The Black Mamba

The Black Mamba
Tetap Cinta



"Minum dulu susunya." ucap Elang, saat mengunjungi April.


April minum susu yang di bawakan oleh Elang, dan Elang pun tidak lupa membawakan buah, biskuit dan makanan berat berupa nasi serta lauknya.


"Abang, boleh minta sesuatu nggak?" tanya April.


"Minta apa sayang? bilang saja sama Abang." jawab Elang.


"Saya ingin rujak buah." ucap April.


"Rujak buah?"


"Iya, dari kemarin ngidam buah atau pengen makan yang disuka, saya tahan. Karena gimana ingin ini itu, saya kan didalam penjara."


"Abang belikan ya, kamu mau apa sekalian Abang belikan."


"Mau rujak buah, cokelat dan es krim."


"Abang belikan sekarang."


Elang pun pergi untuk membelikan keinginan istrinya, masih ada sisa waktu kunjungan Napi sekitar 2 jam lagi.


****


Elang memborong beberapa cokelat, es krim untuk di bagi dengan teman April di dalam tahanan. Saat akan membayar Elang bertemu dengan Selena.


"Borong ya." ucap Selena.


"Hey sama siapa?" ucap Elang.


"Itu sama suami, dia di mobil. Saya perihatin mendengar, berita istri kamu harus di penjara 20 tahun." ucap Selena.


Elang hanya tersenyum, sambil berdiri mengantri dengan membawa keranjang belanja.


"Kamu yakin, akan menunggu dia selama 20 tahun?"


"Menurut kamu gimana?" ucap Elang.


"Kalau saya tidak mau, capek. Kayak tidak ada lagi di dunia ini, mending cari lagi." ucap Selena.


"Mba, sekalian saya bayar belanjaan mba ini." ucap Elang, sambil menunjuk ke arah Selena.


"Nggak usah, terima kasih."ucap Selena.


"Nggak apa - apa, hitung - hitung menyumpal mulut kamu." ucap Elang, hingga membuat Selena kesal.


****


April memakan apa yang di inginkan, makan rujak, es krim dan cokelat bersama - sama dengan teman satu sel tahanan.


"Suami kamu royal ya?" ucap Beti.


"Dia anak orang kaya." ucap April.


"Wah enak dong, tapi kenapa hukum tidak di beli? kamu bisa tidak di hukum selama ini." ucap Beti.


"Saya tidak akan mempermainkan hukum, nanti dobel hukumannya. Tidak hanya di dunia tapi di akhirat juga." ucap April.


"Kalau orang jujur seperti ini, buat apa kita banyak uang, hanya untuk hal kotor." ucap Wati.


"Hidupnya, sampai kapan pun tidak akan pernah nyaman." ucap Wati lagi.


"Betul apa yang di katakan mba Wati." ucap Beti.


*****


"Adik kamu kok tidak kesini - sini?" tanya Nenek Ima.


"Makannya, Nenek jangan nyakitin hati dia." jawab Karisma.


"Nenek sakitin apa Karisma? Nenek bicara benar, sebagai orang tua."


"Bagaimana juga, Elang itu punya perasaan tersinggung."


"Kamu mentang - mentang kakaknya, membela terus. Sekali - kali kamu nasehati, kalau bukan sama kamu, sama siapa lagi. Di nasehati Tante, pasti akan marah." ucap Tante Asri.


"Nggak perlu di nasehati, dia sudah besar." ucap Karisma.


Tak lama Elang datang, dan langsung menyalami Nenek dan juga Tantenya. Lantas Elang, langsung masuk kedalam kamar kakaknya. Kamar, yang biasa dia tempati di gunakan Nenek dan Tantenya selama menginap.


"Elang!!! " panggil Nenek Ima.


Elang keluar dari kamar, dan duduk di sofa depan TV bersama Tante, Nenek dan kakaknya.


"Kamu itu tidak sopan, ada kami malah masuk kamar." tegur Nenek Ima.


"Maaf Nek, saya capek." jawab Elang.


"Kamu hormati kami, sekarang masih bisa bertemu. Kalau sudah tiada, kamu nanti menyesal." ucap Tante Asri.


"Maaf." ucap Elang.


