
Elang dengan kondisi yang masih lemah, duduk menunggu pesawat datang, yang membawa jenazah Juna, Steven, April, Jack dan Pablo.
Keluarga dari ke empat Jenazah tersebut, sudah berada di bandara. Isak tangis terlihat jelas, mereka akan menyambut duka.
"Kamu nggak apa - apa kan?" tanya Karisma.
"Tidak apa - apa kak, insya Allah saya kuat." ucap Elang.
Pesawat pun mendarat, satu persatu peti Jenazah diturunkan, isak tangis semakin keras saat mereka melihat anggota kelurga mereka, sudah tidak bernyawa lagi.
Elang berjalan ke arah meti Jenazah April, Elang memegang peti Jenazah tersebut. Tanpa sadar, air matanya keluar.
Karisma mengusap punggung adiknya, saat mengetahui di depan itu adalah peti istrinya. Elang terisak hingga tubuhnya bergetar, Karisma pun tidak kuat menahan tangis, akhirnya ikut menangis juga.
Hiks.. hiks.. hiks..
"Begitu cepat, dan tidak banyak kenangan dengan kamu. Tapi waktu yang cepat itu, waktu yang sangat berharga dan akan selalu di ingat." ucap Elang.
"Kamu yang sabar ya, ikhlas." ucap Karisma.
Setelah acara pelepasan jenazah, langsung di bawa keluarga masing - masing. Begitu juga, dengan Jenazah April, yang akan di makam kan di makam keluarga besar Elang.
Di dalam mobil ambulance, Elang terlihat tegar sambil menatap photo April. Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah kata pun, hanya terdengar suara sirine ambulance.
"Apa sudah ada kabar tentang adiknya?" tanya Pak Alex pada Willy, saat mereka satu mobil di belakang mobil ambulance.
"Belum, mereka entah membawa kemana." ucap Willy.
*****
"Kakak." ucap Clara memeluk tubuh kakaknya, saat datang dengan penampilan yang berbeda.
"Kamu jangan bilang sama siapa -siapa, kalau kakak ini adalah kakak kamu. Makannya, kakak berpenampilan seperti ini." ucap April yang merubah penampilannya, dengan memakai wig, lensa mata warna cokelat, kacamata dengan tahi lalat di pipi.
"Kenapa kakak?" tanya Clara.
"Dek, apapun yang kamu lihat, kamu dengar. Kakak kamu itu, apa yang di lakukan ada tujuan tertentu. Mungkin orang menilai Kakak salah, dan kamu pun begitu. Tapi kamu harus percaya, kakak seperti ini ada sesuatu tujuan, untuk kamu. Kakak akan lakukan apapun itu, demi kamu."
"Kak, walau kakak di mata mereka kakak itu jahat, musuh negara. Kakak adalah tetap kakak Clara, saya tahu apa yang kakak lakukan itu, demi sesuatu tujuan. Saya tahu, kakak ingin lepas."
"Apapun yang terjadi sama Kakak, kamu harus kuat. Kamu harus tegar, hidup tanpa kakak."
"Bang Elang bagaimana?"
"Kakak belum bisa bertemu dengan dia, kalau suatu hari Bang Elang kemari. Jangan katakan, kalau kamu sering bertemu dengan kakak, kamu harus janji."
"Saya janji kak."
"Makasih sayang." ucap April kembali memeluk tubuh adiknya.
****
Elang dan Karisma menaburkan bunga di atas pusara malam April, Elang berdiri sambil menatap gundukan tanah yang masih terlihat basah.
"Selamat jalan April, terima kasih untuk semua yang kamu berikan pada saya. Dan tidak akan saya lupakan, kenangan indah bersama kamu."
"Kita pulang yuk, sekarang semuanya sudah usai. Dan mungkin kisah cinta kamu sampai disini, sudah saatnya kamu kamu jalani kehidupan kamu, karena perjalanan kamu itu masih panjang."
"Iya kak, makasih disaat seperti ini, kakak selalu ada bersama saya."
"Sama - sama, yuk. kita pulang."
*****
Hoeekkk
Hoeeekk
"Kamu kenapa April?" tanya Juna.
