The Black Mamba

The Black Mamba
Maafkan..!!



Elang mendorong kursi roda, masuk kedalam Lapas. Clara hanya diam, duduk di atas kursi roda sambil memeluk sebuah boneka. Terlihat Elang, meminta ijin pada penjaga pintu Lapas, untuk mengunjungi April.


"Bapak tunggu saja di ruang tunggu, nanti kami panggil." ucap petugas Lapas.


"Terima kasih Pak." ucap Elang.


"Abang, kakak sejak kapan di penjara?" tanya Clara, saat Elang kembali mendorong kursi roda.


"Sebenarnya, kakak kamu sudah lama. Hanya saja kemarin, sempat ada yang ingin membawa kabur kakak kamu. Dan sekarang, kakak kamu kembali tertangkap." ucap Elang.


Clara dan Elang, menunggu April di ruang tunggu. Setelah menunggu hampir 5 menit, April datang. Dan menatap Elang, membawa Clara.


"Clara." ucap April.


"Kakak."ucap Clara.


April terisak, dan langsung memeluk tubuh adiknya. Keduanya sama - sama menangis berpelukan.


"Maafkan kakak dek, maafkan kakak." ucap April dengan terisak.


Hiks.. hiks.. hiks..


"Kakak, kenapa kakak di penjara?" ucap Clara sambil melepaskan pelukannya.


"Maafkan kakak sayang, maafkan kakak ya." ucap April sambil mengusap air mata Clara.


"Kakak salah sayang, sudah membuat kamu kecewa. Kakak minta maaf, tapi kamu harus percaya apa yang kakak lakukan niat nya baik, kamu percaya sama kakak." ucap April.


"Saya percaya sama kakak, sebenarnya kakak itu orang baik." ucap Clara.


"Clara, kamu jangan sedih. Ada Bang Elang yang akan menjaga kamu, kak April sudah menyerahkan kamu sama Abang. Kamu itu adik iparnya Abang, dan Abang juga sama kakaknya Clara." ucap Elang.


"Clara, kamu harus semangat untuk sembuh. Kakak selalu mendoakan kamu, agar kamu itu sembuh." ucap April.


"Boleh Clara tahu, kenapa kakak lakukan ini?" tanya Clara


April diam, sambil menatap Elang. Tangan Elang mengusap punggung April, gadis kecil itu masih tetap menatap kakaknya, untuk segera memberikan jawaban.


"Maafkan kakak Clara."ucap April.


"Clara maafkan kakak, Clara tidak akak marah sama kakak." ucap Clara.


"Kakak ikut menjadi anggota Mafia, demi uang. Kakak lakukan, demi bisa bayar pengobatan kamu di rumah sakit." ucap April.


"Kakak hiks.. hiks..." ucap Clara memeluk kembali tubuh April.


Hiks.. hiks.. hiks..


Terisak kembali keduanya, tangisan Clara sangat kencang hingga bergetar tubuhnya.


"Kakak memang salah langkah, tapi kakak butuh uang demi kamu. Apapun itu demi kamu, kakak akan lakukan. Asal kamu bisa sembuh, karena kita harus minta pada siapa? kita itu hidup hanya berdua. Demi kamu, kakak rela, harga diri ini di injak - injak. Kakak rela berubah menjadi orang jahat, walau ujung nya merugikan semuanya." ucap April menjelaskan.


"Kakak, maafkan Clara." ucap Clara sambil menatap kakaknya.


"Nggak sayang, kamu nggak boleh minta maaf sama kakak. Kakak yang salah, maafkan kakak."


"Kak, ini boneka milik Clara. Kakak pegang ya, kalau tidur kakak peluk. Sebagai pengganti Clara, dan kalau kakak kangen Clara bisa peluk, dengan boneka ini." ucap Clara menyerah boneka beruang pada April.


"Iya sayang, makasih ya. Kalau kakak kangen kamu, kakak akan peluk boneka dari kamu."


****


Elang telah membawa kembali Clara, dan mengangkat tubuh Clara ke atas ranjang. Elang menatap adik ipar nya, terlihat sangat sedih.


