
"Nenek sama Tante Asri ada di Apartemen kak?" ucap Elang kaget.
"Iya, dia ingin ketemu kamu. Kakak bilang, kamu dinas. Tadi katanya sempat mampir ke rumah kamu, tapi kosong." ucap Karisma dari seberang.
"Nanti, kalau April sudah sembuh. Saya pulang, kalau sekarang tidak bisa." ucap Elang.
"Kamu pulang dulu sebentar, nenek nanti marah."
"Masalahnya, April tidak mau di tinggal Kak."
"Tapi nenek ingin ketemu kamu."
"Nanti saya bicara sama April, kalau April mau ditinggal saya kesana."
"Kakak tunggu." ucap Karisma, lantas mematikan telepon nya.
Elang berjalan ke arah April, yang sedang duduk bersandar tapi tangan kirinya, harus memakai borgol.
"Yank, Abang pulang dulu ya."
"Abang kesini lagi tidak?"
"Kesini lagi dong, di Apartemen Kak Karisma ada Nenek sama Tante datang. Mereka datang lebih awal, karena kakak kan mau menikah."
"Bang, nanti Abang mau cerita apa tentang saya?"
"Abang pelan - pelan ya."
"Iya Bang, saya paham."
"Abang pamit, nanti mau dibawakan apa?"
"Saya hanya ingin Abang, ada didekat saya sekarang."
"Tunggu Abang." ucap Elang sambil mengecup kening dan bibir April.
"I love you." ucap Elang sambil memegang kedua pipi April.
"I love you too." balas April.
Elang pun langsung pergi, April menatap punggung suaminya hingga tak terlihat, karena pintu menutup.
April mengusap perutnya, lantas kembali terisak. Memikirkan nasibnya, kini telah hancur karena ulah yang di lakukannya, harus rela berpisah dengan orang yang dia sayangi.
"Kamu harus kuat nak, harus lahir dengan selamat. Papah kamu akan, bahagia kan kamu. Maaf kalau mamah, tidak bisa membahagiakan kamu." ucap April.
****
"Aduh ini cucu nenek, tambah ganteng saja." ucap Nenek Ima.
"Jelas dong." ucap Elang.
"Elang, pacar kamu itu orang mana?" tanya Tante Asri.
"Orang sini saja." jawab Elang.
"Orang tua nya, kerja di mana?" tanya Nenek Ima.
"Hmm.. dia yatim piatu, hanya tinggal bersama adiknya." jawab Elang.
"Dia kerja atau masih kuliah?" tanya Tante Asri.
"Tidak kuliah, menganggur saja." jawab Elang.
"Nggak apa - apa, yang penting keluarga nya jelas." ucap Nenek Ima.
Elang hanya tersenyum sendu, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Karisma pun juga sama.
"Boleh Tante lihat photo pacar kamu?" tanya Tante Asri.
Elang mengambil ponselnya di saku celana, saat membuka galeri tidak ada photo April satu pun.
"Maaf Tante, nenek saya tidak punya photo April." ucap Elang.
"Masa sih, kamu tidak punya? kebanyakan itu pada punya photo pasangannya." ucap Tante Asri.
"Saya punya." ucap Karisma langsung membuka galeri ponselnya.
"Ini." tunjuk Karisma saat April memakai gaun pernikahan.
"Ini dia menikah sama kamu Elang?" tanya Tante Asri.
"Bu - bukan, ini sedang jadi model pengantin." ucap Karisma bohong.
"Iya, jadi model pengantin." ucap Elang.
"Bu, cantik pacar Elang." ucap Tante Asri.
"Tidak Nek, pacar saya itu setia." ucap Elang.
****
"Kak, saya harus kembali ke rumah sakit." ucap Elang.
"Dek, kakak bingung mau mulai dari mana." ucap Karisma.
"Saya sudah menebak, keluarga kita tidak akan mau menerima April. Apalagi April itu adalah narapidana, pidana kasus berlapis." ucap Elang.
"Kakak juga sepemikiran, tapi kita tidak selamanya menutupi semuanya." ucap Karisma.