"Nggak apa - apa Bang, saya mungkin kecapekan saja." jawab April yang masih merasakan mual.
"Saya lihat, kamu itu dari kemarin lesu. Kamu sakit mungkin, apa perlu saya belikan obat?" ucap Steven.
"Nggak usah, biar saya saja." ucap April.
"Apa itu?" tanya April.
"Intan, ada 30 butir kamu hitung jangan sampai kurang satu." jawab Juna.
"Nanti kamu temui saya, di menara radio 87.5 , saya akan menunggu kamu , lalu membawa kamu ke seseorang yang akan membelinya." ucap Steven.
"Apa saya kenal?" tanya April.
"Pemain lama, Mr. Faruk." ucap Steven.
"Berapa persen untuk saya?" ucap April.
"30 persen." ucap Juna.
"35 persen untuk Steven, dan saya 35 persen." ucap Juna kembali.
"Apa, kalian 35 persen sedangkan saya 30 persen. Apa kalian tidak berfikir , saya itu kurir. Lebih bahaya dari kalian, yang hanya duduk di belakang. Saya orang yang pertama, yang akan tertangkap. Kalian bisa saja kabur, meninggalkan saya, tidak bisa segitu." ucap April.
"Saya juga memiliki resiko tinggi, mendapatkan klien seperti Mr. Faruk itu susah, apalagi kalau tahu kita itu siapa. Kamu hanya sebagai kurir, tinggal antar tidak seperti kami berdua." ucap Steven.
"Kalau kamu mau, kalau kamu tidak mau tidak apa - apa." ucap Juna.
"Baik saya terima." ucap April dengan terpaksa.
****
"Dek, kakak hari ini ada jadwal operasi. Kakak akan pulang malam, nanti kamu ambil saja kalau mau maka, di meja makan kakak sudah siapkan semuanya." ucap Karisma.
"Kak, saya boleh bicara jujur nggak?" ucap Elang dengan wajah serius.
"Mau bicara jujur apa?" tanya Karisma.
"Saya kok, punya firasat kalau di dalam peti jenazah itu bukan April, melainkan orang lain." jawab Elang.
"Tapi bukti nya, ada dan memang benar itu April."
"Saya yakin, mereka itu masih hidup."
"Sudahlah, jangan berpikir seperti itu. Kamu bicara begini, karena kamu itu belum ikhlas. Jadi kamu harus menerima kenyataan, kalau jenazah itu adalah April."
"Iya, saya harus menerima kenyataan."
****
"Saya tidak menyangka, kalau itu adalah Mika. Teman yang kita anggap sahabat terbaik, ternyata dia berkhianat." ucap Willy.
"Kami baru mendapatkan laporan, kalau Jenazah Mika baru akan di otopsi. Terlihat luka tembak tepat, di kepalanya dan kaki. Sama seperti Jack dah Pablo." ucap Agam.
"Apa Jenazah Mika sudah diterbangkan kemari?" tanya Elang.
"Sudah, karena markas mereka itu jauh dari padat penduduk, saat itu di temukan seorang pemburu melihat rumah yang mencurigakan, saat masuk banyak mayat tergeletak, dan Polisi langsung datang, mereka adalah Mafia." ucap Agam kembali.
"Kamu pasti menganggap saya, adalah orang yang berpihak pada mereka. Padahal saya itu, tidak ada niat menjadi seorang pengkhianat.Maafkan saya, kalau kemarin itu saya laporkan kamu." ucap Willy.
"Saya sudah melupakannya." ucap Elang.
"Kamu maafkan saya kan?" tanya Willy.
"Iya saya maafkan kamu, tugas kita sudah selesai. Kita saatnya menjalani tugas lainnya." jawab Elang.
*****
April menatap testpack dengan dua garis merah, April terisak menangis saat mengetahui dirinya hamil.
Hiks.. hiks.. hiks..
"Kamu akan hidup, tanpa tahu Papah kamu siapa. Maafkan mamah nak, maafkan Mamah. Kamu akan hidup, bersama mamah dengan dunia yang keras. Mamah akan melindungi kamu, mamah akan rahasiakan kehamilan kamu dari kedua pria itu. Demi kamu, jangan sampai ada yang melukai kamu." ucap April.
.
.
.