
Persidangan kembali di mulai, Elang pun kembali ke tempat duduknya, dan April siap untuk di mendapatkan pertanyaan dari Hakim kembali.
"Bagaimana saudara April, apa sudah bisa di lanjutkan?" tanya Hakim.
"Sudah siap yang mulia." Jawab April.
"Baik, kalau begitu di lanjutkan lagi." ucap Hakim.
"Anda bisa bergabung itu, atas tawaran Juna yang saat itu adalah kekasih Anda?"
"Benar yang Mulia."
"Anda nyaman? memiliki pasangan seperti dia?"
"Nyaman saat awal - awal, dan berikutnya tidak merasakan nyaman." ucap April.
"Siapa yang ajarkan anda menembak?" tanya Hakim.
"Bang Juna." jawab April.
"Baik, untuk saat ini. Anda bisa kembali ke tempat duduk, anda lagi."
"Terima kasih yang Mulia.
Elang pun di panggil, sebelum mendapatkan pertanyaan dari Hakim, Elang pun di sumpah terlebih dahulu depan kitab suci Al - Qur'an.
" Bagaimana kabarnya hari ini?" tanya Hakim.
"Alhamdulillah baik yang mulia." jawab Elang.
"Bagaimana perasaannya, saat tahu istri Anda hamil?"
"Alhamdulillah senang yang Mulia."
"Apa sedih, sekarang harus terpisahkan?"
"Sedih yang Mulia."
"Kenapa bisa jatuh cinta, padahal wanita itu adalah tersangka?"
"Dia memiliki kepribadian lembut dan baik, dia sebenarnya tidak ingin melakukan hal seperti itu. Hanya karena terdesak, dan mungkin karena kita satu tujuan, dan kami harus menikah karena terjadi suatu kecelakaan,bukan kecelakaan tapi saling suka.Dan saya sebagai lelaki yang bertanggung jawab,harus menikahi dia. " ucap Elang.
"Tujuan apa?"
"Menangkap mereka."
"Apa anda berniat, ingin membawa kabur tersangka?"
"Tidak yang mulia, dia pun berniat menyerahkan diri saat sudah terselesaikan semuanya. Dan saya juga, memang di jadikan kambing hitam, agar mereka bisa lolos. Dan saat itu, nyawa saya pun terancam."
"Terancam bagaimana?"
"Saat itu, rumah saya di pasang sebuah alat rekam kecil, buktinya juga ada saya bawa. Itu ada di dalam kamar, dan ruang tamu. Bahkan sempat di datangi, beberapa pria bersenjata saat itu April sedang berada di rumah saya, dan terjadi saling adu tembak. Tapi berhasil lolos, sebenarnya mereka mengancam saya agar tidak melanjutkan kasus ini."
"Anda tahu saat itu siapa?"
"Tahu itu teman sendiri, tapi tidak tahu siapa. Yang pasti, saya tidak percaya orang terdekat, karena orang terdekat belum tentu baik, bisa berbanding terbalik."
"Berati saat ini, anda bertindak sendiri? padahal anda sudah mendapatkan hukuman dengan di tunda nya kenaikan pangkat, bahkan anda di keluarkan dari Tim."
"Benar yang Mulia."
"Kenapa anda berani? padahal itu hukuman sebagai peringkat pertama, apa anda tidak takut di pecat secara tidak hormat, dan di hukum sesuai hukum yang berlaku di negara kita.'
" Demi menyelamatkan nama baik saya, dan menunjukkan kalau saya bukan orang jahat. Dan menyelamatkan istri saya."
"Menyelamatkan bagaimana? sudah jelas istri anda itu salah."
"Bisa ringan yang mulia."
"Ringan hukum maksud anda? dan sudah jelas, istri anda salah terlibat pembunuhan berencana, dan menembak Mika."
"Tapi untuk menembak Mika, dia terancam. Dan pembunuhan berencana itu adalah ide Juna, kalau tidak mengikuti aturannya istri saya juga terancam."
"Siap membela dalam doa."
"Anda tidak mencintai dia? membela dengan doa?"
"Dengan penjelasan dari saudara April sudah jelas, dan saya menjelaskan semuanya sudah jelas. Hanya berdoa yang Mulia, semoga yang Mulia meringankan vonis untuk istri saya."
