
Pagi - pagi sekali, Elang pergi ke kepulauan C. Meninggal para saudaranya, yang masih ada di rumahnya. Dengan menyebrangi laut, menggunakan kapal, menuju ke Lapas dimana April di penjara.
Perjalanan menyebrang selama 3 jam, tidak membuat Elang lelah. Padahal malam, Elang tidak tidur, terasa capek dan kantuk hilang.
Setelah kapal sampai di pelabuhan, Elang harus menaiki bus selama perjalanan dua jam, yang harus melewati hutan sekitar 5 kilometer.
Hujan rintik - rintik Elang sampai, di depan pintu masuk yang di jaga, Elang di periksa terlebih dahulu, oleh petugas Lapas.
"Silahkan masuk Pak, nanti lurus ada petugas lagi. Bapak bisa bilang pada dia, untuk mengunjungi salah satu Napi yang, akan Bapak Jenguk. "
"Siap Pak terima kasih."
****
Setelah menemui beberapa penjaga, Elang menunggu April. Hampir 10 menit menunggu, dan akhirnya Elang bertemu dengan April.
"Abang." ucap April langsung memeluk tubuh Elang.
"Abang kangen kamu." ucap Elang memeluk erat April.
"Sama Bang, saya kangen sama Abang." ucap April.
Elang mengecup kening, dan bibir lantas turun ke bawah perut, dan mengusapnya. April tampak bahagia, saat suaminya datang untuk menjenguknya.
"Kabar Abang bagaimana?" tanya April.
"Abang ke ingat kamu terus." jawab Elang.
"Sama Bang, saya kangen sama Abang." ucap April.
"Kamu sehat kan?" tanya Elang.
"Jujur Bang, saya sedang tidak enak badan. Mungkin cuaca ya Bang, sama kurang tidur." jawab April.
"Nggak enak ya? pasti nggak nyaman." ucap Elang.
"Namanya juga penjara Bang, lebih enak rumah. Tapi ini sudah sebanding dengan kejahatan saya. Dan saya pantas, tinggal disini lama."
"Sayang, Abang akan selalu ada buat kamu. Jangan pernah patah semangat, kamu harus kuat, ini adalah hukuman buat kamu, jadi kamu harus menerima."
"Saya menerimanya Bang, bahkan kalau Abang mendua saya pun menerimanya."
'"Kamu kenapa? setiap kita ketemu, malah kamu bicara seperti itu?"
"Karena saya tahu, apa yang di ingin kan pria. Kasih sayang dan perhatian, bukannya menunggu yang lama."
"Sayang, sampai kapanpun Abang akan selalu ada buat kamu, dan Abang akan tunggu kamu. Buktinya, Abang kesini jauh - jauh. Kalau Abang tidak sayang sama kamu, ngapain Abang kesini atau mempertahankan kamu. Abang juga bisa saja, menduakan kamu. Tapi Abang bukan tipe pria yang seperti itu, Abang setia. Apapun keadaannya, Abang tetap mencintai kamu. Sampai kamu bebas, Abang akan tunggu kamu. Pintu gerbang Lapas, 20 tahun nanti saat kamu bebas dari sini, Abang akan menyambut kamu disana."
"Bang, saya sangat terharu."
"Kamu adalah cinta sejati Abang, walau kamu bukan cinta pertama Abang."
April tersenyum, lalu mencium kedua punggung tangan Elang dan selajutnya menaruh di pipi kirinya.
"Jangan dulu pulang, Abang disini sampai jam kunjungan habis."
"Iya sayang, walau hanya ada hari ini. Rasa kangen Abang, sama kamu terobati." ucap Elang.
"Sama Bang, saya juga." ucap April.
"I love you."
"I love you too."
****
April pergi masuk kembali ke dalam, setelah jam kunjungan habis. Elang mengusap butiran air mata, setelah dirinya tahan.
"Pak, saya minta tolong. Kalau istri saya ada keluhan, tolong kasih tahu ke nomer ini. Dan kalau istri saya mau melahirkan, tolong hubungi ya." ucap Elang pada salah satu petugas Lapas.
"Baik Pak, nanti saya akan hubungi Bapak.' ucapnya.
