
"Ada kabar apa Bang?" tanya April.
Elang mendekat ke arah April, lantas langsung memeluk tubuh istrinya. April masih merasakan bingung, saat sang suami memeluk nya erat.
"Bang, ada apa?" tanya April.
"Clara sudah tidak merasakan sakit lagi." jawab Elang.
April mengeratkan pelukannya, kedua matanya langsung mengeluarkan air mata. April terisak, saat mengetahui adiknya kini telah tiada.
"Jam berapa Bang? dia meninggal dunia." ucap April.
"Clara meninggal dunia, saat dia tidur. Suster mengira, adik kamu tidur. Tapi setelah di cek, Clara tidur selamanya." ucap Elang.
Hiks.. hiks.. hiks..
"Clara sudah tidak sakit lagi, dia sudah berusaha hingga saat ini. Berusaha untuk sembuh, kamu hebat dek, bisa kuat melawan sakit kamu. Sekarang kamu, sudah capek menyerah. Maafkan kakak Clara, yang tidak bisa di samping kamu saat terakhir."
"Clara akan selalu ada bersama kamu, walau raga dia tidak disini. Dia selalu ada di hati kamu, sayang harus ikhlas. Doakan Clara, agar terang kuburnya."
"Iya Bang, hiks.. hiks.. "
****
Karisma, Elang, Pak Alex, Agam dan Willy menaburkan bunga, di atas malam Clara. Kini tubuh gadis kecil, telah menyatu dengan tanah.
"Surga untuk kamu Clara." ucap Karisma.
"Clara, kakak kamu berpesan, jangan pernah takut akan gelap. Karena kamu akan tidur, hingga waktu hari yang di nanti datang. Kamu akan tidur nyenyak, sampai bertemu nanti di sana." ucap Elang.
"April pasti sedih, tidak bisa melihat kuburan adiknya, saat terakhir tidak bisa menemani." ucap Agam.
"Saya juga ikut merasakan, bagaimana rasanya yang April rasakan." ucap Willy.
****
April menangis sambil memeluk boneka, milik Clara. Semua teman - teman, yang ada di dalam sel mencoba menghibur April.
"Yang ikhlas ya, kamu sudah berjuang untuk adik kamu. Sekarang adik kamu, sudah tidak merasakan sakit lagi." ucap Wati.
"Saya sedihnya, tidak ada disamping dia. Saat terakhir pergi, disitu saya merasakan sedih. Hanya dia yang saya miliki, sekarang tidak memiliki saudara lagi selain dia. Kami hidup berdua, makan seandainya. Susah senang dirasakan sama - sama, saya berusaha agar segala keinginan dia terpenuhi. Biar saya kelaparan, yang penting adik sendiri bisa makan enak, bisa hidup enak. Sampai akhirnya dia sakit, hingga tiada." ucap April terisak.
Wati memeluk tubuh April, ikut merasakan apa yang dirasakan teman satu sel tahanan.
"Saya juga, pernah merasakan kehilangan." ucap Wati.
****
"Adiknya April meninggal dunia." ucap Karisma pada Nenek dan Tantenya.
"Kapan?" tanya Tante Asri.
"Hari ini, kami baru saja selesai dari pemakaman." jawab Karisma.
"Kasihan, adiknya meninggal dunia dia di penjara." ucap Tante Asri.
"Nasib anak itu sedih sekali, ujian bertumpuk." ucap Nenek Ima.
"Nenek sama Tante, jangan mengatakan pada Elang yang membuat hati dia panas. Dia sekarang dalam keadaan berduka, Nenek dan Tante harap jangan bicara apa - apa." ucap Karisma.
"Sekarang anak itu, sedang apa?" tanya Nenek Asri.
"Ada di rumahnya." jawab Karisma.
****
"Saya minta, tolong perhatikan kondisi April. Dia sedang dalam keadaan berduka, jangan sampai terjadi sesuatu karena dia sedang hamil." ucap Elang melalui sambungan telepon.
