The Black Mamba

The Black Mamba
Pertemuan Pertama



"Sayang mau ketemu sama Mamah?" tanya Elang.


"Iya Papah, Sakinah ingin bertemu Mamah." jawab Sakinah semangat.


"Saya harus mengenalkan Sakinah pada April sekarang, lebih baik sekarang dari pada nanti." ucap Elang dalam hati.


"Besok kita berangkat pagi - pagi, untuk bertemu sama Mamah." ucap Elang.


"Asik... besok ketemu mamah." ucap Sakinah bersorak gembira.


Elang tersenyum bahagia, saat melihat Sakinah bersorak girang akan bertemu dengan Mamahnya. Yang selama ini, hanya bisa di lihat dari sebuah photo.


"Keputusan saya tidak salah, harus tahu sekarang. Dari pada nanti sudah besar, kamu akan tahu sebenarnya, dan semoga sedikit demi sedikit kamu tahu tentang Mamah kamu, kamu bisa mengerti kenapa Mamah bisa seperti itu." ucap Elang pelan.


***


"Papah, besok Sakinah mau kasih bonek bebek sama Mamah." ucap Sakinah.


"Buat apa?" tanya Elang sambil berbaring di samping Sakinah.


"Biar mamah peluk boneka, kalau boneka ini Sakinah. Kan ini boneka kesayangan Sakinah, Pah nanti kita menginap di rumah Mamah ya." ucap Sakinah.


"Nggak bisa sayang, kita tidak bisa menginap di sana. Kalau mau menginap, kita cari tempat penginapan." ucap Elang menjelaskan.


"Kenapa Pah? kan Sakinah ingin tidur sama Mamah."


"Nanti sayang, kalau mamah sudah pulang kesini ya."


"Iya Papah. " ucap Sakinah dengan raut wajahnya yang sedih.


****


Elang memangku Sakinah, saat sedang berada di dalam kapal. Papah dan anak itu keluar kari mobil, memilih untuk duduk di kapal sambil menikmati pemandangan lautan yang luas.


Sakinah tampak mengantuk, dengan angin sepoi - sepoi. Hingga akhirnya tertidur, dengan kepala bersandar di dada Elang.


"Mas, itu anaknya tidur." ucap salah satu perempuan, yang duduk tidak jauh dari Elang.


"Iya bu, ngantuk karena angin." ucap Elang.


"Berdua saja?" tanya nya.


"Iya berdua saja." jawab Elang.


"Papah." rengek Sakinah sambil memutar tubuhnya.


"Ngantuk ya nak." ucap Elang sambil memeluk tubuh Sakinah.


Perjalanan selama 3 jam menyebrang, akhirnya sampai di pelabuhan. Sebelum sampai, Sakinah sudah di pindahkan ke dalam mobil.


"Papah, sudah sampai ya?" tanya Sakinah saat merasakan mobil bergerak.


"Belum sayang, ini baru keluar dari pelabuhan." jawab Elang, sambil mengemudikan mobilnya.


"Papah masih jauh ya?" tanya Sakinah.


"Itu sudah masuk kawasan, dimana Mamah tinggal." jawab Elang sambil menunjuk sebuah gapura besar.


Sakinah membaca gapura tersebut, dengan tulisan yang sangat besar.


"Selamat Datang Di Lapas Kelas 1 Kepulauan C. " ucap Sakinah.


"Lapas itu apa Pah?" tanya Sakinah.


"Lapas itu, Lembaga Pemasyarakatan." jawab Elang.


"Apa itu?" tanya Sakinah.


"Lapas itu, di dalam nya terdapat orang yang sedang di bina, dan menjalani hukuman karena perbuatan yang di lakukan." jawab Elang.


"Mamah di hukum?" ucap Sakinah masih bingung.


"Mamah nakal gitu?" tanya Sakinah kembali.


"Mamah memang nakal, tapi Mamah seperti itu demi menolong tante kamu." jawab Elang.


"Jadi ada yang marah sama Mamah, terus mamah di hukum? kan Mamah menolong orang Pah."


"Papah tidak bisa jelaskan sekarang, suatu saat nanti kamu akan paham sayang." ucap Elang.