" Terima kasih Pak. "
"Sama - sama." ucap Elang.
****
Kalau kamu rindu, katakan pada angin, bilang padanya untuk sampaikan salam pada Abang. Begitu juga dengan Abang, saat merasakan rindu, akan menitipkan pada angin, untuk bilang selamanya cinta.
April tersenyum saat membaca tulisan Elang, yang di selipkan di kantung bajunya. April memeluk kertas tersebut, sambil merebahkan tubuhnya.
"Tinggu saya Bang, seperti kata Abang. Saat saya keluar, dari pintu gerbang. Abang yang akan menyambut saya, dengan kita yang sudah tua."
****
"Mereka pergi dengan kekesalan." ucap Elang, dengan segera mencuci piring dan gelas kotor.
Saat Elang sedang mencuci, Elang melihat di pintu lemari Es, ada sebuah memo. Elang membilas tangannya yang terkena sabun.
Elang berjalan mendekat, dan membaca sebuah memo dengan tertanda tangan Om Malik.
Nenek sudah mencoret kamu, dari daftar warisan. Dan mencoret kamu, dari silsilah keluarga.
Elang tersenyum, lantas merobek kertas memo tersebut, dan membuangnya ke tempat sampah.
"Kalian pikir, saya tidak bisa hidup apa."
****
Dor
Dor
Dor
Elang sedang latihan tembak, beberapa tembakan tidak tepat mengenai sasaran. Bahkan mengulang pun sama, hingga akhirnya Elang memutuskan untuk istirahat.
"Kamu sedang kenapa sih?" tanya Willy.
"Nggak tahu, sedang tidak konsentrasi saja." jawab Elang.
"Hati - hati, bahaya kalau nanti sedang tugas." ucap Willy.
"Iya, saya tahu."
"Gimana kabarnya April disana?"
"Baik, ya sedang drop aja. Maklum lah lingkungan baru, sedihnya tidak bisa sering kesana."
"Kandungannya, masuk 5 bulan ya?"
"Iya, 5 bulan. Nggak kerasa ya sebentar lagi bayinya keluar." ucap Elang.
"Semoga sehat semuanya."
"Amin" ucap Elang.
****
"Nenek sama Tante sudah pulang." ucap Karisma.
"Syukurlah, dan mereka itu benar - benar ya, mencoret saya dari daftar silsilah bahkan warisan. Benar - benar keluarga yang aneh, saya tidak menyangka saja." ucap Elang.
"Sekarang kan, kamu bebas. Kan Enak, jalan hidup kamu tidak di atur - atur seperti kemarin." ucap Pak Alex.
"Iya sih Bang, tidak ada yang ikut campur." ucap Elang.
"Kakak ingin katakan sekali lagi sama kamu, apa kamu benar akan menunggu dia?" tanya Karisma.
"Benar kak, saya akan menunggu dia. Saya itu sayang sama dia, saya itu cinta sama dia. Terserah orang mau bilang ragu, tapi itu sisi hati saya." jawab Elang.
"Abang bangga sama pria seperti kamu. Tapi kamu harus buktikan, bukan hanya sekedar omongan biasa."
"Iya Bang."
"Dek, Kakak kan menempati rumah baru, Apartemen kakak kontrakin atau kamu mau tempati?" ucap Karisma.
"Terserah kakak saja, saya kan punya rumah sendiri." ucap Elang.
"Jangan di kontrakin, nanti rusak. Lebih baik, minta orang tiap hari bersih - bersih atau dua tiga hari sekali." ucap Pak Alex.
"Nah betul itu, lebih baik begitu." ucap Elang.
"Yaudah, nanti saya akan cari orang yang mau merawat Apartemen saya." ucap Karisma.
"Dek, kakak siap suatu saat nanti merawat anak kamu. Kakak sudah bicara sama Bang Alex, ya kan Bang?" ucap Karisma.
"Benar, Abang setuju itu." ucap Pak Alex.
"Makasih, nanti saya akan pikirkan enaknya gimana." ucap Elang.
"Kamu bisa tenang dinasnya, tidak memikirkan anak kamu." ucap Pak Alex.
.
.
.