"Siap Pak, saya akan pantau kondisi mba April." ucap salah satu petugas Lapas.
"Kalau terjadi sesuatu, tolong kasih kabar ke saya."
"Terima kasih."
"Sama - sama."
Elang mematikan ponselnya, dan berjalan ke arah kulkas untuk mengambil air minum. Sebuah minuman bersoda, Elang meminumnya dengan mengambil satu buah roti.
"Ah rasanya tidak berselera." ucap Elang, menaruh kembali ke atas meja makan.
"Mau makan enak, Abang ingat kamu. Abang setiap malam memikirkan kamu, tidur dengan alas kasur tipis dan bantal yang tidak empuk, bahkan harus tidur berbagi dengan yang lainnya. Semoga kamu kuat, menjalani ini selama 20 tahun." ucap Elang.
****
"Apa!! istri saya akan di pindahkan ke Lapas lain?" ucap Elang, saat mendapatkan kabar kau April harus di pindahkan Ke Lapas kelas 1 kepulauan C.
"Benar Pak, besok dia harus di bawa kesana." ucap petugas Lapas.
"Itu jauh, saya tidak bisa mengunjungi dia setiap hari. Dia sedang hamil, saya juga harus sering melihat perkembangan kehamilannya." ucap Elang.
"Maaf Pak, ini sudah perintah dari atasan. Bahkan Steven juga di pindahkan kesana, kami tidak bisa menolak perintah."
"Apa tidak menunggu sampai istri saya melahirkan? karena dia masih hamil muda. Sekarang baru masuk 4 bulan, tunggu sampai melahirkan." ucap Elang.
"Maafkan saya Pak, ini sudah keputusan."
"Terima kasih Pak."
****
"Apa bu, saya akan di pindahkan?" ucap April kaget.
"Benar, dengan kasus berat akan di pindahkan ke Lapas kelas 1 kepulauan C." ucap seorang wanita petugas Lapas.
"Apa tidak menunggu saya sampai melahirkan?" tanya April.
"Maaf, ini sudah perintah. Kamu bereskan pakaian kamu." jawabannya lalu pergi.
"Kamu akan di pindahkan?" tanya Beti.
"Iya, saya akan jauh dengan suami saya." jawab April.
"Sabar April, ini ujian lagi buat kamu." ucap Wati.
**
"Abang tidak bisa melakukan apa - apa, kamu sama Abang akan jarang bertemu." ucap Elang.
"Iya Bang." ucap April terlihat tampak sedih.
"Kamu disana, jaga kesehatan. Mungkin satu minggu atau dua minggu sekali, Abang akan kesana. Itu pun kalau Abang tidak sibuk, dan bentrok dengan tugas. Abang minta, santai jangan banyak pikiran. Ingat ada anak kita, dia harus lahir selamat."
"Iya Bang, saya ingat itu." ucap April terisak.
"Kita pasti bisa melewati ujian ini, jangan sering menghitung hari atau tahun. Karena itu, akan membuat lama. Kalau kita tidak menghitung, akan cepat 20 tahun." ucap Elang.
"Abang, kalau tidak kuat menunggu tidak apa - apa. Saya ikhlas kok, Abang juga manusia, pria yang pasti akan rindu kasih sayang." ucap April.
"Abang akan menunggu kamu, Abang akan besarkan anak kita. Abang hanya fokus, sama anak kita. Abang akan menunggu, hingga kamu bebas."
"Bang."
Elang mencium kedua punggung tangan April, air mata April jatuh ke punggung tangan Elang.
"Menangislah, bila kamu ingin menangis. Jangan anggap ini adalah perpisahan kita, ini adalah ujian cinta kita. Abang tetap menunggu kamu, sampai kamu bebas, kecuali maut yang akan memisahkan kita." ucap Elang.
.
.
.