****


"Mamah." panggil Sakinah, yang membuat April menoleh ke belakang.


Elang berdiri sambil memegang kedua bahu Sakinah, April menangis terisak saat mendengar pertama kali, Sakinah memanggilnya Mamah.


"Mamah..!! " Sakinah berlari ke arah April.


April merentangkan kedua tangannya, Sakinah langsung memeluk tubuh April. Keduanya mungil itu memeluk tubuh Mamahnya, bahkan mencium kedua pipi April.


"Mamah." panggil Sakinah sambil memegang wajah April.


"Sakinah hiks.. hiks.. " ucap April kembali memeluk Sakinah.


"Maafkan Mamah nak, maafkan mamah." ucap April.


"Mamah, Sakinah kangen sama Mamah." ucap Sakinah.


"Sama sayang, Mamah juga kangen sama kamu. Maafkan Mamah nak, Mamah belum bisa berkumpul dengan kalian."


Elang mendekat lantas memeluk keduanya, tangis bahagia April, tak bisa di ucapkan dengan kata - kata saat pertama kali, melihat putrinya yang kini tumbuh besar.


***


"Abang minta maaf sama kamu, kalau Abang bawa Sakinah kesini. Karena Sakinah selalu bertanya dimana Mamahnya, terus Abang sudah pikirkan matang - matang. Lebih baik tahu sekarang, dari pada nanti. Biar dia tahu dengan sendirinya, menilai kenapa bisa seperti ini. Sakinah juga harus tahu, kita jelaskan sekarang juga dia belum mengerti." ucap Elang.


"Saya takut Bang, takut Sakinah membenci saya." ucap April sambil menatap Sakinah yang sedang menggambar.


"Insya Allah Sakinah bukan anak yang seperti itu." ucap Elang.


"Mamah ini buat mamah." ucap Sakinah sambil memberikan sebuah gambar, tampak terlihat sebuah keluarga kecil, dengan tulisan gambar sebelah kanan Mamah, sebelah kiri Papah dan tengah Sakinah.


April terisak terharu, melihat hasil gambar putrinya. Lalu Sakinah, memberikan sebuah boneka Bebek.


"Ini buat mamah juga, peluk ya Mah. Ini boneka teman tidur Sakinah, sekarang mamah boleh peluk dia." ucap Sakinah.


"Makasih sayang, makasih." ucap April.


"Sayang, waktu kunjungan kita sudah habis. Kita pulang yuk?" ajak Elang.


"Sakinah boleh tidur sama Mamah Pah?" tanya Sakinah.


"Jangan sayang, di dalam sana tidak enak. Cukup mamah yang tidur disini. Nanti kalau mamah sudah keluar, kita akan tidur bersama." ucap April.


"Tapi Sakinah masih kangen Mamah."


"Nanti lain waktu, kita kesini lagi." ucap Elang.


"Iya sayang, nanti kamu bisa main kesini lagi." ucap April.


"Boleh Sakinah peluk mamah lagi?" tanya Sakinah, dan di anggukkan kepala oleh April.


Sakinah kembali memeluk April, ada rasa berat keduanya berpisah. Tapi karena keadaan, April harus merelakan untuk bersabar, bertemu putrinya lagi.


"Sakinah pulang dulu, nanti main lagi." ucap April.


"Iya Mamah, Sakinah sayang mamah." ucap Sakinah mencium kedua pipi Mamahnya.


"Hati - hati saya, Bang makasih ya untuk hari ini." ucap April pada Elang.


"Iya, Abang pamit ya sama Sakinah. Kamu yang sehat - sehat di dalam sana." ucap Elang.


"Iya Bang." ucap April mencium punggung tangan Elang, dan Sakinah pun bersalaman dengan April, tak lupa mencium punggung tangannya.


"Assalamu'alaikum Mamah." ucap Sakinah sambil melambaikan tangan ke arahnya.


"Walaikumsalam." balas April.


April terus berdiri, hingga Elang dan Sakinah keluar dari pintu, yang tadi mereka masuki.


"Sampai bertemu lagi nak dengan Mamah, akan selalu Mamah tunggu kedatangan kalian."


.


.