The Black Mamba

The Black Mamba
Kepikiran



"Persidangan akan di lanjutkan lusa besok, maka sidang hari ini saya tutup." ucap Hakim dengan di tutup suara ketukan palu.


April yang sudah merasakan keringat dingin, tiba - tiba saat akan bangun, langsung tumbang dan segera di tolong oleh petugas pengadilan.


Elang langsung berlari, dan segera menggendong istrinya, untuk segera di larikan ke rumah sakit.


"Kita naik mobil kakak." ucap Karisma.


"Biar Abang yang menyetir." ucap Pak Alex.


Elang duduk di kursi penumpang bagian belakang, dengan kedua pahanya sebagai bantalan kepala April.


"Ya Allah yank, kondisi kamu lemah." ucap Elang.


"Dia stres kurang tidur dan banyak pikiran pastinya." ucap Karisma.


"Benar kak, April cerita seperti itu. Dia kepikiran sidang ini." ucap Elang.


"Bagaimana nggak stress, kondisi hamil, adik sakit. Pikiran dia itu bercabang-cabang." ucap Pak Alex.


Satu mobil Polisi mengawal mobil Karisma, hingga sampai di rumah sakit. April pun langsung segera mendapatkan pertolongan, di dalam ruang IGD.


"Bagaimana dia?" tanya Karisma pada dokter Vera, dokter jaga IGD.


"Pasien mengalami kelelahan, saya akan panggil dokter Santi, untuk mengecek kandungan." jawab dokter Vera.


Salah satu suster mendorong alat ultrasonograpy, untuk mengecek kandungan April. Elang panik, melihat istrinya belum juga sadar.


Dokter Santi datang, dan langsung mengecek kandungan April, detak jantung calon bayi nya yang sudah masuk ke 4 bulan, terdengar normal. Bahkan terlihat tidak ada masalah.


"Bagus, calon bayi nya sehat kuat. Hanya kondisi ibunya yang lemah, alat bantu pernapasan jangan dulu di lepas." ucap dokter Santi.


"Bagaimana adik ipar saya?" tanya Karisma.


"Tenang, dia baik - baik saja." jawab dokter Santi.


"Semuanya baik - baik saja." ucap Karisma pada Elang.


"Alhamdulillah." ucap Elang.


***


Kamar rawat April di jaga, Elang kini berada di dalam kamar rawat istrinya. Terlihat masih setia memejamkan kedua matanya, Elang terus menggenggam tangan April.


"Sayang, kalau kamu lelah, katakan sama Abang. Jangan kamu paksakan, hingga jadi seperti ini." ucap Elang sambil mencium punggung tangannya.


"Belum sadar juga?" tanya Karisma.


"Belum kak." jawab Elang.


"Anak kamu kuat, walau ibunya lemah.Jarang seperti ini, biasanya akan mengalami keguguran."


"Semoga lancar sampai persalinan."ucap Elang.


"Amin." ucap Karisma.


"Yank, Abang mau pulang. Kamu mau pulang, atau tetap disini?" ucap Pak Alex.


"Pulang saja, nanti kakak kesini lagi." ucap Karisma pada Pak Alex dan Elang.


"Iya kak." ucap Elang.


"Kami pamit dulu." ucap Pak Alex, dan di anggukkan oleh Elang.


Setelah kepergian Karisma dan Pak Alex, April siuman. Kedua matanya silau saat melihat cahaya, Elang langsung mendekatkan wajahnya saat tahu istrinya telah siuman.


"Sayang."


"Abang, saya di rumah sakit kah?" tanya April pelang.


"Iya sayang, kamu pingsan. Kami khawatir, jadi langsung dibawa kesini." jawab Elang.


"Maafkan saya Bang, maafkan saya."


"Ssssttt nggak boleh kamu bicara seperti itu, kalau memang tidak kuat, jangan di paksa. Jadinya kamu harus di rawat, apalagi kondisi sedang hamil muda."


"Bang, saya tidak sabar menunggu lusa. Vonis apa, yang akan saya dapatkan."


"Semoga vonis kamu tidak berat, sekarang jangan pikirkan itu dulu, kamu istirahat ya."


"Bang, jangan pergi."


"Abang tidak akan pergi."


"Saya ingin, menikmati saat - saat terakhir, bisa seperti ini. Setelah vonis jatuh, kita tidak bisa dekat seperti ini. Saya ingin, Abang peluk saya. Cium saya, walau hanya sebentar."