"Benar Kak, saya akan pelan - pelan memberitahu pada keluarga besar." ucap Elang.
"Yasudah, kamu cepat ke rumah sakit. April sudah menunggu kamu."
"Nanti kalau mereka tanya, bilang saja saya sedang naik jaga."
"Iya, hati - hati."
****
"Abang." ucap April, saat Elang datang.
"Kamu belum tidur?" ucap Elang.
"Saya kira, Abang tidak pulang."
"Kamu jadi tunggu Abang? sampai menunggu Abang begini."
"Saya takut, Abang tidak kesini lagi. Saya takut, kondisi saya sudah baik besok. Langsung ke lapas, kita tidak bisa berduaan seperti ini." ucap April.
"Abang pasti kesini, walau raga Abang ada di luar tapi pikiran tetap kesini." ucap Elang sambil membelai rambut April.
"Sekarang kamu tidur ya, Abang temani kamu."
"Abang tidur di atas ya."
"Iya sayang." ucap Elang, lantas berbaring di samping April.
Elang memeluk tubuh April, yang memunggunginya. April merasakan kehangatan, saat tubuh suaminya lebih dekat.
"Abang, seandainya malam ini tidak akan pernah, terjadi lagi pada kita. Apa Abang akan simpan rapat - rapat, tidak akan pernah di ingat lagi?" ucap April.
"Abang akan simpan, tidak akan pernah mau mengingatnya. Karena yang ada hanya rasa sakit, dan akan membuat hati ini menangis." ucap Elang.
"Saya hanya berharap, malam ini adalah malam yang sangat panjang, saya tidak ingin cepat berlalu."
Elang semakin mengeratkan pelukannya, hingga tak terasa matanya terpejam. April tidak bisa tidur, hanya mendengar suara dengkuran halus Elang.
"Abang, sampai mata saya menutup. Cinta saya sama Abang, tidak akan pernah luntur. Walau suatu saat nanti, Abang sudah memiliki pengganti saya." ucap April dengan mata yang berkaca - kaca.
"Saya sekarang pun sudah ikhlas, kalau Abang melepaskan saya. Oleh karena itu, malam ini saya berharap malam ini tidak cepat berlalu, jangan dulu pagi. Karena saya yakin, besok kita tidak akan pernah begini lagi." ucap April kembali.
Elang yang matanya sudah terpejam, kembali membuka matanya. Elang tidur, tapi telinganya mendengar setiap ucapan April.
"Abang pun sama, berharap malam ini tidak cepat pagi." ucap Elang dalam hati.
****
"Karisma, adik kamu itu orang tua pacarnya jelas kan?" tanya Nenek Ima.
"Jelas kok Nek." jawab Karisma.
"Ingat loh, kita ini dari keluarga terpandang. Jangan sampai salah pilih, kalau salah pilih bagaimana dengan keluarga lainnya. Pasti akan jadi bahan gunjingan." ucap Nenek Ima.
"Iya Nek." ucap Karisma.
"Dulu sama Kowad, kok nggak jadi?" ucap Tante Asri.
"Nggak cocok mungkin Tante, makannya nggak jadi." ucap Karisma.
"Ingat Karisma, orang tua kalian itu mamah kamu dokter, Papah kamu itu Tentara. Kakek kamu, pemilik rumah sakit, sekarang di pegang sama om kamu suaminya, Tante Asri. Belum adik dari Papah kamu, dia itu seorang pengusaha tambang. Belum lagi keluarga dari Mamah kamu, ada yang jadi pejabat, pengusaha, pilot. Bilang sama adik kamu, jangan salah pilih jodoh. Kaya bukan menjadi patokan, mau miskin tidak masalah yang penting jelas orang tuanya, dan pacarnya itu jelas,serta memiliki tingkah laku yang baik." ucap Nenek Ima.
"Sudah memenuhi syarat kok Nek." ucap Karisma yang tetap membela adiknya.
"Nanti pas kamu nikah, suruh pacarnya datang." ucap Tante Asri.
"Iya Tante." ucap Karisma.
.
.