
April menatap Mika yang sudah tewas, di tembaknya. Masih terdengar suara tembakan, April dengan segera mengisi pistolnya, dengan beberapa peluru. Dan mengambil senjata satunya, yang berada di balik meja, sebuah pistol yang sudah di siapkan olehnya.
Dengan kedua tangan, April menembakkan ke segala arah.Hingga satu persatu, anak buah Pablo dan Jack tumbang.
Juna dan Steven, masih menembakkan secara membabi buta. Steven kehabisan peluru, April melemparkan senjata satunya lagi pada Steven.
Dor
Dor
Dor
Jack dan Pablo terus menyerang, dengan salah satu kaki mereka yang sudah tertembak.
"Mereka tidak ingin menyerah, kita harus mundur." ucap Pablo.
"Benar, dari pada kita mati di tangan bandit bodoh." ucap Jack.
Keduanya lari, namun Juna, Steven dan April tak henti mengejar mereka dengan sebuah tembakkan. Hingga mereka keluar dari rumah, dan kini berada di depan garasi mobil, dan berusaha kabur dengan mobil.
Dor
Dor
Ketiganya menembaki mobil yang akan di tumpangi Jack dan Pablo, mereka berhasil masuk tapi di belakang mereka sudah ada Steven yang menghadang dengan senjata siap di tembakkan.
Tetap mobil menabrak Steven hingga terpental, dan Juna menembak kedua ban mobil tersebut. Tapi mereka tetap kabur, dengan kedua ban mobil yang sudah robek.
Ketiganya mengejar, dengan menggunakan mobil, April yang mengemudikan mobil. Sedangkan Juna dan Steven, terus menembakkan ke arah mobil yang di depannya.
Dor
Dor
Dor
Mobil pun terguling hingga berjarak 10 meter, dengan kondisi mobil rusak parah. Ketiganya pun lalu turun dari mobil, dengan senjata yang siap mereka tembakkan.
Terlihat Jack dan Pablo terluka, tubuh mereka penuh luka. Tubuh keduanya, terhimpit hingga sulit untuk keluar.
"Kalian menang." ucap Pablo.
"Kalian saatnya mati." ucap Juna.
Dor
Dor
Dor
Dor
Juna menembakkan tepat di kepala mereka, dan April mengarahkan tembakkannya tepat di aliran bensin yang keluar.
Dor
Buuuummm
Ketiganya terpental jauh, mobil meledak dan terbakar dengan memanggang habis keduanya. April, Juna dan Steven tersenyum penuh kemenangan.
****
Pak Alex menerima laporan, bahwa Jack, Pablo dan Mika tewas tertembak. Di ketahui mereka tertembak, terlibat peperangan antara sesama Mafia.
"Mika, saya tidak menyangka." ucap Willy.
"Pelaku di ketahui adalah April, Steven dan Juna. Pihak kepolisian sana sedang mencari mereka, di ketahui dari rekaman CCTV." ucap Agam memberikan informasi.
"Kirim beberapa anggota untuk mencari mereka, karena Juna dan Steven adalah masih tanggung jawab kita, mereka adalah anggota kita, yang harus di hukum secara kemiliteran." ucap Alex.
"Saya akan pergi kesana." ucap Willy.
"Saya juga." ucap Agam.
"Kalian berangkat sekarang." perintah Pak Alex.
"Siap Komandan."
"Saya akan hubungi pihak sana, untuk bekerjasama dengan kalian."
*****
Juna, Steven dan April mengambil semua barang - barang milik Pablo dan Jack, begitu juga rekening keduanya di alihkan pada rekening Juna.
Kini mereka pergi meninggalkan negara tersebut, dan pergi ke negara bagian barat. Dengan penampilan yang mereka rubah, dan identitas yang mereka palsukan.
"Polisi pasti sedang mencari kita." ucap April.
"Yang penting kita bisa bebas dari kedua, dan kita sekarang kaya kita jalankan bisnis ini, nama Juna, Steven dan April sudah mati. Kita sekarang sudah berganti nama, kita juga sudah meninggalkan jejak bukan, kita bakar tiga gelandangan dengan ciri - ciri mereka kira itu kita." ucap Juna.