"Kamu masih mengunjungi istri kamu, yang di penjara?" tanya Nenek Ima.


"Tidak apa - apa, Nenek hanya ingin tahu saja."


"Sampai Nenek meninggal juga, Elang tetap bersama April." ucap Elang.


"Elang!! kamu jangan kurang ajar." ucap Tante Asri.


"Lagian itu, kalian kenapa sih? kita sudah di pisahkan dengan jeruji besi, kalian ingin saya menceraikan April. Lantas anak saya, kalian ingin taruh di panti asuhan. Hati nurani kalian itu dimana? saya ingin bahagia dengan jalan saya sendiri." ucap Elang.


"Baik, nenek merestui kamu. Tapi ingat, anak kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan dari Nenek dan tidak akan pernah, masuk daftar silsilah keluarga." ucap Nenek Ima.


"Nggak apa - apa Nek, saya tidak butuh itu. Lagian buat apa warisan, saya masih sanggup kasih makan anak saya." ucap Elang beranjak bangun.


"Kamu mau kemana?" tanya Karisma.


"Saya mau pulang, malas di sini." jawab Elang pergi begitu saja.


"Nenek itu apa - apaan sih? sudahlah Nek, kasihan Elang." ucap Karisma, beranjak bangun untuk mengejar adiknya.


***


"Dek." panggil Karisma.


"Maafkan Nenek." ucap Karisma.


"Saya tidak pernah marah, atau membenci Nenek. Tapi saya kecewa saja, kasihan April kak, apalagi anak saya nanti."ucap Elang.


"Ada kakak, kamu jangan takut. Kakak akan selalu ada buat kamu, lagian Nenek sama Tante setelah pernikahan kakak, mereka kembali ke luar negeri. Kita tidak hidup bersama mereka, kamu akan tenang menjalani hidup." ucap Karisma menenangkan.


"Makasih kak, kakak selalu mendukung apa yang saya lakukan."


*****


Dokter Santi berlari ke arah kamar Clara, setelah mendapatkan kabar dari salah satu suster, Clara tidak sadarkan diri.


"Sejak kapan dia begini?" tanya dokter Santi.


"Jam 1 siang, dia masih duduk sambil menggambar, saya kembali pukul 2 dia tidur. Sekarang pukul 6 sore, dia belum juga bangun." jawab suster.


Dokter memeriksa Clara,tidak terdengar denyut jantung y, bahkan kedua matanya, terlihat memutih.


"Lepaskan semua." ucap dokter.


"Apa dok? " ucap Suster.


"Dia sudah tidak ada, saya akan kabari dokter Karisma." ucap dokter Santi.


"Baik dok."


****


Karisma berlari ke arah kamar rawat Clara, Elang pun datang saat di beri kabar oleh kakaknya. Terlihat tubuh gadis kecil itu, tertutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Inalilahi wainnailaihi rojiun." ucap Elang dan Karisma.


"Kamu sudah tidak sakit lagi Clara." ucap Elang.


"Kamu gadis pintar dan kuat sayang, kamu meninggal dalam keadaan tidur. Surga untuk kamu, sekarang kamu berkumpul dengan orang tua kamu." ucap Karisma.


"Bagaimana Abang katakan sama kakak kamu? sekarang kamu sudah pergi untuk selama - lamanya, tanpa kata - kata terakhir." ucap Elang.


"Kakak akan urus administrasi, dan untuk segera di mandikan." ucap Karisma.


"Iya kak."


Sedangkan di dalam sel tahanan, April memiliki perasaan yang tidak enak. Bahkan jantungnya berdetak kencang, hingga April memegang dadanya.


"Kamu kenapa?" tanya Beti.


"Saya kok, merasa tidak enak. Ada apa ya? jantung berdetak kencang, lemas nggak enak saja." jawab April.


"Kamu sakit?"


"Tidak, saya merasakan tidak enak."


"April, ada suami kamu datang." ucap seorang petugas Lapas.


"Ya Pak." ucap April bangun mendekat ke arah pintu, lantas April keluar dari dalam sel tahanan.


**


"Abang, ini bukan waktu jam besuk loh." ucap April.


"April, Abang kesini hanya ingin menyampaikan sesuatu." ucap Elang.


.


.


.