"Kamu jangan sedih terus, kakak kamu April kuat menghadapi semuanya." ucap Elang.


"Kakak lakukan ini demi Clara, kalau Clara tidak sakit, mungkin tidak akan seperti ini." ucap Clara.


"Kamu tidak boleh, menyalahkan keadaan. Ini semua adalah cobaan, kamu yang kuat dan terus berdoa untuk kakak kamu."


"Bang Elang, jangan tinggalkan Clara ya." ucap Clara memohon.


"Hanya Bang Elang, yang Clara kenal tidak ada lagi." ucap Clara kembali.


"Iya, Abang tidak akan meninggalkan kamu. Abang akan selalu, ada bersama kamu."


"Makasih Abang." ucap Clara langsung memeluk tubuh Elang.


****


"Sama - sama."ucap April.


" Memang nya dia itu siapa sih? setiap hari kirim makanan terus." tanya Wati.


"Dia suami saya, seorang Tentara." jawab April.


"Hah.. suami kamu Tentara? kagak salah dengar tuh." ucap Wati.


"Nggak kok, kita bisa dekat saat dia sedang menyamar, padahal target nya itu saya. Nggak tahu kenapa, malah benih - benih cinta datang." ucap April.


"Aneh banget, terus suami kamu gimana kerjaannya?"


"Dia juga di jebak, tapi kena imbasnya juga. Untung tidak di pecat, tapi kita tidak akan pernah bisa bersatu. Ada jeruji yang memisahkan kita, hanya anak ini yang selalu menjadi kita masih terikat. Tapi saya sudah siap, bila suatu saat dia menceraikan saya. Karena dari awal, saya tidak mengharapkan hubungan ini serius."


"Tapi sepertinya, suami kamu itu setia. Dia bukan tipe, pria yang akan meninggalkan orang yang pernah singgah di hatinya."


****


"Bang, kebaya ini cakep kan?" tunjuk Karisma pada Pak Alex.


Pak Alex melirik ke arah majalah yang sedang di pegang Karisma, dan menganggukkan kepalanya.


"Ini buat akad nikah, terus resepsinya pakai yang ini." ucap Karisma menunjukkan gambar halaman selanjutnya.


"Iya, atur saja. Mana yang kamu suka." ucap Pak Alex.


"Kak, Nenek kesini kapan?" tanya Elang.


"Satu bulan sebelum acara nya kami, nenek sudah ada disini." jawab Karisma.


"Saya harus bicara gimana ya kak? saya itu bingung mau cerita masalah April, apalagi sekarang kan sedang hamil anak saya." ucap Elang.


"Katanya, kamu siap untuk di serang sana sini. Percaya sama kakak, mereka akan terima April." ucap Karisma.


"Saya takut saja kak, apalagi notabene April yang tidak jelas asal usul nya. Sekarang dia status sebagai napi, hamil lagi di penjara."


"Katakan apa adanya, itu lebih baik. Dari pada kamu sembunyikan status dia, suatu saat mereka akan bertanya tentang anak kamu. lebih baik kamu katakan sekarang, jangan kamu tutupi."


"Iya kak, makasih ya."


"Lusa kamu harus datang, karena kamu harus memberikan kesaksian di persidangan mereka bertiga." ucap Pak Alex.


"Ya Bang, saya akan datang. Itu pasti, saya akan menceritakan semuanya." ucap Elang.


"Semoga April tidak di jatuhi, hukuman berat." ucap Pak Alex.


"Amin!" ucap Elang dan Karisma.


****


"Clara bagaimana Bang?" tanya April.


"Tenang saja, Clara baik - baik saja kok." jawab Elang.


"Clara pasti kecewa sama saya Bang, pasti kecewa."


"Clara itu anak yang pintar, dia tidak akan pernah menilai kamu itu memalukan dirinya."


"Saya sudah membuat dia kecewa Bang, hiks.. hiks.." ucap April terisak.


"Clara paham, apa yang kamu lakukan demi dia."


"Saya juga mengecewakan anak kita, saya bukan seorang ibu yang baik, bahkan istri yang baik untuk Abang. Maafkan saya Bang, maafkan saya."


"Iya, Abang maafkan kamu."


.


.


.