Sebelum pergi meninggalkan negara A, Juna, Steven dan April menculik seorang gelandang dan membakar ketiganya, dengan merekayasa kejadian kecelakaan, dan mobil di jatuhkan ke dalam jurang.
"Kita sudah terlalu jauh." ucap April.
****
Elang membuka kedua matanya, Karisma langsung mendekatkan wajahnya, saat tahu adiknya telah siuman.
"Alhamdulillah dek, kamu sadar juga."
Elang menoleh ke arah Kanan dan kiri, Karisma memegang pipi Elang. Ketika adiknya, masih terlihat lemah, dan seperti mencari sesuatu.
"Ini kakak, kamu di rumah sakit."
"A - April. " ucap Elang pelan.
"Dia pergi, entah hilang kemana." ucap Karisma.
"Katakan sama Kakak, siapa yang menembak kamu?"
"A - April."
"Kurang ajar dia."
"Dia dalam bahaya."
"Kamu jangan memikirkan wanita itu, kakak akan panggil dokter Hans."
"Kak."
"Iya, ada apa?"
"Sudah berapa lama saya koma?"
"Satu bulan lebih, kamu terbaring disini. Dan di luar di jaga ketat, dan Kakak disini menemani kamu 24 jam, tidak selangkah keluar meninggalkan kamu."
"Saya berarti melewati semua apa yang terjadi." ucap Elang.
****
April, Juna dan Steven, kini berada di sebuah rumah yang jauh dari penduduk. Mereka memutuskan untuk, tinggal di dekat hutan.
Juna dan Steven kini sedang minum, hingga terlihat keduanya mabuk. Sedangkan April, duduk terpisah sambil menikmati danau yang ada di depan rumah mereka.
"April, besok kita akan bawa Clara, kamu mau masukan dia di mana?" tanya Juna.
"Rumah sakit kanker disini juga ada, dengan uang yang kita punya kamu bisa mengobati adik kamu." ucap Juna kembali.
"Lebih baik, saya tidak menemui dia lagi. Tapi saya temui, dengan identitas lain. Kalian bilang, nama April itu sudah mati." jawab April.
"Bagus, kalau kamu punya pemikiran seperti itu." ucap Juna.
"Saya ingin membeli sebuah resort, di daerah pantai. Dan ingin membeli sebuah pulau, buka tempat judi disana." ucap Steven.
"Beli, uang kita kan banyak." ucap Juna.
"Kenapa tidak dari dulu saja, kita habisi mereka. Kalau dari dulu, kita sudah kaya raya." ucap Steven.
"April, menikahlah dengan saya. Kamu lupakan Elang, dia juga akan mati." ucap Juna.
"Walau saya jahat, saya tetap mencintai pria itu. Kamu tidak bisa menggantikan posisi dia, walau dia mati pun." ucap April.
Hahahaha..
"Tetap saja kamu dengan dia, tidak akan bisa bersatu. Buat apa kamu mencintai dia, cinta kalian itu akan di tolak. Tidak hanya Alam, tapi juga negara." ucap Juna.
****
Elang duduk bersandar, dan Karisma menyuapi Elang dengan bubur. Karisma tidak bisa menutupi rasa syukurnya, adiknya di beri kesempatan hidup kedua.
"Kalau kakak, tidak bisa lagi menyuapi kamu. Dunia kakak akan runtuh, kakak seperti kehilangan harta yang besar." ucap Karisma.
"Kakak masih memiliki seorang anak, dia juga harta Kakak." ucap Elang.
"Dia lebih sayang dengan Papinya, bahkan Kakak tidak bisa menghubunginya. Seakan harta kakak itu, hanya kamu yang kakak miliki."
"Suatu saat, dia akan cari kakak. Percaya sama saya, seorang anak pasti akan mencari ibunya."
"Semoga."
"Setelah sembuh, saya akan cari April. Bagaimana juga, dia itu masih istri saya."
"Apa kamu akan penjarakan dia?"
"Iya, janji dia begitu."
"Ceraikan dia, cari wanita baik - baik. Jangan membuat malu keluarga kita, wanita itu tidak hanya dia saja."
.
.
.