
"Lihat Bu, 20 tahun vonisnya." ucap Tante Asri.
"Ibu tidak habis pikir, memiliki cucu menantu di penjara. Ini bagai mimpi buruk, Ibu tidak kuat disini lama - lama." ucap Nenek Ima beranjak dari duduknya.
"Baik Bu, kita pulang." ucap Tante Asri juga beranjak dari duduknya.
Keduanya, meninggalkan ruang sidang. April lantas berdiri, dan memeluk tubuh Elang. Keduanya tidak mau saling lepas, bahkan terus berpelukan erat.
"Bang, jangan tunggu saya. Dua puluh tahun itu lama, saya mohon ya Bang." ucap April sambil terisak.
"Nggak, Abang akan tunggu kamu. Abang akan tetap setia menunggu, walau 20 tahun. Abang akan menunggu kamu." ucap Elang, yang masih memeluk tubuh April.
"Nggak Bang, jangan."
"Kamu ingat, tulisan yang Abang buat . Itu isi hati Abang, kamu harus percaya sama Abang, bagaimana Abang begitu sangat mencintai kamu. Abang tetap akan menunggu kamu, Abang tidak akan melepaskan kamu."
"Hiks.. hiks.. hiks.. Bang, Clara Bang, hiks.. hiks.. "
"Iya, Clara akan sama Abang dan Kak Karisma."
Kedua saling melepaskan pelukannya, April pun langsung di bawa kembali ke dalam mobil tahanan. Dan akan kembali ke Lapas, Karisma langsung memeluk tubuh adiknya.
"Sabar ya, kamu kuat." ucap Karisma.
"Dua puluh tahun Kak." ucap Elang sambil mengusap air matanya.
"Iya dek, kamu sudah janji akan menunggu dia. Kamu harus buktikan, kalau kamu akan menunggu dia."
"Iya Kak, saya akan tepati janji saya."
****
"Mana Elang?" tanya Nenek Ima.
"Dia pulang ke rumah nya." jawab Karisma.
"Dua puluh tahun." ucap Nenek Ima.
"Nenek sama Tante tidak tahu, bagaimana Elang saat itu terancam. Dia menjalankan misi, dan target utama itu April. Tapi musuh dalam selimut, ternyata teman Elang terlibat, dia satu Tim. Target awal Tentara yang berkhianat, Elang dan Tim nya menyamar mendekati April. Singkat cerita, April terancam juga jadi keduanya menjalankan strategi, dengan April membantu Elang. Dari situ, mereka tumbuh cinta. Sebuah cinta terlarang, hingga Elang mendapatkan sanksi harus menunda kenaikan pangkat nya, bahkan tidak boleh menjalankan kasus itu kembali. April itu, melakukan demi keluarga. Bukan sengaja untuk foya - foya. Adiknya berumur 7 tahun, masih sangat kecil harus terkena penyakit parah. Kanker stadium 4, dia rela bayar mahal rumah sakit, hanya untuk adanya sembuh." ucap Karisma.
"April itu, dari awal tidak ingin anggap hubungan serius hubungan, dia bahkan rela di tinggal kan. Walau April telah menyerahkan tubuhnya ke Elang. Bahkan sampai sudah menikah, April selalu berkata, tinggal kan saya. Ceraikan saya, jangan pernah menunggu saya. Tapi apa, adik saya itu tidak mau berpisah dengan April. Dia rela menunggu, hingga April bebas. Walau dia vonis mati Elang akan tetap setia sendiri. Jujur, saat Nenek dan Tante bicara seperti tadi, hati saya nyesek. Nenek dan Tante kan lihat, bagaimana April tadi, dia nangis, Elang juga lihat hampir menangis. Biarlah mereka bahagia, Elang sudah dewasa Nek Tante. Cukup tadi saja, ke depan nya jangan ikut campur. " ucap Karisma tegas.
****
Elang menghisap rokoknya, hingga bekas puntung rokok berserakan. Dengan beberapa kaleng, minuman bersoda.
"Abang akan tunggu kamu, walau dua puluh tahun." ucap Elang dengan wajah yang kacau.
Elang terus merokok, tanpa henti. Hingga kedua matanya merah, rasa kantuk Elang lawan. Walau tubuhnya, sudah merasakan tidak enak.
"Dua puluh tahun." ucap Elang kembali.
****
April duduk di pinggir lapangan, dengan duduk di atas bangku panjang. Melihat beberapa napi perempuan, yang sedang bermain volly.
April sambil mengusap perutnya, sambil menunggu petugas lapas memanggilnya, kalau Elang menjenguknya.
"Abang pergi tidak apa - apa, ini lebih baik. Dari pada menunggu waktu yang lama, dua puluh tahun." ucap April kembali.
****
Karisma mengetuk pintu rumah Elang, dua hari adiknya tampa kabar. Mobil dan motor, terlihat di garasi yang terbuka setengah. Lantas Karisma, memutuskan masuk melalui garasi.
Ruangan tampak gelap, April lantas membuka gorden dan pintu rumah, hingga cahaya masuk.
"Elang, kamu di dalam?" panggil Karisma.
"Elang!!" ucap Karisma kembali, sambil berjalan ke arah kamar adiknya.
"Elang!!" ucap Karisma, langsung naik keatas tempat tidur, adiknya masih berbaring dengan selimut dan menggigil.
"Ya Allah dek, kamu sakit." ucap Karisma memegang kening Elang yang panas.
Karisma langsung mengambil air untuk mengompres adiknya, terlihat wajahnya yang pucat.
"Pantas kamu tidak ada kabar, ternyata kamu sakit." ucap Karisma sambil meletakkan handuk kecil, yang di gulung di kening Elang.
"Kakak beli obat dulu." ucap Karisma.
"April, Abang tidak mau berpisah dengan kamu." ucap Elang dengan mata tertutup.
Karisma menoleh sebentar, dan kembali melanjutkan langkah nya untuk pergi ke Apotek.
****
"Kamu minum dulu, biar sakit kamu sembuh. Kalau kamu sakit, kamu tidak bisa menjenguk April di Lapas." ucap Karisma.
"Saya dua hari tidak kesana, April pasti mengira saya pergi meninggalkan dia kak."
"April pasti mengerti, kalian itu saling mencintai. Kalian itu akan bersatu, 20 tahun lagi. Kalian akan melewati tahun berganti tahun, dan tidak terasa nanti tahu - tahu April bebas."
"Saya mencintai April kak, saya tidak akan meninggalkan dia."
"Kakak tahu itu, dan kamu jangan hiraukan ucapan Nenek dan Tante Asri. Kamu yang jalani, bukan mereka. Kamu berhak memilih kebahagiaan sendiri, bukan dengan di atur."
"Saya akan merawat anak saya sendiri kak, tidak ada seorang ibu yang akan menggantikan posisi April. Hanya dia wanita yang selalu di hati." ucap Elang.
****
April membaca kata - kata indah, yang di tulis Elang sebelum tidur. Setelah dia baca, lantas melipat dan menaruh nya di bawah bantal.
"Semoga Abang bahagia di luar sana, Abang pantas bahagia, tidak harus menunggu saya." ucap April, kemudian memejamkan kedua matanya.
"Ya Allah, semoga malam ini. Saya bisa bermimpi bertemu Bang Elang, mimpi indah hingga saya tidak ingin bangun dari tidur."
.
.
.