"Bang, makasih."


"Iya sayang, Abang akan temani kamu sampai sehat ya."


"Bang, nanti titip anak kita."


"Iya, Abang akan rawat anak kita. Kamu jangan bicara atau berpikir yang tidak masuk akal, Abang tidak akan pernah meninggalkan kamu."


"Abang baik sekali, saya tidak salah memilih Abang. Dan saya beruntung, bisa menjadi milik Abang."


"Sekarang jangan banyak bicara, istirahat ya. Abang akan tetap disini sama kamu."


"Jangan lepaskan genggaman tangan ini."ucap April sambil menggenggam tangan Elang.


" Iya sayang, Abang akan tetap genggam tangan kamu." ucap Elang, dan April kembali memejamkan kedua matanya.


****


"Nenek, Tante Asri!! " ucap Karisma, saat baru sampai di apartemen nya bersama Pak Alex.


"Hmmm... pasti ini calon suami kamu." ucap Tante Asri.


"Iya, kenalkan." ucap Karisma.


Pak Alex bersalaman dengan Tante Asri dan Nenek Ima, dengan mencium punggung kedua tangannya.


"Dari tadi?" tanya Karisma sambil membuka pintu.


"Kami baru saja sampai, tadi habis ke rumah Elang tapi kosong.Apa dia sedang Dinas?" ucap Tante Asri.


"Iya Tante." ucap Karisma bohong.


"Apartemen kamu, tidak ada yang berubah." ucap Nenek Ima.


"Iya nek, tapi kalau sudah menikah. Mungkin apartemen ini, mau saya sewakan. Kami sudah memutuskan membeli rumah, dekat dengan rumah sakit, dan tempat Dinas Bang Alex." ucap Karisma.


"Kamu punya anak berapa?" tanya Nenek Ima.


"Satu nek, ikut sama mantan istri saya." jawab Pak Alex.


"Sama seperti Karisma, punya anak satu ikut sama mantan suaminya." ucap Nenek Ima.


"Nenek sama Tante pasti capek, lebih baik istirahat dulu." ucap Karisma.


"Kamu hubungi Elang, suruh dia pulang kesini." ucap Tante Asri.


"Nanti saya hubungi." ucap Karisma.


"Karisma itu, hanya punya satu adik. Walau kedua orang tua nya sudah meninggal, dia itu selalu kompak sama Elang. Mereka itu hampir tidak pernah berantem." ucap Nenek Ima.


"Elang itu anak buah Bang Alex." ucap Karisma sambil membawakan minuman untuk ketiganya.


"Benar begitu?" ucap Nenek Ima.


"Benar nek, dia anak buah saya. Dan saya tidak menyangka, kalau Elang itu adalah adiknya Karisma." ucap Pak Alex.


"Kalau dia itu punya salah, kamu hukum saja. Jangan melihat, Elang itu adiknya istri kamu." ucap Tante Asri.


"Pasti itu Tante." ucap Pak Alex.


"Karisma, Elang sekarang katanya sendiri. Nenek ada jodoh buat dia, barangkali Elang cocok." ucap Nenek Ima.


"Nek, jangan jodoh- jodoh an. Biar Elang yang pilih, kita tinggal dukung." ucap Karisma.


"Memangnya, dia itu sudah punya pacar?"


"Sudah Nek, jadi nenek tidak usah repot - repot cari jodoh."


"Kalau begitu, bawa pacar nya kemari. Nenek ingin lihat, seperti apa calon cucu menantu nenek."


Karisma dan Pak Alex saling melirik, saat Nenek Ima berkata seperti itu.Pak Alex, memberikan kode dengan mengedipkan kedua matanya.


"Nek, mungkin sekarang belum bisa. Karena pacar Elang tidak ada disini, nanti kalau ada disini, akan di bawa kesini atau Elang bawa kesana." ucap Karisma.


"Benar ya, jangan bohong. Memang sudah seharusnya, Elang itu menikah. Mau menunggu apalagi dia, pekerjaan tetap sudah ada, rumah sudah ada. Masa istri kagak ada, sekarang sudah ada cepat lamar dia, kalau mau sekarang Nenek sama Tante siap. Atau saat pernikahan kamu, dia datang dan Elang lamar itu perempuan, resminya nanti Nenek akan temani melamar." ucap Nenek Ima.


.


.


.