tahun." ucap Elang, yang membuat Clara berkaca - kaca.
"Kakak." ucap Clara sambil terisak.
Elang memeluk tubuh Clara, gadis kecil itu menangis, dan Elang mencoba menenangkan adik iparnya.
"Kamu jangan khawatir, ada Abang dan Kak Karisma yang akan selalu ada buat kamu." ucap Elang.
"Saya tidak memiliki siapa - siapa lagi, hanya Abang yang saya kenal." ucap Clara.
"Kamu jangan sedih ya, jangan merasakan akan hidup sendiri. Abang juga keluarga kamu, Abang dan Kak Karisma akan menyayangi kamu seperti adik kami sendiri."
*****
"Elang, apa benar Komandan kita itu, mau nikah sama Kakak kamu?" tanya Agam.
"Iya benar, dia mau nikah sama kakak saya." jawab Elang.
"Pantas, ada yang bilang pengajuan kemarin."
"Nikah nya masih dua bulan lagi, tapi sudah 90 persen sih."
"Kabar April gimana disana?"
"Baik, dia sehat. Saya harus terus support dia."
"Kamu hebat, kalau mau menunggu dia."
"Ada anak Agam, saya harus kuat dan setia menunggu."
"Kalau tidak ada anak, apa kamu akan pergi meninggalkan dia?"
"Tergantung, gimana. Tapi saya tidak ada niat meninggalkan dia, walau ada anak atau tidak." ucap Elang.
"Tapi keluarga saya, menolak dia." ucap Elang kembali.
"Saya paham, gimana tidak menolak. Apalagi kamu keluarga, istilahnya keluarga orang terpandang, mau taruh dimana saat publik. tahu."
"Semuanya sudah tahu, dan cepat hilangnya. Itulah keluarga saya, sangat berpengaruh besar di luar sana. Dengan uang, sambil meniup saja langsung hilang seketika." ucap Elang.
"Lantas dengan anak kamu gimana?"
"Tetap akan saya rawat, terserah mau mereka bilang apa."
*****
April mengusap perutnya, sambil meluruskan kakinya,di dalam ruang sel tahanan. Rasanya ingin memakan sesuatu, tapi tidak bisa untuk di dapatkan.
"Ada yang dirasa?" tanya Wati.
"Nggak mba, tidak ada yang di rasa." jawab April.
"Kangen ya sama Bapaknya?"
"Nggak juga, hanya saja saya ingin makan rujak."
"Ngidam ya, tahan ya kita bukan ada di dunia luar."
"Iya mba, entah semakin besar rasa ngidam aneh - aneh. Tidak waktu masih belum di penjara, saya tidak merasakan begini. Malah suami saya, yang mual - mual terus."
"Namanya juga orang hamil, pasti rasanya berubah - ubah."
"Maaf, mba dulu waktu hamil gimana?" tanya April.
"Saya hamil tidak mau apa - apa, di nikah saja sudah kesyukuran."
"Memang nya, mba tidak menikah?"
"Saat hamil, mau menikahi saya minggu depan. Dia meninggal dunia, karena di habisi oleh temannya, saya kalap membalas semuanya."
"Jadi?" ucap April.
"Saya habisi dia, dengan membabi buta. Lantas saya menyerahkan diri ke Polisi, saya di hukum seumur hidup disini." ucap Wati.
"Kamu beruntung, masih bisa akan menghirup udara bebas, sedangkan saya tidak akan." ucap Wati kembali.
"Saya juga tidak tahu mba, belum tentu. Umur tidak akan ada yang tahu, bisa saja saya menghembuskan nafas saya, untuk terakhir kalinya disini." ucap April.
.
.
.