"Saya tidak akan bisa, di sogok oleh materi atau kata - kata mutiara, saya akan memvonis seadil - adilnya sesuai duduk perkaranya. Sekarang saya tanya, anda sudah melanggar, tapi tetap maju menerjang perintah, saat itu anda apa tidak berpikir kembali resikonya?"
"Saya sudah memikirkan matang - matang, disini saya sudah terlibat, setengah jalan saya sudah ikut campur, jadi saya lanjutkan untuk menuntaskan semuanya, dan akhirnya saya pun di tugaskan kembali pada tim yang terdahulu."
"Baik, sudah cukup. Selanjutnya Fatih Al Malik , dan Willy Sanjaya berikutnya. Untuk Pak Fatih silahkan maju." ucap Hakim.
Pak Fatih pun di sumpah sebagai saksi, di depan kitab suci Al - Qur'an. Pak Fatih yang mengenakan pakaian batik, dan celana hitam.
"Bagaimana kabar nya?" tanya Hakim.
"Alhamdulillah sehat yang Mulia." jawab Pak Fatih.
"Anda tahu, kalau anak buah anda menyalahi aturan?"
"Tahu yang mulia, tapi mereka melakukannya karena di jadikan kambing hitam. Saya memang mendukung mereka, untuk mengungkap di luar kuasa saya."
"Berarti anda tahu, mantan anak buah anda itu menikah dengan salah satu tersangka?"
"Awalnya tidak tahu, tapi saya tahu dari informasi mantan anak buah saya." ucap Pak Fatih.
"Saat anda tahu, bahwa ada anggota yang terlibat? saat itu bagaimana reaksi anda?"
"Saya meminta untuk segera menangkap mereka, tapi mereka pintar dan terus membuat salah satu anak buah saya jadi kambing hitam, dan setahu saya tidak memiliki masalah antara Elang dengan Juna dan Stevan. Dan Steven itu adalah anak buah saya, tahu semuanya tentang operasi ini. Bahkan nama Black Mamba itu, memang di takuti oleh mereka, tapi tidak tahu siapa itu Black Mamba. Dan dari kejadian di rumah Elang, dari situ terjawab bahwa memang orang kita terlibat dan saat itu tidak tahu siapa, hanya saja tahu Black Mamba berarti tim nya Elang."
"Saat tahu itu Steven?"
"Karena dia muncul sama mereka."
"Untuk pemindahan tugas anda itu, terjadi sesudah tahu masalah lebih dalam lagi?"
"Belum yang mulia, hanya karena saya melanggar prosedur, tahu anak buah saya menyembunyikan tersangka April." ucap Pak Fatih menjelaskan.
"Baik cukup, selanjutnya saudara Willy."
Willy pun maju ke depan, dan sama di sumpah terlebih dahulu. Lantas langsung duduk, untuk menjawab pertanyaan dari Hakim.
"Saudara Willy, apa hari ini anda sehat?" tanya Hakim.
"Alhamdulillah sehat, yang mulia." jawab Willy.
"Saudara Willy ikut terlibat, bersembunyi dengan saudara Elang bersama tersangka juga. Apa anda tahu, pada saat itu yang anda lakukan salah."
"Siap tahu yang Mulia, tapi pada saat itu hidup kamu terancam. Kami dikira sebagai pengkhianat, bahkan kami pun saling curiga."
"Curiga apa?"
"Kami saling curiga, sebagai salah satu dari mereka." ucap Willy.
"Kenapa anda terus mengkhianati teman anda Elang, dengan melaporkan pernikahannya, hingga dia mendapatkan hukuman."
"Karena saya tidak mau, merusak pekerjaan saya karena ulah saya sendiri , yang Mulia."
"Padahal, mereka juga sedang berjuang, agar terlepas dari julukan kambing hitam."
"Benar yang mulia, saat itu saya tidak berpikir dua kali. Tapi saya yakin, karena teman saya tidak bersalah. Dan April pun, membantu kami secara tidak langsung."
"Apa yang anda ketahui dari Steven?"
"Dia satu Tim kami, bekerja secara profesional. Tim kami, tidak pernah berubah dan baru tahu sekarang kalau dia itu bukan Tentara sejati, melainkan sebagai virus yang merugikan."
.
.